Bagian 7: Ke Gontor Apa Yang Kau Cari?
Sebelumnya,
saya ingin menerangkan sedikit tentang Pondok Modern Darussalam Gontor. Pondok
ini didirikan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal
1345, oleh tiga bersaudara: K.H. Ahmad Sahal (1901 – 1977), K.H. Zainudin
Fananie (1908 – 1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910 – 1985) yang berarti sebelum
Indonesia merdeka Gontor sudah berdiri. Para pendiri Pondok Modern Gontor
mempunyai gagasan dan cita-cita yang tinggi, yaitu rasa tanggung jawab dalam
memajukan ummat Islam dan mendapatkan ridha Allah ta’ala. Gontor mempunyai 4
sintesa, [1]yaitu
Al-Azhar, Syanggit, Aligarh dan Santiniketan. Dengan tekad untuk menjadi sebuah
lembaga pendidikan berkualitas, Pondok Modern Darussalam Gontor bercermin pada
lembaga-lembaga pendidikan internasional terkemuka. Empat lembaga pendidikan
yang menjadi sintesa Pondok Modern Gontor adalah:
- Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, yang memiliki wakaf yang sangat luas sehingga mampu mengutus para ulama ke seluruh penjuru dunia, dan memberikan beasiswa bagi rIbuan pelajar dari berbagai belahan dunia untuk belajar di Universitas tersebut.
- Aligarh, yang terletak di India, yang memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran.
- Syanggit, di Mauritania, yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya.
- Santiniketan, di India, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya.
Kemungkinan
besar para pembaca bertanya-tanya, Apa sih yang dimaksud dengan kata ‘Modern’?
Maka saya akan mengungkapkan sebuah perkataan yang telah disampaikan oleh pak
KH. Hasan Abdullah Sahal pada hari Jum’at
23 Jumadal Ula 1431, yang berbunyi:
““Pondok
itu berjiwa Modern”. Modern di sini, di antaranya berarti berpikir
integral, berpikiran maju, tidak dikotomis, adil dan menghargai efisiensi
waktu.
Berpikiran
integral, berarti tidak parsial ataupun sekular. Tidak melulu duniawi ataupun
hanya akhiratnya saja, melainkan keduanya. Di Gontor, kurikulum dan pola hidup
dibentuk secara integral. Ada pelajaran agama dan pelajaran umum. Ada
pembentukan karakter (tarbiyah) dan gerakan belajar
mengajar (ta’lim).
Pengembangan sumber daya manusia dimaksimalkan, untuk totalitas pendidikan.”[2]
Sudah
seharusnya manusia mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Tujuan hidup di dunia
yaitu akhirat, tujuan bekerja untuk mendapatkan uang, tujuan berolah raga
supaya badan sehat, tujuan belajar agar mendapatkan ilmu dan tujuan masuk Gontor
untuk medapatkan pendidikan dan pengajaran. Di Gontor kita akan mendapati para
guru yang ikhlas penuh semangat dalam mendidik dan mengajar santri-santrinya.
Ketika Umam dan keluarganya tiba di depan
pintu gerbang Pondok Modern Gontor, Umam dan keluarganya melihat di atas pintu
gerbang yang bertuliskan ‘welcome to Gontor’, sebuah kalimat sapaan untuk
setiap orang yang memasukinya. Begitu juga tepat di tengah-tengah Pondok ada
tulisan ‘ke Gontor apa yang kau cari?’, tulisan ini adalah sebuah kalimat yang
selalu membuat Umam dan santri yang lainnya seperti di dalam ujian, pertanyaan
singkat tapi butuh pemikiran yang panjang dan action yang prima. Kalimat ini
bukan hanya sekedar ujian bagi santri baru, akan tetapi juga sebagai pengingat
atau peringatan bagi seluruh santri lama ketika mereka lalai dan lupa dengan
tujuan mereka ke Pondok Pesantren Gontor.
Sebuah pertanyaan ‘ke Gontor apa
yang kau cari?’ mungkin tidak terlalu berpengaruh dalam materi ujian, akan
tetapi sangat menentukan nasib seorang santri selama di Pondok dan nasibnya
ketika sudah keluar dari Pondok/alumnus Pondok Pesantren. Pertanyaan yang
membuat para santri selalu menginstropeksi diri, meluruskan tujuannya ketika
pertama kali masuk Pondok dan selalu memperbaharui niatnya masing-masing. Sesungguhnya
isi hati (niat) dan iman manusia selalu berubah-rubah.
Umam dan keluarganya menuju kantor
registrasi untuk melakukan pendaftaran masuk Pondok, dan mereka juga diberitahu
bahwa akan ada ujian masuk Pondok, yaitu ujian tulis pada tanggal 10 Syawwal
dan ujian lisan sebelum tanggal 10 Syawwal bagi seluruh calon santri.
“Bapak dan keluarga Umam, nanti Umam
harus mengikuti ujian lisan untuk masuk Gontor sebelum tanggal 10 syawwal dan
ujian tulisnya tepat pada tanggal 10 syawwal.” Kata Ustadz yang di bagian
registrasi.
“Jadi, saya harus lulus dalam ujian
tulis dan lisan ya Ustadz?” Tanya Umam.
“Iya, kamu harus lulus dalam kedua ujian
tersebut kalau kamu mau menjadi santri Gontor.” Jawab Ustadz tadi.
Umam dan yang lainnya (orang yang
baru masuk Pondok Gontor) adalah calon santri dan akan bisa menjadi santri
ketika mereka lulus ujian, yang mana di sana ada terdapat dua macam ujian, yaitu
ujian tulis dan ujian lisan. Dalam penantian hari H untuk ujian, keluarganya yang
berasal jauh di seberang lautan tidak bisa berdiam lama di Pondok, karena mereka
sudah membeli tiket kapal return dan harus balik. Ayah Umam mengatakan kepada Umam,
“wahai anakku! Ayah, Mama dan adik-adikmu balik sekarang yaa, karena jadwal
keberangkatan dari Surabaya ke Kalimantan nanti sore.”
“Iya Yah, silahkan Ayah, Mama dan
adik-adik pulang, insya Allah saya bisa ngurus semuanya. Hati-hati di jalan ya
Yah, Mama, Budi dan Shasa.”
“Iya, insya Allah kami akan
hati-hati, do’akan saja Ayah, Mama dan adik-adikmu selamat sampai rumah.”
“Aamiin” ucap Umam dan dia pun
bersalaman dengan mereka tanpa menampakkan rasa sedihnya, karena Umam takut
membuat mereka ikut bersedih dan berat untuk meninggalkannya.
Para calon santri diuji dalam bentuk
ujian tulis yang terdapat beberapa materi yaitu: Berhitung, Bahasa Indonesia,
Al-Imla (menulis bahasa Arab). Mereka juga diuji dalam bentuk ujian lisan,
yaitu dengan materi Al-Qur’an dan Tajwid. Inilah materi-materi yang diujikan
dan semuanya harus lulus, karena kalau ada satu pelajaran yang tidak lulus,
maka calon santri tersebut tidak bisa untuk menjadi santri dan harus mengikuti
ujian masuk lagi di tahun yang akan datang.
Tepat pada tanggal 8 syawwal jam 10
pagi Umam memasuki ruang ujian lisan. Dia disuruh membaca Al-Qur’an dan ditanya
masalah tajwidnya baik itu hukum bacaan, cara membaca panjang dan pendeknya,
dan yang terakhir setelah ujian Al-Qur’an dan tajwid selesai dia ditanya oleh Ustadz
yang mengujinya, “Rijalul Umam, Apa tujuan kamu masuk Gontor?” Tanya Ustadz
yang menguji Umam.
Sempat dia berpikir dalam beberapa
detik dan teringat judul buku pelajaran yang pernah dipelajari di Pondok Darul
Hijrah yaitu ‘At-tarbiyatu wat-ta’liimu’ yang artinya pendidikan dan
pengajaran, maka seketika itu ia menjawab, “pendidikan dan pengajaran,”
“Ada yang lain selain tujuan kamu
yang tadi?” tanya Ustadz lagi.
“Pengalaman.” Jawabnya lagi.
“Baik, pertanyaan sudah selesai, dan
jangan lupa nomor daftar ujian kamu sekarang karena hasil ujian nanti akan
diumumkan dengan memakai nama dan nomor ujian, silahkan keluar dan tolong
panggilkan yang bernama Ardi Prasetyo.” kata Ustadz yang menguji.
Umam pun keluar dan memanggil calon
santri yang bernama Ardi Prasetyo untuk menyuruhnya masuk ruang ujian.
Bagi calon santri ataupun yang sudah
menjadi santri, ujian lisan sangatlah menegangkan, karena kami harus memiliki
mental yang berani dan kuat, siap menjawab pertanyaan tanpa berpikir panjang
apalagi untuk berbuat curang, semuanya harus dijawab dengan otak yang cemerlang
dan penuh kejujuran. Sehingga dengan ujian yang demikian rupa, Umam sempat
membicarakan kepada temannya Ardi yang sedang duduk di sampingnya ketika mereka
lagi santai di depan masjid. Mereka membicarakan tentang alam barzakh (alam
kubur yang membatasi antara dunia dan akhirat) ketika para roh manusia ditanya
oleh malaikat munkar dan nakir.
“Ardi, bagaimana rasanya ujian lisan
tadi?” Tanya Umam kepada Ardi.
“Pertanyaannya sih lumayan mudah dan
tidak membutuhkan pemikiran yang dalam, tapi saya merasa keadaanya sangat
menegangkan lho!” jawab Ardi,
“Iya, sama dong dengan yang saya
rasakan, bagaimana nanti di alam barzakh yaa?” Tanya Umam lagi.
“Wallahu a’lam, saya nggak tau juga
nih, soalnya saya belum pernah mati, hehe… menurutku suasana di sana nanti
lebih menegangkan dan lebih mencekam, semoga saja kita mendapatkan syafaat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rahmat dari Allah ta’ala.” Jawabnya. “Aamiin
ya rab.” Jawab Umam.
Para calon santri menunggu
pengumuman hasil ujian selama kurang lebih seminggu, dan mereka menggunakan
waktu penantian ini dengan beribadah, agar Allah memberikan kelulusan dan hasil
yang terbaik untuk mereka. Semangat dan usaha telah mereka curahkan, hanya
do’a, tawakkal dan sabarlah yang mereka punya dalam penantian hasil ujian.
Di masa penantian ini juga Umam
mempunyai banyak teman baru yang jumlah dan namanya tidak bisa dia sebutkan,
karena para calon santri berjumlah ribuan dan berasal dari seluruh penjuru
Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negri, misalnya: Malaysia,
Thailand, Singapura, Jeddah, Australia, Amerika dan Negara yang lainnya. Maka
tidak salah kalau para calon santri suka berkenalan dengan yang lainnya, bahkan
orang yang jarang bertutur kata dalam bahasa inggris pun akan merasa percaya
diri untuk berbicara bahasa inggris walaupun dengan bahasa yang pas-pasan. Mereka
berkenalan satu sama yang lainnya dengan bahasa yang bisa dipahami dan tentunya
sudah mereka kuasai, baik itu bahasa Indonesia, Arab atau Inggris, karena tidak
semuanya berwarganegara Indonesia atau bisa bahasa Indonesia.
Setelah beberapa hari dalam
penantian, hari pengumuman hasil ujian pun tiba. Para calon santri dikumpulkan di
depan gedung balai pertemuan untuk mendengarkan hasil ujian yang telah diikuti.
Suasana ketika itu tenang, sunyi dan menegangkan. Umam dan Ardi duduk paling
depan bagian tengah di antara teman-temannya, agar mereka bisa dengan jelas
mendengarkan hasil ujian yang diumumkan. Sebelum diumumkan nama-nama yang
lulus, salah satu Ustadz KMI (Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah) memberikan
sambutan yang isinya kurang lebih begini:
“Anak-anakku, manusia itu harus
melewati ujian untuk mencapai sebuah kesuksesan, sukses harus diraih dengan
jerih payah, semangat, usaha, do’a dan tawakkal. Sebuah kemenangan tanpa
melewati ujian itu namanya nasib, nasib baik bukan sukses, karena dia tidak
merasakan dan tidak mengetahui arti sebuah perjuangan. Sukses dan gagal itu
sama bagi orang yang optimis, karena kegagalan bagi dia adalah sebuah kesuksesan
yang tertunda, dan kegagalan tersebut menjadi sebuah pelajaran baginya agar
tidak terjerumus ke dalam jurang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan ujian
seseorang bisa terangkat derajatnya dan menjadi mulia, dengan ujian pula
seseorang bisa direndahkan derajatnya dan menjadi hina. Orang miskin bisa
dikatakan sukses kalau dia bersabar dan bersyukur atas apa yang dia dapat, dan
orang kaya bisa dikatakan gagal kalau dia tidak pernah bersyukur dan suka
mengeluh atas apa saja yang dia dapat. Jadi, semua yang didapat oleh manusia
tidak bisa menjadi tolak ukur dari sebuah kesuksesan dan kegagalan, tapi sikap
dalam menghadapi segala hal lah yang menjadi tolak ukur dari sebuah kesuksesan
dan kegagalan. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa
barakatuh.” Para santri menjawab salam beliau.
Satu persatu nama calon santri yang
lulus disebut beserta nomor ujiannya oleh Ustadz yang menjadi panitia ujian
penerimaan siswa baru. Dan Alhamdulillah nomor ujian Umam yaitu 419 pun disebut
beserta namanya yang telah dinyatakan LULUS di Gontor satu (pusat) begitu juga
temannya Ardi dengan nomor 420 dinyatakan lulus sama dengannya. Alhamdulillah…
Sedangkan orang yang belum lulus
ujian disuruh untuk melihat di kertas pengumuman yang telah ditempel. Keadaan
yang tenang dan menegangkan tadi diiringi dengan senyum dan tangis. Ada yang
bersyukur tersenyum karena lulus menjadi santri Gontor, ada yang menangis
bahagia karena kelulusannya, ada juga yang sabar dan tabah walau pun diiringi
tetesan air mata karena belum bisa menjadi santri Gontor.
Setelah acara pengumuman hasil ujian
selesai, para calon santri dan santri baru bersalaman dan berpelukan, senyuman
tangisan serta haru tawa menyelimuti mereka, seakan-akan dunia sedang panas dan
diiringi hujan yang menimbulkan warna yang indah, yaitu pelangi.
Dari para calon santri Gontor tadi, ada yang
belum lulus dan memutuskan untuk pulang ke rumah melanjutkan sekolahnya di sekolah
MTS atau SMP atau SMA dan yang lainnya. Ada juga yang belum lulus dan
memutuskan untuk belajar di Gontor 2 yang sebagai tempat penampungan para calon
santri agar bisa belajar lebih maksimal dan bisa lulus ketika mengikuti ujian
di tahun yang akan datang. Ada juga yang lulus di Gontor cabang, seperti Gontor
3 (Darul Ma’rifat) di Kediri, Gontor 5 (Darul Muttaqin) di Banyu Wangi, Gontor
6 (Darul Qiyam) di Magelang dan Gontor cabang yang lainnya.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar