Bagian 5: LIburan Akhir Tahun
Di Pondok si Umam hanya bisa berlibur
setahun sekali, yaitu setelah selesai ujian akhir semester, tidak beberapa hari
setelah memulai hari liburnya akan tiba bulan suci, yaitu bulan ramadhan. Liburan
ini membuat Umam sangat bahagia karena bisa puasa bersama keluarga, sahur dan
berbuka puasa bersama keluarga yang dia sayangi. Baginya berkumpulnya dengan
keluarga adalah sesuatu hal yang istimewa, kehidupan terasa indah dan bahagia.
Bulan puasa adalah bulan yang di akhiri dengan hari kemenangan kaum muslimin
setelah sebulan lamanya berjuang melawan hawa nafsu, menahan makan dan minum
dari pagi sampai sore hari, yaitu Hari Raya ‘Idul Fitri.
Begitu juga seperti biasanya, tiap
tahun sebelum hari raya ‘Idul Fitri, Umam dan sekeluarga mendapatkan kejutan
dari Ayah yang mereka sayang dan mereka hormati. Ayah Umam tiap tahunnya
membelikan baju baru untuk mereka yang akan dipakai pada waktu hari raya nanti.
Pakaian baru pemberian dari Ayah selalu membuat mata mereka bercahaya dan penuh
bahagia, karena mereka hanya bisa merasakannya setahun sekali.
Setelah sebulan lebih lamanya Umam
berlibur, tepat tujuh hari sesudah hari raya ‘idul fitri, masa liburannya pun selesai
dan harus kembali ke Pondok Pesantren Darul Hijrah untuk melanjutkan
perjuangannya dalam menuntut ilmu. Umam berpamitan dengan keluarga yang dia sayangi,
keluarganya pun melepas kepergian Umam dengan senyuman, walaupun tersimpan rasa
sedih karena adanya perpisahan dan hanya bisa bertemu di tahun yang akan
datang.
Keesokan hari setelah Umam tiba di
Pondok, para santri dan guru berkumpul di lapangan untuk mengadakan upacara
tahunan, yaitu pembukaan ajaran tahun baru yang diawali dengan Hymne oh Pondokku.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan
beberapa tahun pun sudah terlewati, tanpa terasa Umam sudah duduk di kelas tiga
atau sederajat dengan kelas tiga MTS. Ujian awal semester dan akhir semester
telah dilaluinya dengan baik dan dia pun pulang ke rumah lagi untuk berlibur.
Baginya liburan kali ini memiliki kesan yang sangat istimewa, karena dia banyak
mendapatkan permintaan dari pihak masyarakat untuk ceramah dan mengisi acara Pesantren
Kilat. Umam bersyukur karena ilmunya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Walaupun
untuk pertama kalinya dia merasa gugup dan merasa belum siap untuk berbicara di
depan masyarakat, tapi inilah konsekuensinya sebagai santri, harus siap dalam
segala hal. Umam menerimanya dengan ikhlas dan melaksanakannya dengan penuh
amanah, karena sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan
orang lain.
Di antara isi ceramah yang telah disampaikannya
pada acara Pesantren Kilat dan juga banyak dihadiri oleh kalangan masyarakat
adalah yang bertemakan: “ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM”
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa
barakaatuh, perlu kita ketahui sebagai ummat muslim, bahwasanya Islam dibangun
dengan berpondasikan ilmu. Sebagaimana diturunkannya wahyu yang pertama kali
kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan tentang
ilmu. (Al-‘Alaq: 1-5)
1.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca), 5. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menunjukkan bahwa menulis
dan membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan, dengan keduanya manusia bisa
mengetahui apa yang belum diketahui. Menulis serta membaca tidak bisa
dipisahkan, karena keduanya mempunyai hubungan yang erat, sebagaimana
diumpamakan oleh Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu bagaikan
alat pancing ikan, dan tulisan adalah talinya.”
Jadi, bisa disimpulkan sesungguhnya
ilmu pengetahuan adalah kunci agama Islam, dengan kunci ini manusia bisa
mengetahui segala ciptaan Allah yang penuh hikmah di dalamnya, bisa mengetahui
arti tujuan hidup di dunia dan tidak lepas juga dari pengetahuan tentang akhirat.
Sudah selayaknyalah manusia yang diciptakan Allah begitu sempurna agar selalu
belajar. Belajar ilmu agama, belajar arti dan tujuan hidup selama di dunia,
karena dunia adalah ladang untuk belajar. Serta tidak lupa untuk belajar dalam mengetahui tentang akhirat yang
akan kita tuju nanti, yaitu kehidupan yang abadi.
Kita bisa mengetahui dengan sejarah
akan perkembangan ummat, manusia yang hidup sebelum datangnya Islam di muka bumi
ini, mereka dikenal dengan ‘kaum jahiliyah’ dan zaman kehidupannya pun dikenal
dengan ‘zaman jahiliyah’. Sebutan jahiliyah ini disebabkan oleh mereka sendiri
atas perbuatan yang bersandarkan kebodohan dan hawa nafsu belaka.
Setelah turunnya agama Islam yang
bertujuan membina dan mendidik ummat kejalan yang benar, yaitu jalan yang
diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Islam yang mengajarkan kebenaran dan
kedamaian dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang. Dari sini adalah
bukti yang lainnya bahwa Islam dibangun dengan ilmu. Allah ta’ala berfirman di Surat
Al-Ma’idah ayat 50 yang artinya: “Apakah
hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) mana yang lebih baik daripada
(hukum) Allah? Bagi orang-orang yang meyakini?” (Al-Maidah: 50)
Ibnu
Katsir mengomentari ayat ini:
“Melalui
ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang yang
keluar dari hukum Allah. Hukuman yang mencakup segala kebaikan, melarang
semua perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan
kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum lelaki
tanpa sandaran dari syari’at Allah. Orang-orang jahiliyah memutuskan perkara
mereka dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat-buat sendiri oleh
pendapat dan keinginan (hawa nafsu) mereka.”[1]
Maka
dari itu Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam risalahnya untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Jadilah pemaaf,
perintahkanlah orang lain mengerjakan perbuatan yang ma’ruf, dan berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)
Orang
kafir dan kaum penentang agama Allah itu hanya bersandarkan dengan perasangka
tanpa ilmu yang sangat jauh dan tidak ada pengaruhnya dalam kebenaran. Di dalam
ayat suci Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 28 sudah dijelaskan yang artinya: “Dan
mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain
hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada
berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (An-Najm: 28)
Sudah
jelas perbedaan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir, orang mukmin
berlandaskan ilmu pengetahuan dan orang kafir berlandaskan kebodohan yang hanya
dengan perasangka, tidak ada faedah terhadap kebenaran. Maka Allah
ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama
orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya
orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
Salah satu sudut yang harus
diperhatikan ummat manusia adalah ilmu. Kedudukan pentingnya ilmu bukan hanya
dalam masa awal risalah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan turunya Al-Qur’an
saja, akan tetapi sejak mulainya diciptakan manusia sudah terbukti akan
pentingnya ilmu. Sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah
ayat 30 sampai 34. Di ayat ke 30 yang menjelaskan permulaan dalam penciptaan
Adam ‘alaihis
salaam, yaitu bapaknya para manusia. Allah Subhaanahu
wa Ta’ala ketika menciptakan adam ‘alaihis salam, Allah
memberitahukan kepada para malaikat tentang kehendak Allah yang ingin
menjadikan seorang sebagai khalifah di muka bumi. Yang dimaksud khalifah di
sini Nabi Adam dan keturunannya (manusia) lalu para malaikat ‘alaihimus
salaam berkata yang artinya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dengan
kemaksiatan-kemaksiatan dan menumpahkan darah?”
Pertanyaan
ini hanyalah sekedar untuk pemahaman dan pemberitahuan bukan sebuah tantangan. Para
malaikat berkata: “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau, dan mensucikan Engkau.” Maka Allah
ta’ala berkata kepada malaikat “Sesungguhnya Aku maha mengetahui,”
dari maslahah khalifah ini, “apa yang
kamu tidak ketahui.”, dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala hendak memilih
di antara mereka para nabi, dan rasul-rasulnya, orang-orang shiddiq, para
syuhada, dan orang-orang yang shalih, dan yang lainnya yang beriman kepada
Allah dan mengikuti para rasulnya. Di ayat ke 31 menceritakan bahwa Allah
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya,
yaitu seluruh nama-nama segala sesuatunya yang ada di muka bumi ini, dari yang
kecil sampai sesuatu yang dianggap besar. “Kemudian mengemukakannya.” Dia
mengemukakan hal-hal yang bernama-nama tersebut, “kepada
para malaikat.” sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka mengetahui
hal-hal yang bernama itu atau tidak, “Lalu Allah
ta’ala berfirman, “Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika
kamu memang orang-orang yang benar.” Dalam perkataan dan dugaan
kalian bahwasanya kalian lebih utama dari pada khalifah tersebut. Di ayat ke
32. “Mereka
menjawab, ‘Maha Suci Engkau’, maksudnya kami mensucikan Engkau dari
sanggahan kami terhadapMu dan penentangan kami atas perintahMu, ‘tidak
ada yang kami ketahui’ dengan segala bentuknya, ‘Selain dari apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui
lagi Mahabijaksana.” Yang Maha Mengetahui adalah yang mengetahui
sesuatu dalam segala ciptaanya, Yang Maha bijaksana adalah Dzat yang memiliki
kebiijaksaan yaitu tidak menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah di baliknya,
dan tidak pula Dia memerintahkan kepada sesuatu kecuali menyimpan hikmah di
dalamnya dan keadilan yang sempurna.
Lalu
mereka sadar akan ilmu Allah dan hikmahNya, dan ketidakmampuan mereka dalam
mengetahui sekecil apa pun, serta pembenaran mereka terhadap keutamaan Allah
kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui. Dan di ayat ke 33. Saat itulah
Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda itu,” yaitu nama-nama benda yang dikemukakan oleh
Allah kepada para malaikat namun mereka tidak mampu akan hal itu, “Maka
setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu,”
jelaslah bagi mereka keutamaan Adam ‘alaihis salaam atas mereka, dan hikmah
Sang Pencipta dan ilmuNya dalam menetapkannya sebagai khalifah. Allah
berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku
mengetahui rahasia langit dan bumi.” Yaitu apa yang tersembunyi
darinya dan tidak kita lihat, maka apabila Dia mengetahui yang ghaib maka
kesaksian adalah lebih utama, “Dan mengetahui apa yang kamu nampakkan
dan apa
yang kamu sembunyikan.” Ayat yang ke 34. Kemudian Allah Subhaanahu
wa Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk bersujud kepada Adam ‘alaihis
salaam sebagai suatu penghormatan atasnya, pemuliaan dan
penghambaan hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, lalu mereka
menaati perintah Allah tersebut dan mereka semuanya segera bersujud, “Kecuali
Iblis; dia enggan,” dia tidak mau bersujud dan takabbur dari
perintah Allah dan terhadap Adam ‘alaihis salaam seraya berkata: “sesunggunya
aku diciptakan dari api dan adam dari tanah.” Yang akhirnya jelaslah saat
itu awal permusuhannya (iblis) terhadap Allah dan Adam karena kekufuran dan
kesombongannya.[2]
Dalam
ayat ini terkandung pernyataan akan keutamaan ilmu, bahwasanya Allah
mengemukakan kepada malaikat akan keutamaan Adam karena ilmu, dan bahwasanya
ilmu itu adalah perkara yang paling baik bagi seorang hamba. Dari sini juga
kita bisa menyimpulkan derajat para nabi lebih mulia dari pada para malaikat
akan keilmuannya.
Maka
dari itu, ilmu adalah permata kehidupan manusia yang akan terus selalu ada
sampai hari kiamat nanti. Dan dijadikannya ketidakadaan ilmu sebagai ciri-ciri
akan datangnya hari kiamat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang
disampaikan oleh anas bin malik radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya di antara
tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan
diminumnya khamr serta praktek perzinahan secara terang-terangan.”[3]
Maksud diangkat
(dihapus) nya ilmu bukan dengan menghilangkan ilmu tersebut dari akal dan hati
manusia, melainkan dihilangkan ilmu dengan mematikan para ulama. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah tidak mencabut
ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya
dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang
ulama pun (diwilayah itu), maka orang-orang mengangkat ulama dan sesepuh dari
kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa
dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”[4]
Bahkan
manusia yang lemah bisa menjadi kuat disebabkan ilmu, dari yang terendah
menjadi mulia dan terhormat karena ilmu, dan disebabkan ilmu juga kehidupan
manusia menjadi bahagia. Allah ta’ala menjadikan orang berilmu untuk membawa
kebenaran, kemenangan, kedamaian dan tentram. Cerita singkat dalam surat al-baqarah:
247, ada seorang petani yang miskin yaitu Tholut. Tholut adalah seorang yang
mempunyai pikiran yang luas dan cerdas, berbadan kuat dan sehat, hatinya bersih
dan suci, berbudi pekerti yang baik dan luhur, sehingga dia dipertemukan dengan
nabi Syamuel alaihis salam dan dijadikan raja oleh nabi untuk bani Israel
sarana guna menyatukan mereka dan memerangi jalut yaitu musuh-musuh mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Nabi mereka mengatakan
kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’
mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak
mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang
cukup banyak?’ nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu
dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan
pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas
pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Sungguh ilmu sangatlah penting untuk ummat
manusia, guna kehidupan di dunia atapun di akhirat kelak. Sampai Allah subhanahu
wa ta’ala memerintahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
ummatnya agar terus selalu mencari dan menambahkan ilmunya. Sebagaimana Allah
ta’ala berfirman yang artinya: “Dan
katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Thoha:
114)
Dan selain itu juga, ilmu adalah satu-satunya warisan
para nabi, ilmu juga sifatnya para nabi[5]
dan yang mendapatkan warisannya adalah para ulama, sebagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para
nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya
mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil
bagian yang banyak.”[6]
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberkahi
ilmu yang kita dapat sehingga bisa bermanfaat untuk ummat, dan terus bertambah
akan keilmuan kita. Maka sesungguhnya ilmu yang Allah berikan kepada kita
hanyalah sedikit. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang
artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-isro:
8)
Wassalamu
‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.”
Kegiatan di masa liburan sesudah ujian di kelas
tiga bagi Umam sangat bermanfaat, indah dan penuh hikmah. Dia bisa berbagi ilmu
yang telah dipelajarinya di Pondok dan bahkan ada banyak ilmu yang didapat
dalam mengabdi kepada masyarakat. Hingga pada suatu hari ketika dia pulang dari
mengisi pelajaran di acara Pesantren Kilat, sampai di rumah Ayah Ibunya sudah
menunggu kedatangannya dengan senyuman dan dia pun menyalami dan mencium tangan
mereka.
“Nak
duduk di sini sebentar, Ayah dan Mamamu mau bicara sama kamu.” Sang Ayah yang
mengajak Umam untuk berbicara.
“Ada apa
Ayah? Kayaknya penting banget nih,” Tanya Umam sambil tersenyum.
“Iya,
penting banget buat masa depanmu nak, Ayah dan Mama berencana memasukkanmu ke Gontor.
Kamu siap atau nggak untuk mondok di Gontor?” Tanya Ibu Umam kepada anaknya.
Umam terkejut
dan bingung apakah dia bisa berpisah jauh dari keluarganya, apa bisa menjadi
santri yang baik dan taat di Pondok Gontor yang konon katanya di sana
disiplinnya sangat ketat, lebih ketat dari Pondok yang pernah disinggahinya
dalam menuntut ilmu.
“Ayah
dan Mama yang sangat kusayangi, saya mengerti niat dan keinginan baik kalian,
tapi nanti saya pikirkan dan shalat istikharah dulu ya? Saya masih bingung.” Ucap
Umam.
“Baik,
nanti kami tunggu jawaban kamu setelah tiga hari ya nak? Balas Ayahnya, dan Umam
pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di pertengahan
malam Umam bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud dan shalat istikharah,
memohon petunjuk dari Allah yang maha mengetahui dan maha kuasa atas pertanyaan
dan harapan orang tuanya untuk mondok di Pesantren Gontor yang terletak di
daerah jawa timur, Ponorogo. Di malam ketiga sesudah shalat tahajjud dan
istikharahnya, dia bermimpi menyebrangi lautan yang dilanjutkan bermimpi shalat
maghrib berjama’ah bersama ribuan santri. Dengan mimpi tersebut dia merasa yakin
ini adalah petunjuk dari Allah ta’ala.
Sepulangnya
Umam dari mesjid setelah mengerjakan shalat shubuh berjama’ah, dia menghampiri Ayah
dan Ibunya, untuk menyampaikan hasil keputusannya dari pertanyaan mereka tiga
hari sebelumnya.
“Ayah, insya
allah saya siap untuk pergi mondok di Gontor.”
Sang Ayah
berkata kepada Umam, “Alhamdulillah, kalau boleh ayah tau, atas dasar apa kamu
siap untuk pergi ke Gontor nak?” Umam pun menjawab, “Karena kalau kita
mengetahui semangat perjalanan para ulama untuk mendapatkan warisan para nabi
ni ya Yah (Ayah), tentunya kita akan terkagum-kagum dengan kegigihan mereka.
Banyak para ulama yang pergi menghadap Allah ta’ala dan meninggalkan sesuatu
yang sangat berharga untuk kita semua, yaitu ilmu dan sejarah mereka untuk kita
pelajari, kita contoh dan kita ambil hikmah dari semua itu. Yang di antara
ulama tersebut adalah:
Sa’id
bin Al-Musayyab pernah berjalan berhari-hari dan
bermalam-malam untuk mencari satu hadits.
Imam
Malik merasakan pedihnya kemiskinan. Saking
semangatnya dalam menuntut ilmu, hingga mengurangi atap rumahnya, dia menjual
kayunya. Kemudian, seakan dunia jauh darinya.
Yahya
bin Ma’in adalah seoarang Imam, di dalam al-jarhu wa
ta’dil (ilmu mengenai kecacatan dan kebenaran riwayat suatu hadits). Seorang
yang telah sampai pada puncak ilmu hadits pada zamannya. Beliau menghabiskan
1.050.000 dirham dalam mencari hadits hingga tidak ada yang beliau miliki
selain sandal yang beliau pakai.
Al-Bukhari
Rahimahullah pergi menemui para ahli hadits yang ada di penjuru dunia. Dia
belajar ke Khurasan, pegunungan, kota-kota di sekitar Irak seluruhnya, Hijaz,
Syam, Mesir, dan dia datang ke Irak beberapa kali. Al-Bukhari berkata, “Aku
belajar kepada 1.000 guru dari kalangan ulama, bahkan lebih. Aku tidak
mempunyai satu hadits pun, kecuali kusebutkan sanadnya.”[7]
Bahkan ‘Abdullah
bin mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang beliau adalah pakar/ahli dalam ilmu
alqur’an pernah berkata: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia! Tidaklah
turun sebuah surah dalam Kitabullah kecuali aku mengetahui di mana dia
diturunkan dan tidaklah turun sebuah ayat dari Kitabullah kecuali aku mengetahui
tentang apa ayat itu turun dan jika aku mengetahui ada orang yang lebih tahu
dari aku tentang Kitabullah yang bisa dicapai dengan Unta, maka akan kupacu untaku
untuk menemuinya.”[8]
Jabir
bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu pernah mengadakan
perjalanan selama satu bulan menuju Syam hanya untuk mendapatkan satu hadits.
Beliau di Syam menemui Abdullah bin Unais untuk mendengar sebuah hadits dari Rasulullah.
Para tabi’in dan ulama setelah mereka juga demikian. Tidak sedikit dari mereka
yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah
sesuatu yang agung maka tidak mengherankan untuk mendapatkannya perlu
perjuangan.
Imam Abu
Hatim Ar Razi rahimahullah pernah mengatakan bahwa dirinya
pernah berjalan kaki lebih dari 1000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih
dari 5 km! Jadi imam ini pernah berjalan kaki lebih dari 5000 km untuk menuntut
ilmu. Belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan. Ada beberapa tempat yang
beliau kunjungi untuk menuntut ilmu: Baghdad, Kufah, Makah, Madinah, Syam, Mesir
dan lainnya. Lain lagi ceritanya dengan Imam Baqiy bin Makhlad Al Andalusi
rahimahullah. Beliau melakukan perjalanan dari Andalus lalu ke Afrika lalu ke
Baghdad hanya untuk belajar pada Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Imam
Ahmad bin Hambal sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam
menuntut ilmu sehingga dia menjadi imam besar dalam Islam. Ibnu Jauzi
mengatakan, “Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia
mengumpulkan kitab al Musnad.”[9]
Maka
setidaknya saya bisa merasakan warisan dari secuil semangat mereka.” Ucap Umam
dengan semangat yang berkobar-kobar.
Penjelesannya
yang panjang ini dia sampaikan kepada kedua orang tuanya dan membuat mereka
terkagum-kagum akan pengetahuan yang Umam miliki. Kemudian Umam pun mendapatkan
komentar dari kedua orang tuanya.
“Ini nih,
efek dari ceramah anak kita di Pesantren kilat kemaren Ma, karena kita nggak
ikut hadir, jadi sekaranglah anak kita ceramah di rumah.” kata Ayahnya Umam
kepada istri beliau, si Umam pun tersipu malu lalu meminta maaf karena terlalu
panjang penjelasannya tadi.
“Maafkan
Umam ya? Aku tidak bermaksud untuk menggurui Mama dan Ayah atau menjelaskan
keinginanku dengan panjang lebar, aku hanya lagi…” ucap Umam kebingungan.
“Nggak
papa nak, Ayah dan Mama bangga kepadamu, semoga kamu kelak menjadi kiyai dan
sukses dunia akhirat, Aamiin.” Jawab Ibunya.
Setelah
beberapa hari dari keputusan Umam untuk mondok di Gontor, dia mengunjungi
Pondoknya yang lama, Darul Hijrah. Umam pun mulai mengurus perpindahannya dari Pondok
Darul Hijrah dan berpamitan kepada teman-teman yang menetap di Pondok,
guru-guru serta pak kiyai untuk mengharapkan do’a dari mereka agar dia bisa
melanjutkan sekolahnya di Gontor dengan baik dan sampai selesai menjadi seorang
Ustadz. Pak Kiyai Darul Hijrah memberikan nasehat kepada Umam, “Umam, Gontor
itu terkenal dengan disiplinnya yang ketat dan bahasanya yang bagus. Kemungkinan
besar, semua santri merasakan dapat hukuman karena pelanggaran. Banyak dari
santri-santrinya yang melanjutkan kuliah mereka ke luar negri, baik itu di
Negara Arab ataupun di Negara Barat. Saya harap kamu bisa menjadi salah satu
dari mereka yang bisa kuliah ke luar negri. Dan satu lagi, ketika kamu berniat
untuk melanggar disiplin yang hukumannya bisa diusir dari pondok, ingatlah
kedua orang tuamu.”
“Iya Pak
Kiyai, insya Allah akan saya ingat pesan dan nasehat Pak Kiyai, mohon do’a Pak
Kiyai. Saya pamit, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.”
[1]
Tafsir al qur’an al adzhim, jilid 3, hal : 57
[2]
Diambil dari penjelasan tafsir Al-Qur’an al-adzhim, ibnu katsir, surat
al-baqarah ayat 30-31
[3]
Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 80, hadist riwayat muslim
(shohih muslim) jilid 8 no 2671
[4]
Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 100, hadist riwayat muslim
(shohih muslim) jilid 8 no 2673
[5]
Al-ilmu wa binaul Umam, hal 12
[6]
Hadist riwayat abu daud no 3641
[7]
http://pustakasalafi.com/perjalanan-ulama-dalam-menuntut-ilmu/
[8]
Hadist riwayat bukhori 5002 dan muslim 2463
[9]
http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2013/09/07/rihlah-para-ulama-dalam-menuntut-ilmu/
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar