Monday, April 13, 2015

Menguasai Dunia



Menguasai Dunia
Hari berikutnya dengan waktu yang sama, yaitu sesudah shalat ashar. Umam berkunjung ke bagian bahasa. Dengan status Umam yang masih anak baru, dia pun diperbolehkan berbicara memakai Bahasa Indonesia dan akan diwajibkan berbicara bahasa arab setelah ujian semester pertama.
“Assalamu’alaikum,” sapa Umam sambil mengetuk pintu kantor bagian bahasa. Kemudian salah satu pengurus dari bagian bahasa membukakan pintu dan menjawab salamnya, “Wa’alaikumusssalam, yaa akhi Rijalul Umam.” sambil melihat papan nama yang dipakai Umam.
“Kaifa haaluka yaa akhi Umam (Bagaiamana keadaanmu wahai saudaraku Umam)?” Tanya kakak pengurus bagian bahasa.
“Alhamdulillah, inni bikhoirin (Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik).” Jawab Umam.
“Maadza hashala laka hatta kunta huna (Ada apa gerangan sampai kamu ada di sini)?” Tanya beliau lagi.
“Uriidu an as aluka syaian (Saya ingin bertanya sesuatu),” jawab Umam.
“Hal anta thalib jadid (Apakah kamu santri baru)?” Tanyanya lagi
“Na’am al-akh (Iya kak).”
“Oke, silahkan bertanya! Saya akan jawab sebisanya yaa?” kata pengurus tadi.
“Apa manfaat atau kegunaan dari belajar bahasa al-akh?” Tanya Umam,
“Wah, banyak sekali akhi Umam! Dengan bahasa memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang asing yang belum kita kenal atau yang beda bahasa dengan kita. Bisa menjalin hubungan usaha antar luar negri, bisa memahami kitab-kitab turast, bisa menjadi penerjemah untuk turis, dan bisa kuliah keluar negri. Baik itu Mesir, Madinah, Pakistan, Yaman, Amerika, Autsralia dan Negara yang lainnya. Okelah, Bapak presiden dengan jabatannya bisa memimpin Indonesia. Bapak Erick Thohir dengan kekayaannya dalam berbisnis bisa membeli saham 70% klub FC Inter Milan. Bapak Robert Budi hartono[1] dengan perusahaan rokok kretek bermerek jarum yang beliau punya, tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia pada tahun 2013. Tapi santri Gontor dengan bahasa bisa menggenggam dunia.” Jawab kakak pengurus bagian bahasa.
“Subhanallah, keren bangettt!” ucap Umam dengan penuh takjub.
“Makanya, bahasa adalah kunci dunia.” Ucap pengurus.
Setelah lama ngobrol bersama kakak pengurus bagian bahasa, dia langsung berpamitan untuk bersiap-siap pergi ke masjid.
“Syukron (Terima kasih) kak, telah memberikan penjelasan terhadap saya, saya akan belajar bersungguh-sungguh untuk memperdalam bahasa arab dan inggris. Saya pamit dulu mau pergi ke masjid.”
“Oke, silahkan dan selamat berjuang!” jawab pengurus, dan Umam pun membalasnya dengan senyuman.
Ketika di perjalanan menuju mesjid, dia bertemu dengan kakak pengurus yang menjabat di bagian diesel, dan beliau sedang membawa tangga di bahunya.
“Assalamu’alaikum al-akh,” sapa Umam.
“wa’alaikum.”
“Nggak berat tuh kak ngangkat tangga di bahu, apa perlu saya bantu?” Tanya Umam tampak heran dengan diiringi rasa kasihan.
“Nggak berat kok, sudah terbiasa, terima kasih.”
“Weih, kuat dong! Hehehe… btw, pelajaran apa saja yang kakak dapat semenjak menjabat bagian diesel?”
“Yaaa lumayan banyak mam, saya bisa mengetahui keadaan mesin diesel. Bisa merakit radio, bisa memperbaiki barang elektronik yang sudah rusak, memahami kekuatan arus listrik sehingga kalau tersetrum tidak kaget dan bisa menyetrum orang lain tanpa membahayakan mereka. Dan yang pasti semua bagian diesel itu sudah pernah merasakan setruman listrik lho! Baik itu disengaja ataupun tidak disengaja. Kalau kamu mau nyoba disetrum datang aja ke kantor saya!” jawab kakak pengurus tadi sambil tersenyum.
“Hehe, terima kasih kak.”
“Ya sudah pergi ke masjid sana! Nanti kamu terlambat, dan saya juga masih ada kerjaan karena ada kerusakan listrik yang perlu diperbaiki.” Perintah kakak kelas tadi dan Umam pun langsung menuju mesjid.
Pada hari itu juga, saat Umam dan santri yang lainnya mengikuti kegiatan belajar malam, para Asatidz mengumpulkan seluruh santri baru yang berjumlah sekitar seribu santri di mesjid Jami’. Di sana Pak Kiayai memberikan penjelasan tentang pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Gontor.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh. anak-anakku, Pondok Modern Gontor ini memberikan dua kunci untuk kita semua, yaitu kunci dunia dan kunci akhirat. Di mana para santri Gontor dididik dan diajar untuk kehidupan di dunia dan bekal di akhirat secara seimbang dan menyeluruh. Tidak pasif ataupun diam. Terus bergerak untuk sebuah kebaikan dengan niat mencapai ridha ilahi. Menggapai kesuksesan di dunia untuk tujuan akhirat.
Anak-anakku Pondok Modern Gontor adalah tempat pencetak kader-kader pemimpin ummat. Yang mana di dalamnya kita dilatih untuk menjadi pemimpin dari sebuah organisasi dengan baik dan benar. Dilatih untuk melaksanakan sebuah amanah  dengan penuh tanggung jawab, menghargai waktu dengan baik dan tidak meremehkan segala permasalahan kecil yang dianggap sepele. Teruslah hidup dan memberikan kehidupan, teruslah bergerak dan menggerakkan karena dalam sebuah gerakan terdapat berkah yang terpendam. Kita hidup dengan denyutan jantung yang terus berdetak, jangan biarkan waktu mengatur kehidupan kita tapi kita lah yang harus pandai mengatur waktu.
Anak-anakku, ingat! Apa yang kita rasakan, apa yang kita dengarkan, apa yang kita lihat dan apa yang kita raba di Pondok ini semuanya adalah pendidikan. Maka janganlah lalai terhadap yang ada di sekitarmu, dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam menuntut ilmu. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh.”
Para santri pun sambil mendengarkan nasehat pak kiayai dan langsung mencatat apa yang telah disampaikan. Bagi mereka nasehat dari Pak Kiayai dan Ustadz yang lainnya adalah ilmu yang wajib ditulis dan dibaca oleh mereka sebagai santrinya.
Setelah acara perkumpulan tersebut, mereka langsung balik menuju Asrama untuk do’a bersama dan kemudian tidur malam. Setiba Umam di depan Asrama, dia menemukan lagi wujud perhatian seorang kakak kelas dan juga sebagai kakak pengurus Asramanya yang baik. Beliau sudah siap berdiri menunggu kedatangan para santri baru dan memanggil beberapa santri untuk berbaris yang di antaranya adalah Umam sendiri. Kemudian beliau bertanya kepada Umam, “Umam, mana hasil catatan kamu ketika kumpul tadi?”
kemudian Umam langsung memperlihatkannya ke kakak pengurus tersebut dan berkata, “Ini al-akh, catatan yang baru saya catat di acara kumpul tadi.”
Setelah melihat isi catatan Umam beliau berkata kepada mereka yang dipanggilnya tadi, “Bagus, inilah ciri seorang santri yang baik dan benar. Santri tanpa buku dan pena itu bagaikan orang yang sedang perang melawan musuh tapi tidak mempunyai kuda dan pedang. Oleh karena itu, tanpa keduanya mampuslah kalian! Fahimtum (kalian paham)?”
“Na’am, fahimna al-akh (Iya, kami paham kak).” Jawab mereka.
“Sekarang silahkan pergi ke depan kamar masing-masing dan do’a tidur malam bersama-sama.”
Kemudian mereka balik ke depan kamar masing-masing, diteruskan membaca do’a tidur secara bersama-sama yang didahului dengan membaca basmallah, kemudian Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan Ayat Kursi. Setelah selesai berdo’a, mereka pun langsung masuk kamar untuk mengikuti absen malam dan tidur malam.


[1] http://www.orangterkayaindonesia.com/

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar