Bagian 12: Ujian Penerimaan Beasiswa
Al-Azhar Mesir
Di tengah-tengah pengabdian Umam di
Gontor dua, Pondok Gontor memberikan pengumuman kepada para asatidz Gontor
pusat dan seluruh cabangnya, bahwa kedutaan besar Mesir (kedubes Mesir) yang di
Indonesia akan mengadakan ujian penerimaan beasiswa Universitas Al-Azhar untuk
masyarakat Indonesia. Pastinya, dengan ketentuan dan syarat yang sudah
ditentukan oleh Al-Azhar, Kairo.
Umam pernah mendengar bahwa Universitas
Al-Azhar adalah Universitas Islam terbesar di dunia. Negaranya yaitu Mesir juga
dikenal dengan negri seribu menara, negri para nabi dan mungkin ada nama yang
lainnya yang belum dia ketahui. Dan yang pastinya, Universitas Al-Azhar adalah
salah satu lembaga pendidikan yang dijadikan sebagai rujukan teori atau sintesa
oleh Pondok Modern Gontor.
Sebelum berangkat ke kedubes Mesir,
bagi para asatidz yang ingin mengikuti ujian tersebut, harus diuji dulu tentang
persiapan mereka sebelum berangkat ke kedubes Mesir yang ada di Jakarta Pusat.
Terdetiklah dalam hati Umam untuk
mengikuti ujian tersebut, karena dalam hatinya berkata, “Saya harus berkembang
dalam segi keilmuan dan tentunya juga pasti akan dapat pengalaman baru.”
Akhirnya, Umam pun berminat untuk mengikuti ujian tersebut. Sebelum mengikuti
ujian, dia menelpon Ibunya tercinta.
“Ma, saya mau ikut ujian seleksi
penerimaan beasiswa Mesir. Mama mengizinkan saya nggak?”
“Tentu nak, Mama pasti bangga kalau
kamu bisa lulus seleksi. Mama berharap kamu bisa menjadi orang yang berguna untuk
ummat. Kapan ujiannya nak? Mama dan adik-adikmu selalu mendo’akanmu.” Jawab Ibu
Umam.
“Insya Allah besok saya mau ikut
ujian di Pondok dulu, kalau lulus kami langsung dikirim ke kedubes Mesir yang
ada di Jakarta pusat.”
“Semoga Allah memberikan hasil yang
terbaik untukmu Nak.”
“Aamiin…”
“Ingat! Dalam mencapai kesuksesan,
kamu harus selalu semangat yang harus diiringi dengan usaha, do’a dan tawakkal.
Jangan pernah berputus asa di dalam rahmat Allah.”
“Iya Bu.”
Kesuksesan Yang Tertunda
Setelah Umam mengikuti ujian di
Pondok Gontor, baik itu secara lisan dan tulisan. Ternyata para penguji yang sudah
di percaya oleh Pondok, menyatakan bahwa Umam belum siap, yang demikian disebabkan
hafalan Al-Qur’an Umam masih belum mantap.
Setelah mendapat keputusan tersebut
dan sesudah shalat Maghrib, pada hari itu juga dia langsung mendatangi penguji
(Ustadz Senior) di Gontor Satu/Pusat untuk memberikannya jatah 12 jam lagi agar
Umam bisa memantapkan hafalannya. Kebetulan sang penguji sedang berada di Mesjid
‘Atiq Pondok Modern Gontor, Umam pun langsung menghampiri beliau dengan
mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.”
“Wa’alaikumusssalam, Ada apa akhi Umam?”
“Ustadz, saya kan belum dinyatakan
siap untuk pergi mengikuti ujian di kedubes Mesir. Nah, sekarang saya mau minta
tolong ke Ustadz sebagai penguji saya,”
“Minta tolong apa?”
“Tolong berikan saya waktu malam ini
untuk menguatkan hafalan saya dan besok pagi sesudah shalat shubuh saya akan
datang ke Ustadz untuk diuji lagi.” Ucap Umam dengan penuh seribu harapan.
“Tapi yang sudah dinyatakan siap
mereka besok berangkat sesudah shalat Ashar dan kamu juga harus istirahat malam
ini.” Ucap Ustadz Senior (Penguji).
“Saya akan gunakan waktu istirahat
saya untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an Ustadz, saya sudah bicara ke Ibu saya
dan saya nggak mau membuat beliau kecewa atau sedih. Tolong berikan saya
kesempatan Ustadz!”
“Baiklah, besok sesudah shalat
shubuh saya tunggu di mesjid ini.”
“Alhamdulillah, terima kasih Ustadz,
Saya pamit dulu untuk mempersiapkan hafalan Al-Qur’an.”
“Ya, silahkan!”
Umam pun mencium tangan beliau serta
mengucapkan salam untuk berpamitan.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumusssalam.”
Ketika Umam tiba di Gontor dua, dia
langsung mengikuti shalat isya berjama’ah dan terpaksa makan malam pun
terlambat, karena jadwal makan malam adalah sesudah shalat Maghrib sampai adzan
shalat isya.
Tapi, Alhamdulillah, nasi dan lauk
masih ada tersisa, dan akhirnya dia masih mempunya rezeki untuk makan malam.
Setelah makan malam, dia pun langsung menemani para santri belajar malam,
karena pasti ada santri yang membutuhkannya, yaitu sebagai guru mereka untuk
bertanya.
Setelah dua jam lamanya para santri
belajar malam, mereka pun harus beristirahat. Nah ketika seluruh santri tidur,
di situlah Umam menggunakan waktunya untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an dari
juz 1, 2 dan 30, karena persyaratan ujian untuk mendapatkan beasiswa Al-Azhar
adalah tiga juz. Sedangkan hafalan Umam Cuma ada dua juz yang berurutan, maka dia
berinisiatif untuk menambahkan dengan juz 30 (Juz Amma).
Pada malam itu Umam harus begadang
demi menguatkan hafalan yang dia punya, karena hanya malam itu dia mempunyai
kesempatan dan hanya waktu itu saja yang dia punya. Maka, dia tidak boleh menyia-nyiakan
waktunya dengan hanya kenikmatan sesaat, yaitu tidur.
Satu jam sebelum shalat shubuh, Umam
pergi menuju Gontor Satu (Pusat) dengan mengendarai motor yang sudah disediakan
oleh Pondok. Sesudah shalat dia pun langsung diuji lagi oleh Ustadz Senior.
Walhasil, Alhamdulillah pada waktu itu juga beliau menyatakan bahwa Umam sudah
siap untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir.
“Alhamdulillah, hafalan kamu sudah
baik, kamu boleh untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir.” Ucap sang penguji.
“Alhamduliilah, terima kasih Ustadz.”
Setelah mendapat kabar baik tentang
kelulusannya, Umam langsung sujud syukur kerna diberi kesempatan oleh Allah
untuk mengikuti ujian di kedubes mesir.
Umam dan beberapa Ustadz lainnya yang
berjumlah sekitar 30 orang dari seluruh Pondok Gontor (Pusat dan Cabangnya)
telah dinyatakan siap untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir, Jakarta.
Umam dan ustadz-ustadz yang ada di
Gontor Satu, Dua dan Tiga yang berjumlah 10 orang berniat untuk berangkat
bersama. Mereka berangkat dari Pondok Gontor Satu (Pusat) menuju Jakarta. Satu
jam sebelum keberangkatan mereka, ada salah seorang di antara mereka
mendapatkan info terbaru, bahwa ujian yang akan diadakan nantinya di kedubes
ada beberapa materi. Materi yang akan diuji nanti di antaranya: Sirah
Nabawiyah, Nahwu & Sharaf, Mantiq, Balaghah dan Hafalan Al-Qur’an minimal
tiga juz.
Dengan kabar yang demikian, Umam dan
teman yang lainnya kaget dan bingung karena mereka belum mempersiapkan semua
itu, kecuali Hafalan Al-Qur’an. Bahkan Umam sendiri hafal Al-Qur’annya tidak
berurutan, yaitu juz 1, 2 dan 30.
Umam dan beberapa teman yang lainnya
langsung pergi ke kamar teman-teman yang mengabdi di Gontor Satu/Pusat,
tentunya dengan tujuan untuk meminjam buku materi yang akan diujikan nantinya.
Walaupun materi-materi yang akan
diujikan itu semua sudah mereka pelajari semenjak menjadi santri Gontor, mereka
tetap semangat dalam belajar dan mengulangi pelajaran-pelajaran tersebut. Bagi
mereka, meremehkan sesuatu yang kecil akan bisa berdanpak masalah besar.
Apalagi yang menyangkut masa depan, sekecil apapun masalah itu tidak boleh
untuk diremehkan.
Umam dan teman-teman yang lainnya
sepakat untuk pergi ke Jakarta dengan menggunakan kereta api, tentunya kereta
ekonomi dengan harga mahasiswa. Mereka berangkat sesudah shalat isya. Di sanalah,
di dalam kereta api yang mereka tumpangi, mereka gunakan waktu perjalanan
mereka untuk belajar dan mengulangi pelajaran.
Mereka pun mengatur waktu mereka
sedemikian rupa, agar tidak terbuang sia-sia. Baik itu waktu Belajar, Shalat,
Makan dan tidur untuk beristirahat. Karena yang demikianlah cara mereka agar
ketika menghadapi ujian dalam keadaan siap, baik fisik ataupun mental.
Di sanalah, di saat keberangkatan mereka
dari stasiun Yogyakarta menuju Jakarta. Tanpa disadari banyak masyarakat yang
menyaksikan kebiasaan santri Gontor dalam kehidupan sehari-harinya. Yaitu dengan
potongan rambut seperti tentara, berpakaian kemeja dengan memasukkannya dalam
celana serta memakai ikat pinggang, memakai sepatu pantopel, dan tidak
ketinggalan pentingnya membaca buku sambil duduk, berdiri bahkan ketika berjalan.
Di dalam hati Umam bergumam “Asli dah, kaya anak kantoran banget kami ini!”
Sehingga ada salah satu dari penumpang
yang satu kereta dengan mereka melihat kagum dan unik, karena merasa jarang dia
temui dari penumpang yang biasanya. Tapi Umam dan teman yang lainnya tidak
memperdulikan itu, kemungkinan karena sudah terbiasa atau acuh tak acuh, atau
kemungkinan besar pikiran mereka terfokuskan oleh ujian yang akan mereka hadapi
ketika tiba di Jakarta.
Mereka pun tentunya dikejar oleh
waktu, banyak materi yang harus dibaca, sedangkan waktu perjalanan tidak sampai
satu hari lamanya. Mereka terus membaca dan membaca, sampai-sampai ada yang
tertidur ketika membaca. Sehingga ada penumpang lain yang berkata kepada Umam, “Semangat
sekali kalian ini belajar, sampai tidur pun masih buka buku. Seandainya seluruh
masyarakat indonesia seperti kalian, tentu Indonesia akan maju.”
“Mungkin teman saya ini sudah
kecapean pak,” jawab Umam.
“Ini mas-mas ke jakarta dalam rangka
apa ya?” Tanya bapak tadi.
“Kami mau mengikuti ujian beasiswa Al-Azhar
pak, tepatnya Universitas Al-Azhar Kairo.”
“Subhanallah! Ternyata masih banyak
anak muda yang antusias dalam belajar ilmu agama.”
“Alhamdulillah ya Pak.”
“Semoga kalian sukses dan nilai
ujian kalian nanti adalah yang terbaik untuk kalian,” do’a seorang bapak
penumpang yang satu bis dengan mereka.
“Aamiin, semoga bapak dan anak-anak
bapak juga demikian, sukses dunia akhirat.”
“Aamiin…”
“Indonesia sangat membutuhkan kalian
dan kalian layak untuk menjadi pemimpin, Indonesia butuh pemimpin yang paham
agama dan mempunyai akhlak yang mulia.”
Setelah mendengar perkataan bapak
tadi, Umam pun teringat atas pesan pak Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, ‘Akar masalah
terjadinya tindak korupsi, tawuran anak sekolah, penyalah gunaan jabatan,
penipuan, perampokan dan tindak kriminal lainnya serta rendahnya integritas
moral pemimpin kita adalah sistem pendidikan Indonesia yang tidak mementingkan,
memperhatikan serta mengembangkan pendidikan moral dan akhlaq di jenjang
sekolah hingga ke perguruan tinggi. Kualitas pendidikan kita hanya diukur dari
tingginya nilai hasil UAN atau IPK peserta didik, dan tidak pernah di
integrasikan dengan tingkat kesalehan dan ketaqwaan peserta didik. Untuk itu
Menteri, Rektor, Kepala Sekolah dan Pengambil Kebijakan Kependikan perlu
memikirkan hal ini dengan serius. Negara ini Berketuhanan Yang Maha Esa, bukan
Negara Sekuler.”
Umam pun kembali menikmati
perjalanannya menuju Jakarta dengan belajar. Di tengah perjalan menuju Jakarta,
terjadi lagi keunikan dari santri Gontor, yaitu makan bersama yang dalam
istilah Gontor dinamakan ‘tajammuk’. Setelah sekian lama belajar dan mengulang
pelajaran, kepala mereka pun sudah mulai pusing, konsentrasi terhadap pelajaran
pun sudah mulai hilang disebabkan perut mereka sudah lapar.
“Aduh, saya udah lapar banget nih,
ada yang bawa makanan nggak?” Tanya Umam.
Si Ahmad langsung mengambil tasnya
dan mengeluarkan plastik hitam serta mengajak Umam dan teman yang lainnya untuk
makan.
“Santaiii, ane (saya) bawa nasi dari
Matbakh ‘Am (Dapur Umum). Nih ada juga lauknya, tempe, sambel ama kerupuk. Yuk
kita makan!”
Ketika mau makan, mereka kebingungan
karena tidak ada tempat untuk makan. Bahkan, jalan sebagai jarak antara bangku
pun sudah terisi dengan para penumpang yang sudah tertidur. Akhirnya Umam
mempunyai ide untuk membentuk formasi, dia langsung menyuruh teman-temannya
untuk menaruh dan meluruskan kaki masing-masing di atas bangku di hadapan
mereka.
“Coba letakkan kaki ente di sini dan
kaki ente ke sini, nah sekarang sudah jadi dan tetap di tempat.”
Umam langsung menaruh kertas koran di
atas kaki mereka dan di atas koran tersebut dia letakkan plastik putih sebagai
alas untuk mereka makan.
“Nah, sekarang ayuk tajammuk!
Langsung letakkan nasi ente med, ama lauk dan sambelnya.”
Akhirnya Umam dan teman-temannya pun
bisa makan untuk mengisi perut mereka yang sudah kosong, mereka makan di atas
kaki mereka sendiri yang membentuk alas seperti meja makan. Perut yang lapar disebabkan
belajar, otak yang bekerja perut yang lapar, dari kepala turun ke perut. Hehe…
Penumpang yang lain yang belum tidur
hanya bisa melirik aneh dan takjub melihat gaya Umam dan temannya ketika makan.
Aneh karena melihat gaya Umam dan yang lainnya ketika makan dan takjub karena di
saat kesempitan pun mereka masih menjaga kebersamaan dan sunnah rasul, yaitu
makan bersama.
Setelah makan bersama, mereka lansung
membersihkan sisa makanan mereka yang kemudian membuangnya ke tempat sampah
yang ada di bawah bangku mereka. Setelah itu, mereka melanjutkan belajar mereka
lagi.
Di perjalanan Umam dan
kawan-kawannya yang panjang, angin malam pun berhembus kencang menemani perjalanan
mereka. Di saat itulah Umam diserang penyakit demam, kepalanya pusing, perut
mual-mual yang akhirnya buku yang sedang dia baca dia tutup dan masukkan ke
dalam tas. Umam langsung memakai selimut dan memakan permen, karena permen
adalah obat baginya ketika dia mabuk dalam perjalanan jauh.
Sebenarnya Umam sangat iri sama
teman-temannya yang terus semangat belajar untuk mempersiapkan ujian nantinya,
tapi apalah daya, dia coba untuk membaca buku malah menambah kepalanya pusing
dan mual.
Setelah perjalanan jauh yang Umam
dan teman-temanya lewati, beserta angin malam yang menemani mereka, tibalah
mereka di Jakarta. Mereka sampai di Pondok Modern Darun Najah pada pagi hari,
setelah menempuh perjalanan selama sepuluh jam lebih.
Dengan keadaan Umam yang sakit, Umam
harus beristirahat selama satu hari di pondok Modern Darun Najah. Saat tiba di
sana juga mereka mendapatkan kabar bahwa ujian sudah dimulai pada hari itu dan
berlanjut selama lima hari.
Sedangkan teman-teman Umam setiba di
Jakarta dan beristirahat sebentar di Pondok Darun Najah, mereka langsung pergi
menuju kantor kedubes Mesir yang berada di Jakarta pusat untuk melihat keadaan
dan mengikuti ujian tersebut. Sedangkan Umam terdampar di Pondok Darun Najah
karena sakit.
Alhamdulillah, setelah beristirahat
satu hari lamanya di Pondok tersebut, Umam pun bisa mengikuti ujian, walaupun
dengan persiapan yang masih kurang matang. Tapi apalah daya, mereka hanya
dikasih izin selama tiga hari ke Jakarta, disebabkan jadwal mereka untuk
mengajar sudah banyak yang kosong dan digantikan oleh guru-guru yang lain.
Umam pun mengikuti ujian dengan keterbatasan
dan kemampuan yang dia punya. Ujian tulis sudah Umam lewati dan dia pun segera
memasuki ruang ujian lisan. Sebelum memasuki ruang ujian lisan, Umam bertanya
kepada beserta yang sedang antri untuk mengikuti ujian lisan tersebut.
“Assalamu’alaikum, kenalkan nama
saya Umam.”
“Wa’alaikumusssalam, saya Iskandar.”
“Bagaimana persiapan kamu untuk
ujian lisan ini?”
“Alhamdulillah, tapi masih gugup dan
gimanaaa gitu, walaupun sudah hafal 30 juz dan sudah mengulangnya.”
Ketika mengetahui salah satu
saingannya dalam ujian yang telah hafal 30 juz, dia pun merasa minder dan kurag
percaya diri.
“Subhanallah, kamu sudah hafal 30
juz! Sedangkan saya masih 3 juz, perbedaan kita bagaikan semut dan gajah.”
Ketika sedang dalam masa perkenalan
mereka, Umam dan Iskandar disuruh masuk untuk mengikuti ujian lisan dengan
penguji yang berbeda. Ketika Umam ditanya oleh syeikh yang diutus Al-Azhar
untuk menguji mereka, “Kam juz an hafizta (Berapa juz yang sudah kamu hafal)?”
“Tsalaatsatu ajza’ ya syeikh, wa
hiya juz al-awwal, juz at-tsani wa juz at-tsalasiin (tiga juz wahai syeikh,
yaitu juz satu, juz dua dan juz tiga puluh).” Jawab Umam.
Umam langsung ditanya dengan
beberapa pertanyaan oleh syeikh tersebut dan alhamdulillah dia bisa menjawab
semua pertanyaan beliau.
Walaupun Umam bisa menjawab semua
pertanyaan dari syeikh tersebut, dia masih ragu akan kelulusannya. Umam merasa sangat
kurang dalam hafalan Al-Qur’annya, di ujian tulis yang telah dia jawab juga masih
kurang mantap, karena soal-soal ujian yang telah dijawabnya masih kurang sempurna.
Umam bertanya lagi kepada
teman-temannya seperjuangan dari Gontor ketika perjalanan pulang.
“Gimana ujian tulis tadi bro, bisa
jawab semua nggak?”
“Alhamdulillah, pelajaran yang telah
kubaca di perjalanan keluar semua. Insya Allah semuanya bisa Ane jawablah.” Jawab
teman Umam.
“Alhamdulillah.”
“Kalau ente gimana?” Tanya balik
teman Umam tadi.
“Masih banyak yang kurang bro.”
jawab Umam dengan muka lesu.
“Kurang apanya?”
“Persiapanku kan kurang matang, di perjalanan
sakit lagi, jadi agak kacau dikit lah.”
“Kita banyak-banyak berdo’a aja bro,
semoga Allah memberikan hasil yang terbaik buat kita.”
“Iya bro, Aamiin...”
Hasil Dari Ujian
Setibanya Umam di Pondok, mereka
semua kembali aktif dengan kegiatan dan kesibukan masing-masing, sebagai guru
bagi santri-santri mereka dan pengabdi untuk Pondok Gontor yang tercinta. Mulai
awal kedatangan Umam di Pondok setelah mengikuti ujian di Jakarta, dia langsung
menelpon Ibunya untuk mengajak beliau shalat tahajjud dan shalat dhuha bersama.
Tentunya dengan tujuan mendapatkan ridha ilahi dan berdo’a agar dia mendapatkan
nilai yang terbaik. Shalat bersama di sini bukan berarti shalat berjama’ah,
akan tetapi shalat bersama dalam satu waktu dengan tempat yang berbeda. Mereka
tidak bisa melaksanakan shalat bersama secara berjama’ah disebabkan jarak yang
jauh dan lautan yang luas memisahkan Umam dan keluarganya.
“Ma, Alhamdulillah saya sudah
mengikuti ujian di kedubes Mesir. Tapi saya masih kurang yakin dengan usaha
saja, kita shalat tahajjud yaa Ma! Seandainya Mama bangun tidur duluan dari
saya, telpon saya ya Ma, nanti saya juga akan sebaliknya. Kalau saya yang duluan
bangunnya, nanti saya nelpon Mama. dan untuk shalat dhuha biar lewat sms saja
untuk saling mengingatkan.”
“Iya nak, kita harus shalat dhuha
dan shalat tahajjud tanpa meninggalkan shalat wajib berjama’ah, agar kita
mendapatkan ridha ilahi, serta berdo’a agar kamu dapat nilai yang terbaik
untukmu.” Ucap Ibunya Umam.
“Aamiin”
Kegiatan untuk saling mengingatkan
dalam beribadah ini berlangsung secara terus menerus tiap harinya sampai
sekarang. Terkadang Umam yang membangunkan Ibunya lewat telpon atau sebaliknya
Ibunya Umam yang nelpon dia, tapi seringnya Ibu Umam lah yang membangunkan Umam.
Selain shalat, ada lagi ibadah yang umam
lakukan setiap harinya, yaitu mengabdi di Pondok dengan semaksimal mungkin. Dalam
masa pengabdian Umam, dia gunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Ketika mengerjakan
kebersihan di sekeliling Pondok, dia terus berdo’a dalam hatinya agar Allah
memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Ketika menjaga kantin, dalam
melayani tamu, dan santri-santri untuk membeli makanan, dia juga terus selalu
berdo’a agar Allah memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Ketika mengajar,
sebelum memulai pelajaran dan keluar dari kelas dia dan seluruh santri yang dididiknya
dalam kelas tersebut berdo’a bersama untuk kebaikan masa depan mereka. Ketika
memotong rumput, dia bershalawat dan juga berdo’a dengan do’a yang sama. Begitu
juga di seluruh kegiatan yang Umam lakukan, di setiap harinya dia terus berdo’a
dengan do’a yang sama, yaitu semoga Allah ta’ala memberikan yang terbaik untuk
masa depannya dan tidak ketinggalan juga do’a untuk masa depan ummat agar terus
membaik.
Setelah sebulan lamanya, hari ujian
di kedubes Mesir tersebut telah terlewati, dan dia pun mendapatkan kabar dari
Panitia Ujian di kedubes Mesir. Pada waktu itu, Umam sedang bersih-bersih di
kantin Pondok, yaitu mencuci piring, memasak nasi, membersihkan sayuran dan
yang lainnya. Di saat kesibukannya itu, dia ditelpon oleh seorang Ibu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusssalam.”
“Ini benar saudara Rijalul Umam?”
Tanya Ibu tadi.
“Iya benar Bu, ada yang bisa saya
bantu? Atau ada keperluan dengan anak Ibu? Umam Tanya balik, karena dia mengira
beliau adalah salah satu wali santri yang mungkin perlu bantuan atau ada
masalah dengan anaknya.
“Nggak ada saudara Rijalul Umam. Saya
hanya mau bertanya, apakah saudara Umam sebulan yang lalu mengikuti ujian di kedubes
Mesir?”
“Owh iya, benar Bu. Mohon maaf, Ibu
ini siapa ya?” suara umam tiba-tiba bertambah keras dan gugup, karena memang dia
sangat penasaran dengan hasil yang sudah dia tunggu-tunggu sebulan lamanya.
“Saya petugas di kedubes Mesir, panitia
ujian beasiswa Al-Azhar yang saudara Umam ikuti. Setelah mengoreksi dan memeriksa
hasil dari para penguji. Alhamdulillah, saudara Rijalul Umam dinyatakan lulus
untuk menerima beasiswa di Universitas Al-Azhar.”
“Alhamdulillah, terima kasih Bu atas
kabar gembiranya.” Ucap Umam penuh senang gembira.
“Sama-sama, sekarang tugas saudara Umam
adalah membuat paspor, mengumpulkan data-data seperti akte kelahiran, ijazah
dari awal pendidikan sampai akhir, dan kartu keluarga. Kami beri waktu saudara
Umam sebulan untuk semua ini dan harap saudara langsung mengumpulkannya di kedubes
Mesir yang demikian agar saudara bisa mendapatkan visa dan tiket untuk
keberangkatan dari Jakarta menuju Kairo.”
“Iya Bu, saya akan segera
mengumpulkan data-data tersebut dan segera ke Jakarta untuk mengantarkan
berkas-berkas yang Ibu minta tadi.” Jawab Umam dengan semangat.
Setelah seminggu berlalu dari kabar
gembira tersebut, dia langsung mengurus semua data yang harus diselesaikan di Pondok
Gontor. Karena ijazah Gontor masih ada di bagian kantor pimpinan Pondok. Ijazah
tersebut tidak bisa didapat oleh santri Gontor kecuali selesai dari tugas
pengabdiannya. Ketika pengurusan ijazah itu juga, dia meminta do’a kepada Bapak
Kiyai dan ustadz-ustadz senior yang ada di Pondok Gontor untuk melanjutkan
sekolahnya di Universitas Al-Azhar, cairo.
Surat, Data, Ijazah dan yang lainnya
sudah Umam selesaikan di Pondok, dia langsung pulang ke rumah untuk memberikan
kabar gembira tadi kepada Ibunya. Sengaja Umam tidak memberitahu beliau lewat
telpon atau jejaring sosial lainnya, karena dia ingin melihat wajah kegembiraan
dari Ibunya dengan mata Umam sendiri. Selain itu juga, dia ingin melepas rindu
kepada keluarganya dan bersegera membuat paspor untuk keberangkatannya ke Mesir.
Umam pulang dengan menaiki pesawat
dari Surabaya menuju Kalimantan dengan biaya yang sudah dia tabung semenjak dia
mengabdi di Pondok Gontor. Para asatidz mengabdi tapi mereka juga dikasih uang saku
untuk kebutuhan mereka sehari-harinya.
Setibanya Umam di rumah, dia langsung
mengetuk pintu rumahnya yang diiringi ucapan salam, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusssalam, itu sepertinya
suara kakakmu Umam.” Ucap sang Ibu kepada adiknya Umam, yaitu Budi dan Shasa
yang sedang belajar.
Seketika itu pula Budi dan Shasa
langsung berlari membukakan pintu rumah dan mereka pun langsung memeluk Umam
dengan erat, karena sudah lima tahun mereka tidak pernah bertemu. Mereka
memeluk Umam seraya berkata dan meneteskan air mata. “kakak Umam, aku kangennn!”
“Iya, kakak juga kangen sama adik Budi
dan Shasa.” Ucap umam yang juga meneteskan air mata.
Nuansa yang penuh kegembiraan itu
sangat membuat mereka terharu sehingga tanpa terasa air mata terus berjatuhan
dari pipi mereka yang halus. Umam langsung menghampiri Ibunya serta mencium
tangan beliau yang dipenuhi dengan belaian kasih sayang dari seorang Ibu
tercinta.
“Bagaiamana sekolah kamu di Gontor Nak?
Dan bagaimana hasil ujian untuk beasiswa Mesirnya?” Tanya Ibu Umam.
“Alhamdulillah Ma, berkat do’a Mama
dan adik-adik, saya bisa menyelesaikan sekolah saya di Gontor, dan
Alhamdulillah juga saya lulus untuk mendapatkan beasiswa di Al-Azhar.” Ucap
Umam.
Mereka pun sekeluarga senang dan
bahagia, bahagia yang bercampur sedih, karena akan ada lagi perpisahan di
antara mereka.
“Jadi, kak Umam nanti pergi ke Mesir
ya?” Tanya adik Budi.
“Iya, insya Allah kakak nanti pergi
ke Mesir dek.” Jawab Umam dengan tersenyum.
Sedangkan adik Shasa terdiam dengan
muka yang murung, lemas dan lesu. Umam pun menghampirinya dan bertanya kepada
adiknya Shasa, “Shasa cantik, kenapa kamu diam saja?”
“Aku sedih kalau kakak pergi lagi, aku
sudah sering mimpiin kakak karena rinduku sama kakak, aku sayang kakak!” ucap manja
adik Shasa dan langsung memeluk Umam dengan erat.
“Iya, kakak juga sayang sama Shasa,
kakakmu Budi dan Ibu. Do’akan saja biar kakak bisa cepat selesai kuliahnya.
Lagian kakak menetap di rumah sini selama dua minggu lebih menunggu visa turun.
Jadi kita bisa main-main deh.” Ucap Umam untuk menghibur adiknya Shasa yang
masih duduk di Sekolah Dasar.
Setelah bersalaman bersama keluarga
dan melepas rindu bersama, Umam langsung menuju makam Ayah dan Pamannya yang
terletak di belakang rumahnya. Umam pun hanya bisa mendo’akan mereka, karena mereka
sudah terpisah dengan dunia yang berbeda.