Monday, April 13, 2015

Ke Gontor Apa yang Kau Cari?



Bagian 7: Ke Gontor Apa Yang Kau Cari?
Sebelumnya, saya ingin menerangkan sedikit tentang Pondok Modern Darussalam Gontor. Pondok ini didirikan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345, oleh tiga bersaudara: K.H. Ahmad Sahal (1901 – 1977), K.H. Zainudin Fananie (1908 – 1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910 – 1985) yang berarti sebelum Indonesia merdeka Gontor sudah berdiri. Para pendiri Pondok Modern Gontor mempunyai gagasan dan cita-cita yang tinggi, yaitu rasa tanggung jawab dalam memajukan ummat Islam dan mendapatkan ridha Allah ta’ala. Gontor mempunyai 4 sintesa, [1]yaitu Al-Azhar, Syanggit, Aligarh dan Santiniketan. Dengan tekad untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan berkualitas, Pondok Modern Darussalam Gontor bercermin pada lembaga-lembaga pendidikan internasional terkemuka. Empat lembaga pendidikan yang menjadi sintesa Pondok Modern Gontor adalah:
  1. Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, yang memiliki wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia, dan memberikan beasiswa bagi rIbuan pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Universitas tersebut.
  2. Aligarh, yang terletak di India, yang memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran.
  3. Syanggit, di Mauritania, yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya.
  4. Santiniketan, di India, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya.
Kemungkinan besar para pembaca bertanya-tanya, Apa sih yang dimaksud dengan kata ‘Modern’? Maka saya akan mengungkapkan sebuah perkataan yang telah disampaikan oleh pak KH. Hasan Abdullah Sahal pada hari Jum’at 23 Jumadal Ula 1431, yang berbunyi:
““Pondok itu berjiwa Modern”. Modern di sini, di antaranya berarti berpikir integral, berpikiran maju, tidak dikotomis, adil dan menghargai efisiensi waktu.
Berpikiran integral, berarti tidak parsial ataupun sekular. Tidak melulu duniawi ataupun hanya akhiratnya saja, melainkan keduanya. Di Gontor, kurikulum dan pola hidup dibentuk secara integral. Ada pelajaran agama dan pelajaran umum. Ada pembentukan karakter (tarbiyah) dan gerakan belajar mengajar (ta’lim). Pengembangan sumber daya manusia dimaksimalkan, untuk totalitas pendidikan.”[2]
Sudah seharusnya manusia mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Tujuan hidup di dunia yaitu akhirat, tujuan bekerja untuk mendapatkan uang, tujuan berolah raga supaya badan sehat, tujuan belajar agar mendapatkan ilmu dan tujuan masuk Gontor untuk medapatkan pendidikan dan pengajaran. Di Gontor kita akan mendapati para guru yang ikhlas penuh semangat dalam mendidik dan mengajar santri-santrinya.
Ketika Umam dan keluarganya tiba di depan pintu gerbang Pondok Modern Gontor, Umam dan keluarganya melihat di atas pintu gerbang yang bertuliskan ‘welcome to Gontor’, sebuah kalimat sapaan untuk setiap orang yang memasukinya. Begitu juga tepat di tengah-tengah Pondok ada tulisan ‘ke Gontor apa yang kau cari?’, tulisan ini adalah sebuah kalimat yang selalu membuat Umam dan santri yang lainnya seperti di dalam ujian, pertanyaan singkat tapi butuh pemikiran yang panjang dan action yang prima. Kalimat ini bukan hanya sekedar ujian bagi santri baru, akan tetapi juga sebagai pengingat atau peringatan bagi seluruh santri lama ketika mereka lalai dan lupa dengan tujuan mereka ke Pondok Pesantren Gontor.
Sebuah pertanyaan ‘ke Gontor apa yang kau cari?’ mungkin tidak terlalu berpengaruh dalam materi ujian, akan tetapi sangat menentukan nasib seorang santri selama di Pondok dan nasibnya ketika sudah keluar dari Pondok/alumnus Pondok Pesantren. Pertanyaan yang membuat para santri selalu menginstropeksi diri, meluruskan tujuannya ketika pertama kali masuk Pondok dan selalu memperbaharui niatnya masing-masing. Sesungguhnya isi hati (niat) dan iman manusia selalu berubah-rubah.
Umam dan keluarganya menuju kantor registrasi untuk melakukan pendaftaran masuk Pondok, dan mereka juga diberitahu bahwa akan ada ujian masuk Pondok, yaitu ujian tulis pada tanggal 10 Syawwal dan ujian lisan sebelum tanggal 10 Syawwal bagi seluruh calon santri.
“Bapak dan keluarga Umam, nanti Umam harus mengikuti ujian lisan untuk masuk Gontor sebelum tanggal 10 syawwal dan ujian tulisnya tepat pada tanggal 10 syawwal.” Kata Ustadz yang di bagian registrasi.
“Jadi, saya harus lulus dalam ujian tulis dan lisan ya Ustadz?” Tanya Umam.
“Iya, kamu harus lulus dalam kedua ujian tersebut kalau kamu mau menjadi santri Gontor.” Jawab Ustadz tadi.
Umam dan yang lainnya (orang yang baru masuk Pondok Gontor) adalah calon santri dan akan bisa menjadi santri ketika mereka lulus ujian, yang mana di sana ada terdapat dua macam ujian, yaitu ujian tulis dan ujian lisan. Dalam penantian hari H untuk ujian, keluarganya yang berasal jauh di seberang lautan tidak bisa berdiam lama di Pondok, karena mereka sudah membeli tiket kapal return dan harus balik. Ayah Umam mengatakan kepada Umam, “wahai anakku! Ayah, Mama dan adik-adikmu balik sekarang yaa, karena jadwal keberangkatan dari Surabaya ke Kalimantan nanti sore.”
“Iya Yah, silahkan Ayah, Mama dan adik-adik pulang, insya Allah saya bisa ngurus semuanya. Hati-hati di jalan ya Yah, Mama, Budi dan Shasa.”
“Iya, insya Allah kami akan hati-hati, do’akan saja Ayah, Mama dan adik-adikmu selamat sampai rumah.”
“Aamiin” ucap Umam dan dia pun bersalaman dengan mereka tanpa menampakkan rasa sedihnya, karena Umam takut membuat mereka ikut bersedih dan berat untuk meninggalkannya.
Para calon santri diuji dalam bentuk ujian tulis yang terdapat beberapa materi yaitu: Berhitung, Bahasa Indonesia, Al-Imla (menulis bahasa Arab). Mereka juga diuji dalam bentuk ujian lisan, yaitu dengan materi Al-Qur’an dan Tajwid. Inilah materi-materi yang diujikan dan semuanya harus lulus, karena kalau ada satu pelajaran yang tidak lulus, maka calon santri tersebut tidak bisa untuk menjadi santri dan harus mengikuti ujian masuk lagi di tahun yang akan datang.
Tepat pada tanggal 8 syawwal jam 10 pagi Umam memasuki ruang ujian lisan. Dia disuruh membaca Al-Qur’an dan ditanya masalah tajwidnya baik itu hukum bacaan, cara membaca panjang dan pendeknya, dan yang terakhir setelah ujian Al-Qur’an dan tajwid selesai dia ditanya oleh Ustadz yang mengujinya, “Rijalul Umam, Apa tujuan kamu masuk Gontor?” Tanya Ustadz yang menguji Umam.
Sempat dia berpikir dalam beberapa detik dan teringat judul buku pelajaran yang pernah dipelajari di Pondok Darul Hijrah yaitu ‘At-tarbiyatu wat-ta’liimu’ yang artinya pendidikan dan pengajaran, maka seketika itu ia menjawab, “pendidikan dan pengajaran,”
“Ada yang lain selain tujuan kamu yang tadi?” tanya Ustadz lagi.
“Pengalaman.” Jawabnya lagi.
“Baik, pertanyaan sudah selesai, dan jangan lupa nomor daftar ujian kamu sekarang karena hasil ujian nanti akan diumumkan dengan memakai nama dan nomor ujian, silahkan keluar dan tolong panggilkan yang bernama Ardi Prasetyo.” kata Ustadz yang menguji.
Umam pun keluar dan memanggil calon santri yang bernama Ardi Prasetyo untuk menyuruhnya masuk ruang ujian.
Bagi calon santri ataupun yang sudah menjadi santri, ujian lisan sangatlah menegangkan, karena kami harus memiliki mental yang berani dan kuat, siap menjawab pertanyaan tanpa berpikir panjang apalagi untuk berbuat curang, semuanya harus dijawab dengan otak yang cemerlang dan penuh kejujuran. Sehingga dengan ujian yang demikian rupa, Umam sempat membicarakan kepada temannya Ardi yang sedang duduk di sampingnya ketika mereka lagi santai di depan masjid. Mereka membicarakan tentang alam barzakh (alam kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat) ketika para roh manusia ditanya oleh malaikat munkar dan nakir.
“Ardi, bagaimana rasanya ujian lisan tadi?” Tanya Umam kepada Ardi.
“Pertanyaannya sih lumayan mudah dan tidak membutuhkan pemikiran yang dalam, tapi saya merasa keadaanya sangat menegangkan lho!” jawab Ardi,
“Iya, sama dong dengan yang saya rasakan, bagaimana nanti di alam barzakh yaa?” Tanya Umam lagi.
“Wallahu a’lam, saya nggak tau juga nih, soalnya saya belum pernah mati, hehe… menurutku suasana di sana nanti lebih menegangkan dan lebih mencekam, semoga saja kita mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rahmat dari Allah ta’ala.” Jawabnya. “Aamiin ya rab.” Jawab Umam.
Para calon santri menunggu pengumuman hasil ujian selama kurang lebih seminggu, dan mereka menggunakan waktu penantian ini dengan beribadah, agar Allah memberikan kelulusan dan hasil yang terbaik untuk mereka. Semangat dan usaha telah mereka curahkan, hanya do’a, tawakkal dan sabarlah yang mereka punya dalam penantian hasil ujian.
Di masa penantian ini juga Umam mempunyai banyak teman baru yang jumlah dan namanya tidak bisa dia sebutkan, karena para calon santri berjumlah ribuan dan berasal dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negri, misalnya: Malaysia, Thailand, Singapura, Jeddah, Australia, Amerika dan Negara yang lainnya. Maka tidak salah kalau para calon santri suka berkenalan dengan yang lainnya, bahkan orang yang jarang bertutur kata dalam bahasa inggris pun akan merasa percaya diri untuk berbicara bahasa inggris walaupun dengan bahasa yang pas-pasan. Mereka berkenalan satu sama yang lainnya dengan bahasa yang bisa dipahami dan tentunya sudah mereka kuasai, baik itu bahasa Indonesia, Arab atau Inggris, karena tidak semuanya berwarganegara Indonesia atau bisa bahasa Indonesia.
Setelah beberapa hari dalam penantian, hari pengumuman hasil ujian pun tiba. Para calon santri dikumpulkan di depan gedung balai pertemuan untuk mendengarkan hasil ujian yang telah diikuti. Suasana ketika itu tenang, sunyi dan menegangkan. Umam dan Ardi duduk paling depan bagian tengah di antara teman-temannya, agar mereka bisa dengan jelas mendengarkan hasil ujian yang diumumkan. Sebelum diumumkan nama-nama yang lulus, salah satu Ustadz KMI (Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah) memberikan sambutan yang isinya kurang lebih begini:
“Anak-anakku, manusia itu harus melewati ujian untuk mencapai sebuah kesuksesan, sukses harus diraih dengan jerih payah, semangat, usaha, do’a dan tawakkal. Sebuah kemenangan tanpa melewati ujian itu namanya nasib, nasib baik bukan sukses, karena dia tidak merasakan dan tidak mengetahui arti sebuah perjuangan. Sukses dan gagal itu sama bagi orang yang optimis, karena kegagalan bagi dia adalah sebuah kesuksesan yang tertunda, dan kegagalan tersebut menjadi sebuah pelajaran baginya agar tidak terjerumus ke dalam jurang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan ujian seseorang bisa terangkat derajatnya dan menjadi mulia, dengan ujian pula seseorang bisa direndahkan derajatnya dan menjadi hina. Orang miskin bisa dikatakan sukses kalau dia bersabar dan bersyukur atas apa yang dia dapat, dan orang kaya bisa dikatakan gagal kalau dia tidak pernah bersyukur dan suka mengeluh atas apa saja yang dia dapat. Jadi, semua yang didapat oleh manusia tidak bisa menjadi tolak ukur dari sebuah kesuksesan dan kegagalan, tapi sikap dalam menghadapi segala hal lah yang menjadi tolak ukur dari sebuah kesuksesan dan kegagalan. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Para santri menjawab salam beliau.
Satu persatu nama calon santri yang lulus disebut beserta nomor ujiannya oleh Ustadz yang menjadi panitia ujian penerimaan siswa baru. Dan Alhamdulillah nomor ujian Umam yaitu 419 pun disebut beserta namanya yang telah dinyatakan LULUS di Gontor satu (pusat) begitu juga temannya Ardi dengan nomor 420 dinyatakan lulus sama dengannya. Alhamdulillah…
Sedangkan orang yang belum lulus ujian disuruh untuk melihat di kertas pengumuman yang telah ditempel. Keadaan yang tenang dan menegangkan tadi diiringi dengan senyum dan tangis. Ada yang bersyukur tersenyum karena lulus menjadi santri Gontor, ada yang menangis bahagia karena kelulusannya, ada juga yang sabar dan tabah walau pun diiringi tetesan air mata karena belum bisa menjadi santri Gontor.
Setelah acara pengumuman hasil ujian selesai, para calon santri dan santri baru bersalaman dan berpelukan, senyuman tangisan serta haru tawa menyelimuti mereka, seakan-akan dunia sedang panas dan diiringi hujan yang menimbulkan warna yang indah, yaitu pelangi.
Dari para calon santri Gontor tadi, ada yang belum lulus dan memutuskan untuk pulang ke rumah melanjutkan sekolahnya di sekolah MTS atau SMP atau SMA dan yang lainnya. Ada juga yang belum lulus dan memutuskan untuk belajar di Gontor 2 yang sebagai tempat penampungan para calon santri agar bisa belajar lebih maksimal dan bisa lulus ketika mengikuti ujian di tahun yang akan datang. Ada juga yang lulus di Gontor cabang, seperti Gontor 3 (Darul Ma’rifat) di Kediri, Gontor 5 (Darul Muttaqin) di Banyu Wangi, Gontor 6 (Darul Qiyam) di Magelang dan Gontor cabang yang lainnya.


[1] Sebuah teori nilai kebersamaan (http://Budiografi.wordpress.com/2012/10/12/sintesa-sebuah-teori-nilai-kebersamaan/)
[2] http://www.Gontor.ac.id           

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar