Monday, April 13, 2015

Masa Ujian di Pondok



Masa Ujian di Pondok
Semakin lama Umam jalani hidup dan belajar di Pondok semakin bertambah pula semangatnya untuk belajar di sana. Hingga tanpa terasa ujian awal semester pun tiba, di mana para santri semangat dalam menghadapi ujian dan dia juga semangat dalam belajar. Bagi mereka tiada waktu untuk berleha-leha, semua santri menggunakan waktunya semaksimal mungkin untuk belajar. Ketika berjalan menuju ke mesjid, tiada langkah mereka lewati kecuali untuk belajar, ketika antri untuk mengambil jatah makan mereka pun sambil belajar dan ketika menyuap nasi pun mereka juga belajar. Bagi mereka waktu adalah emas dan sebaik-baiknya teman duduk adalah buku.
Tujuan diadakannya ujian di Pondok Pesantren adalah untuk menambahkan semangat para santri dalam belajar, bukan sebaliknya belajar untuk ujian. Karena kalau belajar untuk ujian para santri bisa berhenti belajar kalau sudah selesai ujiannya, tapi bagi mereka adalah menggunakan ujian untuk menambahkan semangat mereka dalam belajar. Begitu juga dengan ujian, akan membuat seseorang menjadi mulia atau menjadi hina. Kenapa? Karena dengan ujian seseorang diuji kejujuran dalam menghadapi ujian tersebut, kalau menghadapi ujian dengan kejujuran maka kemuliaanlah yang dia dapat dan kalau menghadapi ujian dengan curang atau menyontek (tidak jujur) maka dia akan terhina.
Selain ujian dalam bentuk materi, para santri juga terkadang diuji keimanannya oleh sang maha penguji, Allah ta’ala. Di saat ujian awal semester yang tepatnya hari ketiga setelah Umam keluar dari ruangan ujian. Umam merasa gelisah dan gundah. Kemudian dia pergi ke pinggir pinggir irigasi, duduk di bawah pohon yang menaunginya dari panasnya matahari. Tiba-tiba dia disapa oleh temannya yang mengabarkan bahwa dia ditelpon dari Ibunya di rumah.
“Waduh, saya cari akhi Umam di kamar nggak ada, ternyata kamu di sini. Btw, kamu dapat telpon dari keluarga kamu, cepat datang ya ke kantor penerimaan telpon?” Kata temannya tadi yang bertugas menjaga kantor penerimaan telpon.
“Iya, saya segera menyusul.” jawab Umam,
Setelah sampai di kantor penerimaan telpon tidak beberapa lama Ibunya nelpon balik, dan beliau memberikan kabar duka bahwa Pamannya Rudi sudah meninggal dunia. Paman yang sangat menyayangi Umam dan Umam sendiri juga menyayangi beliau. Beliaulah, yang dia anggap sebagai orang tuanya yang kedua, tapi kini sudah tiada. Umam sangat bersedih atas kepergian pamannya, dia teringat akan masa-masa Umam menemani pamannya keliling Pondok dan saat mereka berenang bersama di irigasi. Kesedihan Umam bertambah karena dia tidak bisa pulang untuk melihat pamannya sebelum dikuburkan, karena dia dalam masa ujian. Inilah kuasa ilahi, terkadang ada ujian dalam ujian.
“Nak Paman kamu Rudi meninggal dunia dan insya Allah akan dikuburkan sore ini sebelum shalat ashar. Kamu yang sabar yaaa, tetap terus semangat dalam belajar biar Pamanmu di alam sana bangga padamu. Jangan lupa! Selalu do’akan Pamanmu Rudi biar diampuni dosa-dosa beliau dan diterima amal kebaikannya disisi Allah ta’ala. Aamiin…” ucap sang Ibu kepada Umam.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, iya Ma, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa membahagiakan Ayah dan Mama begitu juga Paman serta keluarga yang lain, do’akan saya Ma biar kuat dan tabah dalam menjalani hidup ini.” Jawab Umam.
“Do’a Mama selalu menyertaimu nak.” ucap sang Ibu.
Sebelum shalat ashar dengan muka yang sedih karena peninggalan Pamannya yang dia sayang, dia pergi menuju kantor pengurus mesjid/bagian penerangan, yang menjabat di sana adalah kakak kelas dari kelas lima. Umam mengetuk pintu kantor tersebut yang diiringi dengan salam, “assalamu’alaikum yaa Al-akh,”
Dan Alhamdulillah, langsung dibukakan pintu dan dijawab salamnya oleh kakak kelas yang bertugas di sana, “Wa’alaikumusssalam yaa akhi Umam, ada yang bisa saya bantu?”
“Iya akh, saya mau minta bantuan untuk diumumkan kepada santri bahwa Paman saya meninggal dunia. Saya juga minta bantuan kepada seluruh santri serta para Asatidz untuk melaksanakan shalat ghaib sesudah shalat ashar serta membacakan surat yasin untuk beliau.” Jawab Umam,
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, iya nanti saya umumkan permintaan akhi Umam tadi, kamu yang sabar yaa, dan tetap semangat menghadapi ujian semester awal ini.”
“Iya, insya Allah saya bisa sabar dan tabah Akh, dan juga tetap semangat dalam menghadapi ujian.”
Waktu kehidupan terus berjalan yang selalu diiringi oleh kesenangan dan kesedihan, sebuah tangisan dan senyuman menjadi pendamping hidup, begitu juga ujian semester awal sudah terlaksanakan dengan lancar dan baik. Memang, perjalanan hidup tidak selalu lurus dan mulus, pasti selalu ada tikungan dan kerikil kehidupan yang menemani perjalanan hidup seseorang. Oleh karena itu, bagi yang bisa melewatinya dengan hati-hati dan penuh sabar insya Allah dia akan sampai dan memperoleh apa yang dia tuju dan dia inginkan. Begitu juga sebaliknya, yang apabila seseorang menjalani hidupnya dengan main-main atau berleha-leha, tidak berhati-hati terhadap keadaan yang menghadangnya dan yang harus dihadapinya, maka penyesalanlah yang akan dia peroleh.
Allah yang maha kuasa menciptakan segala hal selalu berpasang-pasangan, ada laki-laki ada juga wanita, ada tua dan ada juga yang muda, ada tangan kiri dan ada tangan kanan, ada senang dan ada juga kesedihan, ada yang mudah untuk dikerjakan ada juga yang sulit untuk dilaksanakan, ada sebuah senyuman ada juga tangisnya. Itulah kehidupan yang mewarnai kehidupan manusia, Allah ciptakan agar makhluknya bisa berpikir dan pandai bersyukur atas segala yang Allah berikan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yasin: 36)
Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (Hadist Riwayat Muslim: 2999)
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara khusus kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini (bersyukur dan bersabar), sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.” (Luqmaan: 31)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar