Bagian 10: Hari Duka
Tiga tahun lebih sudah dijalani oleh
Umam di Pesantren Gontor dengan manis dan pahitnya sudah dia rasakan. Sekarang dia
sudah duduk di kelas enam KMI. Dia bisa cepat naik ke kelas enam di Gontor
karena mengikuti kelas intensif. Sehingga lebih cepat dari kelas biasa yang
seharusnya enam tahun bisa dijadikan empat tahun.
Ada beberapa ketentuan syarat untuk
mengikuti kelas intensif, di antaranya sudah menyelesaikan pendidikan di sekolah
tingkat SMP atau yang lainnya dan pastinya harus lulus dalam mengikuti ujian
masuk kelas intensif.
Satu bulan sebelum mengikuti ujian
akhir semester di kelas enam KMI, Umam terkena penyakit gejala tipes. Awal
kronologinya begini, Di pagi hari dia tidak mempunyai nafsu makan, badannya pun
mulai meriang dan sering muntah-muntah di depan kamar mandi sehingga membuat
badannya pun menjadi lemah, lesu, dan mukanya menjadi pucat. Teman akrabnya
yang bernama Ardi langsung menghampirinya dan mengusapkan tangannya ke bahu Umam
yang kemudian diurutnya.
“Yaa akhi Umam, hal anta maridh?
Istarih fil gurfah, saufa aakhuzu laka ar-ruzza litanawulil ifthar (wahai
saudaraku Umam, apakah kamu sakit? Istirahatlah di kamar, nanti saya ambilkan
nasi buat kamu sarapan)” ucap Ardi kepada Umam.
“Na’am, kuntu maridh, wa syukran
‘ala musaa’adatik, a’takid ashabani az-zukkaam. Ardi, lau samah mumkin
tusaa’iduni syai’an ba’dah (Iya, saya sakit terima kasih atas bantuannya, mungkin
saya terkena penyakit demam. boleh saya minta bantuan yang lain)?”
“Maadza yumkinuni an usaa’idak (Apa
yang bisa saya bantu)?”
“Uthlub li at-tashrih fi maktab KMI,
wa a’takid innani maa kuntu qodiran ‘aladz dzihab ila hunak (Tolong mintakan
tashrih[1]
ke kantor KMI, kayaknya saya tidak mampu
untuk jalan ke sana!”
“Na’am saufa athlubu laka at tashrih,
fal an istarih fil gurfah (Iya, nanti saya mintakan tashrih untuk kamu dan
sekarang kamu istirahat saja di kamar).”
Umam pun berisitarahat di kamar, sedangkan
temannya Ardi pergi ke dapur mengambilkan nasi untuk sarapannya. Sekitar 15
menit si Ardi pun datang dengan segelas air hangat dan sepiring nasi yang pada
hari itu lauknya adalah tempe dan sambal ikan teri, salah satu menu kesukaan Umam
di Pondok.
“Yaa Umam, kul wasy rab was tarih,
fallahu yasyfiika (Wahai Umam, makan, minum dan istirahatlah, semoga Allah
menyembuhkanmu)!” perintah Ardi kepada Umam untuk makan.
Akan tetapi sangat disayangkan,
walaupun menu makanannya adalah yang dia sukai, dalam sakitnya pada saat Umam
menyuap nasi dia merasa perutnya tidak bisa menerima kehadiran nasi tersebut
dan merasa mual, dan dia pun bersegera pergi ke kamar mandi. Pas di depan kamar
mandi dia sudah tidak bisa menahan lagi untuk muntah dan dia pun memuntahkan
yang ada di perutnya tepat di depan kamar mandi. Pada waktu itu juga, Ardi
keluar dari kamar mandi dan melihatnya sedang duduk pucat di depan kamar mandi.
“Maadza hashala laka yaa Umam? Araa
wajhaka yabduu syaahiban, ta’ala nazhab ilal mustasyfa (ada apa denganmu Umam?
saya lihat mukamu kelihatan pucat, mari kita pergi ke rumah sakit).” Tanya Ardi
terlihat panik ketika melihatnya.
Umam dan Ardi pun langsung pergi ke
rumah sakit yang sudah disediakan oleh Pondok Gontor untuk santri-santrinya dan
masyarakat di sekitarnya. Rumah sakit tersebut dinamakan BKSM (Balai Kesehatan
Santri/Masyarakat). Umam dan Ardi menuju BKSM dengan menggunakan becak yang
juga sudah dipasilitasi oleh Pondok Modern Gontor. Setibanya di sana dia
langsung dimasukkan di sebuah ruangan untuk diperiksa oleh dokter. Dan setelah
diperiksa, dokter menyatakan bahwa dia terkena sakit gejala tipes dan harus
diinpus.
“Kamu sakit gejala tipes dan kamu
harus diinpus, mau kan saya inpus?” kata dokter kepada Umam.
“Iya, nggak apa-apa dok.” Jawab Umam
yang sudah lemah tak berdaya itu.
Setelah jarum ditusukkan di tangan
kirinya untuk diinpus, dia langsung berusaha untuk tidur akan tetapi tidak bisa.
Akhirnya dia gunakan waktu istirahatnya untuk berdzikir, karena dia merasa seakan-akan
ajalnya sudah dekat. Sambil berdzikir dia menangis karena belum bisa untuk
minta maaf kepada orang tuanya, guru-gurunya dan yang lainnya. Umam takut
meninggalkan dunia ini dengan dosa, takut menjadi beban bagi orang yang
ditinggalkannya, akan tetapi ternyata itu hanya sebuah rasa takutnya saja.
Sejak diinpus pun dia hanya bisa
melaksanakan shalat lima waktu dengan posisi berbaring. Sungguh Allah sangat
sayang kepada hambanya, ketika seorang hamba yang sakit diberi kemudahan untuk
beribadah kepadanya. Bukan kemudahan dalam beribadah saja bukti kasih sayang
Allah kepada hambanya, bahkan ketika waktu Umam sakit banyak teman-temannya
yang berdatangan menengoknya sambil membawa makanan dan buah-buahan. Di antaranya
adalah teman-teman yang satu daerah sama dia. Mereka menghiburnya dengan
memakai Bahasa Banjar, karena dia adalah orang banjar yang terletak di kalimantan
selatan. Padahal kalau di rumah sendiri, Umam sering berbicara bersama keluarganya
Mamakai bahasa Indonesia, karena Ayah dan Ibunya berasal dari Jawa dan tidak lancar
berbahasa Banjar, akan tetapi keluarganya bisa untuk memahaminya.
“Assalamu’alaikum ya Umam,” ada tiga
teman Umam yang datang satu daerah sama dia.
“Wa’alaikumusssalam.” Jawab Umam
dengan lemah dan lesu.
“Kayapa habar wayahini (Gimana
kondisinya sekarang)? Waras kah sudah ikam (kamu sudah sembuh)?” Tanya di
antara mereka kepada Umam.
“Alhamdulillah, kaya ngini pang dah
nah, tanganku masih batali (beginilah, tanganku masing ada talinya).” Jawabnya
sambil melihat ke tangannya yang sedang diinpus.
“Mudah-mudahan Allah capat manyigar
akan ikam lah kawan, nyaman kita kawa bagayaan pulang (Mudah-mudah Allah cepat
menyembuhkanmu kawan, biar kita bisa canda lagi). Hehe…” ucap teman Umam yang
satunya lagi dengan tersenyum.
“He eh, nyaman amun ikam sigar kita
kawa bukah baisukan pulang mangulilingi Pondok (Iya, kalau kamu sembuh kita kan
enak bisa lari pagi lagi mengelilingi Pondok).” Ucap teman yang lain menghiburnya.
“Aamiin, do’akan lah buhannya (Aamiinn,
mohon do’anya yaa kawan)!” jawab Umam.
“Allah yasyfika (semoga Allah menyembuhkanmu).”
Ucap tiga temannya tadi berbarengan.
“Mam, buhan kami bulikan dahulu nah
handak ka masjid sambahyang maghrib lawan malam ngini kaina kita kalas anam
dikarantina (Mam, kami balik dulu mau ke mesjid shalat maghrib dan ntar malam
kita kelas enam akan dikarantina).” Ucap temannya berpamitan.
“Makasih banyak nah gasan samuanya
(Terima kasih banyak yaa untuk semuanya).” Ucap Umam kepada mereka.
“Your welcome Mam, wassalamu’alaikum.”
Ucap salah seorang dari temannya, kemudian di jawab oleh Umam, “Wa’alaikumusssalam”.
Tiba-tiba Umam terdiam sendiri dan dihantui
oleh kesedihan karena tidak bisa mengikuti belajar bersama kawan-kawannya dan
tentunya dia sudah ketinggalan pelajaran. Bahkan ikut karantina untuk persiapan
ujian akhir semester di kelas enam pun akan terlambat. Bagaimana dia tidak
tidak bersedih, banyak waktu yang tertinggal olehnya untuk belajar, sedangkan materi
pelajaran yang akan diujikan sangatlah banyak, yaitu dari kelas satu sampai
kelas enam. Salah satu tujuan diadakannya karantina agar para santri kelas enam
bisa focus kepada materi yang akan diujikan nantinya. Karantina itu
dilaksanakan selama satu bulan sebelum ujian dan ketika ujian berlanjut yang
lamanya sekitar dua bulan lebih. Umam hanya bisa berdzikir dan terus berdo’a
untuk kesembuhan dan kemudahannya dalam memahami dan menghafal pelajaran.
Di hari ketiga dia tinggal di rumah
sakit, ketika dokter mau memeriksa keadaannya, dia bertanya kepada dokter, “Dok,
kapan saya bisa keluar dari rumah sakit? Saya mau ikut belajar bersama
teman-teman nih.”
“Insya Allah dalam tiga atau empat
hari ini kamu bisa keluar.”
“Alhamdulillah, terima kasih dok.”
“Sama-sama.”
Pada hari itu juga di saat dia
terpapar di atas ranjang dalam keadaan sakit, tiba-tiba dia merindukan
keluarganya yang di kampung halaman. Walaupun teman-temannya silih berganti
menjengoknya untuk menghibur, pelayanan yang maksimal dari pihak rumah sakit, namun
yang demikian, malah membuatnya bertambah rindu akan keluarga. Hingga di malam
hari sesudah shalat isya, dia tertidur pulas dan bermimpi bahwa dia sedang ada di
rumah bersama keluarganya tercinta. Di dalam mimpinya, Ayahnya Umam mengajak
keluarganya untuk berkumpul dan beliau berkata kepada Umam, “Nak, mulai
sekarang kamu dan adikmu Budi saja yaa untuk mencari ikan, Ayah sudah tidak
kuat lagi dan mau beristirahat. Jangan lupa! Jaga baik-baik Ibu dan adik-adikmu.”
“Iya yah (Ayah), Ayah beristirahat
saja.” Ucap Umam.
“Iya, sebentar lagi Ayah mau istirahat.
Ingat! Jaga Ibu dan adikmu Budi dan Shasa.” Perintah seorang Ayah kepada umam
yang sambil berjalan menuju pintu.
“saya akan menjaga Ibu dan adik-adik
sebagaimana agama Islam menjaga kita semua Yah. Tapi Ayah mau ke mana?”
Ayahnya Umam hanya menjawabnya
dengan senyuman yang membuat Umam dan keluarganya penasaran dan was-was. Umam
pun bertanya lagi kepada Ayahnya, “Ayah mau ke mana? Ayah, Ayah,…” tiba-tiba
dia terbangun oleh ketukan pintu dari seseorang.
Ternyata di kampung halamannya
memang ada kejadian pilu, yang membuat kesedihan Umam bertambah. Yaitu sang Ayah
tercinta terpaksa meninggalkan keluarganya tanpa kehadiran Umam.
Tepat di pagi hari Jum’at sang Ayah
yang sudah mandi dan memakai wangi-wangian siap untuk pergi ke mesjid. Ibunya Umam
pun bertanya, “Tumben pagi-pagi sudah mau pergi ke masjid, sekarang kan masih
jam sembilan?”
“Hmmm, emang nggak boleh?” Tanya Ayahnya
Umam sambil tersenyum kepada istrinya tercinta. “saya hari ini mau I’tikaf lama
sekalian untuk mendo’akan keluarga kita, khususnya Umam yang sedang belajar
jauh di seberang sana.”
Setiba Ayahnya Umam di masjid,
beliau langsung membersihkan ruangan masjid berserta halaman sekitarnya. Merapikan
rak-rak Al-Qur’an yang kemudian duduk berdzikir di samping pintu. Beliau
sengaja duduk di samping pintu untuk menyambut kedatangan para jama’ah serta
menyalami mereka. Di saat bersalaman dengan para jama’ah, dengan kerendahan
hati beliau memohon maaf kepada yang disalaminya. ‘Mohon maaf lahir batin ya?’
inilah yang selalu diucapkan oleh sang Ayah.
Ketika waktu adzan tiba, beliau pun
langsung berdiri untuk mengumandangkan azan, kemudian mendengarkan khutbah
serta shalat jum’at.
Di saat raka’at kedua, tiba-tiba
Ayahnya Umam meriang, kepala terasa
pusing, dan kakinya mulai terasa dingin. Innalillah, Ayahnya Umam meninggal
dunia di saat sujud terakhirnya, di mana tempat tertinggi seorang hamba di sisi
tuhannya. Hari jum’at, hari rayanya umat muslim, beliau yang menghembuskan
nafas terakhirnya. Subhanallah, sungguh indah caranya sang maha pencipta
menjemput hambanya yang shaleh.
Di kala kejadian itu sangat
membingungkan para jama’ah jum’at yang ada di mesjid sana. Karena Ayahnya Umam
tidak bangun-bangun ketika sujud terakhir. Ada di antara jama’ah yang mengira
beliau ketiduran, sehingga si Budi adeknya Umam mencoba untuk membangunkannya.
“Ayah, bangun! Ayuk kita pulang ke
rumah?”
Beberapa kali dipanggil, akan tapi
tidak ada respon dari Ayahnya tadi.
Setelah dicek dan dipegang urat
nadinya, para jama’ah kaget dan mulai mengetahui bahwa beliau meninggal dunia di
saat sujud terakhirnya. Si Budi pun langsung menangis dan memeluk Ayahnya. Para
jama’ah jum’at pun sepakat, untuk tidak ada yang pulang ke rumah mereka, akan
tetapi langsung membawa jenazah Ayahnya Umam ke rumah beliau.
Padahal di hari itu, sang Ibu (Ibunya
Umam) sudah menyiapkan minuman dan makanan untuk kepulangan sang suami. Ketika
jama’ah yang berbondong-bondong menuju rumah Umam, yang dikawal oleh Budi. Budi
kemudian mengetuk pintu rumahnya dan mengucapkan salam sambil tersedu-sedu
karena menangis.
Sang Ibu pun langsung memeluk Budi
dan bertanya, “Kamu kenapa menangis nak, Ayah mana?”
Budi tak bisa berucap apa-apa, hanya
menunjuk kepada jama’ah yang membawa Ayahnya yang tertutup oleh surban putih.
“Ayah kamu kenapa nak? Silahkan
langsung bawa masuk ke dalam!” sang Ibu bertanya panik dan bingung.
Salah satu jama’ah pun memberitahu
akan kepergian sang suami tercinta. Mendengar demikian, Ibunya pun langsung
menangis dan memeluk Ayahnya Umam yang sudah ada di sisi tuhannya. Tanpa dirasa
oleh sang Ibu tadi, dalam tangisan dan dalam memeluk sang suami, beliau (Ibunya
Umam) kemudian pingsan. Yang demikian membuat Shasa dan Budi tambah menangis
lagi.
Setelah lima belas menit sang Ibu
pingsan, beliau pun sadar karena mendengar tangisan dan merasakan pelukan dari
anak-anaknya, Budi dan Shasa. Dengan melihat kondisi mayat Ayahnya Umam, di
antara jama’ah pun ada yang memberanikan untuk bertanya, “Bagaiamana
kelanjutannya Bu, apa langsung kita mandikan, dishalatkan dan dikuburkan, atau
menunggu kedatangan Umam?”
“Iya, langsung saja dimandikan.
Nanti saya saja yang akan memberitahu Umam, saya takut mengganggu
konsentrasinya dalam belajar.”
Sang Ibu tidak mengetahui kalau Umam
sedang sakit dan tangannya sedang bertusukkan jarum inpus.
Ternyata Umam tidak hanya harus
mengalami sakit yang berujung dengan harus diinpus, akan tetapi dia juga harus
berpisah untuk selamanya dengan orang yang sangat dia cintai, yaitu Ayahnya
sendiri.
Kembali dengan kondisi Umam yang
dalam tidurnya terbangun karena mendegar ketukan pintu dan salam dari wali
kelasnya. Beliau datang dengan membawakan bungkusan plastik, berisikan bakso
bhayangkara, salah satu bakso favorit Umam dan santri Gontor yang lain.
Tok tok tok… “Assalamu’alaikum yaa Umam.”
Ucap seorang Ustadz, yaitu wali kelas Umam sendiri yang sambil membuka pintu
kamarnya Umam.
“Wa’alaikumusssalam yaa Ustadz.”
“Umam, bagaimana kabarmu sekarang?
Ini saya bawakan bakso bhayangkara.”
“Alhamdulillah, sudah mulai membaik
ust, insya Allah dalam tiga atau empat hari lagi saya sudah boleh keluar dari
sini ust.” Ucap Umam sambil membuka bungkusan yang dibawakan Ustadznya dan kemudian
mengucapkan terima kasih kepada Ustadznya, “Waahh, Alhamdulillah terima kasih
banyak nih atas baksonya ust.” Ucapnya dengan senyum bahagia dan dalam hatinya
berkata: ‘Baik banget wali kelasku ini sudah nengokin, bawain bakso lagi, jadi
terharu’.
“Iya, sama-sama dan semoga kamu
cepat sembuh yaa.”
“Aamiin.”
Setelah itu wali kelasnya terdiam
dan terlihat bingung seakan-akan ada sesuatu yang harus disampaikan dan berat
untuk dilaksanakan. Umam pun menjadi curiga dan bertanya-tanya dalam hatinya
yang akhirnya dia beranikan diri untuk bertanya kepada beliau, “Ustadz.”
Umam memanggil Ustadznya
berkali-kali namun tak ada respon dari beliau yang seperti sedang memikirkan
sesuatu masalah besar. Dan dipanggilnya lagi dengan lebih keras, “Ustadzzz…”
Kemudian beliau sadar bahwasanya Umam
sedang memanggil Ustadznya.
“Iya, ada apa Umam?” jawab beliau
terlihat kaget dan gugup.
“Aduh, maaf Ustadz! Saya buat antum (kamu)
kaget.”
“Ahh, nggak apa-apa. Begini Umam,
habis shalat isya tadi saya mendapatkan telpon dari keluarga kamu.”
“Owh ya! Terus apa kata keluarga
saya Ustadz dan bagaimana kabar keluarga saya Ustadz? Sudah hampir sebulan saya
nggak nelpon keluarga. Saya kangen banget nih sama keluarga saya, sampai kebawa
mimpi. Hehe…”
“Ada kabar duka dari keluargamu Umam,
Ayah kamu sudah meninggal dunia siang tadi, sesudah shalat jum’at.” Ucap
seorang Ustadz dengan muka sedih.
“Inna lillahi wa inna ilaihi
roji’un.” Jawab Umam yang awalnya terlihat gembira berubah menjadi sedih
seketika.
Kemudian dia terdiam lama diiringi dengan
tetesan air mata. Dia menangis dan terus menangis sehingga air mata yang jernih
membasahi mukanya yang sudah pucat. Umam pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak
mempunyai uang yang cukup, kecuali do’a yang tulus terus dia panjatkan untuk Ayahnya
tersayang. Kemudian wali kelasnya tadi mengusapkan tangannya ke bahu Umam dan
berkata, “Yang sabar ya Umam, teruslah berdo’a untuk Ayahmu. Semoga dosa-dosa
beliau diampuni dan amal ibadahnya diterima disisi Allah.”
“Aamiin Ya rabbal ‘aalamin.”
“Ingat hadist Rasulullah yang
artinya: Jika
meninggal anak cucu Adam, maka terputus amalnya kecuala tiga perkara, shodaqoh
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang
tuanya.” (HR. Muslim)
“Insya Allah Ustadz, akan selalu saya masih ingat.”
“Bagus, orang tua mempunyai harapan kepada anak-anaknya agar
bisa menjadi tongkatnya di masa tua, amalan-amalan yang telah diajarkan oleh mereka
kepada anak-anaknya, dan do’a untuk mereka dari anak-anaknya yang
shaleh/shalehah.” Nasehat Ustadz kepada Umam.
“Iya Ustadz, terima kasih telah menasehati saya dan
memberikan semangat lagi kepada saya. Saya akan sabar dan tabah dalam menerima
segala kehendak Allah yang maha kuasa.”
“Ustadz, boleh saya pinjam Hp? Sekarang wartel kayaknya
sudah tutup.” Ucap Umam.
“Pinjam Hp saya untuk apa?” Tanya Ustadz.
“Saya mau nelpon Ibu dan menanyakan kabar Ibu dan adik-adik
saya. Saya kangen banget nih sama Ibu saya Ustadz.”
“Iya, ini silahkan telpon Ibu kamu!” jawab Ustadz sambil
menyodorkan Hpnya.
Ia pun langsung menelpon Ibunya, “Assalamu’alaikum Mama,
gimana kabar Mama dan adik-adik? Ini saya Umam.”
“Wa’alaikumusssalam, Umam…” jawab sang Ibu, suaranya
terdengar seperti orang yang sedang menangis dan kaget ketika Umam menelpon
beliau.
“Alhamdulillah, Mama dan adik-adikmu sehat. Kamu bagaimana
kabarnya?” Tanya balik Ibunya Umam.
“Alhamdulillah saya baik-baik saja Ma.”
Terpaksa Umam berbohong, karena dia tidak mau menambahkan
kesedihan Ibu dan keluarga yang lainnya dengan rasa sakit yang dideritanya,
yaitu gejala tipes dan sedang diinpus. Sang Ustadz pun hanya bisa diam dan
bersedih ketika melihat keadaan yang dialami oleh keluarga Umam sekarang.
“Tapi kok suara kamu terdengar lemes seperti orang sakit nak!”
Tanya Ibunya lagi.
“Ini saya habis nangis dengar Ayah sudah meninggal Ma,”
jawabnya sambil menangis dan Ibunya pun juga ikut menangis.
“Do’akan saja untuk Ayahmu nak, semoga Allah memberikan
rahmatnya kepada Ayahmu sehingga menjadi ahli surgaNya. Aamiin.”
“Aamiin…iya Ma, saya terus mendo’akan Ayah, Mama dan
adik-adik serta yang lainnya.”
“Ma, Apa lebih baik saya pulang ke rumah dan berhenti saja
sekolahnya? Biar saya yang cari nafkah untuk keluarga.” Tanya Umam.
Ketika mendengar pertanyaan Umam tadi, Ustadz yang sedang
duduk di depannya tiba-tiba kaget mendengar ucapannya.
“Jangan! Kamu tidak usah pulang apalagi berhenti sekolah. Kamu
harus selesai sekolah di Gontor dan menjadi orang yang sukses dunia akhirat.
Kamu harus menjadi anak kebanggan bagi kami, Ayah dan Mamamu. Serta menjadi
contoh untuk adik-adikmu, Budi dan Shasa. Insya Allah Mama masih bisa membiayai
kamu dan adik-adikmu, lagian sekarang Mama sudah mengajar di SD tempat sekolahmu
yang dulu.” Jawab Ibunya Umam dengan tegas.
“Iyaa, tapi saya…”
Sang Ibu langsung memotong perkataan anaknya dan berkata, “Nggak
ada tapi-tapian! Kamu harus bisa membahagiakan Ayah dan Mamamu, menjadi contoh
yang baik untuk adik-adikmu.”
“Baik Ma, do’akan saya semoga bisa menjadi kebanggan Ayah
dan Mama serta menjadi contoh yang baik bagi adik Budi dan Shasa.” Ucap Umam.
“Mama dan adik-adikmu insya allah akan terus mendo’akanmu
nak.”
“Sudah dulu ya Ma, ini hp Ustadz, takut habis pulsa beliau.
Wasssalamu’alaikum warahmatullah wa barakaatuh.”
“Wa’alaikumusssalam.” Jawab Ibunya.
Setelah Umam selesai menelpon Ibunya, Ustadz yang sedang
menengoknya tadi langsung bertanya dan memberikan nasehat kepada Umam, “Kenapa
kamu ingin berhenti sekolah? Sebenarnya, dengan berhentinya kamu dari sekolah,
bukan berarti kamu menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah. Jangan
sekali-kali menyelesaikan masalah dengan masalah yang lain. Sudahlah, hadapi
semuanya dengan sabar dan tabah, serta terus berbuatlah yang terbaik untuk masa
depanmu, sesungguhnya Allah ingin menjadikan kamu untuk menjadi lebih baik.”
“Iya Ustadz, tapi saya hidup di keluarga yang pas-pasan dan mungkin
bisa dibilang kekurangan. Ibu saya sekarang mengajar di SD menjadi guru
hunoris, saya serta dua adik saya semuanya sekolah, dan semuanya perlu biaya.”
Ucap Umam dengan suara yang lesu dan sedih. Ustadznya pun
setelah mendengar keluhan Umam tadi terdiam dan ikut bersedih. Setelah beberapa
detik kemudian, sang Ustadz berucap, “Banyak jalan menuju surga!”
“Maksudnya apa Ustadz?” Umam bertanya.
“Allah ta’ala telah berfirman: ‘laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha’ artinya: Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah ayat: 286)”
“Terus bagaimana Ustadz dengan saya
ini?” Tanya Umam.
“Nanti saya akan membicarakan
masalah ekonomi kamu ke Bapak Kiyai, dan mengusulkan agar kamu bisa mendapatkan
bantuan dari Pondok. Tunggu saja besok malam kedatangan saya dengan kabar
gembira, insya Allah.” Jawab sang Ustadz dengan penuh optimis untuk menghibur
Umam.
“Terima kasih Ustadz atas bantuannya.”
Si Umam menghampiri tangan Ustadz dan menciumnya.
“Sudaahh, kamu santai saja. Ini
sudah menjadi tugas saya selaku wali kelasmu. Tugas kamu hanya belajar dengan
semangat, jangan mengecewakan orang lain yang telah berbuat baik kepadamu,
apalagi yang telah memberikan harapan untukmu. Insya allah dalam setengah tahun
ke depan kamu akan menjadi Ustadz dan mengabdi untuk Pondok Gontor ini.”
“Iya Ustadz, Aamiinn…Terima kasih
banyak Ustadz untuk semuanya.” Jawab Umam sambil tersenyum bahagia.
“Ustadz, boleh saya minta bantuan
untuk memanggil teman saya Ardi?” pinta Umam.
“Untuk apa?”
“Saya mau minta teman-teman dari
kelas lima dan enam untuk shalat ghaib buat Ayah saya dan insya allah saya
sanggup untuk menjadi imamnya.”
Sang Ustadz mendegar jawaban Umam
tadi, mata beliau langsung memerah dan mengatakan serta mengusap bahu Umam, “Setelah
ini Ustadz langsung memanggil temanmu Ardi dan menyuruhnya datang ke sini
sebelum shalat shubuh, kamu tenang saja di sini ya!”
“Terima kasih Ustadz.”
“Sama-sama.”
Sebelum shalat Shubuh wali kelas Umam
dan Ardi sudah datang menjemputnya dengan menggunakan motor. Ketika itu pula dia
baru selesai mengerjakan shalat tahajjud.
Dari BKSM menuju mesjid mereka
bertiga menggunakan motor, sang Ustadz yang bawa motor dan Ardi duduk paling
belakang sambil mengangkat kantong plastik infus.
Ketika mereka tiba di mesjid, adzan
pun dikumandangkan. Umam langsung maju ke bagian pojok bagian depan. Kebetulan dia
masih dalam keadaan suci/tidak batal dari wudhunya ketika shalat tahajjud tadi,
sehingga tidak perlu lagi untukwudhu.
Umam mengikuti shalat berjama’ah di
bagian depan paling pojok sebelah kanan karena kantong plastik infusnya harus
digantung, dan Ardi juga ikut shalat berjama’ah tepat di sampingnya Umam. Pada waktu
itu juga, imamnya adalah Ustadz wali kelasnya yang membawa Umam ke mesjid.
Sesudah shalat shubuh berjama’ah, Umam
langsung maju ke depan yang ditemani Ardi membawakan kantong infusnya dan
meminta izin kepada Ustadz selaku imam shalat untuk berbicara di hadapan
teman-temannya. Sang Ustadz pun mempersilahkannya untuk bicara. Seketika itu
juga, teman-teman kelas enam dan kelas lima terdiam dan bingung melihat keadaan
Umam yang sedang diinfus.
Umam memulainya dengan salam yang
tanpa terasa di pertengahan pembicaraanya, dia telah meneteskan air mata.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa
barakaatuh, teman-temanku kelas enam seperjuangan dan adik-adikku kelas lima
yang kusayangi. ‘Kullu nafsin dzaaiqatul maut’ yang artinya: ‘setiap yang
bernyawa pasti akan mati’. Manusia hidup di dunia hanyalah sementara, yang
artinya kita semua akan mati bertemu menghadap ilahi. Hari kemaren, tepat
sesudah shalat jum’at Ayahku yang kusayangi telah meninggalkan dunia menghadap
Allah ta’ala. Hari kemaren juga beliau telah dimandikan, dishalatkan serta
dikuburkan sesudah shalat ashar. Oleh karena itu, saya Rijalul Umam selaku anak
Ayah saya, meminta dengan keikhlasan antum semua untuk melaksanakan shalat
ghaib yang insya Allah akan diimami oleh saya sendiri. Serta tidak lupa pula,
saya meminta kesudian antum semua untuk mendo’akan Ayah saya. Semoga rahmat
Allah selalu tercurah untuk beliau dan kita semua. Aamiinn… Wassalamu’alaikum…
shallu shalaatal ghaaib (laksanakanlah shalat ghaib).”
Dan sesudah mereka melaksanakan
shalat ghaib dan do’a bersama untuk Ayah Umam tercinta, Umam mengucapkan terima
kasih kepada teman-temannya semua dengan ucapan:
“Asykurukum jami’an wa jazakumullah
ahsanal jaza’ (Saya ucapkan terima kasih untuk kalian semua dan semoga Allah
memberikan balasan dengan sebaik-baiknya balasan).”
Para teman-temannya juga tidak hanya
diam, mereka memberikan semangat kepada Umam, menyuruhnya untuk bersabar dan
tabah atas segala cobaan yang dihadapi oleh Umam.
Subhanallah, di balik setiap masalah
tentu ada cara untuk menyelesaikannya. Umam yang sedang diuji oleh Allah
diberikan jalan kemudahan untuknya dan keluarganya dengan kabar gembira dari
seorang Ustadz yang penuh tanggung jawab. Sang Ustadz datang menghampiri Umam
untuk memberitahukan bahwa dia akan mendapatkan bantuan
beasiswa dari Pondok Modern Gontor.
“Alhamdulillah ya Umam, kamu telah dinyatakan untuk
mendapatkan bantuan beasiswa dari Pondok.”
Umam pun sangat senang dan bersyukur atas bantuan yang
diberikan oleh Pondok untuknya. Dia langsung meminjam Hp Ustadznya untuk
memberikan kabar melalui sms kepada Ibunya. Agar Ibunya tidak perlu lagi
mengirim uang untuk biaya kebutuhan Umam di Pondok, karena dia sudah
mendapatkan bantuan dari Pondok, yaitu dengan gratisnya biaya uang makan dan
administrasi. Sedangkan buku pelajarannya sudah lengkap yang tersisa baginya
hanyalah mengharap kesembuhan dengan segera dan terus semangat belajar.
“Alhamdulillah, Ustadz boleh saya pinjam hp Ustadz buat sms Ibu
untuk memberitahukan kabar baik ini?”
“Silahkan!”
Inilah Pondok Pesantren,
Pondok tidak hanya memberikan naungan kepada santri, tapi Pondok juga
memberikan kebutuhan untuk santri-santrinya, baik itu secara jasmani ataupun
rohani. Pondok Pesantren tidak seperti Hotel yang dibayar kemudian ditinggalkan
pergi begitu saja, akan tetapi Pondok memberikan naungan kepada penghuninya
(Santri dan Ustadz). Begitu juga sebaliknya, santri dan ustadznya harus menjaga
akan kesejahteraan dan kedamaian Pondok.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar