Monday, April 13, 2015

Masa Pengabdian



Bagian 11: Masa Pengabdian
Empat tahun menjadi santri telah Umam jalani bersama teman-temannya di Pesantren Gontor dengan segala dinamika kehidupan. Berjuang bersama, belajar bersama, makan bersama, tidur bersama, mandi bersama, dihukum bersama dan antri pun bersama. Kini, semuanya telah menjadi kenangan indah yang hanya tampak dalam pikiran mereka semua.
Mereka yang telah diyatakan lulus dari Pondok Modern Gontor, disebarkan keseluruh penjuru Indonesia untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapat di Gontor. Tentunya, sebagai wujud pengabdian mereka kepada Allah ta’ala, terhadap ilmu, kepada Pondok Gontor dan masyarakat.
Dan tempat Umam mengabdi adalah di Pondok Modern Gontor Dua, tempat penampungan calon santri Gontor untuk belajar demi mempersiapkan diri agar bisa lulus di ujian masuk Gontor nantinya.
Aktivitas Umam setiap harinya di Gontor Dua adalah mengajar atau jadi Ustadz ketika di kelas, menemani dan menjaga santri di asrama, menjual makanan ketika di dalam koperasi pelajar, membersihkan lingkungan Pondok, ngecor kalau ada pembangunan tempat untuk Pondok dan yang lainnya apa yang dibutuhkan oleh santri, wali santri dan tentunya Pondok Pesantren Gontor.
Banyak kejadian lucu dan aneh yang pernah dia alami semenjak menjadi Ustadz di Gontor Dua, dan banyak pula yang mengambil hikmah dari semua kejadian itu, tentunya hikmah itu semua adalah untuknya dalam pengabdian dan lainnya bagi yang mengetahui.
Pada suatu hari Pondok Gontor dua diguyur hujan. Sedangkan sampah dari daun-daunan, dan ada juga plastik sisa makanan banyak bertebaran di mana-mana. Yang demikian disebabkan pada saat itu banyak calon santri yang baru masuk mendaftarkan diri di Gontor dua, dan banyak di antara mereka yang datang sekeluarga.
Selaku Ustadz Umam dan empat teman lainnya tidak tega menyuruh calon santri menemani mereka untuk keliling Pondok, membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana, dan Umam beserta yang lainnya juga khawatir kalau santri-santrinya sakit yang mengakibatkan mereka tidak bisa mengikuti aktivitas belajar mengajar.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau kita saja yang keliling membersihkannya?” Usul Umam kepada empat teman yang juga sedang kebingungan di depan kamar memikirkan cara untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.
“Apa?”
Jawab salah satu di antara mereka yang bertanya balik, yang ternyata suara Umam tidak terdengar jelas karena dikalahkan oleh suara hujan.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau kita saja yang keliling membersihkannya?”
“Cerdas sekali Ustadz kita yang satu ini!” jawab teman Umam yang satunya lagi dengan senyum candanya.
“Shah maa taquulu anta yaa akhi Umam (Benar yang kamu katakan saudaraku Umam).” Ucap yang lainnya lagi.
“Top, kita kan Ustadz dan kita mengabdi di sini, sudah sewajarnya kita yang berkorban untuk santri-santri kita.” Ucap teman Umam yang lain.
Tanpa pikir panjang Umam pun langsung pergi mengambil gerobak dan mengajak empat Ustadz temannya tadi, “Let’s go!”
Santri yang di Gontor dua memang berstatus calon santri Gontor, tapi tetap mempunyai kedudukan sebagai santri, karena mereka mondok dan belajar di sana.
Umam dan teman-temannya pun mulai mengelilingi Pondok dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu asrama ke asrama berikutnya. Di saat mereka keliling pondok yang ditemani oleh guyuran hujan, sapaan dari santri-santri pun banyak menghujani mereka sama seperti hujan yang telah membasahi sekujur tubuh mereka.
Setelah lama mengelilingi Pondok, tibalah mereka di depan warung koperasi belajar. Tempat di mana para wali santri membelikan kebutuhan anak-anaknya dan juga tempat jajan bagi santri sendiri. Ketika Umam dan teman-temannya sedang asik membersihkan area koperasi tersebut, tiba-tiba terdengar oleh Umam bahwa ada suara yang memangil-manggilnya dengan panggilan ‘Mas’.
“Mas, mas, tolong ke sini sebentar!” salah seorang wali santri memanggilnya dan dia pun langsung menghampirinya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu pak?” ucap Umam dengan baik dan sopan.
“Tolong bersihkan sampah-sampah ini ya! Saya, istri dan anak saya mau duduk di sini.” Ucap seorang bapak-bapak kepada Umam.
“Owh, siap pak.”
Umam pun langsung membersihkan lantai tersebut, yang kebetulan hanya beberapa bungkus plastik sehingga dia cepat membersihkanya.
“Terima kasih ya mas, btw kamu digaji oleh Pondok berapa sih?”
Inilah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Umam, dan kemungkinan memakan hati, karena statusnya adalah mengabdi untuk Pondok, yang berarti apa yang dia lakukan itu hanya semata-mata untuk Pondok. Ikhlas tanpa mengharapkan balasan apalagi gaji.
Umam pun bingung mau menjawab apa, dan ketika dia melihat ke teman-temannya. Ternyata mereka pada tersenyum menahan ketawa mereka, dan ketika melihat santri-santri di sekitarnya yang sedang makan dari hasil jajanannya pun terdiam dan tunduk, karena mereka sudah tau Umam adalah seorang Ustadz dan mereka pun segan untuk ikut campur dalam pekerjaannya. Sebagai rasa hormat seorang santri, dan membantu Ustadznya tanpa ikut campur urusan Ustadz, mereka langsung membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar mereka.
Dengan perilaku teman-temannya, begitu juga santrinya, Umam mendapatkan ilham untuk menjawab pertanyaan bapak tadi dengan senyuman seraya berucap, “Saya dan kawan-kawan semuanya ikhlas melakukan pekerjaan ini pak, tanpa mengharapkan imbalan.”
“Wahh, padahal Mas dan kawan-kawan mas itu rajin lho, sampai hujan-hujanan membersihkan sampah di sekeliling Pondok. Susah mencari orang-orang pekerja seperti mas-mas ini.” Ucap bapak tadi.
“Ah, bapak bisa aja.” Jawab Umam tersenyum sambil mengambil sampah-sampah plastik yang ada di sekitar bapak tadi.
“Serius saya mas, emang mas-mas nggak digaji oleh Pondok? Hanya dengan keikhlasan dari mas-mas saja nih!” Tanya ulang bapak tadi dengan penuh penasaran.
“Kurang lebih begitulah pak.” Jawab mereka berbarengan.
“Subhanallah, mantap!” ucap bapak sambil mengasihkan tanda jempol ke mereka tadi.
Setelah tempat di sekitar itu bersih, Umam dan empat Ustadz temannya tadi langsung berpamitan kepada bapak yang mengajak mereka ngobrol, “Maaf pak, kami permisi dulu, mau melanjutkan keliling Pondok untuk bersih-bersih.”
“Owh iya, silahkan, silahkan. Good job!”
Ucap bapak tadi sambil memakan roti la-tansa dan minumannya pun juga bermerek la-tansa yang keduanya adalah kepunyaan Pondok Pesantren Gontor.
Ketika itu, Umam tidak sengaja mendengar ucapan seorang Ibu, yaitu istri bapak tadi kepada anak beliau yang sama-sama sedang memakan roti la-tansa dengan minuman la-tansa juga. Ucapannya begini:
“Enak banget nih rotinya ya nak! Adonan susu dan telornya pas.”
“Iya bu, air putihnya juga nih, rasanya seperti air dari mata air.” Jawab anaknya.
Pada hari itu juga di lain waktu, Umam bertemu lagi sama bapak tadi beserta keluarganya yang tepatnya waktu jam makan malam. Ketika itu, Umam sedang menjaga warung makan (kantin) yang dimiliki oleh Gontor. Bapak tadi beserta keluarganya maemasuki kantin yang sedang Umam jaga. Di saat Bapak tadi melihat Umam yang sedang menjaga kantin, beliau kaget seraya berkata kepada Umam, “Wahh, Mas ini ternyata punya warung makan juga yaa?”
“Hmmm, bukan Pak, kantin ini punya Pondok, tapi saya yang mengelolanya.”
“Owh begitu! Tanpa digaji lagi?” Tanya bapak tadi penasaran.
“Yaa, kurang lebih begitulah Pak.” Jawab Umam dengan tenang.
“Masya Allah, semoga Allah memberikan pahala yang berlipat ganda kepada kamu yaa mas!”
“Aamiin…”
“Owh iya, kita belum kenalan, nama Mas siapa ya? Nama saya Bapak Yudi Ardani,” bapak tadi bertanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Nama saya Rijalul Umam, Pak.”
“Owh, Mas Rijalul Umam yaa, oke dah. Saya sama keluarga saya mau milih-milih makanan dulu.”
Kebetulan kantin yang sedang Umam jaga adalah prasmanan, jadi para pembeli pun bebas untuk memilih dan mengambil menu yang sudah disediakan oleh Pondok.
“Ya, silahkan pak!”
Besok paginya, bapak tadi sedang santai sambil meminum teh bersama keluarganya di warung minuman yang sudah disediakan oleh Pondok Gontor. sedangkan Umam sedang membersihkan rumput halaman di sekitar warung tersebut. Ketika bapak tadi melihatnya sedang membersihkan rumput, tepatnya dengan menggunakan mesin rumput. Beliau langsung menghampirinya dan berkata, “Rajin sekali Mas Umam ini, memang lelaki multifungsi. Saya jadi penasaran nih dengan Mas Umam ini. Seakan-akan bekerja tiada henti, tanpa mengenal lelah dan selalu semangat.”
“Hehe, biasa saja Pak, ini sudah menjadi tugas saya.”
“Mas, ini saya ada sedikit uang lebih dari saya, mohon diterima yaa! Sekedar buat beli rokok gitu.” Ucap Bapak tadi sambil mengasih uang kepada Umam.
“Aduh, terima kasih banyak pak, saya ini ikhlas dan sayam juga tidak merokok.” Ucap Umam menolak pemberian bapak tadi dengan halus.
Akan tetapi bapak tadi malah memaksanya untuk menerima dan berkata, “Apa Mas Umam ini menolak rezeki dari Allah yang sudah ditentukan melewati saya?”
Umam pun bingung menjawabnya dan akhirnya dia menerima pemberian bapak tadi dan berkata, “Terima kasih banyak ya Pak.”
“Terima kasih juga Mas Umam mau menerima pemberian dari saya.”
Kemudian Umam kembali bekerja, dan bapak tadi juga balik ke keluarganya yang sedang minum teh hangat di warung.
Umam selesai membersihkan halaman tadi sekitar jam setengah tujuh pagi dan kemudian dia langsung mandi, sarapan serta bersiap-siap untuk mengajar. Nah, di saat dia sedang mengajar pelajaran Al-Qur’an, bapak tadi datang dan mengetuk pintu kelasnya. Bapak tadi pun kaget dan merasa bersalah ketika melihat Umam yang sedang mengajar dan berpakaian rapi menggunakan jas serta dasi. Umam langsung menghampiri beliau dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Jadi, Mas Umam,,, eh Ustadz Umam ini adalah seorang Ustadz?”
“Yaa begitulah Pak, saya dulunya santri Gontor juga dan sudah selesai yang kemudian saya disuruh mengabdi untuk mengajar dan mengamalkan ilmu-ilmu saya di sini.”
“Jadi, teman-teman Ustadz yang kemaren, yang membersihkan sampah kehujanan itu semua adalah Ustadz?” Tanya bapak dengan bermuka bingung dan merasa bersalah.
“Iya Pak, semua yang kerja di Pondok Gontor adalah santri dan ustadz, termasuk yang jaga warung dan yang bersih-bersih di sekitar Pondok.”
Ketika mendengar penjelasan Umam tadi, tiba-tiba bapak tadi langsung menarik tangan Umam untuk bersalaman serta mau mencium tangannya, akan tetapi Umam singkirkan tangannya.
“Saya minta maaf Ustadz atas kalakuan saya yang kurang sopan kepada Ustadz!”
“Nggak apa-apa Pak, saya juga minta maaf karena saya tidak langsung jujur kepada Bapak kalau saya dan teman-teman yang kerja di sini semuanya adalah seorang Ustadz.”
“Saya kira seorang Ustadz itu Cuma ada di kelas dan tempat-tempat pengajian saja.” Ucap seorang Bapak.
“Kami di sini dididik oleh Gontor untuk menjadi guru bukan sekedar guru di kelas saja Pak, tapi juga guru dalam bergaul, guru dalam bekerja, guru dalam berorganisasi, dan tentunya kami juga harus ikut terjun dalam segala hal kegiatan-kegiatannya. Seorang guru harus lebih awal memberikan contoh kepada murid-muridnya, bukan hanya sekedar nasehat belaka. Menasehati memang lebih mudah dibanding pelaksanaan dan pengamalannya. Bukan begitu Pak?”
“Iya, benar sekali Ustadz. Sekarang ini banyak sekali tong kosong nyaring bunyinya. Hehe…” gurau Bapak tadi dan Umam pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
 Umam langsung bertanya balik ke bapak tadi untuk mempersingkat waktunya, karena dia sedang mengajar.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Begini, saya mau mengantarkan anak saya masuk kelas, yang tempatnya di kelas Ustadz ini. Karena hari ini dia awal masuk kelasnya, jadi dia malu untuk pergi ke kelas sendirian Ustadz.”
“Owh, baik, biar saya yang bawa dia ke kelas saya Pak.”
Umam pun langsung membawa anak tadi ke kelasnya, dan acara belajar mengajar pun berlanjut seperti biasanya.
Di waktu yang lain, tanpa disengaja Umam berbagi ilmu kepada seorang tamu. Inilah ilmu, ilmu tidak saja untuk seorang santri, tapi ilmu untuk semua orang. Ketika itu Umam sedang mengeliling kamar calon santri untuk menyuruh mereka pergi ke masjid, tiba-tiba ada seorang Ibu menghampirinya. Kebetulan anak beliau adalah anggota asrama yang sedang dikelilingi oleh Umam, sedangkan anaknya sendiri sudah pergi ke mesjid.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Sapa seorang Ibu.
“Wa’alaikumusssalam.”
“Boleh saya menanyakan sesuatu?” Tanya seorang Ibu,
“Insya Allah boleh dan saya jawab sebisa saya ya bu!” ucap Umam.
“Begini nak Ustadz, anak saya sudah mondok di sini sekitar satu bulan dan sekarang dia sudah pergi ke masjid, dan ini pertama kali saya menengoknya. Kali ini, banyak sekali perubahan yang saya dapat dari anak saya. Saya bingung dan heran, kok bisa anak saya bisa berubah 180 derajat dalam jangka waktu sependek ini?” Ucap Ibu tadi penasaran.
“Berubah gimana maksudnya bu?” Umam bertanya balik dengan muka penasaran.
“Dulu anak saya itu nakal sekali Ustadz! Sekarang baru saya datang ke Pondok, dia sambut kedatangan saya dengan mencium tangan saya, barang-barang yang saya bawa pun dia angkat semua, sampai-sampai saya nggak dapat bagian ngangkat barang. Terus tiap kali berangkat dan pulang dari kelas sebelum ke asramanya, dia mendatangi saya dan cium tangan saya. Ketika mau pergi ke mesjid juga cium tangan saya, begitu juga ketika balik dari mesjid. Dulu, saya suruh cuci piring aja ngomelnya panjang banget. Sekarang, nyuci baju sendiri, pakaiannya pun terlihat rapi dan bersih. Dulu, kalau mau makan dan lauknya nggak enak, dia nggak mau makan. Sekarang, kalau makan lauknya tahu tempe aja lahap banget, bahkan nasi, kerupuk sama sambel aja dia habisin tuh makanannya. Sebenarnya apa sih rahasia ustadz-ustadz di sini mendidik santri-santrinya sehingga bisa merubah mereka menjadi anak yang baik?” Tanya seorang Ibu penuh penasaran.
Dan Umam pun bingung menjawabnya sehingga dia memulai jawabannya dengan sedikit gurauan.
“Makanya Bu, kalau mau cari menantu pilih aja anak Gontor. Ilmu dijamin, agamanya pun juga insya Allah baik dan tidak ketinggalan penting adalah masalah makan, dikasih makan pake nasi, kerupuk sama sambel, jadi. Langsung diterima, nggak pake ngomel dan otomatis hemat biaya. Hehe…” jawab Umam sambil tersenyum.
“Wah, pintar juga Nak Ustadz ini mempromosikan diri, hehe… Jadi bagaimana ini jawaban pertanyaan saya tadi Ustadz?” ucap Ibu tadi sambil tersenyum.
“Begini ya bu, sebenarnya Ibu dan keluarga Ibu juga ikut andil dalam mendidik anak Ibu. Ibu memasukkan anak Ibu ke Gontor itu adalah sebuah usaha, uang yang Ibu kasih ke anak Ibu adalah wujud perhatian dan kasih sayang dari orang tua ke anaknya. Belum lagi do’a yang Ibu panjatkan untuk anak Ibu, wahhh sangat mujarrab banget tuh!” jawab Umam.
“Kalau sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Gontor sendiri gimana Ustadz?” Ibu tadi bertanya lagi,
“Begini Bu, Gontor mempunyai tujuan membentuk santri-santrinya agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berakhlaq mulia. Sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Surat An-Nahl ayat 125, untuk mengajarkan dan mengajak ummat ke jalan Allah. Yaitu dengan hikmah (segala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist), dan nasehat atau pelajaran yang baik serta membantah atau melarang dengan cara yang baik pula. Sehingga dengan demikian, bagi yang tidak bisa menerima pendidikan di Gontor atau apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasululullah maka tersingkirlah ia.”
“Jadi, Al-Qur’an juga mengajarkan kita dalam mendidik dan mengajar ya Ustadz?”
“Al-Qur’an telah mengajarkan kita dalam segala hal kehidupan di dunia dan akhirat Bu. Al-Qur’an dan As-Sunnah lah yang menjadi rujukan untuk perjalan hidup ummat Muslim.”
“Terus bagaimana dengan ijma’ dan qiyas yang dilakukan oleh para ulama, Ustadz? Waduh maaf pertanyaan saya jadi ke mana-mana nih.” Tanya Ibu lagi.
“Nggak apa-apa Bu, ilmu kan untuk diamalkan, selama saya bisa jawab saya akan jawab. Hehe… Ijma’ dan qiyas juga bahan rujukan untuk kehidupan ummat muslim yang hidup setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk kita. Ijma dan qiyas pun tidak boleh keluar dari Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan ketika di masa Rasulullah hidup, apabila ada sebuah kesepakan antar ulama (orang yang berilmu) dari sahabat dalam syariat dan Rasulullah menyetujuinya, itu sudah termasuk hadist taqririyah (sepakat/disetujui oleh Rasulullah). Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, merekalah tempat kita bertanya, apabila terdapat sesuatu yang belum kita pahami dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Jelas Umam.
“Alhamdulillah! Saya juga bisa dapat ilmu dari nak Ustadz, terima kasih ya Ustadz.”
“Sama-sama Bu, terima kasih juga telah mau mendengarkan ucapan saya.”
“Permisi Nak Ustadz, saya mau menunggu anak saya dulu.”
“Silahkan!”
Ibu tadi pun pergi menunggu kepulangan anaknya dari masjid. Sedangkan Umam langsung pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat ashar berjama’ah.
Hari berikutnya, Umam mendapatkan kesempatan untuk bernostalgia, mengenang masa kecilnya. Ketika Umam selesai mengajar dan keluar dari kelas sesudah mengajar, dia melihat ada beberapa Ustadz yang jadwalnya kosong dalam mengajar pada hari itu sedang membersihkan kolam ikan. Setelah airnya dikuras setengah kolam, mereka kebingungan untuk memindahkan ikan-ikan tersebut ke kolam yang di sebelahnya, karena tidak ada yang bisa memakai jala. Bapak pengasuh Pondok Gontor Dua yang sedang mengontrol keadaan Pondok berkata, “Lha, bagaimana kalian bisa mindahin ikan-ikan sebanyak ini! Sudah kolamnya luas lagi. Ada jala tapi nggak ada yang bisa memakainya.”
Ketika itu Umam mendengar ucapan bapak pengasuh tadi dari depan kelas, dia pun langsung menghampiri beliau dan bertanya, “Ada masalah Ustadz?”
“Ya, ada. Ini ustadz-ustadz nggak bisa menangkap ikan pakai jala. Sedangkan ikannya banyak dan kolamnya kotor banget tuh.”
“Wah! Ini hobi saya mencari ikan pakai jala Ustadz, biar saya yang memakainya.” Ucap Umam kegirangan, karena sudah 7 tahun lebih dia sudah tidak memakai jala.
“Tapi kamu hari ini kan ngajar?” ucap Bapak Pengasuh.
“Tadi sudah jadwal ngajar terakhir untuk hari ini Ustadz. Tiga menit saya ke sini lagi untuk bantu-bantu Ustadz yang lain. Saya mohon izin untuk ikut mereka dan pamit mau ganti baju dulu?”
“Ya, silahkan. Saya tunggu kamu di sini.” Ucap beliau.
Umam pun langsung bersegera lari untuk mengganti pakaian ngajarnya dengan pakaian kerja. Setiba di depan kolam, dia langsung mengambil jala dan melemparkannya ke kolam sehingga jala tersebut melebar bulat, membentuk huruf O. ketika itu, yang melihat dia melempar jala tersebut terkagum-kagum sampai ada salah satu teman ngabdinya berkata, “Umam, ente ini Ustadz apa nelayan sih?”
“Hehe, saya ini nelayan tapi Ustadz bro!” jawab Umam sambil tertawa.
Bapak pengasuh yang sedang berada di sana juga mengatakan kepada teman-teman Umam yang sedang ikut kerja, “Umam itu seorang nelayan yang menjadi Ustadz, makanya belajar sama dia.” Ucap beliau dengan tersenyum.
Seketika itu juga, para ustadz bergantian untuk belajar memakai jala kepada Umam. Memang, seorang Ustadz tidak harus untuk menjadi Nelayan. Tapi tidak ada dalil tentang larangan untuk menjadi nelayan. Sesungguhnya di setiap jerih payah seseorang ada berkahnya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar