Bagian 6: Menyeberangi Lautan Ilmu
Seperti dengan hal yang sebelumnya, Umam
merasa kasihan kepada kedua orang tuanya karena tujuan untuk melanjutkan
jenjang pendidikannya akan menjadi beban bagi mereka. Sebelum hari
keberangkatan dari Kalimantan menuju tanah jawa, Umam bertanya kepada kedua
orang tuanya tentang persiapan untuk mendaftar di Pondok Gontor yang berada di tanah
jawa tersebut, “Ayah, biaya untuk keberangkatan saya ke tanah sudah cukup apa
belum?” Tanya Umam.
Pertanyaannya ini bukan sebagai
peremehan akan ketidakmampuan kedua orang tuanya, akan tetapi Umam tidak mau
memberatkan beban mereka. Umam sendiri dengan melihat kondisi Ayahnya yang
sering sakit-sakitan karena sudah lanjut usia, membuat Umam tidak tega untuk
meminta sesuatu yang lebih. Bagi Umam, meminta biaya untuk pergi belajar ke
Gontor itu adalah sesuatu yang sangat memberatkan orang tuanya.
“Tenang saja nak, Ayah nanti mau
meminjam uang kesalah satu sanak family yang berada di kota untuk biaya segala
sesuatu yang dibutuhkan, karena uang yang Ayah miliki memang belum cukup untuk
biaya pemberangkatanmu dari Kalimantan ke jawa dan mungkin masih kurang
banyak.” Jawab Ayahnya Umam sambil menatap sang anak dengan tatapan yang ragu
dan kasihan.
Umam sendiri menyadari bahwa kedua
orang tuanya mempunyai keinginan yang tinggi untuk kebaikan anak-anaknya
walaupun itu berat untuk dilaksanakan, akan tetapi semangat dan usaha merekalah
yang membuat segala sesuatunya menjadi mudah. Keajaiban pasti akan datang
setelah semangat, usaha dan do’a yang dipanjatkan. Sesuai dengan pepatah yang
pernah dipelajari Umam di kelas satu saat pertama kali mondok yang berbunyi: “al’amalu
yaj’alus shu’ba sahlan.” Yang artinya: “usaha membuat segala sesuatu menjadi
mudah.”
Umam bertanya kepada Ayahnya, “Ayah
kapan pergi ke Kota dan naik apa?”
Ayahnya memeberitahu bahwa besok
hari beliau mau pergi ke kota untuk meminjam uang.
“Besok sekitar jam 5 sore Ayah mau
pergi ke saudara Ayah yang di kota untuk minjam uang. Insya Allah ikut mobil
pic up yang jual sayur nak, kebetulan tujuan mobilnya melewati rumah sepupu
kamu yang di kota. Tugasmu di rumah adalah menjaga Mamamu dan adik-adikmu.”
kata Ayahnya Umam.
Melihat kondisi Ayahnya yang sudah
tua dan sering sakit, dia tidak tega melihat Ayahnya berangkat dengan mobil
tersebut. Umam pun meminta kepada Ayahnya untuk memberikan izin agar dia saja
yang berangkat ke Kota.
“Saya saja Yah (Ayah) yang berangkat!
Saya minta alamat sepupu kita yang di kota itu.”
“Apa kamu berani pergi ke kota
sendirian nak?” Tanya Ayahnya.
“Saya ini cowok yah dan saya sudah
dewasa, insya Allah saya bisa jaga diri. Do’akan saya saja yah (Ayah) semoga
selamat sampai tujuan.” Jawab Umam.
“Ayah dan Mamamu selalu mendo’akanmu dan
adik-adikmu nak.”
Umam berangkat dari rumahnya menaiki
mobil sayur menuju ke kota, udara yang panas akibat percikan suhu matahari dan
kemudian diiringi angin malam yang sepoi-sepoi menemaninya di dalam perjalanan
ke rumah sepupunya tersebut. Umam berserta penumpang yang lainnya berhenti di tengah
jalan ketika mau mengerjakan shalat Maghrib dan Isya yang kemudian langsung
melanjutkan perjalanan mereka karena takut larut malam.
Setelah memakan waktu lama dalam
perjalanan, tibalah di rumah sepupu Umam malam hari, sekitar jam Sembilan malam.
Alhamdulillah, sepupu Umam sudah tau akan kedatangan dan niat Umam, karena Ayahnya
sudah memberitahukan beliau lewat telpon. Sepupunya ini yang dia panggil Paman Husni,
beliau adalah saudara Ayahnya sendiri. Paman Husni langsung menyuruh Umam masuk
rumah serta mengajaknya makan malam.
“Sengaja aku dan istriku menunda
makan malam, karena kami ingin makan bersama salah satu personil anggota PPI,”
ucap Paman husni kepada Umam.
Umam pun bingung dan bertanya-tanya
dalam hatinya, ‘apa sih PPI itu?’ dan kemudian istri beliau (Bibi Aisyah)
langsung bertanya kepada Paman Husni:
“Apa PPI itu ka?”
“Pejuang Pencari Ilmu.” Ucap Pamannya
sambil tersenyum.
“Owh, saya kira apa gitu.” kata bibi
(istri Paman Husni) sambil tersenyum.
Umam pun ikut tersenyum mendengar
ucapan Pamannya tadi dan berterima kasih atas jamuan makan malam bersama
keluarga beliau.
“Paman Husni dan Bibi Aisyah, terima
kasih yaa atas jamuan makan malamnya.” Ucap Umam kepada Pamannya.
“Malam ini, kamu istirahat dan
nginap aja di rumah Paman, besok kita lanjutin bicaranya, saya tau kamu pasti
capek setelah perjalanan jauh dari rumahmu.”
Umam beristirahat dan menginap di
rumah Pamannya yang sudah disediakan di kamar tamu beliau. Keesokan hari Umam
diajak berbicara sama Pamannya, “Umam, Ayahmu kemaren nelpon saya dan mau
minjam uang kesaya sebesar lima juta rupiah untuk pendaftaran sekolah kamu di
Gontor serta kebutuhan kamu yang lainnya. Tapi saya juga sangat bersyukur dan
berterima kasih kepada kamu dan Ayah kamu kalau kalian menerima pemberian uang lima
juta ini dari saya. Saya merasa sangat beruntung mempunyai kesempatan membantu
orang yang semangat dalam menuntut ilmu. Yaaa, hitung-hitung saya punya amal
jariyah lah dari kamu.” Ucap Paman Husni kepada Umam.
“Alhamdulillah, terima kasih Paman
atas bantuannya dan semoga saya bisa menjalankan amanat Paman terhadap saya.” Jawab
Umam.
“Iya sama-sama, insya Allah kamu
bisa Umam, dan sampaikan terima kasih Paman kepada kedua orang tuamu yang telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk membantu kalian semua. Saya sangat
senang dan bersyukur atas semua ini. Ingat, kamu adalah mutiara permata hati di
keluargamu, maka jangan kecewakan mereka dan buatlah air mata mereka sebagai
tanda air mata kebahagian karena melihat kesuksesanmu.” ucap Pamannya tadi.
“Iya, nanti saya sampaikan amanah Paman
kepada orang tua saya dan saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk
membahagiakan kedua orang tua saya.” Jawab Umam.
Kemudian Umam pulang ke rumah dan
menyampaikan amanah Paman Husni kepada kedua orang tuanya.
“Ayah, kata Paman husni, uang yang lima
juta ini ambil saja sebagai pemberian dari beliau bukan sebuah pinjaman atau
hutang. Beliau juga berterima kasih kalau Ayah mau menerima pemberian Paman
Husni ini.” ucap Umam.
Kedua orang tuanya sangat bersyukur
atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka, salah satunya adalah
melalui perantara Paman Husni. Ayahnya pun pergi ke wartel (warung telepon) untuk
menelpon Paman Husni. Ayahnya Umam berterima kasih kepada Paman Husni atas
bantuan beliau kepada mereka.
“Saudaraku Husni, terima kasih atas
bantuannya yaa, semoga Allah memberikan kebaikan rezeki yang berlipat ganda dan
dimudahkan segala urusanmu, Aamiin” ucap Ayah Umam.
“Aamiin, sama-sama Ka, terima kasih
juga karena mau menerima pemberian saya, semoga kita selalu dalam bimbingan
Allah.”
Besoknya Umam dan Ayahnya langsung
membeli tiket kapal laut untuk keberangkatan mereka yang ternyata sudah
direncanakan oleh keluarganya hanya Umam dan Ayahnya saja yang berangkat ke
Jawa. Melihat sang Ayah yang membeli hanya dua tiket, Umam bingung karena uang
yang mereka punya lumayan banyak, kemudian dia pun bertanya kepada Ayahnya, “Ayah,
kok tiket kapalnya hanya untuk dua orang?”
“Iya, karena Mama dan adik-adikmu
tidak mau ikut dan biar kamu bisa punya uang jajan yang cukup banyak.”
“Uang jajan yang banyak tidak begitu
berarti bagi saya yah (Ayah), tapi kehadiran Ayah, Mama dan adik-adik sangat
berarti bagi saya sebelum saya menetap di Gontor. Lagian uang yang dikasih Paman
kan masih banyak yah (Ayah), saya ingin pergi bersama keluarga yang lengkap dan
biar mereka juga bisa merasakan naik Kapal Besar.”
Alhamdulillah, akhirnya Ayahnya pun mau
membelikan tiket untuk mereka sekeluarga dan memberitahukan kepada Ibu dan
adik-adinya untuk bersiap-siap berangkat ke Jawa besok hari. Ketika itu juga,
adiknya yang bernama Budi juga sedang dalam masa liburan. Jadi Umam bisa
berangkat ke Gontor dengan keluarga yang lengkap. Ibunya berucap kepada Umam
sambil merapikan pakaian untuk keberangkatan mereka ke Gontor besok hari, “Anakku
sayang, Alhamdulillah kita bisa berangkat dan jalan-jalan ke Jawa. Ini adalah
salah satu keberkahan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya dalam
menuntut ilmu.”
“Alhamdulillah ya Ma, Allah masih
sayang sama kita dan dikumpulkan dengan hamba-hambanya yang menyayangi kita.
Semoga kita selalu berada di jalan yang diridhaiNya, Aamiin.” jawab Umam.
Di pagi hari, Umam dan keluarganya
berangkat dari rumah menuju pelabuhan menaiki mobil angkutan, karena kapalnya
akan berangkat ke jawa sesudah shalat dzuhur. Pengalaman awal menaiki kapal
laut mereka sekeluarga merasa sangat senang dan bahagia, Umam bersama adiknya Budi
dan Shasa berjalan mengililingi kapal. Di seluruh sisi kapal mereka jalani dan berakhir
duduk santai di atas kapal tersebut sambil menikmati angin laut dan keindahan
alam. Sedangkan Ayah dan Ibunya merapikan barang-barang yang mereka bawa dan
kemudian beristirahat.
“Alangkah indahnya ciptaan tuhan ya
dek Budi dan dek Shasa!” kata Umam kepada adik-adiknya, kemudian mereka
menjawab, “Iya Ka.”
Lautan yang biru, ombak yang besar
dan burung-burung beterbangangan seakan-akan menari di mata mereka, pandangan mereka
pun terhiasi oleh keindahan ciptaan tuhan yang maha kuasa. Tanpa terasa sudah
dua jam mereka duduk-duduk santai di atas kapal dalam menikmati keindahan alam.
Sedangkan lama perjalanan dari Kalimantan ke Jawa sekitar 18 jam. Rupanya mereka
masih punya kesempatan banyak untuk menikmati perjalanan di atas lautan yang
biru ini. Umam mengajak adiknya Budi dan Shasa untuk menemui Ayah dan Ibu mereka
karena dia takut orang tua mereka khawatir atas keselamatan anak-anaknya.
“Yuk, kita temui Ayah dan Mama,
sudah lama kita jalan-jalannya, nanti mereka khawatir dan nyari kita lagi.”
Mereka pun menemui Ayah dan Ibunya
yang ternyata kedua orang tuanya juga duduk santai di pinggir kapal sambil
menikmati keindahan laut.
Setelah enam jam lamanya perjalanan Uman
dan keluarganya di kapal, dia dan keluarganya terkena mabuk dan muntah-muntah
karena angin laut. Di saat itu ada pembagian makan malam dari pihak kapal yang
terdapat di loket pembagian makanan. Karena semua keluarganya Umam terkena
mabuk laut, Umam lah yang harus mengambil jatah makan malam tersebut dengan
membawa tiket kapal mereka semua. Umam pun berjalan menuju loket tersebut
dengan pelan-pelan dan terlihat lemah karena mabuk laut. Baginya mabuk laut terasa
lebih parah sakitnya dari pada mabuk di perjalanan darat. Akhirnya, sisa waktu
perjalanan di kapal mereka gunakan untuk istirahat sambil tidur-tiduran atau
nonton TV dan juga berdzikir agar bisa membuat mereka tertidur.
Sedangkan untuk shalat di kapal
laut, mereka melaksanakannya seperti biasa di rumah dengan berdiri ruku, sujud
dan yang lainnya, hanya saja shalatnya dijama’. Alhamdulillah di sana sudah
disediakan tempat untuk shalat berjama’ah yang seringnya dilaksanakan dengan
cara jama’ qashar.
Siang dan malam mereka lewati di
dalam kapal laut, mereka pun tiba dengan selamat di pelabuhan tanjung perak
Surabaya, pada pukul enam sore. Umam dan keluarganya langsung menuju mesjid
untuk melaksanakan shalat jama’ Maghrib dan Isya berjama’ah, kemudian mereka
beristirahat sebentar untuk menghilangkan lelah dan rasa ombak laut yang telah mereka
lalui.
Setelah beristirahat, Umam dan
keluarganya (Ayah, Ibu, adiknya Budi dan Shasa) mencari makan malam. Mereka mampir
di sebuah warung makan yang dekat dengan pelabuhan tanjung perak.
“Bapak dan Ibu, mau makan apa?”
Tanya penjual kepada kedua orang tua Umam,
“Kami mesan nasi rawon aja Bu.” Jawab
Ibunya Umam.
Kemudian si penjual tadi bertanya
lagi, “Kalau mas-mas dan mbak ini mau beli apa ya?”
“Waduh, masih kecil saya sudah di panggil
mas!” kata adik Budi sambil tersenyum.
Kedua orang tua Umam hanya bisa
tersenyum, karena memang di daerah Umam panggilan ‘Mas’ seringnya dipakai untuk
suami atau kakak. Kemudian Umam langsung menjawab pertanyaan ibu penjual tadi,
“Kami pesan nasi goreng pakai telor aja bu, dan satunya jangan terlalu pedas
buat adik saya Shasa.”
Setelah selesai makan, mereka
langsung melanjutkan perjalanan menuju Pondok Modern Gontor yang berada di
Ponorogo Jawa Timur dengan menaiki bis tujuan Ponorogo. Mereka tiba di Pondok Modern
Gontor pada jam 11 malam yang kemudian diterima kedatangan mereka oleh kakak
kelas yang sudah duduk di kelas enam.
“Assalamu’alaikum,” sebuah sapaan
dari seorang santri kelas enam yang berpakaian rapi,
“Wa’alaikumusssalam.” Umam dan
keluarganya menjawab salam tadi.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
Tanya dia (santri kelas enam).
“Iya, kalau boleh, saya mau masukin
anak saya Umam ke Pondok ini, di mana kantor pendaftarannya yaa?” Tanya Ayahnya.
“Maaf Pak, sekarang pendaftaarannya
sudah tutup dan besok jam 7 pagi baru buka. Untuk sementara bapak dan
sekeluarga menginap saja di ruangan tamu dan besok pagi baru daftar.” Jawab
santri tadi.
Umam dan keluarganya pun akhirnya menginap di ruangan
tamu, dan sebelumnya mendaftarkan diri dulu ke Kantor Bagian Penerimaan Tamu.
Besoknya, di pagi hari Umam menyiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk
masuk Gontor. Ijazah, Akte Kelahiran, dan berkas-berkas yang lainnya. Mereka diantar
oleh bagian tamu menuju kawasan Pondok Modern Gontor dengan jalan kaki, karena
letaknya memang lumayan dekat dengan bangunan tempat mereka menginap.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar