Masa Ujian di Pondok
Semakin lama Umam jalani hidup dan
belajar di Pondok semakin bertambah pula semangatnya untuk belajar di sana.
Hingga tanpa terasa ujian awal semester pun tiba, di mana para santri semangat
dalam menghadapi ujian dan dia juga semangat dalam belajar. Bagi mereka tiada
waktu untuk berleha-leha, semua santri menggunakan waktunya semaksimal mungkin
untuk belajar. Ketika berjalan menuju ke mesjid, tiada langkah mereka lewati
kecuali untuk belajar, ketika antri untuk mengambil jatah makan mereka pun
sambil belajar dan ketika menyuap nasi pun mereka juga belajar. Bagi mereka
waktu adalah emas dan sebaik-baiknya teman duduk adalah buku.
Tujuan diadakannya ujian di Pondok Pesantren
adalah untuk menambahkan semangat para santri dalam belajar, bukan sebaliknya
belajar untuk ujian. Karena kalau belajar untuk ujian para santri bisa berhenti
belajar kalau sudah selesai ujiannya, tapi bagi mereka adalah menggunakan ujian
untuk menambahkan semangat mereka dalam belajar. Begitu juga dengan ujian, akan
membuat seseorang menjadi mulia atau menjadi hina. Kenapa? Karena dengan ujian
seseorang diuji kejujuran dalam menghadapi ujian tersebut, kalau menghadapi
ujian dengan kejujuran maka kemuliaanlah yang dia dapat dan kalau menghadapi
ujian dengan curang atau menyontek (tidak jujur) maka dia akan terhina.
Selain ujian dalam bentuk materi,
para santri juga terkadang diuji keimanannya oleh sang maha penguji, Allah
ta’ala. Di saat ujian awal semester yang tepatnya hari ketiga setelah Umam keluar
dari ruangan ujian. Umam merasa gelisah dan gundah. Kemudian dia pergi ke
pinggir pinggir irigasi, duduk di bawah pohon yang menaunginya dari panasnya
matahari. Tiba-tiba dia disapa oleh temannya yang mengabarkan bahwa dia ditelpon
dari Ibunya di rumah.
“Waduh, saya cari akhi Umam di kamar
nggak ada, ternyata kamu di sini. Btw, kamu dapat telpon dari keluarga kamu,
cepat datang ya ke kantor penerimaan telpon?” Kata temannya tadi yang bertugas
menjaga kantor penerimaan telpon.
“Iya, saya segera menyusul.” jawab Umam,
Setelah sampai di kantor penerimaan telpon
tidak beberapa lama Ibunya nelpon balik, dan beliau memberikan kabar duka bahwa
Pamannya Rudi sudah meninggal dunia. Paman yang sangat menyayangi Umam dan Umam
sendiri juga menyayangi beliau. Beliaulah, yang dia anggap sebagai orang tuanya
yang kedua, tapi kini sudah tiada. Umam sangat bersedih atas kepergian pamannya,
dia teringat akan masa-masa Umam menemani pamannya keliling Pondok dan saat
mereka berenang bersama di irigasi. Kesedihan Umam bertambah karena dia tidak bisa
pulang untuk melihat pamannya sebelum dikuburkan, karena dia dalam masa ujian. Inilah
kuasa ilahi, terkadang ada ujian dalam ujian.
“Nak Paman kamu Rudi meninggal dunia
dan insya Allah akan dikuburkan sore ini sebelum shalat ashar. Kamu yang sabar
yaaa, tetap terus semangat dalam belajar biar Pamanmu di alam sana bangga
padamu. Jangan lupa! Selalu do’akan Pamanmu Rudi biar diampuni dosa-dosa beliau
dan diterima amal kebaikannya disisi Allah ta’ala. Aamiin…” ucap sang Ibu
kepada Umam.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,
iya Ma, saya akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa membahagiakan Ayah dan Mama
begitu juga Paman serta keluarga yang lain, do’akan saya Ma biar kuat dan tabah
dalam menjalani hidup ini.” Jawab Umam.
“Do’a Mama selalu menyertaimu nak.”
ucap sang Ibu.
Sebelum shalat ashar dengan muka
yang sedih karena peninggalan Pamannya yang dia sayang, dia pergi menuju kantor
pengurus mesjid/bagian penerangan, yang menjabat di sana adalah kakak kelas
dari kelas lima. Umam mengetuk pintu kantor tersebut yang diiringi dengan salam,
“assalamu’alaikum yaa Al-akh,”
Dan Alhamdulillah, langsung dibukakan
pintu dan dijawab salamnya oleh kakak kelas yang bertugas di sana, “Wa’alaikumusssalam
yaa akhi Umam, ada yang bisa saya bantu?”
“Iya akh, saya mau minta bantuan
untuk diumumkan kepada santri bahwa Paman saya meninggal dunia. Saya juga minta
bantuan kepada seluruh santri serta para Asatidz untuk melaksanakan shalat
ghaib sesudah shalat ashar serta membacakan surat yasin untuk beliau.” Jawab
Umam,
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,
iya nanti saya umumkan permintaan akhi Umam tadi, kamu yang sabar yaa, dan
tetap semangat menghadapi ujian semester awal ini.”
“Iya, insya Allah saya bisa sabar
dan tabah Akh, dan juga tetap semangat dalam menghadapi ujian.”
Waktu kehidupan terus berjalan yang
selalu diiringi oleh kesenangan dan kesedihan, sebuah tangisan dan senyuman menjadi
pendamping hidup, begitu juga ujian semester awal sudah terlaksanakan dengan
lancar dan baik. Memang, perjalanan hidup tidak selalu lurus dan mulus, pasti
selalu ada tikungan dan kerikil kehidupan yang menemani perjalanan hidup
seseorang. Oleh karena itu, bagi yang bisa melewatinya dengan hati-hati dan
penuh sabar insya Allah dia akan sampai dan memperoleh apa yang dia tuju dan dia
inginkan. Begitu juga sebaliknya, yang apabila seseorang menjalani hidupnya
dengan main-main atau berleha-leha, tidak berhati-hati terhadap keadaan yang
menghadangnya dan yang harus dihadapinya, maka penyesalanlah yang akan dia peroleh.
Allah yang maha kuasa menciptakan
segala hal selalu berpasang-pasangan, ada laki-laki ada juga wanita, ada tua
dan ada juga yang muda, ada tangan kiri dan ada tangan kanan, ada senang dan
ada juga kesedihan, ada yang mudah untuk dikerjakan ada juga yang sulit untuk
dilaksanakan, ada sebuah senyuman ada juga tangisnya. Itulah kehidupan yang
mewarnai kehidupan manusia, Allah ciptakan agar makhluknya bisa berpikir dan
pandai bersyukur atas segala yang Allah berikan. Sebagaimana Allah ta’ala
berfirman yang artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari
diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yasin: 36)
Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu
berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah
mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa)
kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia
mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya,
dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan
baginya.” (Hadist Riwayat Muslim: 2999)
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji secara
khusus kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini (bersyukur dan bersabar),
sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan
tanda-tanda kebesaran Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahakuasaan Allah)
bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.” (Luqmaan: 31)
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar