Monday, April 13, 2015

Ujian Penerimaan Beasiswa Al-Azhar Mesir



Bagian 12: Ujian Penerimaan Beasiswa Al-Azhar Mesir
Di tengah-tengah pengabdian Umam di Gontor dua, Pondok Gontor memberikan pengumuman kepada para asatidz Gontor pusat dan seluruh cabangnya, bahwa kedutaan besar Mesir (kedubes Mesir) yang di Indonesia akan mengadakan ujian penerimaan beasiswa Universitas Al-Azhar untuk masyarakat Indonesia. Pastinya, dengan ketentuan dan syarat yang sudah ditentukan oleh Al-Azhar, Kairo.
Umam pernah mendengar bahwa Universitas Al-Azhar adalah Universitas Islam terbesar di dunia. Negaranya yaitu Mesir juga dikenal dengan negri seribu menara, negri para nabi dan mungkin ada nama yang lainnya yang belum dia ketahui. Dan yang pastinya, Universitas Al-Azhar adalah salah satu lembaga pendidikan yang dijadikan sebagai rujukan teori atau sintesa oleh Pondok Modern Gontor.
Sebelum berangkat ke kedubes Mesir, bagi para asatidz yang ingin mengikuti ujian tersebut, harus diuji dulu tentang persiapan mereka sebelum berangkat ke kedubes Mesir yang ada di Jakarta Pusat.
Terdetiklah dalam hati Umam untuk mengikuti ujian tersebut, karena dalam hatinya berkata, “Saya harus berkembang dalam segi keilmuan dan tentunya juga pasti akan dapat pengalaman baru.” Akhirnya, Umam pun berminat untuk mengikuti ujian tersebut. Sebelum mengikuti ujian, dia menelpon Ibunya tercinta.
“Ma, saya mau ikut ujian seleksi penerimaan beasiswa Mesir. Mama mengizinkan saya nggak?”
“Tentu nak, Mama pasti bangga kalau kamu bisa lulus seleksi. Mama berharap kamu bisa menjadi orang yang berguna untuk ummat. Kapan ujiannya nak? Mama dan adik-adikmu selalu mendo’akanmu.” Jawab Ibu Umam.
“Insya Allah besok saya mau ikut ujian di Pondok dulu, kalau lulus kami langsung dikirim ke kedubes Mesir yang ada di Jakarta pusat.”
“Semoga Allah memberikan hasil yang terbaik untukmu Nak.”
“Aamiin…”      
“Ingat! Dalam mencapai kesuksesan, kamu harus selalu semangat yang harus diiringi dengan usaha, do’a dan tawakkal. Jangan pernah berputus asa di dalam rahmat Allah.”
“Iya Bu.”








Kesuksesan Yang Tertunda
Setelah Umam mengikuti ujian di Pondok Gontor, baik itu secara lisan dan tulisan. Ternyata para penguji yang sudah di percaya oleh Pondok, menyatakan bahwa Umam belum siap, yang demikian disebabkan hafalan Al-Qur’an Umam masih belum mantap.
Setelah mendapat keputusan tersebut dan sesudah shalat Maghrib, pada hari itu juga dia langsung mendatangi penguji (Ustadz Senior) di Gontor Satu/Pusat untuk memberikannya jatah 12 jam lagi agar Umam bisa memantapkan hafalannya. Kebetulan sang penguji sedang berada di Mesjid ‘Atiq Pondok Modern Gontor, Umam pun langsung menghampiri beliau dengan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.”
“Wa’alaikumusssalam, Ada apa akhi Umam?”
“Ustadz, saya kan belum dinyatakan siap untuk pergi mengikuti ujian di kedubes Mesir. Nah, sekarang saya mau minta tolong ke Ustadz sebagai penguji saya,”
“Minta tolong apa?”
“Tolong berikan saya waktu malam ini untuk menguatkan hafalan saya dan besok pagi sesudah shalat shubuh saya akan datang ke Ustadz untuk diuji lagi.” Ucap Umam dengan penuh seribu harapan.
“Tapi yang sudah dinyatakan siap mereka besok berangkat sesudah shalat Ashar dan kamu juga harus istirahat malam ini.” Ucap Ustadz Senior (Penguji).
“Saya akan gunakan waktu istirahat saya untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an Ustadz, saya sudah bicara ke Ibu saya dan saya nggak mau membuat beliau kecewa atau sedih. Tolong berikan saya kesempatan Ustadz!”
“Baiklah, besok sesudah shalat shubuh saya tunggu di mesjid ini.”
“Alhamdulillah, terima kasih Ustadz, Saya pamit dulu untuk mempersiapkan hafalan Al-Qur’an.”
“Ya, silahkan!”
Umam pun mencium tangan beliau serta mengucapkan salam untuk berpamitan.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumusssalam.”
Ketika Umam tiba di Gontor dua, dia langsung mengikuti shalat isya berjama’ah dan terpaksa makan malam pun terlambat, karena jadwal makan malam adalah sesudah shalat Maghrib sampai adzan shalat isya.
Tapi, Alhamdulillah, nasi dan lauk masih ada tersisa, dan akhirnya dia masih mempunya rezeki untuk makan malam. Setelah makan malam, dia pun langsung menemani para santri belajar malam, karena pasti ada santri yang membutuhkannya, yaitu sebagai guru mereka untuk bertanya.
Setelah dua jam lamanya para santri belajar malam, mereka pun harus beristirahat. Nah ketika seluruh santri tidur, di situlah Umam menggunakan waktunya untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an dari juz 1, 2 dan 30, karena persyaratan ujian untuk mendapatkan beasiswa Al-Azhar adalah tiga juz. Sedangkan hafalan Umam Cuma ada dua juz yang berurutan, maka dia berinisiatif untuk menambahkan dengan juz 30 (Juz Amma).
Pada malam itu Umam harus begadang demi menguatkan hafalan yang dia punya, karena hanya malam itu dia mempunyai kesempatan dan hanya waktu itu saja yang dia punya. Maka, dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya dengan hanya kenikmatan sesaat, yaitu tidur.
Satu jam sebelum shalat shubuh, Umam pergi menuju Gontor Satu (Pusat) dengan mengendarai motor yang sudah disediakan oleh Pondok. Sesudah shalat dia pun langsung diuji lagi oleh Ustadz Senior. Walhasil, Alhamdulillah pada waktu itu juga beliau menyatakan bahwa Umam sudah siap untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir.
“Alhamdulillah, hafalan kamu sudah baik, kamu boleh untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir.” Ucap sang penguji.
“Alhamduliilah, terima kasih Ustadz.”
Setelah mendapat kabar baik tentang kelulusannya, Umam langsung sujud syukur kerna diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti ujian di kedubes mesir.
Umam dan beberapa Ustadz lainnya yang berjumlah sekitar 30 orang dari seluruh Pondok Gontor (Pusat dan Cabangnya) telah dinyatakan siap untuk mengikuti ujian di kedubes Mesir, Jakarta.
Umam dan ustadz-ustadz yang ada di Gontor Satu, Dua dan Tiga yang berjumlah 10 orang berniat untuk berangkat bersama. Mereka berangkat dari Pondok Gontor Satu (Pusat) menuju Jakarta. Satu jam sebelum keberangkatan mereka, ada salah seorang di antara mereka mendapatkan info terbaru, bahwa ujian yang akan diadakan nantinya di kedubes ada beberapa materi. Materi yang akan diuji nanti di antaranya: Sirah Nabawiyah, Nahwu & Sharaf, Mantiq, Balaghah dan Hafalan Al-Qur’an minimal tiga juz.
Dengan kabar yang demikian, Umam dan teman yang lainnya kaget dan bingung karena mereka belum mempersiapkan semua itu, kecuali Hafalan Al-Qur’an. Bahkan Umam sendiri hafal Al-Qur’annya tidak berurutan, yaitu juz 1, 2 dan 30.
Umam dan beberapa teman yang lainnya langsung pergi ke kamar teman-teman yang mengabdi di Gontor Satu/Pusat, tentunya dengan tujuan untuk meminjam buku materi yang akan diujikan nantinya.
Walaupun materi-materi yang akan diujikan itu semua sudah mereka pelajari semenjak menjadi santri Gontor, mereka tetap semangat dalam belajar dan mengulangi pelajaran-pelajaran tersebut. Bagi mereka, meremehkan sesuatu yang kecil akan bisa berdanpak masalah besar. Apalagi yang menyangkut masa depan, sekecil apapun masalah itu tidak boleh untuk diremehkan.
Umam dan teman-teman yang lainnya sepakat untuk pergi ke Jakarta dengan menggunakan kereta api, tentunya kereta ekonomi dengan harga mahasiswa. Mereka berangkat sesudah shalat isya. Di sanalah, di dalam kereta api yang mereka tumpangi, mereka gunakan waktu perjalanan mereka untuk belajar dan mengulangi pelajaran.
Mereka pun mengatur waktu mereka sedemikian rupa, agar tidak terbuang sia-sia. Baik itu waktu Belajar, Shalat, Makan dan tidur untuk beristirahat. Karena yang demikianlah cara mereka agar ketika menghadapi ujian dalam keadaan siap, baik fisik ataupun mental.
Di sanalah, di saat keberangkatan mereka dari stasiun Yogyakarta menuju Jakarta. Tanpa disadari banyak masyarakat yang menyaksikan kebiasaan santri Gontor dalam kehidupan sehari-harinya. Yaitu dengan potongan rambut seperti tentara, berpakaian kemeja dengan memasukkannya dalam celana serta memakai ikat pinggang, memakai sepatu pantopel, dan tidak ketinggalan pentingnya membaca buku sambil duduk, berdiri bahkan ketika berjalan. Di dalam hati Umam bergumam “Asli dah, kaya anak kantoran banget kami ini!”
Sehingga ada salah satu dari penumpang yang satu kereta dengan mereka melihat kagum dan unik, karena merasa jarang dia temui dari penumpang yang biasanya. Tapi Umam dan teman yang lainnya tidak memperdulikan itu, kemungkinan karena sudah terbiasa atau acuh tak acuh, atau kemungkinan besar pikiran mereka terfokuskan oleh ujian yang akan mereka hadapi ketika tiba di Jakarta.
Mereka pun tentunya dikejar oleh waktu, banyak materi yang harus dibaca, sedangkan waktu perjalanan tidak sampai satu hari lamanya. Mereka terus membaca dan membaca, sampai-sampai ada yang tertidur ketika membaca. Sehingga ada penumpang lain yang berkata kepada Umam, “Semangat sekali kalian ini belajar, sampai tidur pun masih buka buku. Seandainya seluruh masyarakat indonesia seperti kalian, tentu Indonesia akan maju.”
“Mungkin teman saya ini sudah kecapean pak,” jawab Umam.
“Ini mas-mas ke jakarta dalam rangka apa ya?” Tanya bapak tadi.
“Kami mau mengikuti ujian beasiswa Al-Azhar pak, tepatnya Universitas Al-Azhar Kairo.”
“Subhanallah! Ternyata masih banyak anak muda yang antusias dalam belajar ilmu agama.”
“Alhamdulillah ya Pak.”
“Semoga kalian sukses dan nilai ujian kalian nanti adalah yang terbaik untuk kalian,” do’a seorang bapak penumpang yang satu bis dengan mereka.
“Aamiin, semoga bapak dan anak-anak bapak juga demikian, sukses dunia akhirat.”
“Aamiin…”
“Indonesia sangat membutuhkan kalian dan kalian layak untuk menjadi pemimpin, Indonesia butuh pemimpin yang paham agama dan mempunyai akhlak yang mulia.”
Setelah mendengar perkataan bapak tadi, Umam pun teringat atas pesan pak Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, ‘Akar masalah terjadinya tindak korupsi, tawuran anak sekolah, penyalah gunaan jabatan, penipuan, perampokan dan tindak kriminal lainnya serta rendahnya integritas moral pemimpin kita adalah sistem pendidikan Indonesia yang tidak mementingkan, memperhatikan serta mengembangkan pendidikan moral dan akhlaq di jenjang sekolah hingga ke perguruan tinggi. Kualitas pendidikan kita hanya diukur dari tingginya nilai hasil UAN atau IPK peserta didik, dan tidak pernah di integrasikan dengan tingkat kesalehan dan ketaqwaan peserta didik. Untuk itu Menteri, Rektor, Kepala Sekolah dan Pengambil Kebijakan Kependikan perlu memikirkan hal ini dengan serius. Negara ini Berketuhanan Yang Maha Esa, bukan Negara Sekuler.”
Umam pun kembali menikmati perjalanannya menuju Jakarta dengan belajar. Di tengah perjalan menuju Jakarta, terjadi lagi keunikan dari santri Gontor, yaitu makan bersama yang dalam istilah Gontor dinamakan ‘tajammuk’. Setelah sekian lama belajar dan mengulang pelajaran, kepala mereka pun sudah mulai pusing, konsentrasi terhadap pelajaran pun sudah mulai hilang disebabkan perut mereka sudah lapar.
“Aduh, saya udah lapar banget nih, ada yang bawa makanan nggak?” Tanya Umam.
Si Ahmad langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan plastik hitam serta mengajak Umam dan teman yang lainnya untuk makan.
“Santaiii, ane (saya) bawa nasi dari Matbakh ‘Am (Dapur Umum). Nih ada juga lauknya, tempe, sambel ama kerupuk. Yuk kita makan!”
Ketika mau makan, mereka kebingungan karena tidak ada tempat untuk makan. Bahkan, jalan sebagai jarak antara bangku pun sudah terisi dengan para penumpang yang sudah tertidur. Akhirnya Umam mempunyai ide untuk membentuk formasi, dia langsung menyuruh teman-temannya untuk menaruh dan meluruskan kaki masing-masing di atas bangku di hadapan mereka.
“Coba letakkan kaki ente di sini dan kaki ente ke sini, nah sekarang sudah jadi dan tetap di tempat.”
Umam langsung menaruh kertas koran di atas kaki mereka dan di atas koran tersebut dia letakkan plastik putih sebagai alas untuk mereka makan.
“Nah, sekarang ayuk tajammuk! Langsung letakkan nasi ente med, ama lauk dan sambelnya.”
Akhirnya Umam dan teman-temannya pun bisa makan untuk mengisi perut mereka yang sudah kosong, mereka makan di atas kaki mereka sendiri yang membentuk alas seperti meja makan. Perut yang lapar disebabkan belajar, otak yang bekerja perut yang lapar, dari kepala turun ke perut. Hehe…
Penumpang yang lain yang belum tidur hanya bisa melirik aneh dan takjub melihat gaya Umam dan temannya ketika makan. Aneh karena melihat gaya Umam dan yang lainnya ketika makan dan takjub karena di saat kesempitan pun mereka masih menjaga kebersamaan dan sunnah rasul, yaitu makan bersama.
Setelah makan bersama, mereka lansung membersihkan sisa makanan mereka yang kemudian membuangnya ke tempat sampah yang ada di bawah bangku mereka. Setelah itu, mereka melanjutkan belajar mereka lagi.
Di perjalanan Umam dan kawan-kawannya yang panjang, angin malam pun berhembus kencang menemani perjalanan mereka. Di saat itulah Umam diserang penyakit demam, kepalanya pusing, perut mual-mual yang akhirnya buku yang sedang dia baca dia tutup dan masukkan ke dalam tas. Umam langsung memakai selimut dan memakan permen, karena permen adalah obat baginya ketika dia mabuk dalam perjalanan jauh.
Sebenarnya Umam sangat iri sama teman-temannya yang terus semangat belajar untuk mempersiapkan ujian nantinya, tapi apalah daya, dia coba untuk membaca buku malah menambah kepalanya pusing dan mual.
Setelah perjalanan jauh yang Umam dan teman-temanya lewati, beserta angin malam yang menemani mereka, tibalah mereka di Jakarta. Mereka sampai di Pondok Modern Darun Najah pada pagi hari, setelah menempuh perjalanan selama sepuluh jam lebih.
Dengan keadaan Umam yang sakit, Umam harus beristirahat selama satu hari di pondok Modern Darun Najah. Saat tiba di sana juga mereka mendapatkan kabar bahwa ujian sudah dimulai pada hari itu dan berlanjut selama lima hari.
Sedangkan teman-teman Umam setiba di Jakarta dan beristirahat sebentar di Pondok Darun Najah, mereka langsung pergi menuju kantor kedubes Mesir yang berada di Jakarta pusat untuk melihat keadaan dan mengikuti ujian tersebut. Sedangkan Umam terdampar di Pondok Darun Najah karena sakit.
Alhamdulillah, setelah beristirahat satu hari lamanya di Pondok tersebut, Umam pun bisa mengikuti ujian, walaupun dengan persiapan yang masih kurang matang. Tapi apalah daya, mereka hanya dikasih izin selama tiga hari ke Jakarta, disebabkan jadwal mereka untuk mengajar sudah banyak yang kosong dan digantikan oleh guru-guru yang lain.
Umam pun mengikuti ujian dengan keterbatasan dan kemampuan yang dia punya. Ujian tulis sudah Umam lewati dan dia pun segera memasuki ruang ujian lisan. Sebelum memasuki ruang ujian lisan, Umam bertanya kepada beserta yang sedang antri untuk mengikuti ujian lisan tersebut.
“Assalamu’alaikum, kenalkan nama saya Umam.”
“Wa’alaikumusssalam, saya Iskandar.”
“Bagaimana persiapan kamu untuk ujian lisan ini?”
“Alhamdulillah, tapi masih gugup dan gimanaaa gitu, walaupun sudah hafal 30 juz dan sudah mengulangnya.”
Ketika mengetahui salah satu saingannya dalam ujian yang telah hafal 30 juz, dia pun merasa minder dan kurag percaya diri.
“Subhanallah, kamu sudah hafal 30 juz! Sedangkan saya masih 3 juz, perbedaan kita bagaikan semut dan gajah.”
Ketika sedang dalam masa perkenalan mereka, Umam dan Iskandar disuruh masuk untuk mengikuti ujian lisan dengan penguji yang berbeda. Ketika Umam ditanya oleh syeikh yang diutus Al-Azhar untuk menguji mereka, “Kam juz an hafizta (Berapa juz yang sudah kamu hafal)?”
“Tsalaatsatu ajza’ ya syeikh, wa hiya juz al-awwal, juz at-tsani wa juz at-tsalasiin (tiga juz wahai syeikh, yaitu juz satu, juz dua dan juz tiga puluh).” Jawab Umam.
Umam langsung ditanya dengan beberapa pertanyaan oleh syeikh tersebut dan alhamdulillah dia bisa menjawab semua pertanyaan beliau.
Walaupun Umam bisa menjawab semua pertanyaan dari syeikh tersebut, dia masih ragu akan kelulusannya. Umam merasa sangat kurang dalam hafalan Al-Qur’annya, di ujian tulis yang telah dia jawab juga masih kurang mantap, karena soal-soal ujian yang telah dijawabnya masih kurang sempurna.
Umam bertanya lagi kepada teman-temannya seperjuangan dari Gontor ketika perjalanan pulang.
“Gimana ujian tulis tadi bro, bisa jawab semua nggak?”
“Alhamdulillah, pelajaran yang telah kubaca di perjalanan keluar semua. Insya Allah semuanya bisa Ane jawablah.” Jawab teman Umam.
“Alhamdulillah.”
“Kalau ente gimana?” Tanya balik teman Umam tadi.
“Masih banyak yang kurang bro.” jawab Umam dengan muka lesu.
“Kurang apanya?”
“Persiapanku kan kurang matang, di perjalanan sakit lagi, jadi agak kacau dikit lah.”
“Kita banyak-banyak berdo’a aja bro, semoga Allah memberikan hasil yang terbaik buat kita.”  
“Iya bro, Aamiin...”















Hasil Dari Ujian
Setibanya Umam di Pondok, mereka semua kembali aktif dengan kegiatan dan kesibukan masing-masing, sebagai guru bagi santri-santri mereka dan pengabdi untuk Pondok Gontor yang tercinta. Mulai awal kedatangan Umam di Pondok setelah mengikuti ujian di Jakarta, dia langsung menelpon Ibunya untuk mengajak beliau shalat tahajjud dan shalat dhuha bersama. Tentunya dengan tujuan mendapatkan ridha ilahi dan berdo’a agar dia mendapatkan nilai yang terbaik. Shalat bersama di sini bukan berarti shalat berjama’ah, akan tetapi shalat bersama dalam satu waktu dengan tempat yang berbeda. Mereka tidak bisa melaksanakan shalat bersama secara berjama’ah disebabkan jarak yang jauh dan lautan yang luas memisahkan Umam dan keluarganya.
“Ma, Alhamdulillah saya sudah mengikuti ujian di kedubes Mesir. Tapi saya masih kurang yakin dengan usaha saja, kita shalat tahajjud yaa Ma! Seandainya Mama bangun tidur duluan dari saya, telpon saya ya Ma, nanti saya juga akan sebaliknya. Kalau saya yang duluan bangunnya, nanti saya nelpon Mama. dan untuk shalat dhuha biar lewat sms saja untuk saling mengingatkan.”
“Iya nak, kita harus shalat dhuha dan shalat tahajjud tanpa meninggalkan shalat wajib berjama’ah, agar kita mendapatkan ridha ilahi, serta berdo’a agar kamu dapat nilai yang terbaik untukmu.” Ucap Ibunya Umam.
“Aamiin”
Kegiatan untuk saling mengingatkan dalam beribadah ini berlangsung secara terus menerus tiap harinya sampai sekarang. Terkadang Umam yang membangunkan Ibunya lewat telpon atau sebaliknya Ibunya Umam yang nelpon dia, tapi seringnya Ibu Umam lah yang membangunkan Umam.
Selain shalat, ada lagi ibadah yang umam lakukan setiap harinya, yaitu mengabdi di Pondok dengan semaksimal mungkin. Dalam masa pengabdian Umam, dia gunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Ketika mengerjakan kebersihan di sekeliling Pondok, dia terus berdo’a dalam hatinya agar Allah memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Ketika menjaga kantin, dalam melayani tamu, dan santri-santri untuk membeli makanan, dia juga terus selalu berdo’a agar Allah memberikan yang terbaik untuk masa depannya. Ketika mengajar, sebelum memulai pelajaran dan keluar dari kelas dia dan seluruh santri yang dididiknya dalam kelas tersebut berdo’a bersama untuk kebaikan masa depan mereka. Ketika memotong rumput, dia bershalawat dan juga berdo’a dengan do’a yang sama. Begitu juga di seluruh kegiatan yang Umam lakukan, di setiap harinya dia terus berdo’a dengan do’a yang sama, yaitu semoga Allah ta’ala memberikan yang terbaik untuk masa depannya dan tidak ketinggalan juga do’a untuk masa depan ummat agar terus membaik.
Setelah sebulan lamanya, hari ujian di kedubes Mesir tersebut telah terlewati, dan dia pun mendapatkan kabar dari Panitia Ujian di kedubes Mesir. Pada waktu itu, Umam sedang bersih-bersih di kantin Pondok, yaitu mencuci piring, memasak nasi, membersihkan sayuran dan yang lainnya. Di saat kesibukannya itu, dia ditelpon oleh seorang Ibu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusssalam.”
“Ini benar saudara Rijalul Umam?” Tanya Ibu tadi.
“Iya benar Bu, ada yang bisa saya bantu? Atau ada keperluan dengan anak Ibu? Umam Tanya balik, karena dia mengira beliau adalah salah satu wali santri yang mungkin perlu bantuan atau ada masalah dengan anaknya.
“Nggak ada saudara Rijalul Umam. Saya hanya mau bertanya, apakah saudara Umam sebulan yang lalu mengikuti ujian di kedubes Mesir?”
“Owh iya, benar Bu. Mohon maaf, Ibu ini siapa ya?” suara umam tiba-tiba bertambah keras dan gugup, karena memang dia sangat penasaran dengan hasil yang sudah dia tunggu-tunggu sebulan lamanya.
“Saya petugas di kedubes Mesir, panitia ujian beasiswa Al-Azhar yang saudara Umam ikuti. Setelah mengoreksi dan memeriksa hasil dari para penguji. Alhamdulillah, saudara Rijalul Umam dinyatakan lulus untuk menerima beasiswa di Universitas Al-Azhar.”
“Alhamdulillah, terima kasih Bu atas kabar gembiranya.” Ucap Umam penuh senang gembira.
“Sama-sama, sekarang tugas saudara Umam adalah membuat paspor, mengumpulkan data-data seperti akte kelahiran, ijazah dari awal pendidikan sampai akhir, dan kartu keluarga. Kami beri waktu saudara Umam sebulan untuk semua ini dan harap saudara langsung mengumpulkannya di kedubes Mesir yang demikian agar saudara bisa mendapatkan visa dan tiket untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Kairo.”
“Iya Bu, saya akan segera mengumpulkan data-data tersebut dan segera ke Jakarta untuk mengantarkan berkas-berkas yang Ibu minta tadi.” Jawab Umam dengan semangat.
Setelah seminggu berlalu dari kabar gembira tersebut, dia langsung mengurus semua data yang harus diselesaikan di Pondok Gontor. Karena ijazah Gontor masih ada di bagian kantor pimpinan Pondok. Ijazah tersebut tidak bisa didapat oleh santri Gontor kecuali selesai dari tugas pengabdiannya. Ketika pengurusan ijazah itu juga, dia meminta do’a kepada Bapak Kiyai dan ustadz-ustadz senior yang ada di Pondok Gontor untuk melanjutkan sekolahnya di Universitas Al-Azhar, cairo.
Surat, Data, Ijazah dan yang lainnya sudah Umam selesaikan di Pondok, dia langsung pulang ke rumah untuk memberikan kabar gembira tadi kepada Ibunya. Sengaja Umam tidak memberitahu beliau lewat telpon atau jejaring sosial lainnya, karena dia ingin melihat wajah kegembiraan dari Ibunya dengan mata Umam sendiri. Selain itu juga, dia ingin melepas rindu kepada keluarganya dan bersegera membuat paspor untuk keberangkatannya ke Mesir.
Umam pulang dengan menaiki pesawat dari Surabaya menuju Kalimantan dengan biaya yang sudah dia tabung semenjak dia mengabdi di Pondok Gontor. Para asatidz mengabdi tapi mereka juga dikasih uang saku untuk kebutuhan mereka sehari-harinya.
Setibanya Umam di rumah, dia langsung mengetuk pintu rumahnya yang diiringi ucapan salam, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusssalam, itu sepertinya suara kakakmu Umam.” Ucap sang Ibu kepada adiknya Umam, yaitu Budi dan Shasa yang sedang belajar.
Seketika itu pula Budi dan Shasa langsung berlari membukakan pintu rumah dan mereka pun langsung memeluk Umam dengan erat, karena sudah lima tahun mereka tidak pernah bertemu. Mereka memeluk Umam seraya berkata dan meneteskan air mata. “kakak Umam, aku kangennn!”
“Iya, kakak juga kangen sama adik Budi dan Shasa.” Ucap umam yang juga meneteskan air mata.
Nuansa yang penuh kegembiraan itu sangat membuat mereka terharu sehingga tanpa terasa air mata terus berjatuhan dari pipi mereka yang halus. Umam langsung menghampiri Ibunya serta mencium tangan beliau yang dipenuhi dengan belaian kasih sayang dari seorang Ibu tercinta.
“Bagaiamana sekolah kamu di Gontor Nak? Dan bagaimana hasil ujian untuk beasiswa Mesirnya?” Tanya Ibu Umam.
“Alhamdulillah Ma, berkat do’a Mama dan adik-adik, saya bisa menyelesaikan sekolah saya di Gontor, dan Alhamdulillah juga saya lulus untuk mendapatkan beasiswa di Al-Azhar.” Ucap Umam.
Mereka pun sekeluarga senang dan bahagia, bahagia yang bercampur sedih, karena akan ada lagi perpisahan di antara mereka.
“Jadi, kak Umam nanti pergi ke Mesir ya?” Tanya adik Budi.
“Iya, insya Allah kakak nanti pergi ke Mesir dek.” Jawab Umam dengan tersenyum.
Sedangkan adik Shasa terdiam dengan muka yang murung, lemas dan lesu. Umam pun menghampirinya dan bertanya kepada adiknya Shasa, “Shasa cantik, kenapa kamu diam saja?”
“Aku sedih kalau kakak pergi lagi, aku sudah sering mimpiin kakak karena rinduku sama kakak, aku sayang kakak!” ucap manja adik Shasa dan langsung memeluk Umam dengan erat.
“Iya, kakak juga sayang sama Shasa, kakakmu Budi dan Ibu. Do’akan saja biar kakak bisa cepat selesai kuliahnya. Lagian kakak menetap di rumah sini selama dua minggu lebih menunggu visa turun. Jadi kita bisa main-main deh.” Ucap Umam untuk menghibur adiknya Shasa yang masih duduk di Sekolah Dasar.
Setelah bersalaman bersama keluarga dan melepas rindu bersama, Umam langsung menuju makam Ayah dan Pamannya yang terletak di belakang rumahnya. Umam pun hanya bisa mendo’akan mereka, karena mereka sudah terpisah dengan dunia yang berbeda.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar