Monday, April 13, 2015

Sehari 24 Jam itu Kurang!



Bagian 8: Sehari 24 Jam itu Kurang!
Pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor telah dikemas dengan berbagai macam kegiatan yang membentuk sebuah dinamika kehidupan, bernilaikan jiwa idealisme dan falsafah kehidupan yang dipegang teguh oleh Gontor. Gontor menekankan pada pembentukan pribadi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Berjiwakan keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukuhwah islamiyah dan bebas dalam berpikir serta berbuat dalam menentukan masa depan masing-masing yang masih dalam lingkaran garis positif dan penuh tanggung jawab. Berbagai macam aktivitas dilaksanakan oleh seluruh elemen di Pesantren dalam rentangan waktu tersebut. Semua minat dan bakat santri diberikan wadah oleh Gontor yang memadai untuk mengembangkan kecerdasannya, baik itu kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, atau kecerdasan-kecerdasan lainnya. Oleh karena itu, dalam putaran waktu 1x24 jam, Pondok Pesantren tidak pernah diam apalagi tidur.[1]
‘Akal yang sehat terdapat di badan orang yang sehat’, di antara kegiatan ekstrakurikuler Gontor yang sangat menarik bagi olah ragawan adalah senam, bela diri dan gym (fitness). Para santri dididik dan dilatih agar mempunyai badan yang sehat, berjiwa tangguh, pantang menyerah dan selalu optimis dalam segala hal. Di dalam tiga ekstrakurikuler ini kita akan menemukan kelincahan seorang santri yang pandai salto ke depan, salto ke belakang, salto ke samping dan gaya yang lainnya bagaikan ninja, dan juga akan melihat keahlian santri dalam membela diri serta santri yang mempunyai badan yang berfostur ideal.
Agar tidak terlepas dari motto dan panca jiwa/jangka (falsafah) Pesantren Gontor dan bisa ditanam dengan baik, segala kegiatan aktivitas santri dibimbing dan ditanggungjawabi oleh para Asatidz Gontor yang telah diberikan amanah oleh bapak Pimpinan Pondok Modern Gontor. Kiyai Gontor mendidik guru-guru dan santri-santrinya untuk menjadi pemimpin yang berkerakter baik, memiliki sikap siap memimpin dan siap untuk dipimpin, sehingga semua guru dan santri akan taat dan patuh terhadap disiplin yang telah ditetapkan oleh Gontor.
Di minggu pertama menjadi santri Gontor, Umam merasa waktu selalu mengejarnya, menekan, membebani dan bahkan selalu menghantuinya. Bagaimana tidak seperti itu, aktivitas di Pondok yang dijalaninya dulu sangatlah berbeda dengan di Pondok Gontor. Dulunya bisa santai karena masih mempunyai banyak waktu kosong setelah kegiatan belajar-mengajar, kini aktivitas sehari-hari di Gontor yang luar biasa padat, ditata rapi oleh para Asatidz dan para pengurus membuatnya seperti semut kepanasan yang terus berlari dan tidak pernah diam, selalu berlari dan terus berlari yang minimalnya jalan cepat. Tidak ada istilah berleha-leha dalam melakukan sebuah pekerjaan apalagi sambil ngelamun, kecuali waktu makan, belajar atau tidur.
Di sini saya akan menerangkan kegiatan apa saja sih yang dikerjakan Umam begitu juga teman-teman yang lainnya sebagai santri Gontor. Diawali sebelum shalat shubuh, diperkirakan shalat shubuh jam setengah lima, maka wajib bagi santri Gontor bangun dari tidur jam 04.00 disebabkan harus antri untuk berwudhu, belum lagi kalau ada yang mau buang hajat dan otomatis akan memerlukan tambahan waktu, sedangkan 10 menit sebelum shalat shubuh diwajibkan kepada santri untuk membaca Al-Qur’an. Bagi santri Gontor juga diwajibkan untuk shalat lima waktu berjama’ah dan tidak boleh masbuk (ketinggalan raka’at) kecuali ada hal darurat. Sesudah shalat shubuh mereka membaca Al-Qur’an lagi yang dilanjutkan dengan berkumpulnya tiap anggota Asrama untuk mengikuti pembagian kosakata, baik itu bahasa Arab atau bahasa Inggris dan selesai acara tersebut sampai jam 06.00 pagi.
Setelah jam 06.00 pagi sampai jam 06.45 mereka dibolehkan untuk melakukan aktivitas masing-masing, yang di antaranya adalah mencuci pakaian, mandi dan sarapan. Tiga kegiatan ini harus dilalui dengan antrian yang minimal dua atau tiga orang dalam jangka waktu kurang lebih selama 45 menit. Kenapa bisa antri? Karena sekitar 4 ribu santri hampir semuanya melakukan kegiatan yang sama dan di waktu yang sama. Dari jam 06.45 seluruh santri harus pergi menuju kelasnya masing-masing dan tepat jam 06.55 semuanya harus sudah duduk manis di kelas. Maka bagi orang yang belum merasakan santri Gontor akan terheran-heran dan pastinya akan bingung melihat ribuan santri selalu berlari yang minimal berjalan dengan cepat. Mungkin bisa dikatakan begini, lima menit sebelumnya bertemu seorang santri dengan memakai kaos, lima menit kemudian dia sudah mandi dan berpakaian rapi, lima menit kemudian dia di dapur sedang makan dan lima menit setelahnya ternyata santri tersebut sudah duduk manis di kelasnya untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Memang super sekali santri Gontor!
Dari jam 07.00 pagi sampai sampai shalat ashar, santri-santri Gontor mengikuti kegiatan belajar mengajar dan diberi waktu istirahat dua kali, yaitu dari jam 09.30 sampai jam 10 pagi. Waktu istirahat sering digunakan para santri untuk sarapan bagi yang belum sempat sarapan, atau jajan bagi yang punya kelebihan uang dan masih lapar. Istirahat kedua yaitu dari jam 12.00 sampai jam 14.00 untuk shalat Dzhuhur berjama’ah dan makan siang yang kemudian dilanjutkan belajar di kelas. Setelah shalat ashar para santri Gontor dibolehkan untuk berolah raga, mencuci pakaian dan mandi sore dengan syarat jam 17.00 semua santri sudah ada di mesjid untuk mengaji Al-Qur’an dan shalat Maghrib berjama’ah.
Sesudah shalat Maghrib berjama’ah para santri wajib balik ke asramanya masing-masing untuk mengaji Al-Qur’an dan melihat nama-nama pelanggar disiplin bahasa dan disiplin keamanan. Bagi siapa saja yang namanya tercantum di papan pengumuman pelanggaran, semuanya wajib untuk masuk mahkamah (tempat introgasi dan pemberian sangsi bagi yang melanggar disiplin). Santri yang tidak melanggar atau namanya tidak tercantum di papan pengumuman pelanggaran bisa langsung pergi ke dapur untuk makan malam, dan mempunyai waktu sekitar satu jam karena sesudah makan malam semuanya harus sudah siap untuk shalat isya berjama’ah. Sedangkan santri yang melanggar disiplin hanya mendapatkan waktu setengah jam untuk makan malam karena setengah jam sebelumnya dia harus menerima sangsi hukuman atas pelanggarannya. dari para pengurus atau para asatidz.
Ingat, hampir semuanya harus dilewati dengan antri, makanya sudah tidak heran lagi semuanya selalu berjalan cepat bahkan lari agar tidak tidak antri di barisan belakang atau terlambat, dan kalau terlambat dari suatu kegiatan pasti akan mendapatkan hukuman dari pengurus atau ustadz.
Setelah shalat Isya berjama’ah, semua santri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan belajar malam di kelasnya masing-masing sampai jam setengah sepuluh dan boleh balik ke asrama setelah jam tersebut. Tepat jam sepuluh malam semuanya harus sudah duduk rapi untuk berdo’a bersama, yaitu do’a sebelum tidur. Setelah pengabsenan dan baca do’a, semua santri wajib tidur kecuali para pengurus dan piket ronda malam. Para pengurus harus memeriksa anggotanya dulu sebelum pengurus tersebut tidur, yang kemudian mereka semua (pengurus dan anggota) bangun lagi jam 04.00 pagi untuk berwudhu, mengaji dan shalat shubuh berjama’ah, tentunya pengurus harus lebih awal bangun dari anggotanya. Beginilah kegiatan rutin santri Gontor tiap harinya, belum lagi kalau ada kegiatan tambahan, maka semua santri harus lebih cepat dan tanggap lagi dari hari biasanya.
Para pengurus adalah dari kakak kelas 5 dan kelas 6 yang otomatis mereka harus lebih awal dari santri biasa dalam segala aktivitas Pondok. Mereka juga wajib mengikuti kegiatan-kegiatan Pondok dan juga wajib lebih awal dari anggota. Tidur malamnya lebih akhir dan bangunnya lebih awal. Para pengurus tentunya lebih capek dari santri biasa, tapi dengan didikan keikhlasan oleh para guru dan kakak kelas sebelumnya serta taat terhadap disiplin Pondok, mereka sudah terbiasa menjalaninya dengan ikhlas, sabar dan selalu semangat.
Dengan perputaran waktu yang sedemikian rupa dan aktivitas yang begitu padat, Umam dan santri-santri baru pasti merasa kualahan dalam menjalaninya, akan tetapi mereka harus tetap sabar, terus semangat dan belajar dari segala pengalaman.
Hari pertama, kakak pengurus Asrama siswa baru menyuruh santri baru untuk berkumpul, yang tujuannya adalah memberikan pengumuman serta menjelaskan disiplin-displin yang harus dijalani dan ditaati. Di antaranya adalah semua aktivitas Gontor beserta waktunya dan disiplin asrama yang ditempati Umam sekarang.
Setelah menjelaskan semuanya, kakak pengurus memberitahukan bahwa pengumuman yang telah disampaikan akan ditempel dan semua anggota harus melihat serta mencatatnya. Dengan ramai para santri baru pun termasuk Umam mencatat semua disiplin yang telah diumumkan melewati lisan dan tulisan.
Aturan main di Gontor begini, para santri Gontor dari kelas 1 sampai 4 melaksanakan shalat lima waktu berjama’ah di kamarnya masing-masing yang jumlahnya perkamar ada sekitar 40 santri, kecuali shalat Maghrib dilaksanakannya di mesjid. Sedangkan kelas 5 dan kelas 6 shalat berjama’ah lima waktu di mesjid. Peraturan yang demikian, hanyalah untuk kemudahan seluruh santri dalam melaksanakan aktivitasnya, karena ada beberapa kegiatan yang berbeda antara anggota yaitu dari kelas 1-4, dan pengurus dari kelas 5 dan 6.
Hari berikutnya Umam terlambat pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah. Ketika itu kakak pengurus sudah bertepuk tangan di asramanya sebagai tanda perintah bagi santri untuk bersegera pergi ke mesjid, sedangkan Umam masih santai mandi di kamar mandi, tiba-tiba dia mendengar teriakan dari pengurus, “Yang di kamar mandi, semuanya dipercepat mandinya!” Teriak seorang pengurus, dan semenit kemudian Umam mendengar terikan lagi dari pengurus, “Dalam hitungan sepuluh, semua yang masih di kamar mandi harus keluar, 1, 2, 3 …”
Ketika Umam mendengar terikan pengurus tadi, dia pun langsung mempercepat mandinya, akan tetapi sangat disayangkan dia terlambat. Umam dan beberapa santri yang lainnya akhirnya mendapatkan hukuman dari pengurus karena keterlambatan mereka. Setelah diberikan sangsi kepada mereka yang terlambat tadi yaitu dengan dijewer di telinga, mereka pun disuruh cepat untuk ganti baju dan langsung pergi ke masjid.
“Sekarang, cepat ganti bajunya dan langsung pergi ke mesjid, saya beri waktu tiga menit, semuanya harus sudah tidak ada lagi di asrama!” perintah pengurus asrama yang ditempati Umam dan kawan-kawannya dengan lantang dan tegas.
Umam dan teman-temannya langsung bersegera pergi ke kamar masing-masing untuk ganti baju dan menuju ke mesjid. Akan tetapi ada sesuatu yang Umam lupakan, gayung dan sabun habis mandi dia letakkan di atas lemari. Padahal, sudah ada larangan yang dijelaskan di hari kemarennya, bahwa tidak ada yang meletakkan barang apapun di atas lemari, dan berarti Umam telah melanggar satu disiplin.
Setelah Umam keluar dari Asrama dan menuju ke mesjid, ternyata pengurus bagian keamanan pusat sudah stand by di depan mesjid dan dia pun terlambat lagi. Kemudian Umam dipanggil bagian keamanan dan ditanya, “Nama kamu siapa? Kenapa kamu terlambat?” Tanya pengurus kepada Umam sambil melihat ke papan nama yang dipakai Umam.
“Nama saya Rijalul Umam al-akh, saya terlambat karena mandi harus antri lama.” Jawabnya dengan jujur dan lugu.
“Kamu anak baru?”
“Na’am, al-akh.” jawab Umam.
“Besok jangan terlambat lagi.” Ucap kakak kelas bagian keamanan tadi, sambil mencubit Umam di pinggangnya.
“Wah! Aku sudah punya stempel merah di telinga dan pinggangku.” Keluh Umam di dalam hatinya.
Kemudian dia langsung masuk mesjid untuk mengaji dan shalat maghrib berjama’ah yang kebetulan dia sudah berwudhu sesudah mandi tadi.
Sesudah shalat Maghrib berjama’ah, para santri Gontor turun dari mesjid menuju asrama masing-masing, di sanalah orang akan melihat pemandangan yang indah luar biasa. Bayangkan 4 ribu santri Gontor keluar dari mesjid melalui beberapa pintu dan melewati satu arah yang di tengah-tengah jalan ada bagian keamanan berdiri tegap mengawasi adik-adik kelasnya. Masing-masing santri berjalan dengan cepat bahkan ada yang berlari menuju asramanya untuk membaca Al-Qur’an. Dengan berdirinya bagian keamanan di tengah jalan, para santri Gontor yang keluar dari mesjid tadi berjalan dengan cepat bahkan berlari seperti membentuk huruf ‘U’, mereka tidak ada yang berani dan segan jalan di samping bagian keamanan tadi.
Setibanya Umam dan teman-temannya dari santri baru di asrama, para pengurus rayon ternyata sudah berdiri tegap menunggu kedatangan mereka dan menyuruh para santri baru langsung membaca Al-Qur’an. Selesainya Umam dan kawan-kawan membaca Al-Qur’an, mereka langsung menuju papan pengumuman untuk mengetahui nama siapa saja yang melanggar disiplin. Tanpa diduga dan disangka-sangka nama Umam tertulis di papan tersebut. Umam pun berpikir dan mengingat-ingat tentang apa yang telah dilakukannya hari ini sampai dinyatakan telah melanggar disiplin.
“Owh iya, gayung dan sabunku ada di atas lemari.” Bisiknya dalam hati.
Umam bersegera menuju ke kamar untuk memeriksa gayung dan sabunnya tadi yang ternyata sudah lenyap entah ke mana. Umam langsung menuju ruangan mahkamah yang sudah disediakan untuk para pelanggar agar diberi sangsi ketika di sana. Umam dan teman-teman yang melanggar dimarah-marahi, dinasehati dan akhirnya diberi sangsi, yaitu dengan hukuman push up sebanyak 50 kali.
Para pembaca pastinya kagum dengan melihat atau mendengar tentang hukuman push up 50 kali dan mengundang bisikan dalam hati tersendiri yang kurang lebih begini, ‘kuat banget nih santri Gontor bisa push up 50 kali’.
Padahal, kuatnya mereka push up Cuma sekitar 20 kali dan selanjutnya dada nempel di lantai kalau disuruh turun dan baru diangkat kalau disuruh diangkat sampai lima puluh kali. Dengan demikian, hukuman tersebut sangat berpengaruh terhadap kekuatan tangan, yang mulanya lembek menjadi keras dan badannya pun ketika berjalan terlihat tegap dan gagah. Hehe…
Sekiranya 30 menit Umam di dalam ruangan mahkamah untuk diadili, dia pun diperbolehkan keluar dan makan malam di dapur. Ketika sedang makan malam, setelah menjalani antrian bersama teman-temannya yang memakan waktu sekitar lima menit, di sana terdapat kejadian aneh yang membuat teman makan Umam yang duduk lebih awal di sampingnya bertanya, “Kenapa tangan kamu mam, kok setiap kali kamu menyuap nasi kelihatannya seperti mengangkat barang berat dan agak gemetaran gitu?” Tanya temannya,
“Ini bukan seperti mengangkat barang berat, tapi memang berat nih dan asli gemetaran bro!” jawab Umam sambil melihat ke tangan kanannya yang sedang bergetar dan mengankat sesuap nasi.
“Wah, kayaknya saya harus duluan balik ke asrama nih bro, sebentar lagi isya.” Ucap teman Umam.
“Owh iya, silahkan! Sebentar lagi aku nyusul.” Jawabnya sambil mempercepat makan malamnya.
Tidak beberapa lama kemudian, adzan isya pun dikumandangkan, sedangkan Umam masih di tengah perjalanan menuju asrama. Setelah tiba di asrama, kakak pengurus asrama sudah siap menunggu kedatangan anggotanya yang terlambat. Umam dan beberapa temannya yang di antaranya Ardi (teman ujian lisan ketika masuk Gontor) pun datang terlambat ke asrama. Mereka yang terlambat disuruh menetap di depan asrama serta berdiri dan berbaris rapi.
“Sudah dikasih pengumuman disiplin, agar semuanya harus ada di kamar sebelum adzan tapi kalian masih terlambat juga, kenapa?” ucap kakak pengurus.
Kemudian mereka ditanya satu persatu tentang sebab kenapa mereka bisa terlambat balik ke asrama.
“Kamu Ardi prasetyo, kenapa terlambat datang ke asrama?” Tanya kakak pengurus Asrama.
“Saya dari warung koperasi al-akh.” jawabnya (Ardi).
“Itu kamu punya jam tangan, tapi tetap terlambat juga, gimana kamu ini! Atur waktumu dengan baik, paham?” ucap pengurus.
“Na’am al-akh.” jawab Ardi.
Owh iya, mereka selaku santri baru diwajibkan untuk memakai kosakata bahasa Arab yang sudah mereka ketahui, contohnya: ‘Ana’, ‘Anta’, dan yang lainnya. Kemudian kakak pengurus tadi langsung bertanya kepada Umam tentang penyebab keterlambatannya balik ke asrama.
“Kamu Rijalul Umam, kenapa terlambat?” Tanya kakak pengurus Asrama kepadanya.
“Habis makan malam al-akh, dan sebelumnya saya masuk mahkamah.” Jawabnya.
“Umam, mahkamah itu sudah diatur waktunya sedemikian rupa agar santri yang masuk mahkamah bisa makan malam dan tidak terlambat, kamu saja yang kurang pandai mengatur waktunya.” Ucap kakak pengurus.
Setelah beliau melihat ke tangan Umam yang tidak memakai jam tangan, beliau lalu bertanya lagi, “Umam punya jam tangan?”
“Iya, saya punya jam tangan tapi di dalam lemari al-akh.”
“Saya tidak mewajibkan untuk memiliki atau memakai jam tangan kepada anggota saya, tapi setidaknya dengan memakainya kamu dan santri yang lain bisa mengatur waktu kalian dengan baik, dan insya Allah tidak akan terlambat seperti ini, paham!” ucap pengurus dengan tegas.
“Na’am al-akh, saya paham.” Jawabnya dengan nada hormat.
“Kamu Umam, sebelumnya terlambat mandi dan mendapatkan sangsi dari saya, terus ketika pergi ke mesjid kamu dapat sangsi lagi dari bagian keamanan pusat karena terlambat datang ke mesjid, setelah itu kamu masuk mahkamah karena menaruh barang di atas lemari, dan sekarang kamu terlambat lagi. Astaghfirullah, Ingat, jadikan pengalaman hari ini sebagai pelajaran untuk kamu dan yang lainnya.” Ucap pengurus sambil mengarahkan pandangan beliau kepada santri lain yang terlambat.
“Semuanya saja, sekarang sit up! Hitung bersama-sama sampai 50 kali.” Ucap pengurus.
Setelah mereka selesai sit up sebanyak lima puluh kali, kakak pengurus langsung menyuruh mereka untuk berwudhu dan melaksanakan shalat isya berjama’ah.
“Sekarang semuanya cepat berwudhu dan shalat isya berjama’ah di kamar masing-masing, jangan sampai ada yang masbuk.” Ucap kakak pengurus dengan tegas.
Santri-santri baru yang terlambat tadi pun langsung bersegera untuk berwudhu dan shalat isya berjama’ah di kamarnya masing-masing.
Setelah shalat isya, dzikir dan do’a bersama, Umam langsung bersiap-siap mengikuti kegiatan belajar malam. ketika dia becermin dengan cermin kecilnya untuk menyisir rambutnya yang lurus. Tanpa disengaja dia melihat telinganya yang sudah merah, seketika itu dia ingat bahwa warna merah ditelinganya ini adalah hasil karya kakak pengurus asramanya. Kemudian dia pun penasaran lagi akan hasil karya kakak pengurus keamanan pusat yang telah dicetaknya di pinggang Umam, ternyata merah juga! Hehe…
“Alhamdulillah, hari ini aku banyak dapat kenangan dari kakak pengurus, baik pengurus Asrama sampai bagian keamanan pusat, dari telinga sampai ujung kaki. Waaahh, aku sudah resmi jadi santri Gontor!” ucap Umam dalam hati sambil tersenyum walaupun merasakan sedikit pegal dan perih di bagian tubuhnya.
Kemudian Umam dan santri yang lainnya beranjak ke kelas untuk belajar malam selama kurang lebih dua jam dan balik lagi ke asrama untuk berwudhu, baca do’a tidur dengan bersama dan tidur malam.
Dengan pengalaman hari ini yang luar biasa, semuanya Umam jadikan pelajaran di masa yang akan datang. Tiga hari berturut-turut setelah kejadian tersebut, dia tidak pernah lagi terlambat atau melakukan sebuah kesalahan yang sama. Alhamdulillah…
Walaupun dia sudah mulai bisa mengkondisikan diri dengan keadaan dan aktivitas Pondok Pesantren Gontor, tapi dia merasa masih kurang cepat dalam bergerak, karena dia masih melanggar disiplin yang disebabkan merasa kurangnya waktu bagi dirinya. Beberapa hari setelah kejadian hari yang penuh kenangan itu, dia menyadari pakaian yang dimilikinya sudah banyak yang kotor dan harus dicuci. Namun kondisi yang dijalani di Pondok seakan-akan tidak memberikan waktu baginya untuk beraksi dalam mencuci pakaian. Hingga pada suatu malam, Umam menggunakan jam tidur malamnya untuk mencuci pakaian dengan diam-diam. Tapi sungguh sangat disayangkan, nasib mujur tidak berpihak padanya. Umam keperguk lagi sama kakak pengurus asrama dan mendapatkan sangsi serta peringatan agar tidak boleh mencuci di malam hari.
“Umam, kemari!” Panggil kakak pengurus dan dia pun menghampirinya dengan rasa bersalah.
“Kenapa kamu mencuci pakaian di malam hari?” Tanya beliau.
“Pakaian saya sudah banyak yang kotor dan di siang hari saya nggak sempat nyuci pakaian al-akh.” Jawabnya.
“Saya bisa memahami keadaanmu, tapi kamu ini masih kurang pandai mengatur waktu. Salah satu pendidikan Gontor adalah mendidik kita agar selalu cepat dan tanggap dalam segala hal.” Ucap pengurus.
Kemudian kakak pengurus tadi memberikan sangsi kepada Umam, “Sekarang kamu sit up 20 kali!”
Setelah selesai sit up, Umam disuruh meninggalkan pakaiannya di ember dan mencucinya besok pagi.
“Tinggalkan pakaianmu di ember dan cuci besok pagi! Sekarang kamu harus tidur karena badan kamu juga perlu istirahat.” Perintah beliau.
Alhamdulillah, Umam bisa mencuci pakaian di pagi hari sebelum mandi dan menjemurnya. Umam pun sekarang bisa menggunakan waktunya dengan normal, sebagaimana yang telah ditentukan jadwalnya oleh Pondok. Sesudah shalat ashar dia langsung pergi ke kamar mandi yang ternyata para santri sudah mulai antri untuk mandi. Sekitar seperempat jam Umam menunggu antrian, akhirnya dia bisa mandi juga. Selesai mandi dia langsung balik ke kamar dan sempat ngobrol sebentar dengan temannya Ardi yang kebetulan dia juga satu kamar dengan Umam.
“Ardi, tadi malam aku nyuci diam-diam lho,” ucap Umam.
“Hah, kok bisa!” si Ardi kaget.
“Iya, tapi tetap aja ketahuan sama kakak pengurus.” Keluh Umam kepada Ardi.
“Ya pasti ketahuanlah bro, Gontor ini bagaikan lautan, semua sampah yang ada di laut pasti akan tersingkirkan ke pinggir pantai. Begitu juga Gontor, segala pelanggaran disiplin pasti akan ketahuan, baik itu secara langsung atau di masa yang akan datang. Jangan coba-coba deh untuk melanggar disiplin! Lagian disiplin kan juga untuk kebaikan kita semua.” Jawab Ardi, “Disiplin ada bukan untuk dilanggar, tapi adanya disiplin karena ada kesalahan atau kejanggalan dalam kebaikan. Dalam syariat banyak perintah-perintah dan larangan-larangan yang semuanya harus ditaati, orang yang berpikir disiplin ada untuk dilanggar itu hanya orang-orang pembangkang.” ucap Ardi lagi.
“Sebenarnya aku nggak ada niat untuk melanggar disiplin, Cuman…” Jawab Umam sambil berfikir mencari alasan yang tepat.
“Cuman apa?” Tanya Ardi kepadanya,
“Cuma aku nggak punya waktu aja buat nyuci, selain malam hari.” Jawab Umam.
“Hehe, sama dong! Tapi kita tetap harus menaati disiplin yang telah ditentukan dan harus pandai mengatur waktu.” Jawab Ardi sambil tersenyum.
Tidak beberapa lama mereka ngobrol, Ardi mengajak Umam agar bersiap-siap untuk pergi ke mesjid membaca Al-Qur’an dan shalat Maghrib berjama’ah. Setelah selesai mereka mengaganti pakaian dan mau beranjak ke mesjid, Umam baru ingat pakaiannya masih ada di jemuran. Umam menyuruh Ardi untuk pergi duluan karena dia ingin mengambil pakaiannya.
“Ardi, silahkan kamu pergi duluan! Aku mau ngambil pakaianku di jemuran dan mau ngelipatnya dulu.” Ucap Umam kepada Ardi.
“Ya sudah, saya duluan yaaa, kamu jangan sampai terlambat lagi lho ke mesjidnya!” kata Ardi kepadanya.
“Oke bro.” jawab Umam yang kemudian langsung pergi mengambil jemurannya.
Setelah mengambil pakaiannya yang ada di jemuran, dia balik ke kamarnya untuk melipat pakaiannya yang sudah di jemur tadi pagi. Baru satu baju yang terlipat, tiba-tiba kakak pengurus asrama mengetuk kamar dan menyuruh Umam dan teman lainnya yang ada di kamar untuk bersegera pergi ke mesjid. Seketika itu pula dia merasa kesal terhadap dirinya sendiri yang entah kenapa dia merasa selalu dikejar oleh waktu, dan secara tidak sengaja dia berucap pada dirinya, “Sehari 24 jam itu kurang!”
Tiba-tiba teman-teman yang ada di kamar melihatnya dengan aneh dan tersenyum, kemudian kakak pengurus asrama menghampirinya dan berkata, “Makanya, jangan menyia-nyiakan waktumu walaupun satu detik. Waktu itu adalah nafas dan detak jantungmu, ketika detak jantungmu berhenti maka matilah kamu. Sama juga dengan orang yang terbawa oleh zaman, zamannya makai Hp BB (Black Bery) dia ikut makai BB, terus ketika zamannya Android ganti lagi dengan Hp Android, syukur-syukur punya duit, kalau nggak? Bisa-bisa semua cara akan dilakukannya walaupun itu dengan cara yang haram. Na’udzubillah min dzalik… Nah inilah contoh orang yang terbawa oleh zaman. Kebutuhan manusia sebenarnya tidak jauh berbeda, tapi hawa nafsu dan gengsinyalah yang membuat mereka terus merasa kurang dan ingin selalu unggul di hadapan manusia. Sehingga melupakan Allah dan lupa akan janji Allah bahwa kedudukan yang paling mulia di sisinya adalah orang yang paling bertaqwa, bukan orang yang paling kaya apalagi sok kaya. Fahimta yaa Umam?”
“Na’am, fahimtu al-akh.” Jawab Umam.
Kemudian Umam langsung memasukkan semua pakaiannya yang belum dilipat ke lemari, dan langsung pergi menuju ke mesjid tanpa melipatnya terlebih dahulu. Bagi Umam, semua yang telah terjadi akan menjadi pelajaran di hari yang akan datang. Memang benar, waktu itu bagaikan benda tajam dan harus berhati-hati dalam menggunakannya. Kalau manusia tidak bisa dengan baik menggunakannya (waktu), maka benda tersebut bisa melukai pemiliknya.
Waktu itu bagaikan pedang, yang apabila kamu tidak pandai menggunakannya, maka ia akan akan mencelekaimu.
 



[1] http://www.Gontor.ac.id

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar