Monday, April 13, 2015

Pendahuluan



Pendahuluan
Alhamdulillah, segala puji Allah maha besar yang telah menciptakan kita begitu sempurna, dengan mata kita bisa bertatap muka, dengan tangan kita bisa bekerja, dengan kaki kita bisa berjalan dan anggota badan yang lainnya sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing.
Ada yang bilang hidup tak seindah dibayangkan, tapi hidup akan terasa indah dan nikmat apabila kita pandai bersyukur atas segala yang telah allah anugrahkan kepada kita semua. Hidup itu akan terasa indah dan mudah apabila memandangnya dengan optimis, begitu juga akan terasa susah apabila memandangnya dengan pesimis. Yakinlah, apa yang kita dapat adalah terbaik untuk kita yang telah Allah sediakan untuk kita semua. Terus berusaha untuk meraih masa depan yang cerah dengan mengerjakan yang terbaik di masa kini. Jangan pandangi masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah dengan penuh optimis dan terus berusaha.
Di sini saya akan menuliskan sebuah cerita, cerita seorang anak nelayan yang tangguh dan selalu optimis. Menjadikan segala musibah adalah hikmah, tantangan menjadi peluang dan menjadikan kesempatan adalah nyawa.
Sebelumnya, jangan menilai bahwa anak nelayan itu rendah yang hanya bisa mencari dan berburu ikan, atau bisanya cuma menentramkan keadaan dari sebuah gelombang, yang selalu menempa perahunya agar terhindar dari bahaya ombak air yang mau menenggelamkannya. Kita diciptakan oleh Allah itu dengan derajat yang sama, tapi semangat dan usahalah yang akan membedakannya.
Dialah seorang nelayan yang tangguh, tahan terhadap segala rintangan dan cobaan yang menimpanya, baik secara fisik ataupun mental. Dia bukan anak orang kaya, tapi dia bermental orang kaya, yang semua apa dipandangnya baik ingin dia miliki. Dia bukan anak seorang ulama, tapi dia mempunyai kesungguhan untuk menjadi ulama, dia bukan anak seorang pejabat, tapi dia mempunyai banyak jabatan, tentunya menjadi santri, Ustadz dan juga tidak akan ketinggalan dia adalah seorang nelayan yang cakap.
Seorang anak nelayan yang tangguh ini selalu merindukan rumah, keluarga dan kampung halamannya. Kenapa demikian? Karena hidupnya selalu dalam perantauan yang jauh dari kampung halaman. Selalu jauh dari kerumunan keluarga yang merindukan akan kehadirannya dan orang-orang yang dia cinta. Namun dalam terpisahnya jarak, dia anggap itu semua hanya bisa dilihat dari pandangan mata manusia dan jarak bumi yang memisahkan mereka saja. Tapi hakikatnya mereka itu dekat, bahkan lebih dekat dari seekor gajah yang berada di depan mata, karena mereka (rumah, keluarga dan kampung halaman) semuanya ada di hati sang nelayan tersebut dan terus tertutur dalam setiap do’anya. Nah, Siapakah nelayan yang tangguh itu? dia adalah Rijalul Umam.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar