Bagian 8: Sehari 24 Jam itu Kurang!
Pendidikan di Pondok Modern
Darussalam Gontor telah dikemas dengan berbagai macam kegiatan yang membentuk
sebuah dinamika kehidupan, bernilaikan jiwa idealisme dan falsafah kehidupan
yang dipegang teguh oleh Gontor. Gontor menekankan pada pembentukan pribadi
mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan
berpikiran bebas. Berjiwakan keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukuhwah islamiyah
dan bebas dalam berpikir serta berbuat dalam menentukan masa depan
masing-masing yang masih dalam lingkaran garis positif dan penuh tanggung
jawab. Berbagai macam aktivitas dilaksanakan oleh seluruh elemen di Pesantren
dalam rentangan waktu tersebut. Semua minat dan bakat santri diberikan wadah
oleh Gontor yang memadai untuk mengembangkan kecerdasannya, baik itu kecerdasan
intelektual, emosional, spiritual, atau kecerdasan-kecerdasan lainnya. Oleh karena
itu, dalam putaran waktu 1x24 jam, Pondok Pesantren tidak pernah diam apalagi
tidur.[1]
‘Akal yang sehat terdapat di badan
orang yang sehat’, di antara
kegiatan ekstrakurikuler Gontor yang sangat menarik bagi olah ragawan adalah
senam, bela diri dan gym (fitness). Para santri dididik dan dilatih agar
mempunyai badan yang sehat, berjiwa tangguh, pantang menyerah dan selalu
optimis dalam segala hal. Di dalam tiga ekstrakurikuler ini kita akan menemukan
kelincahan seorang santri yang pandai salto ke depan, salto ke belakang, salto ke
samping dan gaya yang lainnya bagaikan ninja, dan juga akan melihat keahlian
santri dalam membela diri serta santri yang mempunyai badan yang berfostur ideal.
Agar tidak terlepas dari motto dan
panca jiwa/jangka (falsafah) Pesantren Gontor dan bisa ditanam dengan baik,
segala kegiatan aktivitas santri dibimbing dan ditanggungjawabi oleh para Asatidz
Gontor yang telah diberikan amanah oleh bapak Pimpinan Pondok Modern Gontor.
Kiyai Gontor mendidik guru-guru dan santri-santrinya untuk menjadi pemimpin
yang berkerakter baik, memiliki sikap siap memimpin dan siap untuk dipimpin,
sehingga semua guru dan santri akan taat dan patuh terhadap disiplin yang telah
ditetapkan oleh Gontor.
Di minggu pertama menjadi santri Gontor,
Umam merasa waktu selalu mengejarnya, menekan, membebani dan bahkan selalu
menghantuinya. Bagaimana tidak seperti itu, aktivitas di Pondok yang dijalaninya
dulu sangatlah berbeda dengan di Pondok Gontor. Dulunya bisa santai karena
masih mempunyai banyak waktu kosong setelah kegiatan belajar-mengajar, kini
aktivitas sehari-hari di Gontor yang luar biasa padat, ditata rapi oleh para Asatidz
dan para pengurus membuatnya seperti semut kepanasan yang terus berlari dan tidak
pernah diam, selalu berlari dan terus berlari yang minimalnya jalan cepat. Tidak
ada istilah berleha-leha dalam melakukan sebuah pekerjaan apalagi sambil
ngelamun, kecuali waktu makan, belajar atau tidur.
Di sini saya akan menerangkan
kegiatan apa saja sih yang dikerjakan Umam begitu juga teman-teman yang lainnya
sebagai santri Gontor. Diawali sebelum shalat shubuh, diperkirakan shalat
shubuh jam setengah lima, maka wajib bagi santri Gontor bangun dari tidur jam
04.00 disebabkan harus antri untuk berwudhu, belum lagi kalau ada yang mau
buang hajat dan otomatis akan memerlukan tambahan waktu, sedangkan 10 menit
sebelum shalat shubuh diwajibkan kepada santri untuk membaca Al-Qur’an. Bagi
santri Gontor juga diwajibkan untuk shalat lima waktu berjama’ah dan tidak
boleh masbuk (ketinggalan raka’at) kecuali ada hal darurat. Sesudah shalat
shubuh mereka membaca Al-Qur’an lagi yang dilanjutkan dengan berkumpulnya tiap anggota
Asrama untuk mengikuti pembagian kosakata, baik itu bahasa Arab atau bahasa Inggris
dan selesai acara tersebut sampai jam 06.00 pagi.
Setelah jam 06.00 pagi sampai jam
06.45 mereka dibolehkan untuk melakukan aktivitas masing-masing, yang di antaranya
adalah mencuci pakaian, mandi dan sarapan. Tiga kegiatan ini harus dilalui
dengan antrian yang minimal dua atau tiga orang dalam jangka waktu kurang lebih
selama 45 menit. Kenapa bisa antri? Karena sekitar 4 ribu santri hampir
semuanya melakukan kegiatan yang sama dan di waktu yang sama. Dari jam 06.45
seluruh santri harus pergi menuju kelasnya masing-masing dan tepat jam 06.55
semuanya harus sudah duduk manis di kelas. Maka bagi orang yang belum merasakan
santri Gontor akan terheran-heran dan pastinya akan bingung melihat ribuan
santri selalu berlari yang minimal berjalan dengan cepat. Mungkin bisa
dikatakan begini, lima menit sebelumnya bertemu seorang santri dengan memakai
kaos, lima menit kemudian dia sudah mandi dan berpakaian rapi, lima menit
kemudian dia di dapur sedang makan dan lima menit setelahnya ternyata santri
tersebut sudah duduk manis di kelasnya untuk mengikuti kegiatan belajar
mengajar. Memang super sekali santri Gontor!
Dari jam 07.00 pagi sampai sampai
shalat ashar, santri-santri Gontor mengikuti kegiatan belajar mengajar dan
diberi waktu istirahat dua kali, yaitu dari jam 09.30 sampai jam 10 pagi. Waktu
istirahat sering digunakan para santri untuk sarapan bagi yang belum sempat
sarapan, atau jajan bagi yang punya kelebihan uang dan masih lapar. Istirahat
kedua yaitu dari jam 12.00 sampai jam 14.00 untuk shalat Dzhuhur berjama’ah dan
makan siang yang kemudian dilanjutkan belajar di kelas. Setelah shalat ashar
para santri Gontor dibolehkan untuk berolah raga, mencuci pakaian dan mandi
sore dengan syarat jam 17.00 semua santri sudah ada di mesjid untuk mengaji Al-Qur’an
dan shalat Maghrib berjama’ah.
Sesudah shalat Maghrib berjama’ah
para santri wajib balik ke asramanya masing-masing untuk mengaji Al-Qur’an dan
melihat nama-nama pelanggar disiplin bahasa dan disiplin keamanan. Bagi siapa
saja yang namanya tercantum di papan pengumuman pelanggaran, semuanya wajib untuk
masuk mahkamah (tempat introgasi dan pemberian sangsi bagi yang melanggar
disiplin). Santri yang tidak melanggar atau namanya tidak tercantum di papan
pengumuman pelanggaran bisa langsung pergi ke dapur untuk makan malam, dan mempunyai
waktu sekitar satu jam karena sesudah makan malam semuanya harus sudah siap
untuk shalat isya berjama’ah. Sedangkan santri yang melanggar disiplin hanya
mendapatkan waktu setengah jam untuk makan malam karena setengah jam sebelumnya
dia harus menerima sangsi hukuman atas pelanggarannya. dari para pengurus atau
para asatidz.
Ingat, hampir semuanya harus
dilewati dengan antri, makanya sudah tidak heran lagi semuanya selalu berjalan
cepat bahkan lari agar tidak tidak antri di barisan belakang atau terlambat,
dan kalau terlambat dari suatu kegiatan pasti akan mendapatkan hukuman dari pengurus
atau ustadz.
Setelah shalat Isya berjama’ah,
semua santri diwajibkan untuk mengikuti kegiatan belajar malam di kelasnya
masing-masing sampai jam setengah sepuluh dan boleh balik ke asrama setelah jam
tersebut. Tepat jam sepuluh malam semuanya harus sudah duduk rapi untuk berdo’a
bersama, yaitu do’a sebelum tidur. Setelah pengabsenan dan baca do’a, semua
santri wajib tidur kecuali para pengurus dan piket ronda malam. Para pengurus
harus memeriksa anggotanya dulu sebelum pengurus tersebut tidur, yang kemudian
mereka semua (pengurus dan anggota) bangun lagi jam 04.00 pagi untuk berwudhu,
mengaji dan shalat shubuh berjama’ah, tentunya pengurus harus lebih awal bangun
dari anggotanya. Beginilah kegiatan rutin santri Gontor tiap harinya, belum
lagi kalau ada kegiatan tambahan, maka semua santri harus lebih cepat dan
tanggap lagi dari hari biasanya.
Para pengurus adalah dari kakak
kelas 5 dan kelas 6 yang otomatis mereka harus lebih awal dari santri biasa
dalam segala aktivitas Pondok. Mereka juga wajib mengikuti kegiatan-kegiatan Pondok
dan juga wajib lebih awal dari anggota. Tidur malamnya lebih akhir dan
bangunnya lebih awal. Para pengurus tentunya lebih capek dari santri biasa,
tapi dengan didikan keikhlasan oleh para guru dan kakak kelas sebelumnya serta
taat terhadap disiplin Pondok, mereka sudah terbiasa menjalaninya dengan
ikhlas, sabar dan selalu semangat.
Dengan perputaran waktu yang
sedemikian rupa dan aktivitas yang begitu padat, Umam dan santri-santri baru
pasti merasa kualahan dalam menjalaninya, akan tetapi mereka harus tetap sabar,
terus semangat dan belajar dari segala pengalaman.
Hari pertama, kakak pengurus Asrama
siswa baru menyuruh santri baru untuk berkumpul, yang tujuannya adalah
memberikan pengumuman serta menjelaskan disiplin-displin yang harus dijalani
dan ditaati. Di antaranya adalah semua aktivitas Gontor beserta waktunya dan
disiplin asrama yang ditempati Umam sekarang.
Setelah menjelaskan semuanya, kakak
pengurus memberitahukan bahwa pengumuman yang telah disampaikan akan ditempel
dan semua anggota harus melihat serta mencatatnya. Dengan ramai para santri
baru pun termasuk Umam mencatat semua disiplin yang telah diumumkan melewati
lisan dan tulisan.
Aturan main di Gontor begini, para
santri Gontor dari kelas 1 sampai 4 melaksanakan shalat lima waktu berjama’ah di
kamarnya masing-masing yang jumlahnya perkamar ada sekitar 40 santri, kecuali
shalat Maghrib dilaksanakannya di mesjid. Sedangkan kelas 5 dan kelas 6 shalat
berjama’ah lima waktu di mesjid. Peraturan yang demikian, hanyalah untuk
kemudahan seluruh santri dalam melaksanakan aktivitasnya, karena ada beberapa
kegiatan yang berbeda antara anggota yaitu dari kelas 1-4, dan pengurus dari
kelas 5 dan 6.
Hari berikutnya Umam terlambat pergi
ke mesjid untuk melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah. Ketika itu kakak
pengurus sudah bertepuk tangan di asramanya sebagai tanda perintah bagi santri untuk
bersegera pergi ke mesjid, sedangkan Umam masih santai mandi di kamar mandi,
tiba-tiba dia mendengar teriakan dari pengurus, “Yang di kamar mandi, semuanya
dipercepat mandinya!” Teriak seorang pengurus, dan semenit kemudian Umam
mendengar terikan lagi dari pengurus, “Dalam hitungan sepuluh, semua yang masih
di kamar mandi harus keluar, 1, 2, 3 …”
Ketika Umam mendengar terikan
pengurus tadi, dia pun langsung mempercepat mandinya, akan tetapi sangat disayangkan
dia terlambat. Umam dan beberapa santri yang lainnya akhirnya mendapatkan
hukuman dari pengurus karena keterlambatan mereka. Setelah diberikan sangsi
kepada mereka yang terlambat tadi yaitu dengan dijewer di telinga, mereka pun
disuruh cepat untuk ganti baju dan langsung pergi ke masjid.
“Sekarang, cepat ganti bajunya dan
langsung pergi ke mesjid, saya beri waktu tiga menit, semuanya harus sudah tidak
ada lagi di asrama!” perintah pengurus asrama yang ditempati Umam dan
kawan-kawannya dengan lantang dan tegas.
Umam dan teman-temannya langsung
bersegera pergi ke kamar masing-masing untuk ganti baju dan menuju ke mesjid.
Akan tetapi ada sesuatu yang Umam lupakan, gayung dan sabun habis mandi dia
letakkan di atas lemari. Padahal, sudah ada larangan yang dijelaskan di hari
kemarennya, bahwa tidak ada yang meletakkan barang apapun di atas lemari, dan
berarti Umam telah melanggar satu disiplin.
Setelah Umam keluar dari Asrama dan
menuju ke mesjid, ternyata pengurus bagian keamanan pusat sudah stand by di
depan mesjid dan dia pun terlambat lagi. Kemudian Umam dipanggil bagian
keamanan dan ditanya, “Nama kamu siapa? Kenapa kamu terlambat?” Tanya pengurus
kepada Umam sambil melihat ke papan nama yang dipakai Umam.
“Nama saya Rijalul Umam al-akh, saya
terlambat karena mandi harus antri lama.” Jawabnya dengan jujur dan lugu.
“Kamu anak baru?”
“Na’am, al-akh.” jawab Umam.
“Besok jangan terlambat lagi.” Ucap
kakak kelas bagian keamanan tadi, sambil mencubit Umam di pinggangnya.
“Wah! Aku sudah punya stempel merah di
telinga dan pinggangku.” Keluh Umam di dalam hatinya.
Kemudian dia langsung masuk mesjid
untuk mengaji dan shalat maghrib berjama’ah yang kebetulan dia sudah berwudhu
sesudah mandi tadi.
Sesudah shalat Maghrib berjama’ah,
para santri Gontor turun dari mesjid menuju asrama masing-masing, di sanalah
orang akan melihat pemandangan yang indah luar biasa. Bayangkan 4 ribu santri Gontor
keluar dari mesjid melalui beberapa pintu dan melewati satu arah yang di tengah-tengah
jalan ada bagian keamanan berdiri tegap mengawasi adik-adik kelasnya. Masing-masing
santri berjalan dengan cepat bahkan ada yang berlari menuju asramanya untuk
membaca Al-Qur’an. Dengan berdirinya bagian keamanan di tengah jalan, para
santri Gontor yang keluar dari mesjid tadi berjalan dengan cepat bahkan berlari
seperti membentuk huruf ‘U’, mereka tidak ada yang berani dan segan jalan di
samping bagian keamanan tadi.
Setibanya Umam dan teman-temannya
dari santri baru di asrama, para pengurus rayon ternyata sudah berdiri tegap
menunggu kedatangan mereka dan menyuruh para santri baru langsung membaca Al-Qur’an.
Selesainya Umam dan kawan-kawan membaca Al-Qur’an, mereka langsung menuju papan
pengumuman untuk mengetahui nama siapa saja yang melanggar disiplin. Tanpa diduga
dan disangka-sangka nama Umam tertulis di papan tersebut. Umam pun berpikir dan
mengingat-ingat tentang apa yang telah dilakukannya hari ini sampai dinyatakan
telah melanggar disiplin.
“Owh iya, gayung dan sabunku ada di
atas lemari.” Bisiknya dalam hati.
Umam bersegera menuju ke kamar untuk
memeriksa gayung dan sabunnya tadi yang ternyata sudah lenyap entah ke mana. Umam
langsung menuju ruangan mahkamah yang sudah disediakan untuk para pelanggar
agar diberi sangsi ketika di sana. Umam dan teman-teman yang melanggar
dimarah-marahi, dinasehati dan akhirnya diberi sangsi, yaitu dengan hukuman
push up sebanyak 50 kali.
Para pembaca pastinya kagum dengan
melihat atau mendengar tentang hukuman push up 50 kali dan mengundang bisikan
dalam hati tersendiri yang kurang lebih begini, ‘kuat banget nih santri Gontor
bisa push up 50 kali’.
Padahal, kuatnya mereka push up Cuma
sekitar 20 kali dan selanjutnya dada nempel di lantai kalau disuruh turun dan
baru diangkat kalau disuruh diangkat sampai lima puluh kali. Dengan demikian,
hukuman tersebut sangat berpengaruh terhadap kekuatan tangan, yang mulanya lembek
menjadi keras dan badannya pun ketika berjalan terlihat tegap dan gagah. Hehe…
Sekiranya 30 menit Umam di dalam
ruangan mahkamah untuk diadili, dia pun diperbolehkan keluar dan makan malam di
dapur. Ketika sedang makan malam, setelah menjalani antrian bersama teman-temannya
yang memakan waktu sekitar lima menit, di sana terdapat kejadian aneh yang
membuat teman makan Umam yang duduk lebih awal di sampingnya bertanya, “Kenapa
tangan kamu mam, kok setiap kali kamu menyuap nasi kelihatannya seperti
mengangkat barang berat dan agak gemetaran gitu?” Tanya temannya,
“Ini bukan seperti mengangkat barang
berat, tapi memang berat nih dan asli gemetaran bro!” jawab Umam sambil melihat
ke tangan kanannya yang sedang bergetar dan mengankat sesuap nasi.
“Wah, kayaknya saya harus duluan
balik ke asrama nih bro, sebentar lagi isya.” Ucap teman Umam.
“Owh iya, silahkan! Sebentar lagi aku
nyusul.” Jawabnya sambil mempercepat makan malamnya.
Tidak beberapa lama kemudian, adzan
isya pun dikumandangkan, sedangkan Umam masih di tengah perjalanan menuju asrama.
Setelah tiba di asrama, kakak pengurus asrama sudah siap menunggu kedatangan
anggotanya yang terlambat. Umam dan beberapa temannya yang di antaranya Ardi
(teman ujian lisan ketika masuk Gontor) pun datang terlambat ke asrama. Mereka
yang terlambat disuruh menetap di depan asrama serta berdiri dan berbaris rapi.
“Sudah dikasih pengumuman disiplin,
agar semuanya harus ada di kamar sebelum adzan tapi kalian masih terlambat juga,
kenapa?” ucap kakak pengurus.
Kemudian mereka ditanya satu persatu
tentang sebab kenapa mereka bisa terlambat balik ke asrama.
“Kamu Ardi prasetyo, kenapa
terlambat datang ke asrama?” Tanya kakak pengurus Asrama.
“Saya dari warung koperasi al-akh.”
jawabnya (Ardi).
“Itu kamu punya jam tangan, tapi
tetap terlambat juga, gimana kamu ini! Atur waktumu dengan baik, paham?” ucap
pengurus.
“Na’am al-akh.” jawab Ardi.
Owh iya, mereka selaku santri baru
diwajibkan untuk memakai kosakata bahasa Arab yang sudah mereka ketahui, contohnya:
‘Ana’, ‘Anta’, dan yang lainnya. Kemudian kakak pengurus tadi langsung bertanya
kepada Umam tentang penyebab keterlambatannya balik ke asrama.
“Kamu Rijalul Umam, kenapa
terlambat?” Tanya kakak pengurus Asrama kepadanya.
“Habis makan malam al-akh, dan
sebelumnya saya masuk mahkamah.” Jawabnya.
“Umam, mahkamah itu sudah diatur
waktunya sedemikian rupa agar santri yang masuk mahkamah bisa makan malam dan
tidak terlambat, kamu saja yang kurang pandai mengatur waktunya.” Ucap kakak
pengurus.
Setelah beliau melihat ke tangan
Umam yang tidak memakai jam tangan, beliau lalu bertanya lagi, “Umam punya jam
tangan?”
“Iya, saya punya jam tangan tapi di
dalam lemari al-akh.”
“Saya tidak mewajibkan untuk
memiliki atau memakai jam tangan kepada anggota saya, tapi setidaknya dengan
memakainya kamu dan santri yang lain bisa mengatur waktu kalian dengan baik,
dan insya Allah tidak akan terlambat seperti ini, paham!” ucap pengurus dengan
tegas.
“Na’am al-akh, saya paham.” Jawabnya
dengan nada hormat.
“Kamu Umam, sebelumnya terlambat
mandi dan mendapatkan sangsi dari saya, terus ketika pergi ke mesjid kamu dapat
sangsi lagi dari bagian keamanan pusat karena terlambat datang ke mesjid,
setelah itu kamu masuk mahkamah karena menaruh barang di atas lemari, dan
sekarang kamu terlambat lagi. Astaghfirullah, Ingat, jadikan pengalaman hari
ini sebagai pelajaran untuk kamu dan yang lainnya.” Ucap pengurus sambil
mengarahkan pandangan beliau kepada santri lain yang terlambat.
“Semuanya saja, sekarang sit up! Hitung
bersama-sama sampai 50 kali.” Ucap pengurus.
Setelah mereka selesai sit up
sebanyak lima puluh kali, kakak pengurus langsung menyuruh mereka untuk
berwudhu dan melaksanakan shalat isya berjama’ah.
“Sekarang semuanya cepat berwudhu
dan shalat isya berjama’ah di kamar masing-masing, jangan sampai ada yang
masbuk.” Ucap kakak pengurus dengan tegas.
Santri-santri baru yang terlambat
tadi pun langsung bersegera untuk berwudhu dan shalat isya berjama’ah di
kamarnya masing-masing.
Setelah shalat isya, dzikir dan do’a
bersama, Umam langsung bersiap-siap mengikuti kegiatan belajar malam. ketika dia
becermin dengan cermin kecilnya untuk menyisir rambutnya yang lurus. Tanpa
disengaja dia melihat telinganya yang sudah merah, seketika itu dia ingat bahwa
warna merah ditelinganya ini adalah hasil karya kakak pengurus asramanya. Kemudian
dia pun penasaran lagi akan hasil karya kakak pengurus keamanan pusat yang
telah dicetaknya di pinggang Umam, ternyata merah juga! Hehe…
“Alhamdulillah, hari ini aku banyak
dapat kenangan dari kakak pengurus, baik pengurus Asrama sampai bagian keamanan
pusat, dari telinga sampai ujung kaki. Waaahh, aku sudah resmi jadi santri Gontor!”
ucap Umam dalam hati sambil tersenyum walaupun merasakan sedikit pegal dan
perih di bagian tubuhnya.
Kemudian Umam dan santri yang
lainnya beranjak ke kelas untuk belajar malam selama kurang lebih dua jam dan
balik lagi ke asrama untuk berwudhu, baca do’a tidur dengan bersama dan tidur
malam.
Dengan pengalaman hari ini yang luar
biasa, semuanya Umam jadikan pelajaran di masa yang akan datang. Tiga hari
berturut-turut setelah kejadian tersebut, dia tidak pernah lagi terlambat atau melakukan
sebuah kesalahan yang sama. Alhamdulillah…
Walaupun dia sudah mulai bisa
mengkondisikan diri dengan keadaan dan aktivitas Pondok Pesantren Gontor, tapi dia
merasa masih kurang cepat dalam bergerak, karena dia masih melanggar disiplin
yang disebabkan merasa kurangnya waktu bagi dirinya. Beberapa hari setelah
kejadian hari yang penuh kenangan itu, dia menyadari pakaian yang dimilikinya
sudah banyak yang kotor dan harus dicuci. Namun kondisi yang dijalani di Pondok
seakan-akan tidak memberikan waktu baginya untuk beraksi dalam mencuci pakaian.
Hingga pada suatu malam, Umam menggunakan jam tidur malamnya untuk mencuci pakaian
dengan diam-diam. Tapi sungguh sangat disayangkan, nasib mujur tidak berpihak
padanya. Umam keperguk lagi sama kakak pengurus asrama dan mendapatkan sangsi
serta peringatan agar tidak boleh mencuci di malam hari.
“Umam, kemari!” Panggil kakak
pengurus dan dia pun menghampirinya dengan rasa bersalah.
“Kenapa kamu mencuci pakaian di
malam hari?” Tanya beliau.
“Pakaian saya sudah banyak yang
kotor dan di siang hari saya nggak sempat nyuci pakaian al-akh.” Jawabnya.
“Saya bisa memahami keadaanmu, tapi
kamu ini masih kurang pandai mengatur waktu. Salah satu pendidikan Gontor
adalah mendidik kita agar selalu cepat dan tanggap dalam segala hal.” Ucap
pengurus.
Kemudian kakak pengurus tadi memberikan
sangsi kepada Umam, “Sekarang kamu sit up 20 kali!”
Setelah selesai sit up, Umam disuruh
meninggalkan pakaiannya di ember dan mencucinya besok pagi.
“Tinggalkan pakaianmu di ember dan
cuci besok pagi! Sekarang kamu harus tidur karena badan kamu juga perlu
istirahat.” Perintah beliau.
Alhamdulillah, Umam bisa mencuci
pakaian di pagi hari sebelum mandi dan menjemurnya. Umam pun sekarang bisa
menggunakan waktunya dengan normal, sebagaimana yang telah ditentukan jadwalnya
oleh Pondok. Sesudah shalat ashar dia langsung pergi ke kamar mandi yang
ternyata para santri sudah mulai antri untuk mandi. Sekitar seperempat jam Umam
menunggu antrian, akhirnya dia bisa mandi juga. Selesai mandi dia langsung
balik ke kamar dan sempat ngobrol sebentar dengan temannya Ardi yang kebetulan
dia juga satu kamar dengan Umam.
“Ardi, tadi malam aku nyuci
diam-diam lho,” ucap Umam.
“Hah, kok bisa!” si Ardi kaget.
“Iya, tapi tetap aja ketahuan sama
kakak pengurus.” Keluh Umam kepada Ardi.
“Ya pasti ketahuanlah bro, Gontor
ini bagaikan lautan, semua sampah yang ada di laut pasti akan tersingkirkan ke pinggir
pantai. Begitu juga Gontor, segala pelanggaran disiplin pasti akan ketahuan,
baik itu secara langsung atau di masa yang akan datang. Jangan coba-coba deh
untuk melanggar disiplin! Lagian disiplin kan juga untuk kebaikan kita semua.” Jawab
Ardi, “Disiplin ada bukan untuk dilanggar, tapi adanya disiplin karena ada
kesalahan atau kejanggalan dalam kebaikan. Dalam syariat banyak
perintah-perintah dan larangan-larangan yang semuanya harus ditaati, orang yang
berpikir disiplin ada untuk dilanggar itu hanya orang-orang pembangkang.” ucap Ardi
lagi.
“Sebenarnya aku nggak ada niat untuk
melanggar disiplin, Cuman…” Jawab Umam sambil berfikir mencari alasan yang
tepat.
“Cuman apa?” Tanya Ardi kepadanya,
“Cuma aku nggak punya waktu aja buat
nyuci, selain malam hari.” Jawab Umam.
“Hehe, sama dong! Tapi kita tetap
harus menaati disiplin yang telah ditentukan dan harus pandai mengatur waktu.” Jawab
Ardi sambil tersenyum.
Tidak beberapa lama mereka ngobrol, Ardi
mengajak Umam agar bersiap-siap untuk pergi ke mesjid membaca Al-Qur’an dan
shalat Maghrib berjama’ah. Setelah selesai mereka mengaganti pakaian dan mau
beranjak ke mesjid, Umam baru ingat pakaiannya masih ada di jemuran. Umam
menyuruh Ardi untuk pergi duluan karena dia ingin mengambil pakaiannya.
“Ardi, silahkan kamu pergi duluan! Aku
mau ngambil pakaianku di jemuran dan mau ngelipatnya dulu.” Ucap Umam kepada Ardi.
“Ya sudah, saya duluan yaaa, kamu jangan
sampai terlambat lagi lho ke mesjidnya!” kata Ardi kepadanya.
“Oke bro.” jawab Umam yang kemudian langsung
pergi mengambil jemurannya.
Setelah mengambil pakaiannya yang
ada di jemuran, dia balik ke kamarnya untuk melipat pakaiannya yang sudah di jemur
tadi pagi. Baru satu baju yang terlipat, tiba-tiba kakak pengurus asrama
mengetuk kamar dan menyuruh Umam dan teman lainnya yang ada di kamar untuk
bersegera pergi ke mesjid. Seketika itu pula dia merasa kesal terhadap dirinya
sendiri yang entah kenapa dia merasa selalu dikejar oleh waktu, dan secara
tidak sengaja dia berucap pada dirinya, “Sehari 24 jam itu kurang!”
Tiba-tiba teman-teman yang ada di
kamar melihatnya dengan aneh dan tersenyum, kemudian kakak pengurus asrama
menghampirinya dan berkata, “Makanya, jangan menyia-nyiakan waktumu walaupun
satu detik. Waktu itu adalah nafas dan detak jantungmu, ketika detak jantungmu
berhenti maka matilah kamu. Sama juga dengan orang yang terbawa oleh zaman,
zamannya makai Hp BB (Black Bery) dia ikut makai BB, terus ketika zamannya Android
ganti lagi dengan Hp Android, syukur-syukur punya duit, kalau nggak? Bisa-bisa
semua cara akan dilakukannya walaupun itu dengan cara yang haram. Na’udzubillah
min dzalik… Nah inilah contoh orang yang terbawa oleh zaman. Kebutuhan manusia
sebenarnya tidak jauh berbeda, tapi hawa nafsu dan gengsinyalah yang membuat
mereka terus merasa kurang dan ingin selalu unggul di hadapan manusia. Sehingga
melupakan Allah dan lupa akan janji Allah bahwa kedudukan yang paling mulia di sisinya
adalah orang yang paling bertaqwa, bukan orang yang paling kaya apalagi sok
kaya. Fahimta yaa Umam?”
“Na’am, fahimtu al-akh.” Jawab Umam.
Kemudian Umam langsung memasukkan
semua pakaiannya yang belum dilipat ke lemari, dan langsung pergi menuju ke
mesjid tanpa melipatnya terlebih dahulu. Bagi Umam, semua yang telah terjadi
akan menjadi pelajaran di hari yang akan datang. Memang benar, waktu itu
bagaikan benda tajam dan harus berhati-hati dalam menggunakannya. Kalau manusia
tidak bisa dengan baik menggunakannya (waktu), maka benda tersebut bisa melukai
pemiliknya.
|
Waktu itu bagaikan pedang, yang apabila kamu tidak pandai
menggunakannya, maka ia akan akan mencelekaimu.
|
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar