Bagian 11: Masa Pengabdian
Empat tahun menjadi santri telah Umam
jalani bersama teman-temannya di Pesantren Gontor dengan segala dinamika
kehidupan. Berjuang bersama, belajar bersama, makan bersama, tidur bersama,
mandi bersama, dihukum bersama dan antri pun bersama. Kini, semuanya telah
menjadi kenangan indah yang hanya tampak dalam pikiran mereka semua.
Mereka yang telah diyatakan lulus
dari Pondok Modern Gontor, disebarkan keseluruh penjuru Indonesia untuk
mengamalkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapat di Gontor. Tentunya, sebagai
wujud pengabdian mereka kepada Allah ta’ala, terhadap ilmu, kepada Pondok Gontor
dan masyarakat.
Dan tempat Umam mengabdi adalah di
Pondok Modern Gontor Dua, tempat penampungan calon santri Gontor untuk belajar
demi mempersiapkan diri agar bisa lulus di ujian masuk Gontor nantinya.
Aktivitas Umam setiap harinya di
Gontor Dua adalah mengajar atau jadi Ustadz ketika di kelas, menemani dan
menjaga santri di asrama, menjual makanan ketika di dalam koperasi pelajar,
membersihkan lingkungan Pondok, ngecor kalau ada pembangunan tempat untuk Pondok
dan yang lainnya apa yang dibutuhkan oleh santri, wali santri dan tentunya Pondok
Pesantren Gontor.
Banyak kejadian lucu dan aneh yang
pernah dia alami semenjak menjadi Ustadz di Gontor Dua, dan banyak pula yang
mengambil hikmah dari semua kejadian itu, tentunya hikmah itu semua adalah
untuknya dalam pengabdian dan lainnya bagi yang mengetahui.
Pada suatu hari Pondok Gontor dua
diguyur hujan. Sedangkan sampah dari daun-daunan, dan ada juga plastik sisa
makanan banyak bertebaran di mana-mana. Yang demikian disebabkan pada saat itu
banyak calon santri yang baru masuk mendaftarkan diri di Gontor dua, dan banyak
di antara mereka yang datang sekeluarga.
Selaku Ustadz Umam dan empat teman
lainnya tidak tega menyuruh calon santri menemani mereka untuk keliling Pondok,
membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana, dan Umam beserta yang
lainnya juga khawatir kalau santri-santrinya sakit yang mengakibatkan mereka tidak
bisa mengikuti aktivitas belajar mengajar.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak
tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau
kita saja yang keliling membersihkannya?” Usul Umam kepada empat teman yang
juga sedang kebingungan di depan kamar memikirkan cara untuk membersihkan
sampah-sampah tersebut.
“Apa?”
Jawab salah satu di antara mereka
yang bertanya balik, yang ternyata suara Umam tidak terdengar jelas karena
dikalahkan oleh suara hujan.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak
tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau
kita saja yang keliling membersihkannya?”
“Cerdas sekali Ustadz kita yang satu
ini!” jawab teman Umam yang satunya lagi dengan senyum candanya.
“Shah maa taquulu anta yaa akhi Umam
(Benar yang kamu katakan saudaraku Umam).” Ucap yang lainnya lagi.
“Top, kita kan Ustadz dan kita
mengabdi di sini, sudah sewajarnya kita yang berkorban untuk santri-santri kita.”
Ucap teman Umam yang lain.
Tanpa pikir panjang Umam pun
langsung pergi mengambil gerobak dan mengajak empat Ustadz temannya tadi, “Let’s
go!”
Santri yang di Gontor dua memang
berstatus calon santri Gontor, tapi tetap mempunyai kedudukan sebagai santri,
karena mereka mondok dan belajar di sana.
Umam dan teman-temannya pun mulai
mengelilingi Pondok dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu asrama ke asrama
berikutnya. Di saat mereka keliling pondok yang ditemani oleh guyuran hujan,
sapaan dari santri-santri pun banyak menghujani mereka sama seperti hujan yang
telah membasahi sekujur tubuh mereka.
Setelah lama mengelilingi Pondok, tibalah
mereka di depan warung koperasi belajar. Tempat di mana para wali santri
membelikan kebutuhan anak-anaknya dan juga tempat jajan bagi santri sendiri. Ketika
Umam dan teman-temannya sedang asik membersihkan area koperasi tersebut, tiba-tiba
terdengar oleh Umam bahwa ada suara yang memangil-manggilnya dengan panggilan
‘Mas’.
“Mas, mas, tolong ke sini sebentar!”
salah seorang wali santri memanggilnya dan dia pun langsung menghampirinya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu pak?”
ucap Umam dengan baik dan sopan.
“Tolong bersihkan sampah-sampah ini
ya! Saya, istri dan anak saya mau duduk di sini.” Ucap seorang bapak-bapak
kepada Umam.
“Owh, siap pak.”
Umam pun langsung membersihkan
lantai tersebut, yang kebetulan hanya beberapa bungkus plastik sehingga dia
cepat membersihkanya.
“Terima kasih ya mas, btw kamu
digaji oleh Pondok berapa sih?”
Inilah sebuah pertanyaan yang sulit
untuk dijawab oleh Umam, dan kemungkinan memakan hati, karena statusnya adalah
mengabdi untuk Pondok, yang berarti apa yang dia lakukan itu hanya semata-mata
untuk Pondok. Ikhlas tanpa mengharapkan balasan apalagi gaji.
Umam pun bingung mau menjawab apa,
dan ketika dia melihat ke teman-temannya. Ternyata mereka pada tersenyum
menahan ketawa mereka, dan ketika melihat santri-santri di sekitarnya yang
sedang makan dari hasil jajanannya pun terdiam dan tunduk, karena mereka sudah tau
Umam adalah seorang Ustadz dan mereka pun segan untuk ikut campur dalam
pekerjaannya. Sebagai rasa hormat seorang santri, dan membantu Ustadznya tanpa
ikut campur urusan Ustadz, mereka langsung membersihkan sampah-sampah yang ada di
sekitar mereka.
Dengan perilaku teman-temannya,
begitu juga santrinya, Umam mendapatkan ilham untuk menjawab pertanyaan bapak
tadi dengan senyuman seraya berucap, “Saya dan kawan-kawan semuanya ikhlas melakukan
pekerjaan ini pak, tanpa mengharapkan imbalan.”
“Wahh, padahal Mas dan kawan-kawan
mas itu rajin lho, sampai hujan-hujanan membersihkan sampah di sekeliling Pondok.
Susah mencari orang-orang pekerja seperti mas-mas ini.” Ucap bapak tadi.
“Ah, bapak bisa aja.” Jawab Umam
tersenyum sambil mengambil sampah-sampah plastik yang ada di sekitar bapak
tadi.
“Serius saya mas, emang mas-mas
nggak digaji oleh Pondok? Hanya dengan keikhlasan dari mas-mas saja nih!” Tanya
ulang bapak tadi dengan penuh penasaran.
“Kurang lebih begitulah pak.” Jawab mereka
berbarengan.
“Subhanallah, mantap!” ucap bapak
sambil mengasihkan tanda jempol ke mereka tadi.
Setelah tempat di sekitar itu bersih,
Umam dan empat Ustadz temannya tadi langsung berpamitan kepada bapak yang
mengajak mereka ngobrol, “Maaf pak, kami permisi dulu, mau melanjutkan keliling
Pondok untuk bersih-bersih.”
“Owh iya, silahkan, silahkan. Good
job!”
Ucap bapak tadi sambil memakan roti
la-tansa dan minumannya pun juga bermerek la-tansa yang keduanya adalah kepunyaan
Pondok Pesantren Gontor.
Ketika itu, Umam tidak sengaja
mendengar ucapan seorang Ibu, yaitu istri bapak tadi kepada anak beliau yang
sama-sama sedang memakan roti la-tansa dengan minuman la-tansa juga. Ucapannya
begini:
“Enak banget nih rotinya ya nak! Adonan
susu dan telornya pas.”
“Iya bu, air putihnya juga nih,
rasanya seperti air dari mata air.” Jawab anaknya.
Pada hari itu juga di lain waktu, Umam
bertemu lagi sama bapak tadi beserta keluarganya yang tepatnya waktu jam makan
malam. Ketika itu, Umam sedang menjaga warung makan (kantin) yang dimiliki oleh
Gontor. Bapak tadi beserta keluarganya maemasuki kantin yang sedang Umam jaga. Di
saat Bapak tadi melihat Umam yang sedang menjaga kantin, beliau kaget seraya
berkata kepada Umam, “Wahh, Mas ini ternyata punya warung makan juga yaa?”
“Hmmm, bukan Pak, kantin ini punya Pondok,
tapi saya yang mengelolanya.”
“Owh begitu! Tanpa digaji lagi?”
Tanya bapak tadi penasaran.
“Yaa, kurang lebih begitulah Pak.” Jawab
Umam dengan tenang.
“Masya Allah, semoga Allah
memberikan pahala yang berlipat ganda kepada kamu yaa mas!”
“Aamiin…”
“Owh iya, kita belum kenalan, nama Mas
siapa ya? Nama saya Bapak Yudi Ardani,” bapak tadi bertanya sambil menyodorkan
tangan untuk bersalaman.
“Nama saya Rijalul Umam, Pak.”
“Owh, Mas Rijalul Umam yaa, oke dah.
Saya sama keluarga saya mau milih-milih makanan dulu.”
Kebetulan kantin yang sedang Umam jaga
adalah prasmanan, jadi para pembeli pun bebas untuk memilih dan mengambil menu
yang sudah disediakan oleh Pondok.
“Ya, silahkan pak!”
Besok paginya, bapak tadi sedang
santai sambil meminum teh bersama keluarganya di warung minuman yang sudah
disediakan oleh Pondok Gontor. sedangkan Umam sedang membersihkan rumput
halaman di sekitar warung tersebut. Ketika bapak tadi melihatnya sedang
membersihkan rumput, tepatnya dengan menggunakan mesin rumput. Beliau langsung
menghampirinya dan berkata, “Rajin sekali Mas Umam ini, memang lelaki
multifungsi. Saya jadi penasaran nih dengan Mas Umam ini. Seakan-akan bekerja
tiada henti, tanpa mengenal lelah dan selalu semangat.”
“Hehe, biasa saja Pak, ini sudah
menjadi tugas saya.”
“Mas, ini saya ada sedikit uang
lebih dari saya, mohon diterima yaa! Sekedar buat beli rokok gitu.” Ucap Bapak tadi
sambil mengasih uang kepada Umam.
“Aduh, terima kasih banyak pak, saya
ini ikhlas dan sayam juga tidak merokok.” Ucap Umam menolak pemberian bapak
tadi dengan halus.
Akan tetapi bapak tadi malah memaksanya
untuk menerima dan berkata, “Apa Mas Umam ini menolak rezeki dari Allah yang sudah
ditentukan melewati saya?”
Umam pun bingung menjawabnya dan
akhirnya dia menerima pemberian bapak tadi dan berkata, “Terima kasih banyak ya
Pak.”
“Terima kasih juga Mas Umam mau
menerima pemberian dari saya.”
Kemudian Umam kembali bekerja, dan
bapak tadi juga balik ke keluarganya yang sedang minum teh hangat di warung.
Umam selesai membersihkan halaman
tadi sekitar jam setengah tujuh pagi dan kemudian dia langsung mandi, sarapan
serta bersiap-siap untuk mengajar. Nah, di saat dia sedang mengajar pelajaran Al-Qur’an,
bapak tadi datang dan mengetuk pintu kelasnya. Bapak tadi pun kaget dan merasa
bersalah ketika melihat Umam yang sedang mengajar dan berpakaian rapi
menggunakan jas serta dasi. Umam langsung menghampiri beliau dan bertanya, “Ada
yang bisa saya bantu pak?”
“Jadi, Mas Umam,,, eh Ustadz Umam
ini adalah seorang Ustadz?”
“Yaa begitulah Pak, saya dulunya
santri Gontor juga dan sudah selesai yang kemudian saya disuruh mengabdi untuk
mengajar dan mengamalkan ilmu-ilmu saya di sini.”
“Jadi, teman-teman Ustadz yang
kemaren, yang membersihkan sampah kehujanan itu semua adalah Ustadz?” Tanya
bapak dengan bermuka bingung dan merasa bersalah.
“Iya Pak, semua yang kerja di Pondok
Gontor adalah santri dan ustadz, termasuk yang jaga warung dan yang
bersih-bersih di sekitar Pondok.”
Ketika mendengar penjelasan Umam
tadi, tiba-tiba bapak tadi langsung menarik tangan Umam untuk bersalaman serta
mau mencium tangannya, akan tetapi Umam singkirkan tangannya.
“Saya minta maaf Ustadz atas kalakuan
saya yang kurang sopan kepada Ustadz!”
“Nggak apa-apa Pak, saya juga minta
maaf karena saya tidak langsung jujur kepada Bapak kalau saya dan teman-teman
yang kerja di sini semuanya adalah seorang Ustadz.”
“Saya kira seorang Ustadz itu Cuma
ada di kelas dan tempat-tempat pengajian saja.” Ucap seorang Bapak.
“Kami di sini dididik oleh Gontor
untuk menjadi guru bukan sekedar guru di kelas saja Pak, tapi juga guru dalam
bergaul, guru dalam bekerja, guru dalam berorganisasi, dan tentunya kami juga
harus ikut terjun dalam segala hal kegiatan-kegiatannya. Seorang guru harus
lebih awal memberikan contoh kepada murid-muridnya, bukan hanya sekedar nasehat
belaka. Menasehati memang lebih mudah dibanding pelaksanaan dan pengamalannya.
Bukan begitu Pak?”
“Iya, benar sekali Ustadz. Sekarang
ini banyak sekali tong kosong nyaring bunyinya. Hehe…” gurau Bapak tadi dan Umam
pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
Umam langsung bertanya balik ke bapak tadi
untuk mempersingkat waktunya, karena dia sedang mengajar.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Begini, saya mau mengantarkan anak
saya masuk kelas, yang tempatnya di kelas Ustadz ini. Karena hari ini dia awal
masuk kelasnya, jadi dia malu untuk pergi ke kelas sendirian Ustadz.”
“Owh, baik, biar saya yang bawa dia ke
kelas saya Pak.”
Umam pun langsung membawa anak tadi ke
kelasnya, dan acara belajar mengajar pun berlanjut seperti biasanya.
Di waktu yang lain, tanpa disengaja Umam
berbagi ilmu kepada seorang tamu. Inilah ilmu, ilmu tidak saja untuk seorang
santri, tapi ilmu untuk semua orang. Ketika itu Umam sedang mengeliling kamar
calon santri untuk menyuruh mereka pergi ke masjid, tiba-tiba ada seorang Ibu
menghampirinya. Kebetulan anak beliau adalah anggota asrama yang sedang
dikelilingi oleh Umam, sedangkan anaknya sendiri sudah pergi ke mesjid.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Sapa
seorang Ibu.
“Wa’alaikumusssalam.”
“Boleh saya menanyakan sesuatu?”
Tanya seorang Ibu,
“Insya Allah boleh dan saya jawab
sebisa saya ya bu!” ucap Umam.
“Begini nak Ustadz, anak saya sudah
mondok di sini sekitar satu bulan dan sekarang dia sudah pergi ke masjid, dan
ini pertama kali saya menengoknya. Kali ini, banyak sekali perubahan yang saya
dapat dari anak saya. Saya bingung dan heran, kok bisa anak saya bisa berubah 180
derajat dalam jangka waktu sependek ini?” Ucap Ibu tadi penasaran.
“Berubah gimana maksudnya bu?” Umam bertanya
balik dengan muka penasaran.
“Dulu anak saya itu nakal sekali Ustadz!
Sekarang baru saya datang ke Pondok, dia sambut kedatangan saya dengan mencium
tangan saya, barang-barang yang saya bawa pun dia angkat semua, sampai-sampai
saya nggak dapat bagian ngangkat barang. Terus tiap kali berangkat dan pulang
dari kelas sebelum ke asramanya, dia mendatangi saya dan cium tangan saya. Ketika
mau pergi ke mesjid juga cium tangan saya, begitu juga ketika balik dari
mesjid. Dulu, saya suruh cuci piring aja ngomelnya panjang banget. Sekarang,
nyuci baju sendiri, pakaiannya pun terlihat rapi dan bersih. Dulu, kalau mau makan
dan lauknya nggak enak, dia nggak mau makan. Sekarang, kalau makan lauknya tahu
tempe aja lahap banget, bahkan nasi, kerupuk sama sambel aja dia habisin tuh
makanannya. Sebenarnya apa sih rahasia ustadz-ustadz di sini mendidik
santri-santrinya sehingga bisa merubah mereka menjadi anak yang baik?” Tanya
seorang Ibu penuh penasaran.
Dan Umam pun bingung menjawabnya
sehingga dia memulai jawabannya dengan sedikit gurauan.
“Makanya Bu, kalau mau cari menantu
pilih aja anak Gontor. Ilmu dijamin, agamanya pun juga insya Allah baik dan
tidak ketinggalan penting adalah masalah makan, dikasih makan pake nasi,
kerupuk sama sambel, jadi. Langsung diterima, nggak pake ngomel dan otomatis
hemat biaya. Hehe…” jawab Umam sambil tersenyum.
“Wah, pintar juga Nak Ustadz ini
mempromosikan diri, hehe… Jadi bagaimana ini jawaban pertanyaan saya tadi
Ustadz?” ucap Ibu tadi sambil tersenyum.
“Begini ya bu, sebenarnya Ibu dan
keluarga Ibu juga ikut andil dalam mendidik anak Ibu. Ibu memasukkan anak Ibu ke
Gontor itu adalah sebuah usaha, uang yang Ibu kasih ke anak Ibu adalah wujud
perhatian dan kasih sayang dari orang tua ke anaknya. Belum lagi do’a yang Ibu
panjatkan untuk anak Ibu, wahhh sangat mujarrab banget tuh!” jawab Umam.
“Kalau sistem pendidikan dan
pengajaran di Pondok Gontor sendiri gimana Ustadz?” Ibu tadi bertanya lagi,
“Begini Bu, Gontor mempunyai tujuan
membentuk santri-santrinya agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan
berakhlaq mulia. Sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Surat An-Nahl ayat 125, untuk mengajarkan
dan mengajak ummat ke jalan Allah. Yaitu dengan hikmah (segala yang terdapat
dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist), dan nasehat atau pelajaran yang baik serta
membantah atau melarang dengan cara yang baik pula. Sehingga dengan demikian,
bagi yang tidak bisa menerima pendidikan di Gontor atau apa yang telah
diajarkan oleh Allah dan Rasululullah maka tersingkirlah ia.”
“Jadi, Al-Qur’an juga mengajarkan
kita dalam mendidik dan mengajar ya Ustadz?”
“Al-Qur’an telah mengajarkan kita
dalam segala hal kehidupan di dunia dan akhirat Bu. Al-Qur’an dan As-Sunnah lah
yang menjadi rujukan untuk perjalan hidup ummat Muslim.”
“Terus bagaimana dengan ijma’ dan
qiyas yang dilakukan oleh para ulama, Ustadz? Waduh maaf pertanyaan saya jadi
ke mana-mana nih.” Tanya Ibu lagi.
“Nggak apa-apa Bu, ilmu kan untuk
diamalkan, selama saya bisa jawab saya akan jawab. Hehe… Ijma’ dan qiyas juga
bahan rujukan untuk kehidupan ummat muslim yang hidup setelah wafatnya Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk kita. Ijma dan qiyas pun tidak
boleh keluar dari Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan ketika di masa Rasulullah
hidup, apabila ada sebuah kesepakan antar ulama (orang yang berilmu) dari
sahabat dalam syariat dan Rasulullah menyetujuinya, itu sudah termasuk hadist
taqririyah (sepakat/disetujui oleh Rasulullah). Dan sesungguhnya para ulama
adalah pewaris para nabi, merekalah tempat kita bertanya, apabila terdapat
sesuatu yang belum kita pahami dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Jelas Umam.
“Alhamdulillah! Saya juga bisa dapat
ilmu dari nak Ustadz, terima kasih ya Ustadz.”
“Sama-sama Bu, terima kasih juga
telah mau mendengarkan ucapan saya.”
“Permisi Nak Ustadz, saya mau
menunggu anak saya dulu.”
“Silahkan!”
Ibu tadi pun pergi menunggu
kepulangan anaknya dari masjid. Sedangkan Umam langsung pergi ke mesjid untuk
melaksanakan shalat ashar berjama’ah.
Hari berikutnya, Umam mendapatkan kesempatan
untuk bernostalgia, mengenang masa kecilnya. Ketika Umam selesai mengajar dan
keluar dari kelas sesudah mengajar, dia melihat ada beberapa Ustadz yang
jadwalnya kosong dalam mengajar pada hari itu sedang membersihkan kolam ikan.
Setelah airnya dikuras setengah kolam, mereka kebingungan untuk memindahkan
ikan-ikan tersebut ke kolam yang di sebelahnya, karena tidak ada yang bisa
memakai jala. Bapak pengasuh Pondok Gontor Dua yang sedang mengontrol keadaan Pondok
berkata, “Lha, bagaimana kalian bisa mindahin ikan-ikan sebanyak ini! Sudah kolamnya
luas lagi. Ada jala tapi nggak ada yang bisa memakainya.”
Ketika itu Umam mendengar ucapan
bapak pengasuh tadi dari depan kelas, dia pun langsung menghampiri beliau dan
bertanya, “Ada masalah Ustadz?”
“Ya, ada. Ini ustadz-ustadz nggak
bisa menangkap ikan pakai jala. Sedangkan ikannya banyak dan kolamnya kotor
banget tuh.”
“Wah! Ini hobi saya mencari ikan
pakai jala Ustadz, biar saya yang memakainya.” Ucap Umam kegirangan, karena
sudah 7 tahun lebih dia sudah tidak memakai jala.
“Tapi kamu hari ini kan ngajar?”
ucap Bapak Pengasuh.
“Tadi sudah jadwal ngajar terakhir
untuk hari ini Ustadz. Tiga menit saya ke sini lagi untuk bantu-bantu Ustadz
yang lain. Saya mohon izin untuk ikut mereka dan pamit mau ganti baju dulu?”
“Ya, silahkan. Saya tunggu kamu di
sini.” Ucap beliau.
Umam pun langsung bersegera lari untuk
mengganti pakaian ngajarnya dengan pakaian kerja. Setiba di depan kolam, dia
langsung mengambil jala dan melemparkannya ke kolam sehingga jala tersebut
melebar bulat, membentuk huruf O. ketika itu, yang melihat dia melempar jala
tersebut terkagum-kagum sampai ada salah satu teman ngabdinya berkata, “Umam,
ente ini Ustadz apa nelayan sih?”
“Hehe, saya ini nelayan tapi Ustadz
bro!” jawab Umam sambil tertawa.
Bapak pengasuh yang sedang berada di
sana juga mengatakan kepada teman-teman Umam yang sedang ikut kerja, “Umam itu
seorang nelayan yang menjadi Ustadz, makanya belajar sama dia.” Ucap beliau
dengan tersenyum.
Seketika itu juga, para ustadz
bergantian untuk belajar memakai jala kepada Umam. Memang, seorang Ustadz tidak
harus untuk menjadi Nelayan. Tapi tidak ada dalil tentang larangan untuk
menjadi nelayan. Sesungguhnya di setiap jerih payah seseorang ada berkahnya.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar