Monday, April 13, 2015

Liburan Awal Tahun



Bagian 4: Holiday’s/liburan Awal Tahun
Setelah sebulan kiranya para santri melewati hari-hari ujian di semester pertama, baik itu ujian lisan atau ujian yang berbentuk tulisan. Para santri diberi kesempatan untuk berlibur atau pulang ke rumah masing-masing dalam jangka waktu selama sepuluh hari. Liburan dalam menuntut ilmu bukan berarti berhenti belajar, menuntut ilmu bisa di mana saja dan kapan saja, karena belajar tidak terikat oleh tempat ataupun waktu.
Liburan telah tiba, banyak dari wali santri berdatangan untuk menjemput anaknya masing-masing, ada juga yang pulang ke rumah secara rombongan dengan menyewa mobil beserta sopirnya. Sedangkan Umam hanya bisa melihat teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dari kejauhan karena dia memilih untuk berlibur di Pondok.
Di saat itu Ayahnya tidak bisa datang karena Ibunya sedang hamil dan perlu ada orang yang menjaga Ibunya. Sedangkan uang Umam juga tidak cukup untuk biaya ongkos pulang, akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan waktu sepuluh hari tersebut dengan menetap di Pondok dan membantu para Asatidz serta kakak kelas dalam menjaga Pondok.
Dengan ketidakpulangan Umam, banyak kakak kelas dan para Asatidz menanyakan kepadanya tentang sebab kenapa dia tidak pulang dan berlibur ke rumah.
“Kamu kenapa tidak pulang ke rumah Umam?” inilah kalimat pertanyaan yang sering didapat dan dia pun juga menjawab pertanyaan mereka dengan sama,
“Saya lagi betah aja di Pondok, dan ingin lebih banyak mendapatkan ilmu serta pengalaman di Pondok ini.” Jawabnya sambil tersenyum yang padahal dalam hatinya menjerit, ‘Ingin sekali aku bertemu dengan keluargaku di rumah dan ziarah ke makam Paman. Tapi karena situasi tidak memungkinkan, aku harus berusaha untuk bersabar dan tabah dalam menjalani masa liburan ini dengan menetap tinggal di Pondok.
Umam tidak mau kesedihan selalu menghantuinya, maka dia berusaha mencari kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar bisa melewati hari-hari liburannya di Pondok dengan santai dan nyaman. Salah satu kegiatan rutinnya di masa liburan adalah mengajak teman-temannya yang tidak pulang untuk pergi ke mesjid mendengarkan ceramah dan belajar ilmu agama dari Pak Kiyai dan para Asatidz setiap sesudah shalat shubuh. Terkadang juga di waktu pagi dia pergi memancing untuk mengenang masa lalunya semasa di rumah. Dan setiap hari sesudah shalat ashar dia berolah raga, baik itu main bola atau renang. Setelah shalat isya, seringnya dia mendapatkan cerita dari kakak kelas tentang pengalaman-pengalaman mereka semasa anak baru. Ada yang mengaku bahwa pernah minta bantuan dengan tukang ojek untuk minta belikan nasi goreng yang akhirnya ketahuan oleh bagian pengasuhan dan dibotak. Ada juga yang pernah berkelahi dan akhirnya mereka yang berkelahi tadi dihukum dengan lari keliling lapangan sepuluh kali. Ada juga yang pernah keluar dari Pondok di saat pelajaran sedang berlangsung yang akhirnya diskor/dicekal selama satu tahun ajaran dan banyak lagi yang lainnya.
Dari Pak Kiyai dan para Astidz dia banyak mendapatkan tambahan ilmu agama, setiap hari selalu saja dia diberikan ilmu baru yang belum dia ketahui. Disuatu hari semasa liburannya, Pak Kiyai pernah menyampaikan ceramahnya tentang niat ikhlas dalam menuntut ilmu yang berisi:
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, santri-santri yang kusayangi dan disayang Allah, menuntut ilmu adalah salah satu ibadah yang sangat dimuliakan Allah ta’ala kepada ummat Islam atasnya, karena menuntut ilmu adalah salah satu perintah Allah dan rasulnya. Perlu kita ketahui syarat dalam sebuah ibadah adalah ‘niat yang ikhlas’, maka dari itu niat yang diiringi dengan keikhlasan dalam menuntut ilmu sangatlah penting dan dijadikannya di antara pondasi-pondasi dalam menuntut ilmu. Berhubungan dengan masalah niat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”[1]
Santri-santri yang dimuliakan Allah,
Dalam hadist ini, menjelaskan pentingnya untuk memperbaiki niat dalam segala perbuatan, terkhususnya dalam beribadah yang di antaranya adalah menuntut ilmu. Niatlah yang akan menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, yang dengan demikian Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an yang berbunyi: “Wa maa umiruu illa liya’budullaha mukhlishina lahuddina hunafaa’a”
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Albayyinah: 5)
Berkata Aun bin Imarah: “Dia pernah mendengar Hisyam ad-Dustuwa’i berkata: “wallahi maa astathi’u an aquula inni zahabtu yauman qatthun atlubul hadiitsa uriidu bihi wajhallah.”
Artinya: “Demi Allah aku tidak mampu mengatakan bahwa aku pergi menuntut ilmu tentang hadis sehari pun dengan niat mencari wajah Allah.”
Az-Zahabi berkata mengomentari perkataan ad-Dustuwa’i yang artinya: “Demi Allah, aku pun tidak juga pernah berani mengatakan demikian, sesungguhnya para salaf menimba ilmu benar-benar untuk Allah maka mereka menjadi mulia, mereka menjadi para ulama panutan, sebagian dari mereka awalnya menimba ilmu bukan untuk Allah, setelah mereka mendapatkannya, ilmu meluruskan niat mereka di tengah jalan.”
Sebagaimana berkata Mujahid dan yang lainnya: “Kami menuntut ilmu ini awalnya tidak memiliki niat yang besar, kemudian belakangan Allah berikan kami niat (yang benar)”. Sebagian lainnya berkata: “Awalnya kami menimba ilmu bukan karena Allah, namun ilmu enggan dituntut kecuali hanya untuk karena Allah”. Ini adalah hal yang baik tentunya, yang membuat mereka kelak menyebarkannya dengan niat yang baik pula.”[2]
Para santriku yang berbahagia,
Kita bisa menyaksikan kelebihan Imam Syafi’i dengan keahlian dan kemahirannya dalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu yang lainnya, sehingga sampai sekarang manusia terus mempelajari ilmunya dan memujinya. Imam syafi’i rahimahullah pernah berkata yang berkaitan dengan keikhlasannya dalam menuntut ilmu yang artinya: Aku sangat ingin manusia mempelajari ilmu ini –maksudnya kitab-kitabnya– dan mereka tidak menisbatkannya kepadaku sedikitpun.”[3]
Ada sebagian orang yg menuntut ilmu dengan niat yang tidak sesuai anjuran agama, tujuannya hanya untuk dunia dan dipuji oleh manusia, sehingga lupa akan hakekat dari tujuan dalam menuntut ilmu yang sebenarnya, akhirnya cuma kehidupan nikmat di dunia sajalah yang mereka peroleh tanpa mendapatkan ganjaran dari Allah ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan tiga hal yang berkaitan dengan niat dalam sabdanya yang artinya: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Ia telah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya salah seorang yang pertama dihisab di hari kiamat adalah Pertama seorang laki-laki yang mati syahid (gugur dalam peperangan) kemudian disebutkan baginya semua kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya, dan dia membenarkannya. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya kepadanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Aku berperang untuk-Mu hingga aku syahid’; Allah menjawab, ‘Kamu berdusta, (akan tetapi sesungguhnya) engkau berperang agar orang menyebutmu pemberani, dan (orang-orang) telah menyebutkan demikian itu, kemudian diperintahkan (malaikat) agar dia diseret di atas wajahnya hingga sampai di neraka dan dilemparkan ke dalamnya’. Dan Kedua (selanjutnya adalah) seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengamalkannya serta dia membaca Al-Qur’an, kemudian dia didatangkan, kemudian disebutkan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya dan dia membenarkannya. Kemudian Allah bertanya, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Aku mencari ilmu dan mengamalkannya/mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘kamu berdusta, (akan tetapi) kamu mencari ilmu itu agar disebut sebagai 'alim (orang yang berilmu), dan kamu membaca al-Quran agar orang menyebutmu qari', dan kamu telah disebut demikian itu (alim & qari')’ kemudian diperintahkan (malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya hingga sampai di neraka dan di masukkan ke dalam neraka.”
Dan Ketiga (selanjutnya) seorang laki-laki yang diluaskan (rizkinya) oleh Allah. Dan dikaruniai berbagai harta kekayaan. Kemudian dia dihadapkan, dan disebutkan nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya, dan dia membenarkannya. Kemudia Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat-nikmat itu?’, lelaki itu menjawab, ‘Tidaklah aku meninggalkan jalan yang aku cintai selain aku menginfakkan hartaku untuk-Mu’, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu melakukan itu semua agar orang menyebutmu dermawan, dan kamu telah disebut demikian’. Kemudian diperintahkan (malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya, hingga sampai di neraka dan dimasukkan ke dalam neraka.”[4]
Dalil yang lainnya bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”[5]
Dan dihadist yang lain beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.”[6]
Dari sini kita bisa mendapatkan kesimpulan. Sebuah perbuatan yang baik harus diiringi dengan tujuan dan niat baik pula, keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisah. Niat yang baik tanpa usaha yang baik atau diiringi dengan perbuatan yang buruk itu bohong, dan perbuatan atau usaha yang baik tanpa diiringi niat yang baik (niatnya buruk) itu munafiq dan perbuatannya akan sia-sia.
Ibadah yang insya Allah diterima di sisi Allah ta’ala haruslah memenuhi dua syarat, yaitu:  niat yang ikhlas dan kesesuaian dengan syari’at. Mungkin kita sering mendengar ungkapan dengan istilah al-ikhlash dan al-mutaba’ah. Untuk mengetahui kedua ini, kita bisa memperhatikan sebuah cerita dari salah satu ulama yang bernama fadhil bin ‘iyadh, beliau adalah salah seorang tokoh syeikh tarekat.
Ketika Fadhil bin `Iyadh rahimahullah membaca ayat:
 “Allazi khalakal mauta wal hayata liyabluwiam ahsanu ‘amala wa huwa al ‘azizul gafur”
 Artinya: “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. (Al-Mulk: 2)
Maka, beliau berkata:
“(Yang lebih baik amalnya) yaitu yang paling ikhlash (murni) dan shawab (tepat).
Kemudian para sahabat beliau bertanya:
Artinya: “Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan shawab itu?”
Beliau menjawab:
Artinya: “Apabila sebuah amal khalis, tetapi tidak shawab, niscaya tidak akan diterima. Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya tidak diterima hingga amal tersebut khalis dan shawab. Khalis berarti amal tersebut karena Allah semata, sedangkan shawab berarti amal tersebut berdasarkan sunnah.[7]
Maka arti niat ikhlas adalah niat yang hanya mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan ganjaran-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu selain dari-Nya. Sedangkan yang dimaksud mutaba’ah adalah beribadah sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa membuat penambahan dan perubahan-perubahan sedikitpun, baik dari segi isi, waktu, kadar maupun dari cara pelaksanaannya.[8]
Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah juga menjelaskan bagaimana niat yang baik dalam menuntut ilmu seraya berkata: “Tidak ada sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya,”, mereka berkata, “Bagaimana caranya?” Imam Ahmad berkata, “Yiatu ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain.”[9]
Imam Ahmad berkata: “Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya benar.”
Lalu dikatakan kepada beliau, “Dengan perkara apa agar niat menjadi benar?”, Imam Ahmad berkata, “Ia niatkan untuk bersikap tawadhu pada ilmunya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.”[10]
Penjelasan dari imam Ahmad tentang niat dalam menuntut ilmu adalah agar seorang hamba bisa tawadhu’ serta menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, yang dengan demikian memberikan isyarat bahwa niatnya yang baik penuh keikhlasan, tanpa menginginkan harta, martabat, ataupun jabatan. Memang benar, bahwa niat yang ikhlas banyak ujian dan cobaanya, apalagi kalau sudah dihadapkan dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang membuat mata silau terhadapnya. Niat, cinta dan iman bisa dibilang mirip bila dilihat dari segi kondisinya, bisa berubah kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu Sufyan Ats-Tsaury menjelaskan pentingnya agar terus selalu memperhatikan niat dalam segala perbuatan. Beliau berkata: “Tidak pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada niatku, karena niat selalu berubah-ubah.”[11]
Baiklah santri-santriku, semoga dengan ceramah yang saya sampaikan ini, kita bisa ikhlas dalam menuntut ilmu, semata-mata hanya karena perintah Allah dan rasulNya, tidak menginginkan segala sesuatu kecuali ridhaNya dan bisa istiqomah agar selalu ikhlas dalam segala perbuatan. Aamiin…
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa baarakatuh.”
Dari ceramah Pak Kiyai ini, mereka yang mendengarkannya dengan khusyu’ dan tenang, terkhususkan Umam yang selalu memperhatikan kata demi kata yang telah disampaikan Pak Kiyai. Umam pun terus berusaha selalu ikhlas dan terus semangat dalam belajar. Memperbaiki akhlak dan niat agar selalu ikhlas dalam segala hal. Keikhlasan terkadang susah timbul dari hati, maka sebuah keikhlasan juga perlu sedikit paksaan agar terbiasa dan akan menimbulkan keikhlasan yang tulus.
“Ikhlas itu perlu dilatih bukan ditunggu.” Ucap Umam dalam hatinya.
Beginilah kegiatan para santri yang berdiam di Pondok, setiap harinya mendengarkan ceramah dari Pak Kiyai dan para Asatidz, olah raga dan terkadang bersih-bersih Pondok sehingga tidak terasa masa liburan telah usai berlalu. Mereka menjalani hidup di Pondok dengan santai, nikmat dan nyaman.
Santri-santri pun mulai berdatangan dan mereka yang tinggal di Pondok menyambut kedatangan mereka yang berlibung pulang ke rumah dengan senang dan penuh semangat. Demikianlah cara Umam dan teman-temannya yang menetap di Pondok untuk membuktikan dan mengajak teman-teman yang habis berlibur bahwa sekarang adalah waktunya untuk perbaharuan niat, niat yang baru dan semangat yang baru.
Semua aktivitas Pondok pun berjalan seperti hari biasanya, Umam dan kawan-kawan mulai mengikuti pembelajaran dan aktivitas baru. Ketika mengawali kegiatan dan aktivitas baru, di kelas Umam mempunyai suasana yang berbeda dari yang biasanya, karena masing-masing santri bercerita pengalaman mereka di masa liburan. Ada yang jalan-jalan bersama keluarganya, ada yang bersilaturrahim ke sanak familinya. Adapun Umam sendiri juga bercerita tentang yang dia rasakan dan dialaminya di Pondok. Masing-masing punya selera dan masing-masing punya cerita.  


[1] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 54, dan hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 1907
[2] Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 51, karangan abu anas majid
[3] Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 52, karangan abu anas majid, dan hilyatul auliya’ 9/119, karangan abu nu’im
[4] Hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 1905
[5] Hadist riwayat Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ath-Targhib: 105
[6] HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 106
[7] Hilyah al-Awliya’ 8/95, al-BidAyah wa an-NihAyah 10/199 dan Madarij as-Salikin 2/89.
[8] http://hendro-1945.abatasa.co.id/post/detail/5217/tanpa-judul
[9]Majmuu' Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-'Utsaimiin 26/75
[10] Al-inshoof : 2/116
[11] Al-jami’ li akhlakir rawiy 1/317, al-mulim fil-aqwal al-musyawwaqah li-thalibil ‘ilmi hal 18 no 58

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar