Pendahuluan
Alhamdulillah, segala puji Allah
maha besar yang telah menciptakan kita begitu sempurna, dengan mata kita bisa
bertatap muka, dengan tangan kita bisa bekerja, dengan kaki kita bisa berjalan
dan anggota badan yang lainnya sesuai dengan kemampuan dan kelebihan
masing-masing.
Ada yang bilang hidup tak seindah
dibayangkan, tapi hidup akan terasa indah dan nikmat apabila kita pandai
bersyukur atas segala yang telah allah anugrahkan kepada kita semua. Hidup itu
akan terasa indah dan mudah apabila memandangnya dengan optimis, begitu juga
akan terasa susah apabila memandangnya dengan pesimis. Yakinlah, apa yang kita
dapat adalah terbaik untuk kita yang telah Allah sediakan untuk kita semua. Terus
berusaha untuk meraih masa depan yang cerah dengan mengerjakan yang terbaik di
masa kini. Jangan pandangi masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah dengan
penuh optimis dan terus berusaha.
Di sini saya akan menuliskan sebuah
cerita, cerita seorang anak nelayan yang tangguh dan selalu optimis. Menjadikan
segala musibah adalah hikmah, tantangan menjadi peluang dan menjadikan
kesempatan adalah nyawa.
Sebelumnya, jangan menilai bahwa
anak nelayan itu rendah yang hanya bisa mencari dan berburu ikan, atau bisanya
cuma menentramkan keadaan dari sebuah gelombang, yang selalu menempa perahunya
agar terhindar dari bahaya ombak air yang mau menenggelamkannya. Kita
diciptakan oleh Allah itu dengan derajat yang sama, tapi semangat dan usahalah
yang akan membedakannya.
Dialah seorang nelayan yang tangguh,
tahan terhadap segala rintangan dan cobaan yang menimpanya, baik secara fisik ataupun
mental. Dia bukan anak orang kaya, tapi dia bermental orang kaya, yang semua
apa dipandangnya baik ingin dia miliki. Dia bukan anak seorang ulama, tapi dia
mempunyai kesungguhan untuk menjadi ulama, dia bukan anak seorang pejabat, tapi
dia mempunyai banyak jabatan, tentunya menjadi santri, Ustadz dan juga tidak
akan ketinggalan dia adalah seorang nelayan yang cakap.
Seorang anak nelayan yang tangguh ini selalu
merindukan rumah, keluarga dan kampung halamannya. Kenapa demikian? Karena
hidupnya selalu dalam perantauan yang jauh dari kampung halaman. Selalu jauh
dari kerumunan keluarga yang merindukan akan kehadirannya dan orang-orang yang dia
cinta. Namun dalam terpisahnya jarak, dia anggap itu semua hanya bisa dilihat
dari pandangan mata manusia dan jarak bumi yang memisahkan mereka saja. Tapi
hakikatnya mereka itu dekat, bahkan lebih dekat dari seekor gajah yang berada di
depan mata, karena mereka (rumah, keluarga dan kampung halaman) semuanya ada di
hati sang nelayan tersebut dan terus tertutur dalam setiap do’anya. Nah, Siapakah
nelayan yang tangguh itu? dia adalah Rijalul Umam.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar