Monday, April 13, 2015

Liburan Akhir Tahun



Bagian 5: LIburan Akhir Tahun
Di Pondok si Umam hanya bisa berlibur setahun sekali, yaitu setelah selesai ujian akhir semester, tidak beberapa hari setelah memulai hari liburnya akan tiba bulan suci, yaitu bulan ramadhan. Liburan ini membuat Umam sangat bahagia karena bisa puasa bersama keluarga, sahur dan berbuka puasa bersama keluarga yang dia sayangi. Baginya berkumpulnya dengan keluarga adalah sesuatu hal yang istimewa, kehidupan terasa indah dan bahagia. Bulan puasa adalah bulan yang di akhiri dengan hari kemenangan kaum muslimin setelah sebulan lamanya berjuang melawan hawa nafsu, menahan makan dan minum dari pagi sampai sore hari, yaitu Hari Raya ‘Idul Fitri.
Begitu juga seperti biasanya, tiap tahun sebelum hari raya ‘Idul Fitri, Umam dan sekeluarga mendapatkan kejutan dari Ayah yang mereka sayang dan mereka hormati. Ayah Umam tiap tahunnya membelikan baju baru untuk mereka yang akan dipakai pada waktu hari raya nanti. Pakaian baru pemberian dari Ayah selalu membuat mata mereka bercahaya dan penuh bahagia, karena mereka hanya bisa merasakannya setahun sekali.
Setelah sebulan lebih lamanya Umam berlibur, tepat tujuh hari sesudah hari raya ‘idul fitri, masa liburannya pun selesai dan harus kembali ke Pondok Pesantren Darul Hijrah untuk melanjutkan perjuangannya dalam menuntut ilmu. Umam berpamitan dengan keluarga yang dia sayangi, keluarganya pun melepas kepergian Umam dengan senyuman, walaupun tersimpan rasa sedih karena adanya perpisahan dan hanya bisa bertemu di tahun yang akan datang.
Keesokan hari setelah Umam tiba di Pondok, para santri dan guru berkumpul di lapangan untuk mengadakan upacara tahunan, yaitu pembukaan ajaran tahun baru yang diawali dengan Hymne oh Pondokku.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan beberapa tahun pun sudah terlewati, tanpa terasa Umam sudah duduk di kelas tiga atau sederajat dengan kelas tiga MTS. Ujian awal semester dan akhir semester telah dilaluinya dengan baik dan dia pun pulang ke rumah lagi untuk berlibur. Baginya liburan kali ini memiliki kesan yang sangat istimewa, karena dia banyak mendapatkan permintaan dari pihak masyarakat untuk ceramah dan mengisi acara Pesantren Kilat. Umam bersyukur karena ilmunya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Walaupun untuk pertama kalinya dia merasa gugup dan merasa belum siap untuk berbicara di depan masyarakat, tapi inilah konsekuensinya sebagai santri, harus siap dalam segala hal. Umam menerimanya dengan ikhlas dan melaksanakannya dengan penuh amanah, karena sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Di antara isi ceramah yang telah disampaikannya pada acara Pesantren Kilat dan juga banyak dihadiri oleh kalangan masyarakat adalah yang bertemakan: “ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM”
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, perlu kita ketahui sebagai ummat muslim, bahwasanya Islam dibangun dengan berpondasikan ilmu. Sebagaimana diturunkannya wahyu yang pertama kali kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan tentang ilmu. (Al-‘Alaq: 1-5)
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca), 5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menunjukkan bahwa menulis dan membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan, dengan keduanya manusia bisa mengetahui apa yang belum diketahui. Menulis serta membaca tidak bisa dipisahkan, karena keduanya mempunyai hubungan yang erat, sebagaimana diumpamakan oleh Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu bagaikan alat pancing ikan, dan tulisan adalah talinya.”
Jadi, bisa disimpulkan sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah kunci agama Islam, dengan kunci ini manusia bisa mengetahui segala ciptaan Allah yang penuh hikmah di dalamnya, bisa mengetahui arti tujuan hidup di dunia dan tidak lepas juga dari pengetahuan tentang akhirat. Sudah selayaknyalah manusia yang diciptakan Allah begitu sempurna agar selalu belajar. Belajar ilmu agama, belajar arti dan tujuan hidup selama di dunia, karena dunia adalah ladang untuk belajar. Serta tidak lupa untuk  belajar dalam mengetahui tentang akhirat yang akan kita tuju nanti, yaitu kehidupan yang abadi.
Kita bisa mengetahui dengan sejarah akan perkembangan ummat, manusia yang hidup sebelum datangnya Islam di muka bumi ini, mereka dikenal dengan ‘kaum jahiliyah’ dan zaman kehidupannya pun dikenal dengan ‘zaman jahiliyah’. Sebutan jahiliyah ini disebabkan oleh mereka sendiri atas perbuatan yang bersandarkan kebodohan dan hawa nafsu belaka.
Setelah turunnya agama Islam yang bertujuan membina dan mendidik ummat kejalan yang benar, yaitu jalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Islam yang mengajarkan kebenaran dan kedamaian dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang. Dari sini adalah bukti yang lainnya bahwa Islam dibangun dengan ilmu. Allah ta’ala berfirman di Surat Al-Ma’idah ayat 50 yang artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) mana yang lebih baik daripada (hukum) Allah? Bagi orang-orang yang meyakini?” (Al-Maidah: 50)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini:
“Melalui ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang yang keluar  dari hukum Allah. Hukuman yang mencakup segala kebaikan, melarang semua perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum lelaki tanpa sandaran dari syari’at Allah. Orang-orang jahiliyah memutuskan perkara mereka dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat-buat sendiri oleh pendapat dan keinginan (hawa nafsu) mereka.”[1]
Maka dari itu Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam risalahnya untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Jadilah pemaaf, perintahkanlah orang lain mengerjakan perbuatan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)
Orang kafir dan kaum penentang agama Allah itu hanya bersandarkan dengan perasangka tanpa ilmu yang sangat jauh dan tidak ada pengaruhnya dalam kebenaran. Di dalam ayat suci Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 28 sudah dijelaskan yang artinya: “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm: 28)
Sudah jelas perbedaan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir, orang mukmin berlandaskan ilmu pengetahuan dan orang kafir berlandaskan kebodohan yang hanya dengan perasangka, tidak ada faedah terhadap kebenaran. Maka Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Salah satu sudut yang harus diperhatikan ummat manusia adalah ilmu. Kedudukan pentingnya ilmu bukan hanya dalam masa awal risalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan turunya Al-Qur’an saja, akan tetapi sejak mulainya diciptakan manusia sudah terbukti akan pentingnya ilmu. Sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 30 sampai 34. Di ayat ke 30 yang menjelaskan permulaan dalam penciptaan Adam alaihis salaam, yaitu bapaknya para manusia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala ketika menciptakan adam ‘alaihis salam, Allah memberitahukan kepada para malaikat tentang kehendak Allah yang ingin menjadikan seorang sebagai khalifah di muka bumi. Yang dimaksud khalifah di sini Nabi Adam dan keturunannya (manusia) lalu para malaikat ‘alaihimus salaam berkata yang artinya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dengan kemaksiatan-kemaksiatan dan menumpahkan darah?”
Pertanyaan ini hanyalah sekedar untuk pemahaman dan pemberitahuan bukan sebuah tantangan. Para malaikat berkata: “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkaudan mensucikan Engkau.” Maka Allah ta’ala berkata kepada malaikat “Sesungguhnya Aku maha mengetahui,” dari maslahah khalifah ini,  apa yang kamu tidak ketahui.”, dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala hendak memilih di antara mereka para nabi, dan rasul-rasulnya, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang yang shalih, dan yang lainnya yang beriman kepada Allah dan mengikuti para rasulnya. Di ayat ke 31 menceritakan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, yaitu seluruh nama-nama segala sesuatunya yang ada di muka bumi ini, dari yang kecil sampai sesuatu yang dianggap besar. “Kemudian mengemukakannya.” Dia mengemukakan hal-hal yang bernama-nama tersebut, kepada para malaikat.” sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka mengetahui hal-hal yang bernama itu atau tidak, Lalu Allah ta’ala berfirman, “Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Dalam perkataan dan dugaan kalian bahwasanya kalian lebih utama dari pada khalifah tersebut. Di ayat ke 32. “Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau’, maksudnya kami mensucikan Engkau dari sanggahan kami terhadapMu dan penentangan kami atas perintahMu, ‘tidak ada yang kami ketahui’ dengan segala bentuknya,   Selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kamisesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Yang Maha Mengetahui adalah yang mengetahui sesuatu dalam segala ciptaanya, Yang Maha bijaksana adalah Dzat yang memiliki kebiijaksaan yaitu tidak menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah di baliknya, dan tidak pula Dia memerintahkan kepada sesuatu kecuali menyimpan hikmah di dalamnya dan keadilan yang sempurna.
Lalu mereka sadar akan ilmu Allah dan hikmahNya, dan ketidakmampuan mereka dalam mengetahui sekecil apa pun, serta pembenaran mereka terhadap keutamaan Allah kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui. Dan di ayat ke 33. Saat itulah Allah berfirman, Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu,” yaitu nama-nama benda yang dikemukakan oleh Allah kepada para malaikat namun mereka tidak mampu akan hal itu, “Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu,” jelaslah bagi mereka keutamaan Adam ‘alaihis salaam atas mereka, dan hikmah Sang Pencipta dan ilmuNya dalam menetapkannya sebagai khalifah. Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi.” Yaitu apa yang tersembunyi darinya dan tidak kita lihat, maka apabila Dia mengetahui yang ghaib maka kesaksian adalah lebih utama, “Dan mengetahui apa yang kamu nampakkan dan apa yang kamu sembunyikan.” Ayat yang ke 34. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk bersujud kepada Adam alaihis salaam sebagai suatu penghormatan atasnya, pemuliaan dan penghambaan hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, lalu mereka menaati perintah Allah tersebut dan mereka semuanya segera bersujud, “Kecuali Iblis; dia enggan,” dia tidak mau bersujud dan takabbur dari perintah Allah dan terhadap Adam alaihis salaam seraya berkata: “sesunggunya aku diciptakan dari api dan adam dari tanah.” Yang akhirnya jelaslah saat itu awal permusuhannya (iblis) terhadap Allah dan Adam karena kekufuran dan kesombongannya.[2]
Dalam ayat ini terkandung pernyataan akan keutamaan ilmu, bahwasanya Allah mengemukakan kepada malaikat akan keutamaan Adam karena ilmu, dan bahwasanya ilmu itu adalah perkara yang paling baik bagi seorang hamba. Dari sini juga kita bisa menyimpulkan derajat para nabi lebih mulia dari pada para malaikat akan keilmuannya.
Maka dari itu, ilmu adalah permata kehidupan manusia yang akan terus selalu ada sampai hari kiamat nanti. Dan dijadikannya ketidakadaan ilmu sebagai ciri-ciri akan datangnya hari kiamat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang disampaikan oleh anas bin malik radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamr serta praktek perzinahan secara terang-terangan.”[3]
Maksud diangkat (dihapus) nya ilmu bukan dengan menghilangkan ilmu tersebut dari akal dan hati manusia, melainkan dihilangkan ilmu dengan mematikan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang ulama pun (diwilayah itu), maka orang-orang mengangkat ulama dan sesepuh dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”[4]
Bahkan manusia yang lemah bisa menjadi kuat disebabkan ilmu, dari yang terendah menjadi mulia dan terhormat karena ilmu, dan disebabkan ilmu juga kehidupan manusia menjadi bahagia. Allah ta’ala menjadikan orang berilmu untuk membawa kebenaran, kemenangan, kedamaian dan tentram. Cerita singkat dalam surat al-baqarah: 247, ada seorang petani yang miskin yaitu Tholut. Tholut adalah seorang yang mempunyai pikiran yang luas dan cerdas, berbadan kuat dan sehat, hatinya bersih dan suci, berbudi pekerti yang baik dan luhur, sehingga dia dipertemukan dengan nabi Syamuel alaihis salam dan dijadikan raja oleh nabi untuk bani Israel sarana guna menyatukan mereka dan memerangi jalut yaitu musuh-musuh mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
 Sungguh ilmu sangatlah penting untuk ummat manusia, guna kehidupan di dunia atapun di akhirat kelak. Sampai Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummatnya agar terus selalu mencari dan menambahkan ilmunya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya: Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Thoha: 114)
Dan selain itu juga, ilmu adalah satu-satunya warisan para nabi, ilmu juga sifatnya para nabi[5] dan yang mendapatkan warisannya adalah para ulama, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.[6]
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberkahi ilmu yang kita dapat sehingga bisa bermanfaat untuk ummat, dan terus bertambah akan keilmuan kita. Maka sesungguhnya ilmu yang Allah berikan kepada kita hanyalah sedikit. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-isro: 8)
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”
 Kegiatan di masa liburan sesudah ujian di kelas tiga bagi Umam sangat bermanfaat, indah dan penuh hikmah. Dia bisa berbagi ilmu yang telah dipelajarinya di Pondok dan bahkan ada banyak ilmu yang didapat dalam mengabdi kepada masyarakat. Hingga pada suatu hari ketika dia pulang dari mengisi pelajaran di acara Pesantren Kilat, sampai di rumah Ayah Ibunya sudah menunggu kedatangannya dengan senyuman dan dia pun menyalami dan mencium tangan mereka.
“Nak duduk di sini sebentar, Ayah dan Mamamu mau bicara sama kamu.” Sang Ayah yang mengajak Umam untuk berbicara.
“Ada apa Ayah? Kayaknya penting banget nih,” Tanya Umam sambil tersenyum.
“Iya, penting banget buat masa depanmu nak, Ayah dan Mama berencana memasukkanmu ke Gontor. Kamu siap atau nggak untuk mondok di Gontor?” Tanya Ibu Umam kepada anaknya.
Umam terkejut dan bingung apakah dia bisa berpisah jauh dari keluarganya, apa bisa menjadi santri yang baik dan taat di Pondok Gontor yang konon katanya di sana disiplinnya sangat ketat, lebih ketat dari Pondok yang pernah disinggahinya dalam menuntut ilmu.
“Ayah dan Mama yang sangat kusayangi, saya mengerti niat dan keinginan baik kalian, tapi nanti saya pikirkan dan shalat istikharah dulu ya? Saya masih bingung.” Ucap Umam.
“Baik, nanti kami tunggu jawaban kamu setelah tiga hari ya nak? Balas Ayahnya, dan Umam pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di pertengahan malam Umam bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud dan shalat istikharah, memohon petunjuk dari Allah yang maha mengetahui dan maha kuasa atas pertanyaan dan harapan orang tuanya untuk mondok di Pesantren Gontor yang terletak di daerah jawa timur, Ponorogo. Di malam ketiga sesudah shalat tahajjud dan istikharahnya, dia bermimpi menyebrangi lautan yang dilanjutkan bermimpi shalat maghrib berjama’ah bersama ribuan santri. Dengan mimpi tersebut dia merasa yakin ini adalah petunjuk dari Allah ta’ala.
Sepulangnya Umam dari mesjid setelah mengerjakan shalat shubuh berjama’ah, dia menghampiri Ayah dan Ibunya, untuk menyampaikan hasil keputusannya dari pertanyaan mereka tiga hari sebelumnya.
“Ayah, insya allah saya siap untuk pergi mondok di Gontor.”
Sang Ayah berkata kepada Umam, “Alhamdulillah, kalau boleh ayah tau, atas dasar apa kamu siap untuk pergi ke Gontor nak?” Umam pun menjawab, “Karena kalau kita mengetahui semangat perjalanan para ulama untuk mendapatkan warisan para nabi ni ya Yah (Ayah), tentunya kita akan terkagum-kagum dengan kegigihan mereka. Banyak para ulama yang pergi menghadap Allah ta’ala dan meninggalkan sesuatu yang sangat berharga untuk kita semua, yaitu ilmu dan sejarah mereka untuk kita pelajari, kita contoh dan kita ambil hikmah dari semua itu. Yang di antara ulama tersebut adalah:
Sa’id bin Al-Musayyab pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.
Imam Malik merasakan pedihnya kemiskinan. Saking semangatnya dalam menuntut ilmu, hingga mengurangi atap rumahnya, dia menjual kayunya. Kemudian, seakan dunia jauh darinya.
Yahya bin Ma’in adalah seoarang Imam, di dalam al-jarhu wa ta’dil (ilmu mengenai kecacatan dan kebenaran riwayat suatu hadits). Seorang yang telah sampai pada puncak ilmu hadits pada zamannya. Beliau menghabiskan 1.050.000 dirham dalam mencari hadits hingga tidak ada yang beliau miliki selain sandal yang beliau pakai.
Al-Bukhari Rahimahullah pergi menemui para ahli hadits yang ada di penjuru dunia. Dia belajar ke Khurasan, pegunungan, kota-kota di sekitar Irak seluruhnya, Hijaz, Syam, Mesir, dan dia datang ke Irak beberapa kali. Al-Bukhari berkata, “Aku belajar kepada 1.000 guru dari kalangan ulama, bahkan lebih. Aku tidak mempunyai satu hadits pun, kecuali kusebutkan sanadnya.”[7]
Bahkan ‘Abdullah bin mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang beliau adalah pakar/ahli dalam ilmu alqur’an pernah berkata: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia! Tidaklah turun sebuah surah dalam Kitabullah kecuali aku mengetahui di mana dia diturunkan dan tidaklah turun sebuah ayat dari Kitabullah kecuali aku mengetahui tentang apa ayat itu turun dan jika aku mengetahui ada orang yang lebih tahu dari aku tentang Kitabullah yang bisa dicapai dengan Unta, maka akan kupacu untaku untuk menemuinya.”[8]
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadakan perjalanan selama satu bulan menuju Syam hanya untuk mendapatkan satu hadits. Beliau di Syam menemui Abdullah bin Unais untuk mendengar sebuah hadits dari Rasulullah. Para tabi’in dan ulama setelah mereka juga demikian. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah sesuatu yang agung maka tidak mengherankan untuk mendapatkannya perlu perjuangan.
Imam Abu Hatim Ar Razi rahimahullah pernah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km! Jadi imam ini pernah berjalan kaki lebih dari 5000 km untuk menuntut ilmu. Belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan. Ada beberapa tempat yang beliau kunjungi untuk menuntut ilmu: Baghdad, Kufah, Makah, Madinah, Syam, Mesir dan lainnya. Lain lagi ceritanya dengan Imam Baqiy bin Makhlad Al Andalusi rahimahullah. Beliau melakukan perjalanan dari Andalus lalu ke Afrika lalu ke Baghdad hanya untuk belajar pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam Ahmad bin Hambal sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam menuntut ilmu sehingga dia menjadi imam besar dalam Islam. Ibnu Jauzi mengatakan, “Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia mengumpulkan kitab al Musnad.[9]
Maka setidaknya saya bisa merasakan warisan dari secuil semangat mereka.” Ucap Umam dengan semangat yang berkobar-kobar.
Penjelesannya yang panjang ini dia sampaikan kepada kedua orang tuanya dan membuat mereka terkagum-kagum akan pengetahuan yang Umam miliki. Kemudian Umam pun mendapatkan komentar dari kedua orang tuanya.
“Ini nih, efek dari ceramah anak kita di Pesantren kilat kemaren Ma, karena kita nggak ikut hadir, jadi sekaranglah anak kita ceramah di rumah.” kata Ayahnya Umam kepada istri beliau, si Umam pun tersipu malu lalu meminta maaf karena terlalu panjang penjelasannya tadi.
“Maafkan Umam ya? Aku tidak bermaksud untuk menggurui Mama dan Ayah atau menjelaskan keinginanku dengan panjang lebar, aku hanya lagi…” ucap Umam kebingungan.
“Nggak papa nak, Ayah dan Mama bangga kepadamu, semoga kamu kelak menjadi kiyai dan sukses dunia akhirat, Aamiin.” Jawab Ibunya.
Setelah beberapa hari dari keputusan Umam untuk mondok di Gontor, dia mengunjungi Pondoknya yang lama, Darul Hijrah. Umam pun mulai mengurus perpindahannya dari Pondok Darul Hijrah dan berpamitan kepada teman-teman yang menetap di Pondok, guru-guru serta pak kiyai untuk mengharapkan do’a dari mereka agar dia bisa melanjutkan sekolahnya di Gontor dengan baik dan sampai selesai menjadi seorang Ustadz. Pak Kiyai Darul Hijrah memberikan nasehat kepada Umam, “Umam, Gontor itu terkenal dengan disiplinnya yang ketat dan bahasanya yang bagus. Kemungkinan besar, semua santri merasakan dapat hukuman karena pelanggaran. Banyak dari santri-santrinya yang melanjutkan kuliah mereka ke luar negri, baik itu di Negara Arab ataupun di Negara Barat. Saya harap kamu bisa menjadi salah satu dari mereka yang bisa kuliah ke luar negri. Dan satu lagi, ketika kamu berniat untuk melanggar disiplin yang hukumannya bisa diusir dari pondok, ingatlah kedua orang tuamu.”
“Iya Pak Kiyai, insya Allah akan saya ingat pesan dan nasehat Pak Kiyai, mohon do’a Pak Kiyai. Saya pamit, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.”


[1] Tafsir al qur’an al adzhim, jilid 3, hal : 57
[2] Diambil dari penjelasan tafsir Al-Qur’an al-adzhim, ibnu katsir, surat al-baqarah ayat 30-31
[3] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 80, hadist riwayat muslim (shohih muslim) jilid 8 no 2671
[4] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 100, hadist riwayat muslim (shohih muslim) jilid 8 no 2673
[5] Al-ilmu wa binaul Umam, hal 12
[6] Hadist riwayat abu daud no 3641
[7] http://pustakasalafi.com/perjalanan-ulama-dalam-menuntut-ilmu/
[8] Hadist riwayat bukhori 5002 dan muslim 2463
[9] http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2013/09/07/rihlah-para-ulama-dalam-menuntut-ilmu/

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar