Menguasai Dunia
Hari berikutnya dengan waktu yang
sama, yaitu sesudah shalat ashar. Umam berkunjung ke bagian bahasa. Dengan
status Umam yang masih anak baru, dia pun diperbolehkan berbicara memakai Bahasa
Indonesia dan akan diwajibkan berbicara bahasa arab setelah ujian semester
pertama.
“Assalamu’alaikum,” sapa Umam sambil
mengetuk pintu kantor bagian bahasa. Kemudian salah satu pengurus dari bagian
bahasa membukakan pintu dan menjawab salamnya, “Wa’alaikumusssalam, yaa akhi Rijalul
Umam.” sambil melihat papan nama yang dipakai Umam.
“Kaifa haaluka yaa akhi Umam (Bagaiamana
keadaanmu wahai saudaraku Umam)?” Tanya kakak pengurus bagian bahasa.
“Alhamdulillah, inni bikhoirin (Alhamdulillah,
saya dalam keadaan baik).” Jawab Umam.
“Maadza hashala laka hatta kunta
huna (Ada apa gerangan sampai kamu ada di sini)?” Tanya beliau lagi.
“Uriidu an as aluka syaian (Saya ingin
bertanya sesuatu),” jawab Umam.
“Hal anta thalib jadid (Apakah kamu
santri baru)?” Tanyanya lagi
“Na’am al-akh (Iya kak).”
“Oke, silahkan bertanya! Saya akan
jawab sebisanya yaa?” kata pengurus tadi.
“Apa manfaat atau kegunaan dari
belajar bahasa al-akh?” Tanya Umam,
“Wah, banyak sekali akhi Umam! Dengan
bahasa memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang asing yang belum kita
kenal atau yang beda bahasa dengan kita. Bisa menjalin hubungan usaha antar
luar negri, bisa memahami kitab-kitab turast, bisa menjadi penerjemah untuk
turis, dan bisa kuliah keluar negri. Baik itu Mesir, Madinah, Pakistan, Yaman,
Amerika, Autsralia dan Negara yang lainnya. Okelah, Bapak presiden dengan jabatannya
bisa memimpin Indonesia. Bapak Erick Thohir dengan kekayaannya dalam berbisnis
bisa membeli saham 70% klub FC Inter Milan. Bapak Robert Budi hartono[1]
dengan perusahaan rokok kretek bermerek jarum yang beliau punya, tercatat
sebagai orang terkaya di Indonesia pada tahun 2013. Tapi santri Gontor dengan
bahasa bisa menggenggam dunia.” Jawab kakak pengurus bagian bahasa.
“Subhanallah, keren bangettt!” ucap Umam
dengan penuh takjub.
“Makanya, bahasa adalah kunci dunia.”
Ucap pengurus.
Setelah lama ngobrol bersama kakak
pengurus bagian bahasa, dia langsung berpamitan untuk bersiap-siap pergi ke masjid.
“Syukron (Terima kasih) kak, telah
memberikan penjelasan terhadap saya, saya akan belajar bersungguh-sungguh untuk
memperdalam bahasa arab dan inggris. Saya pamit dulu mau pergi ke masjid.”
“Oke, silahkan dan selamat berjuang!”
jawab pengurus, dan Umam pun membalasnya dengan senyuman.
Ketika di perjalanan menuju mesjid, dia
bertemu dengan kakak pengurus yang menjabat di bagian diesel, dan beliau sedang
membawa tangga di bahunya.
“Assalamu’alaikum al-akh,” sapa Umam.
“wa’alaikum.”
“Nggak berat tuh kak ngangkat tangga
di bahu, apa perlu saya bantu?” Tanya Umam tampak heran dengan diiringi rasa
kasihan.
“Nggak berat kok, sudah terbiasa,
terima kasih.”
“Weih, kuat dong! Hehehe… btw, pelajaran
apa saja yang kakak dapat semenjak menjabat bagian diesel?”
“Yaaa lumayan banyak mam, saya bisa mengetahui
keadaan mesin diesel. Bisa merakit radio, bisa memperbaiki barang elektronik
yang sudah rusak, memahami kekuatan arus listrik sehingga kalau tersetrum tidak
kaget dan bisa menyetrum orang lain tanpa membahayakan mereka. Dan yang pasti semua
bagian diesel itu sudah pernah merasakan setruman listrik lho! Baik itu disengaja
ataupun tidak disengaja. Kalau kamu mau nyoba disetrum datang aja ke kantor
saya!” jawab kakak pengurus tadi sambil tersenyum.
“Hehe, terima kasih kak.”
“Ya sudah pergi ke masjid sana! Nanti
kamu terlambat, dan saya juga masih ada kerjaan karena ada kerusakan listrik
yang perlu diperbaiki.” Perintah kakak kelas tadi dan Umam pun langsung menuju
mesjid.
Pada hari itu juga, saat Umam dan
santri yang lainnya mengikuti kegiatan belajar malam, para Asatidz mengumpulkan
seluruh santri baru yang berjumlah sekitar seribu santri di mesjid Jami’. Di
sana Pak Kiayai memberikan penjelasan tentang pendidikan dan pengajaran di
Pondok Pesantren Gontor.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa
barakaatuh. anak-anakku, Pondok Modern Gontor ini memberikan dua kunci untuk
kita semua, yaitu kunci dunia dan kunci akhirat. Di mana para santri Gontor
dididik dan diajar untuk kehidupan di dunia dan bekal di akhirat secara
seimbang dan menyeluruh. Tidak pasif ataupun diam. Terus bergerak untuk sebuah
kebaikan dengan niat mencapai ridha ilahi. Menggapai kesuksesan di dunia untuk
tujuan akhirat.
Anak-anakku Pondok Modern Gontor
adalah tempat pencetak kader-kader pemimpin ummat. Yang mana di dalamnya kita
dilatih untuk menjadi pemimpin dari sebuah organisasi dengan baik dan benar.
Dilatih untuk melaksanakan sebuah amanah
dengan penuh tanggung jawab, menghargai waktu dengan baik dan tidak
meremehkan segala permasalahan kecil yang dianggap sepele. Teruslah
hidup dan memberikan kehidupan, teruslah bergerak dan menggerakkan karena dalam
sebuah gerakan terdapat berkah yang terpendam. Kita hidup dengan denyutan
jantung yang terus berdetak, jangan biarkan waktu mengatur kehidupan kita tapi
kita lah yang harus pandai mengatur waktu.
Anak-anakku, ingat! Apa yang kita
rasakan, apa yang kita dengarkan, apa yang kita lihat dan apa yang kita raba di
Pondok ini semuanya adalah pendidikan. Maka janganlah lalai terhadap yang ada di
sekitarmu, dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam menuntut ilmu. Wassalamu
‘alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh.”
Para santri pun sambil mendengarkan
nasehat pak kiayai dan langsung mencatat apa yang telah disampaikan. Bagi mereka
nasehat dari Pak Kiayai dan Ustadz yang lainnya adalah ilmu yang wajib ditulis
dan dibaca oleh mereka sebagai santrinya.
Setelah acara perkumpulan tersebut, mereka
langsung balik menuju Asrama untuk do’a bersama dan kemudian tidur malam.
Setiba Umam di depan Asrama, dia menemukan lagi wujud perhatian seorang kakak
kelas dan juga sebagai kakak pengurus Asramanya yang baik. Beliau sudah siap berdiri
menunggu kedatangan para santri baru dan memanggil beberapa santri untuk
berbaris yang di antaranya adalah Umam sendiri. Kemudian beliau bertanya kepada
Umam, “Umam, mana hasil catatan kamu ketika kumpul tadi?”
kemudian Umam langsung memperlihatkannya
ke kakak pengurus tersebut dan berkata, “Ini al-akh, catatan yang baru saya
catat di acara kumpul tadi.”
Setelah melihat isi catatan Umam
beliau berkata kepada mereka yang dipanggilnya tadi, “Bagus, inilah ciri
seorang santri yang baik dan benar. Santri tanpa buku dan pena itu bagaikan
orang yang sedang perang melawan musuh tapi tidak mempunyai kuda dan pedang. Oleh
karena itu, tanpa keduanya mampuslah kalian! Fahimtum (kalian paham)?”
“Na’am, fahimna al-akh (Iya, kami
paham kak).” Jawab mereka.
“Sekarang silahkan pergi ke depan
kamar masing-masing dan do’a tidur malam bersama-sama.”
Kemudian mereka balik ke depan kamar
masing-masing, diteruskan membaca do’a tidur secara bersama-sama yang didahului
dengan membaca basmallah, kemudian Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas
dan Ayat Kursi. Setelah selesai berdo’a, mereka pun langsung masuk kamar untuk mengikuti
absen malam dan tidur malam.
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar