Monday, April 13, 2015

Menyeberangi Lautan Ilmu



Bagian 6: Menyeberangi Lautan Ilmu
Seperti dengan hal yang sebelumnya, Umam merasa kasihan kepada kedua orang tuanya karena tujuan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya akan menjadi beban bagi mereka. Sebelum hari keberangkatan dari Kalimantan menuju tanah jawa, Umam bertanya kepada kedua orang tuanya tentang persiapan untuk mendaftar di Pondok Gontor yang berada di tanah jawa tersebut, “Ayah, biaya untuk keberangkatan saya ke tanah sudah cukup apa belum?” Tanya Umam.
Pertanyaannya ini bukan sebagai peremehan akan ketidakmampuan kedua orang tuanya, akan tetapi Umam tidak mau memberatkan beban mereka. Umam sendiri dengan melihat kondisi Ayahnya yang sering sakit-sakitan karena sudah lanjut usia, membuat Umam tidak tega untuk meminta sesuatu yang lebih. Bagi Umam, meminta biaya untuk pergi belajar ke Gontor itu adalah sesuatu yang sangat memberatkan orang tuanya.
“Tenang saja nak, Ayah nanti mau meminjam uang kesalah satu sanak family yang berada di kota untuk biaya segala sesuatu yang dibutuhkan, karena uang yang Ayah miliki memang belum cukup untuk biaya pemberangkatanmu dari Kalimantan ke jawa dan mungkin masih kurang banyak.” Jawab Ayahnya Umam sambil menatap sang anak dengan tatapan yang ragu dan kasihan.
Umam sendiri menyadari bahwa kedua orang tuanya mempunyai keinginan yang tinggi untuk kebaikan anak-anaknya walaupun itu berat untuk dilaksanakan, akan tetapi semangat dan usaha merekalah yang membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Keajaiban pasti akan datang setelah semangat, usaha dan do’a yang dipanjatkan. Sesuai dengan pepatah yang pernah dipelajari Umam di kelas satu saat pertama kali mondok yang berbunyi: “al’amalu yaj’alus shu’ba sahlan.” Yang artinya: “usaha membuat segala sesuatu menjadi mudah.”
Umam bertanya kepada Ayahnya, “Ayah kapan pergi ke Kota dan naik apa?”
Ayahnya memeberitahu bahwa besok hari beliau mau pergi ke kota untuk meminjam uang.
“Besok sekitar jam 5 sore Ayah mau pergi ke saudara Ayah yang di kota untuk minjam uang. Insya Allah ikut mobil pic up yang jual sayur nak, kebetulan tujuan mobilnya melewati rumah sepupu kamu yang di kota. Tugasmu di rumah adalah menjaga Mamamu dan adik-adikmu.” kata Ayahnya Umam.
Melihat kondisi Ayahnya yang sudah tua dan sering sakit, dia tidak tega melihat Ayahnya berangkat dengan mobil tersebut. Umam pun meminta kepada Ayahnya untuk memberikan izin agar dia saja yang berangkat ke Kota.
“Saya saja Yah (Ayah) yang berangkat! Saya minta alamat sepupu kita yang di kota itu.”
“Apa kamu berani pergi ke kota sendirian nak?” Tanya Ayahnya.
“Saya ini cowok yah dan saya sudah dewasa, insya Allah saya bisa jaga diri. Do’akan saya saja yah (Ayah) semoga selamat sampai tujuan.” Jawab Umam.
 “Ayah dan Mamamu selalu mendo’akanmu dan adik-adikmu nak.”
Umam berangkat dari rumahnya menaiki mobil sayur menuju ke kota, udara yang panas akibat percikan suhu matahari dan kemudian diiringi angin malam yang sepoi-sepoi menemaninya di dalam perjalanan ke rumah sepupunya tersebut. Umam berserta penumpang yang lainnya berhenti di tengah jalan ketika mau mengerjakan shalat Maghrib dan Isya yang kemudian langsung melanjutkan perjalanan mereka karena takut larut malam.
Setelah memakan waktu lama dalam perjalanan, tibalah di rumah sepupu Umam malam hari, sekitar jam Sembilan malam. Alhamdulillah, sepupu Umam sudah tau akan kedatangan dan niat Umam, karena Ayahnya sudah memberitahukan beliau lewat telpon. Sepupunya ini yang dia panggil Paman Husni, beliau adalah saudara Ayahnya sendiri. Paman Husni langsung menyuruh Umam masuk rumah serta mengajaknya makan malam.
“Sengaja aku dan istriku menunda makan malam, karena kami ingin makan bersama salah satu personil anggota PPI,” ucap Paman husni kepada Umam.
Umam pun bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya, ‘apa sih PPI itu?’ dan kemudian istri beliau (Bibi Aisyah) langsung bertanya kepada Paman Husni:
“Apa PPI itu ka?”
“Pejuang Pencari Ilmu.” Ucap Pamannya sambil tersenyum.
“Owh, saya kira apa gitu.” kata bibi (istri Paman Husni) sambil tersenyum.
Umam pun ikut tersenyum mendengar ucapan Pamannya tadi dan berterima kasih atas jamuan makan malam bersama keluarga beliau.
“Paman Husni dan Bibi Aisyah, terima kasih yaa atas jamuan makan malamnya.” Ucap Umam kepada Pamannya.
“Malam ini, kamu istirahat dan nginap aja di rumah Paman, besok kita lanjutin bicaranya, saya tau kamu pasti capek setelah perjalanan jauh dari rumahmu.”
Umam beristirahat dan menginap di rumah Pamannya yang sudah disediakan di kamar tamu beliau. Keesokan hari Umam diajak berbicara sama Pamannya, “Umam, Ayahmu kemaren nelpon saya dan mau minjam uang kesaya sebesar lima juta rupiah untuk pendaftaran sekolah kamu di Gontor serta kebutuhan kamu yang lainnya. Tapi saya juga sangat bersyukur dan berterima kasih kepada kamu dan Ayah kamu kalau kalian menerima pemberian uang lima juta ini dari saya. Saya merasa sangat beruntung mempunyai kesempatan membantu orang yang semangat dalam menuntut ilmu. Yaaa, hitung-hitung saya punya amal jariyah lah dari kamu.” Ucap Paman Husni kepada Umam.
“Alhamdulillah, terima kasih Paman atas bantuannya dan semoga saya bisa menjalankan amanat Paman terhadap saya.” Jawab Umam.
“Iya sama-sama, insya Allah kamu bisa Umam, dan sampaikan terima kasih Paman kepada kedua orang tuamu yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membantu kalian semua. Saya sangat senang dan bersyukur atas semua ini. Ingat, kamu adalah mutiara permata hati di keluargamu, maka jangan kecewakan mereka dan buatlah air mata mereka sebagai tanda air mata kebahagian karena melihat kesuksesanmu.” ucap Pamannya tadi.
“Iya, nanti saya sampaikan amanah Paman kepada orang tua saya dan saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan kedua orang tua saya.” Jawab Umam.
Kemudian Umam pulang ke rumah dan menyampaikan amanah Paman Husni kepada kedua orang tuanya.
“Ayah, kata Paman husni, uang yang lima juta ini ambil saja sebagai pemberian dari beliau bukan sebuah pinjaman atau hutang. Beliau juga berterima kasih kalau Ayah mau menerima pemberian Paman Husni ini.” ucap Umam.
Kedua orang tuanya sangat bersyukur atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka, salah satunya adalah melalui perantara Paman Husni. Ayahnya pun pergi ke wartel (warung telepon) untuk menelpon Paman Husni. Ayahnya Umam berterima kasih kepada Paman Husni atas bantuan beliau kepada mereka.
“Saudaraku Husni, terima kasih atas bantuannya yaa, semoga Allah memberikan kebaikan rezeki yang berlipat ganda dan dimudahkan segala urusanmu, Aamiin” ucap Ayah Umam.
“Aamiin, sama-sama Ka, terima kasih juga karena mau menerima pemberian saya, semoga kita selalu dalam bimbingan Allah.”
Besoknya Umam dan Ayahnya langsung membeli tiket kapal laut untuk keberangkatan mereka yang ternyata sudah direncanakan oleh keluarganya hanya Umam dan Ayahnya saja yang berangkat ke Jawa. Melihat sang Ayah yang membeli hanya dua tiket, Umam bingung karena uang yang mereka punya lumayan banyak, kemudian dia pun bertanya kepada Ayahnya, “Ayah, kok tiket kapalnya hanya untuk dua orang?”
“Iya, karena Mama dan adik-adikmu tidak mau ikut dan biar kamu bisa punya uang jajan yang cukup banyak.”
“Uang jajan yang banyak tidak begitu berarti bagi saya yah (Ayah), tapi kehadiran Ayah, Mama dan adik-adik sangat berarti bagi saya sebelum saya menetap di Gontor. Lagian uang yang dikasih Paman kan masih banyak yah (Ayah), saya ingin pergi bersama keluarga yang lengkap dan biar mereka juga bisa merasakan naik Kapal Besar.”
Alhamdulillah, akhirnya Ayahnya pun mau membelikan tiket untuk mereka sekeluarga dan memberitahukan kepada Ibu dan adik-adinya untuk bersiap-siap berangkat ke Jawa besok hari. Ketika itu juga, adiknya yang bernama Budi juga sedang dalam masa liburan. Jadi Umam bisa berangkat ke Gontor dengan keluarga yang lengkap. Ibunya berucap kepada Umam sambil merapikan pakaian untuk keberangkatan mereka ke Gontor besok hari, “Anakku sayang, Alhamdulillah kita bisa berangkat dan jalan-jalan ke Jawa. Ini adalah salah satu keberkahan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya dalam menuntut ilmu.”
“Alhamdulillah ya Ma, Allah masih sayang sama kita dan dikumpulkan dengan hamba-hambanya yang menyayangi kita. Semoga kita selalu berada di jalan yang diridhaiNya, Aamiin.” jawab Umam.
Di pagi hari, Umam dan keluarganya berangkat dari rumah menuju pelabuhan menaiki mobil angkutan, karena kapalnya akan berangkat ke jawa sesudah shalat dzuhur. Pengalaman awal menaiki kapal laut mereka sekeluarga merasa sangat senang dan bahagia, Umam bersama adiknya Budi dan Shasa berjalan mengililingi kapal. Di seluruh sisi kapal mereka jalani dan berakhir duduk santai di atas kapal tersebut sambil menikmati angin laut dan keindahan alam. Sedangkan Ayah dan Ibunya merapikan barang-barang yang mereka bawa dan kemudian beristirahat.
“Alangkah indahnya ciptaan tuhan ya dek Budi dan dek Shasa!” kata Umam kepada adik-adiknya, kemudian mereka menjawab, “Iya Ka.”
Lautan yang biru, ombak yang besar dan burung-burung beterbangangan seakan-akan menari di mata mereka, pandangan mereka pun terhiasi oleh keindahan ciptaan tuhan yang maha kuasa. Tanpa terasa sudah dua jam mereka duduk-duduk santai di atas kapal dalam menikmati keindahan alam. Sedangkan lama perjalanan dari Kalimantan ke Jawa sekitar 18 jam. Rupanya mereka masih punya kesempatan banyak untuk menikmati perjalanan di atas lautan yang biru ini. Umam mengajak adiknya Budi dan Shasa untuk menemui Ayah dan Ibu mereka karena dia takut orang tua mereka khawatir atas keselamatan anak-anaknya.
“Yuk, kita temui Ayah dan Mama, sudah lama kita jalan-jalannya, nanti mereka khawatir dan nyari kita lagi.”
Mereka pun menemui Ayah dan Ibunya yang ternyata kedua orang tuanya juga duduk santai di pinggir kapal sambil menikmati keindahan laut.
Setelah enam jam lamanya perjalanan Uman dan keluarganya di kapal, dia dan keluarganya terkena mabuk dan muntah-muntah karena angin laut. Di saat itu ada pembagian makan malam dari pihak kapal yang terdapat di loket pembagian makanan. Karena semua keluarganya Umam terkena mabuk laut, Umam lah yang harus mengambil jatah makan malam tersebut dengan membawa tiket kapal mereka semua. Umam pun berjalan menuju loket tersebut dengan pelan-pelan dan terlihat lemah karena mabuk laut. Baginya mabuk laut terasa lebih parah sakitnya dari pada mabuk di perjalanan darat. Akhirnya, sisa waktu perjalanan di kapal mereka gunakan untuk istirahat sambil tidur-tiduran atau nonton TV dan juga berdzikir agar bisa membuat mereka tertidur.
Sedangkan untuk shalat di kapal laut, mereka melaksanakannya seperti biasa di rumah dengan berdiri ruku, sujud dan yang lainnya, hanya saja shalatnya dijama’. Alhamdulillah di sana sudah disediakan tempat untuk shalat berjama’ah yang seringnya dilaksanakan dengan cara jama’ qashar.
Siang dan malam mereka lewati di dalam kapal laut, mereka pun tiba dengan selamat di pelabuhan tanjung perak Surabaya, pada pukul enam sore. Umam dan keluarganya langsung menuju mesjid untuk melaksanakan shalat jama’ Maghrib dan Isya berjama’ah, kemudian mereka beristirahat sebentar untuk menghilangkan lelah dan rasa ombak laut yang telah mereka lalui.
Setelah beristirahat, Umam dan keluarganya (Ayah, Ibu, adiknya Budi dan Shasa) mencari makan malam. Mereka mampir di sebuah warung makan yang dekat dengan pelabuhan tanjung perak.
“Bapak dan Ibu, mau makan apa?” Tanya penjual kepada kedua orang tua Umam,
“Kami mesan nasi rawon aja Bu.” Jawab Ibunya Umam.
Kemudian si penjual tadi bertanya lagi, “Kalau mas-mas dan mbak ini mau beli apa ya?”
“Waduh, masih kecil saya sudah di panggil mas!” kata adik Budi sambil tersenyum.
Kedua orang tua Umam hanya bisa tersenyum, karena memang di daerah Umam panggilan ‘Mas’ seringnya dipakai untuk suami atau kakak. Kemudian Umam langsung menjawab pertanyaan ibu penjual tadi, “Kami pesan nasi goreng pakai telor aja bu, dan satunya jangan terlalu pedas buat adik saya Shasa.”
Setelah selesai makan, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Pondok Modern Gontor yang berada di Ponorogo Jawa Timur dengan menaiki bis tujuan Ponorogo. Mereka tiba di Pondok Modern Gontor pada jam 11 malam yang kemudian diterima kedatangan mereka oleh kakak kelas yang sudah duduk di kelas enam.
“Assalamu’alaikum,” sebuah sapaan dari seorang santri kelas enam yang berpakaian rapi,
“Wa’alaikumusssalam.” Umam dan keluarganya menjawab salam tadi.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya dia (santri kelas enam).
“Iya, kalau boleh, saya mau masukin anak saya Umam ke Pondok ini, di mana kantor pendaftarannya yaa?” Tanya Ayahnya.
“Maaf Pak, sekarang pendaftaarannya sudah tutup dan besok jam 7 pagi baru buka. Untuk sementara bapak dan sekeluarga menginap saja di ruangan tamu dan besok pagi baru daftar.” Jawab santri tadi.
Umam dan keluarganya pun akhirnya menginap di ruangan tamu, dan sebelumnya mendaftarkan diri dulu ke Kantor Bagian Penerimaan Tamu. Besoknya, di pagi hari Umam menyiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk masuk Gontor. Ijazah, Akte Kelahiran, dan berkas-berkas yang lainnya. Mereka diantar oleh bagian tamu menuju kawasan Pondok Modern Gontor dengan jalan kaki, karena letaknya memang lumayan dekat dengan bangunan tempat mereka menginap.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar