Bagian 4: Holiday’s/liburan Awal Tahun
Setelah sebulan kiranya para santri
melewati hari-hari ujian di semester pertama, baik itu ujian lisan atau ujian
yang berbentuk tulisan. Para santri diberi kesempatan untuk berlibur atau
pulang ke rumah masing-masing dalam jangka waktu selama sepuluh hari. Liburan
dalam menuntut ilmu bukan berarti berhenti belajar, menuntut ilmu bisa di mana
saja dan kapan saja, karena belajar tidak terikat oleh tempat ataupun waktu.
Liburan telah tiba, banyak dari wali
santri berdatangan untuk menjemput anaknya masing-masing, ada juga yang pulang ke
rumah secara rombongan dengan menyewa mobil beserta sopirnya. Sedangkan Umam hanya
bisa melihat teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dari kejauhan karena dia
memilih untuk berlibur di Pondok.
Di saat itu Ayahnya tidak bisa
datang karena Ibunya sedang hamil dan perlu ada orang yang menjaga Ibunya. Sedangkan
uang Umam juga tidak cukup untuk biaya ongkos pulang, akhirnya dia memutuskan
untuk menggunakan waktu sepuluh hari tersebut dengan menetap di Pondok dan
membantu para Asatidz serta kakak kelas dalam menjaga Pondok.
Dengan ketidakpulangan Umam, banyak
kakak kelas dan para Asatidz menanyakan kepadanya tentang sebab kenapa dia
tidak pulang dan berlibur ke rumah.
“Kamu kenapa tidak pulang ke rumah Umam?”
inilah kalimat pertanyaan yang sering didapat dan dia pun juga menjawab
pertanyaan mereka dengan sama,
“Saya lagi betah aja di Pondok, dan
ingin lebih banyak mendapatkan ilmu serta pengalaman di Pondok ini.” Jawabnya
sambil tersenyum yang padahal dalam hatinya menjerit, ‘Ingin sekali aku bertemu
dengan keluargaku di rumah dan ziarah ke makam Paman. Tapi karena situasi tidak
memungkinkan, aku harus berusaha untuk bersabar dan tabah dalam menjalani masa
liburan ini dengan menetap tinggal di Pondok.
Umam tidak mau kesedihan selalu
menghantuinya, maka dia berusaha mencari kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar
bisa melewati hari-hari liburannya di Pondok dengan santai dan nyaman. Salah
satu kegiatan rutinnya di masa liburan adalah mengajak teman-temannya yang
tidak pulang untuk pergi ke mesjid mendengarkan ceramah dan belajar ilmu agama
dari Pak Kiyai dan para Asatidz setiap sesudah shalat shubuh. Terkadang juga di
waktu pagi dia pergi memancing untuk mengenang masa lalunya semasa di rumah.
Dan setiap hari sesudah shalat ashar dia berolah raga, baik itu main bola atau
renang. Setelah shalat isya, seringnya dia mendapatkan cerita dari kakak kelas
tentang pengalaman-pengalaman mereka semasa anak baru. Ada yang mengaku bahwa
pernah minta bantuan dengan tukang ojek untuk minta belikan nasi goreng yang
akhirnya ketahuan oleh bagian pengasuhan dan dibotak. Ada juga yang pernah
berkelahi dan akhirnya mereka yang berkelahi tadi dihukum dengan lari keliling
lapangan sepuluh kali. Ada juga yang pernah keluar dari Pondok di saat
pelajaran sedang berlangsung yang akhirnya diskor/dicekal selama satu tahun
ajaran dan banyak lagi yang lainnya.
Dari Pak Kiyai dan para Astidz dia
banyak mendapatkan tambahan ilmu agama, setiap hari selalu saja dia diberikan
ilmu baru yang belum dia ketahui. Disuatu hari semasa liburannya, Pak Kiyai
pernah menyampaikan ceramahnya tentang niat ikhlas dalam menuntut ilmu yang
berisi:
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa
barakaatuh, santri-santri yang kusayangi dan disayang Allah, menuntut ilmu
adalah salah satu ibadah yang sangat dimuliakan Allah ta’ala kepada ummat Islam
atasnya, karena menuntut ilmu adalah salah satu perintah Allah dan rasulnya. Perlu
kita ketahui syarat dalam sebuah ibadah adalah ‘niat yang ikhlas’, maka dari
itu niat yang diiringi dengan keikhlasan dalam menuntut ilmu sangatlah penting
dan dijadikannya di antara pondasi-pondasi dalam menuntut ilmu. Berhubungan
dengan masalah niat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang
artinya: “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya
dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barang siapa
yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan
RasulNya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau
karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah
kepadanya.”[1]
Santri-santri yang dimuliakan Allah,
Dalam hadist ini, menjelaskan
pentingnya untuk memperbaiki niat dalam segala perbuatan, terkhususnya dalam
beribadah yang di antaranya adalah menuntut ilmu. Niatlah yang akan
menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala,
yang dengan demikian Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an yang berbunyi: “Wa maa umiruu illa liya’budullaha mukhlishina lahuddina hunafaa’a”
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.”
(Albayyinah: 5)
Berkata
Aun bin Imarah: “Dia pernah mendengar Hisyam ad-Dustuwa’i berkata: “wallahi
maa astathi’u an aquula inni zahabtu yauman qatthun atlubul hadiitsa uriidu
bihi wajhallah.”
Artinya:
“Demi Allah aku tidak mampu mengatakan bahwa aku pergi menuntut ilmu tentang
hadis sehari pun dengan niat mencari wajah Allah.”
Az-Zahabi
berkata mengomentari perkataan ad-Dustuwa’i yang artinya: “Demi Allah, aku pun
tidak juga pernah berani mengatakan demikian, sesungguhnya para salaf menimba
ilmu benar-benar untuk Allah maka mereka menjadi mulia, mereka menjadi para
ulama panutan, sebagian dari mereka awalnya menimba ilmu bukan untuk Allah,
setelah mereka mendapatkannya, ilmu meluruskan niat mereka di tengah jalan.”
Sebagaimana
berkata Mujahid dan yang lainnya: “Kami menuntut ilmu ini awalnya tidak
memiliki niat yang besar, kemudian belakangan Allah berikan kami niat (yang
benar)”. Sebagian lainnya berkata: “Awalnya kami menimba ilmu bukan
karena Allah, namun ilmu enggan dituntut kecuali hanya untuk karena Allah”.
Ini adalah hal yang baik tentunya, yang membuat mereka kelak menyebarkannya
dengan niat yang baik pula.”[2]
Para santriku
yang berbahagia,
Kita bisa menyaksikan
kelebihan Imam Syafi’i dengan keahlian dan kemahirannya dalam ilmu fiqih dan
ilmu-ilmu yang lainnya, sehingga sampai sekarang manusia terus mempelajari ilmunya
dan memujinya. Imam syafi’i rahimahullah pernah berkata yang berkaitan dengan
keikhlasannya dalam menuntut ilmu yang artinya: “Aku sangat
ingin manusia mempelajari ilmu ini –maksudnya kitab-kitabnya– dan mereka tidak
menisbatkannya kepadaku sedikitpun.”[3]
Ada
sebagian orang yg menuntut ilmu dengan niat yang tidak sesuai anjuran agama,
tujuannya hanya untuk dunia dan dipuji oleh manusia, sehingga lupa akan hakekat
dari tujuan dalam menuntut ilmu yang sebenarnya, akhirnya cuma kehidupan nikmat
di dunia sajalah yang mereka peroleh tanpa mendapatkan ganjaran dari Allah
ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memperingatkan tiga hal yang berkaitan dengan niat dalam sabdanya yang artinya:
“Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Ia telah
mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya salah seorang yang pertama dihisab
di hari kiamat adalah Pertama seorang laki-laki yang mati syahid (gugur
dalam peperangan) kemudian disebutkan baginya semua kenikmatan-kenikmatan yang
diberikan kepadanya, dan dia membenarkannya. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala
bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?’, lelaki itu
menjawab, ‘Aku berperang untuk-Mu hingga aku syahid’; Allah menjawab, ‘Kamu
berdusta, (akan tetapi sesungguhnya) engkau berperang agar orang menyebutmu
pemberani, dan (orang-orang) telah menyebutkan demikian itu, kemudian
diperintahkan (malaikat) agar dia diseret di atas wajahnya hingga sampai di neraka
dan dilemparkan ke dalamnya’. Dan Kedua (selanjutnya adalah) seorang
laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengamalkannya serta dia membaca Al-Qur’an,
kemudian dia didatangkan, kemudian disebutkan nikmat-nikmat yang diberikan
kepadanya dan dia membenarkannya. Kemudian Allah bertanya, ‘Apa yang kamu
kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Aku mencari ilmu dan
mengamalkannya/mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah
berfirman, ‘kamu berdusta, (akan tetapi) kamu mencari ilmu itu agar disebut
sebagai 'alim (orang yang berilmu), dan kamu membaca al-Quran agar orang
menyebutmu qari', dan kamu telah disebut demikian itu (alim & qari')’
kemudian diperintahkan (malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya
hingga sampai di neraka dan di masukkan ke dalam neraka.”
Dan
Ketiga (selanjutnya) seorang laki-laki yang diluaskan (rizkinya) oleh
Allah. Dan dikaruniai berbagai harta kekayaan. Kemudian dia dihadapkan, dan
disebutkan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya, dan dia membenarkannya.
Kemudia Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan
nikmat-nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Tidaklah aku meninggalkan jalan yang
aku cintai selain aku menginfakkan hartaku untuk-Mu’, Allah Subhanahu wa ta’ala
berfirman, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu melakukan itu semua agar orang
menyebutmu dermawan, dan kamu telah disebut demikian’. Kemudian diperintahkan
(malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya, hingga sampai di neraka
dan dimasukkan ke dalam neraka.”[4]
Dalil yang lainnya bahwa Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa menuntut
ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia
tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka
ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”[5]
Dan
dihadist yang lain beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa
menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh,
atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan
memasukkannya ke neraka.”[6]
Dari
sini kita bisa mendapatkan kesimpulan. Sebuah perbuatan yang baik harus
diiringi dengan tujuan dan niat baik pula, keduanya saling berkaitan dan tidak
bisa dipisah. Niat yang baik tanpa usaha yang baik atau diiringi dengan
perbuatan yang buruk itu bohong, dan perbuatan atau usaha yang baik tanpa
diiringi niat yang baik (niatnya buruk) itu munafiq dan perbuatannya akan
sia-sia.
Ibadah yang insya Allah diterima di sisi Allah ta’ala haruslah memenuhi dua syarat, yaitu: niat yang ikhlas dan kesesuaian
dengan syari’at. Mungkin kita sering mendengar
ungkapan dengan istilah al-ikhlash
dan al-mutaba’ah. Untuk mengetahui kedua ini, kita bisa
memperhatikan sebuah cerita dari salah satu ulama yang bernama fadhil bin
‘iyadh, beliau adalah salah seorang tokoh syeikh tarekat.
Ketika Fadhil bin `Iyadh rahimahullah membaca ayat:
“Allazi khalakal
mauta wal hayata liyabluwiam ahsanu ‘amala wa huwa al ‘azizul gafur”
Artinya: “(Dialah)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya
Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang
lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)
Maka, beliau berkata:
“(Yang lebih baik
amalnya) yaitu yang paling ikhlash (murni) dan shawab (tepat).”
Kemudian para sahabat beliau bertanya:
Artinya: “Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan shawab itu?”
Beliau
menjawab:
Artinya: “Apabila sebuah amal khalis, tetapi tidak shawab, niscaya
tidak akan diterima. Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya
tidak diterima hingga amal tersebut khalis dan shawab. Khalis berarti amal
tersebut karena Allah semata, sedangkan shawab berarti amal tersebut
berdasarkan sunnah.”[7]
Maka arti niat ikhlas adalah niat yang hanya mengharapkan ridha Allah subhanahu wa
ta’ala dan ganjaran-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu selain dari-Nya. Sedangkan yang dimaksud mutaba’ah adalah beribadah sesuai
dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa membuat
penambahan dan perubahan-perubahan sedikitpun, baik dari segi isi,
waktu, kadar maupun dari cara pelaksanaannya.[8]
Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah juga menjelaskan
bagaimana niat yang baik dalam menuntut ilmu seraya berkata: “Tidak ada
sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya,”, mereka
berkata, “Bagaimana caranya?” Imam Ahmad berkata, “Yiatu ia berniat untuk
menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain.”[9]
Imam
Ahmad berkata: “Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya
benar.”
Lalu
dikatakan kepada beliau, “Dengan perkara apa agar niat menjadi benar?”, Imam
Ahmad berkata, “Ia niatkan untuk bersikap tawadhu pada ilmunya, dan untuk
menghilangkan kebodohan dari dirinya.”[10]
Penjelasan dari imam Ahmad tentang
niat dalam menuntut ilmu adalah agar seorang hamba bisa tawadhu’ serta
menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, yang dengan demikian
memberikan isyarat bahwa niatnya yang baik penuh keikhlasan, tanpa menginginkan
harta, martabat, ataupun jabatan. Memang benar, bahwa niat yang ikhlas banyak
ujian dan cobaanya, apalagi kalau sudah dihadapkan dengan kenikmatan-kenikmatan
dunia yang membuat mata silau terhadapnya. Niat, cinta dan iman bisa dibilang
mirip bila dilihat dari segi kondisinya, bisa berubah kapan saja dan di mana saja.
Oleh karena itu Sufyan Ats-Tsaury menjelaskan pentingnya agar terus selalu
memperhatikan niat dalam segala perbuatan. Beliau berkata: “Tidak
pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada niatku, karena
niat selalu berubah-ubah.”[11]
Baiklah santri-santriku, semoga
dengan ceramah yang saya sampaikan ini, kita bisa ikhlas dalam menuntut ilmu,
semata-mata hanya karena perintah Allah dan rasulNya, tidak menginginkan segala
sesuatu kecuali ridhaNya dan bisa istiqomah agar selalu ikhlas dalam segala
perbuatan. Aamiin…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa
baarakatuh.”
Dari ceramah Pak Kiyai ini, mereka
yang mendengarkannya dengan khusyu’ dan tenang, terkhususkan Umam yang selalu
memperhatikan kata demi kata yang telah disampaikan Pak Kiyai. Umam pun terus
berusaha selalu ikhlas dan terus semangat dalam belajar. Memperbaiki akhlak dan
niat agar selalu ikhlas dalam segala hal. Keikhlasan terkadang susah timbul
dari hati, maka sebuah keikhlasan juga perlu sedikit paksaan agar terbiasa dan
akan menimbulkan keikhlasan yang tulus.
“Ikhlas itu perlu dilatih bukan
ditunggu.” Ucap Umam dalam hatinya.
Beginilah kegiatan para santri yang
berdiam di Pondok, setiap harinya mendengarkan ceramah dari Pak Kiyai dan para Asatidz,
olah raga dan terkadang bersih-bersih Pondok sehingga tidak terasa masa liburan
telah usai berlalu. Mereka menjalani hidup di Pondok dengan santai, nikmat dan
nyaman.
Santri-santri pun mulai berdatangan
dan mereka yang tinggal di Pondok menyambut kedatangan mereka yang berlibung
pulang ke rumah dengan senang dan penuh semangat. Demikianlah cara Umam dan
teman-temannya yang menetap di Pondok untuk membuktikan dan mengajak
teman-teman yang habis berlibur bahwa sekarang adalah waktunya untuk
perbaharuan niat, niat yang baru dan semangat yang baru.
Semua aktivitas Pondok pun berjalan
seperti hari biasanya, Umam dan kawan-kawan mulai mengikuti pembelajaran dan
aktivitas baru. Ketika mengawali kegiatan dan aktivitas baru, di kelas Umam
mempunyai suasana yang berbeda dari yang biasanya, karena masing-masing santri
bercerita pengalaman mereka di masa liburan. Ada yang jalan-jalan bersama
keluarganya, ada yang bersilaturrahim ke sanak familinya. Adapun Umam sendiri
juga bercerita tentang yang dia rasakan dan dialaminya di Pondok. Masing-masing
punya selera dan masing-masing punya cerita.
[1]
Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 54, dan hadist riwayat muslim (shohih
muslim) no 1907
[2]
Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 51, karangan abu anas majid
[3]
Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 52, karangan abu anas majid, dan hilyatul
auliya’ 9/119, karangan abu nu’im
[4]
Hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 1905
[5]
Hadist riwayat Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan
Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ath-Targhib: 105
[6]
HR.
At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 106
[7] Hilyah
al-Awliya’ 8/95, al-BidAyah wa an-NihAyah 10/199 dan Madarij as-Salikin 2/89.
[8]
http://hendro-1945.abatasa.co.id/post/detail/5217/tanpa-judul
[9]Majmuu'
Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-'Utsaimiin 26/75
[10]
Al-inshoof : 2/116
[11]
Al-jami’ li akhlakir rawiy 1/317, al-mulim fil-aqwal al-musyawwaqah li-thalibil
‘ilmi hal 18 no 58
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar