Monday, April 13, 2015

Kelulusan SD



Bagian 2: Kelulusan SD
Hari demi hari telah Umam lewati layaknya orang dewasa, yaitu dengan mencari ikan, bertani dan berdagang. Tidak terasa dia pun sudah duduk di kelas enam SD. Pada suatu hari, sekolahnya diundang mengikuti acara perkemahan sekabupaten yang pesertanya terdiri dari siswa yang minimalnya kelas enam SD, SMP, dan maksimalnya SMA atau yang setara dengan sekolah-sekolah tersebut.
Dan siapa sangka Umam seorang nelayan bisa menjadi utusan untuk mengikuti lomba hafalan Juz ‘Amma. Mungkin para pembaca bingung, dari mana dia bisa membaca Al-Qur’an? Di sinilah bukti orang tua yang penuh kasih kepada anaknya, tidak hanya membiarkan anaknya begitu saja, mereka juga memperhatikan masa depan anaknya bahkan untuk akhirat kelak. Umam belajar membaca Al-Qur’an dari Ayah dan Ibunya. Kedua orang tuanya sangat sayang kepada anak-anaknya dan memperhatikan pendidikan anak-anak mereka.
Umam bertanya pada dirinya sendiri, atas dasar apa sang guru memilihnya? Alasan apa sehingga dia yang harus menjadi perwakilan dari sekolahnya? Atau apa penyebab dia menjadi peserta lomba menghafal Juz ‘Amma?
Ternyata gurunya tiba-tiba memberikan jawab sebelum Umam bertanya ke beliau tentang pertanyaannya dalam hati tadi. Wali kelasnya mengatakan kepada Umam bahwa bacaan Umam lumayan fasih dari temen-temen cowok yang lain dan hafalannya juga lumayan bagus, maka dari itulah dia terpilih untuk menjadi utusan dari sekolahnya.
“Umam, saya memilihmu dari kalangan pria untuk mengikuti lomba hafalan Juz ‘Amma yang tentunya sebagai perwakilan dari sekolah kita, karena bacaanmu fasih dan hafalanmu juga lebih bagus dari teman-temanmu cowok yang lain. Sedangkan dari wanitanya kami pilih Azkia, dia juga sama sepertimu, bacaan dan hafalannya juga bagus. Semoga kalian berdua bisa membawa nama baik sekolah kita” ucap Bapak Kepala Sekolah.
“Aamiin, saya akan berusaha semampu saya Pak untuk memberikan yang terbaik kepada sekolah ini.” Jawab umam penuh keyakinan.
Hari perlombaan pun telah tiba, dan dia juga sudah dipapar oleh kedua orang tuanya, baik dalam kefasihan dalam membaca Al-Qur’an ataupun dari segi hafalan Juz ‘Amma. Tentu, yang demikian tidak mengganggu aktivitasnya sebagai pelajar dan nelayan.
Sebelum naik panggung perlombaan dia juga dicoba bacaan Al-Qur’annya, dilatih dan disimak oleh guru dan wali kelasnya sendiri. Namun, meski dilatih dan dipapar selama seminggu oleh orang tua, rasa gugup juga masih ada, semakin lama menunggu semakin bergetar detak jantungnya, tapi keberanian untuk maju juga membara.
Dengan membaca bismillah dia mulai menaiki panggung dan rasa gugup pun mulai hilang, sehingga ketika membaca dan menghafal hati terasa tenang dan nyaman. Dia nikmati dan dia hayati bacaan Al-Qur’annya, dia jawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut para penguji, yang Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa hari berkemah, hari penutupan perkemahan pun tiba, acara tersebut diisi dengan upacara Api Unggun dan pengumuman hasil perlombaan selama perkemahan.
Walhamdulillah, siapa sangka dia seorang nelayan bisa memenangkan lomba tersebut dengan juara satu dari kalangan putra, dan temannya yang utusan dari wanita yaitu Azkia menduduki juara tiga dari kalangan putri. Mereka dipanggil maju ke atas panggung untuk mengambil hadiah, piagam penghargaan, Piala dan yang lainnya sebagai hadiah atas kesuksesan mereka. Teman-teman pun turut bahagia atas kemenangan mereka dalam mengikuti lomba tersebut. Setelah selesai acara, Piala dan Sertifikat yang mereka dapat diminta oleh bapak kepala sekolah sebagai bukti bahwa sekolah kami memenangkan perlombaan dan tentunya akan menjadi sebuah kenangan untuk diingat, bahwa dia dan temannya Azkia memenangkan lomba tersebut.
“Nak Umam dan Azkia, Piala dan Sertifikat yang kalian dapat kita jadikan inventaris sekolah yaa?”
“Owh iya ini Pak.” Umam dan Azkia menyerakan Piagan dan Sertifikatnya.
Sebulan kemudian tidak terasa sudah mulai memasuki ujian akhir tahun, Umam menghadapi ujiannya dengan gigih dan semangat. Sambil mencari ikan, terkadang dia duduk santai membaca buku di atas perahu kecilnya.
Setelah melewati ujian tersebut dia diminta lagi oleh wali kelas, untuk menjadi utusan dari siswa akhir dalam menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai Salam Perpisahan. Yang isinya tertulis begini:
“Teman-teman dan adik-adik kelasku seperjuangan, di setiap pagi hingga siang hari kita belajar dan bermain bersama telah terlewati. Para guru-guru yang telah mendidik kami dengan ikhlas tanpa mengenal lelah. Terima kasih, telah mengajarkan kami huruf demi huruf mengubahnya menjadi kata yang indah. Mengajarkan kami Matematika  sehingga pandai dalam berhitung, Olah Raga untuk kesehatan kami. Mendidik kami sehingga kami bisa berakhlak karimah, bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil, serta didikan dan ajaran yang lainnya. Wahai para guru-guru kami, kami sebagai kelas akhir memohon maaf atas segala kenakalan dan kekurangan kami dalam belajar, membuat emosi kalian labil, namun kalian hadapi kami dengan penuh kesabaran dan tabah.
Dan untuk adik-adik kelas kami, contohlah kami dalam segi kebaikan serta abaikan dan lupakanlah dari perbuatan yang jelek atau tidak layak untuk dicontoh. Yang terakhir, hanya permohonan do’alah kepada guru-guru, adik-adik kelas, dan seluruh para hadirin untuk kami dalam menempuh perjalan ke depan yang penuh liku dan jurang, do’akanlah untuk kesuksesan kami, dan insya Allah kami tidak akan lupa untuk mendo’akan guru-guru kami yang tegas dan penuh wibawa, adik-adik kelas seperjuangan, para hadirin dan seluruh ummat muslim semuanya. Do’a kalian menyertai kami.”
Kalau tidak ingin merasakan pahitnya perpisahan, maka hindarilah pertemuan.
Kata demi kata dia tuturkan sehingga teman-teman, para adik kelas dan seluruh wali dari siswa/murid meneteskan air mata, karena hanya dalam hitungan jam mereka akan berpisah dan meneruskan ke pendidikan sekolah selanjutnya. Setelah penutupan acara kelulusan dan pembagian raport, mereka bersalaman mencium tangan guru-guru mereka, dan tidak lupa juga bersalaman serta berpelukan di antara mereka sebagai teman seperjuangan. Walaupun teman pasti juga terkadang ada salah dan khilafnya, ada tawa yang terkadang diiringi sebuah tangisan karena banyaknya bercanda. Yaaa, namanya juga anak-anak.
Banyak di antara teman-temannya yang ingin melanjutkan ke sekolah umum negri, baik itu MTS ataupun SMP, dan dia pun juga berniat sama untuk melanjutkan ke SMP atau MTS, namun keadaan berkata lain, kedua orang tuanya menginginkan dia untuk mondok di Pesantren Darul Hijrah.
Awalnya Umam tidak terima dan tidak mau masuk Pondok. Akan tetapi Ayah dan Ibunya selalu merayu dan membujuknya untuk masuk Pondok Pesantren.
“Nak, kamu mau jadi orang yang pintar agama nggak?” Tanya Ayah umam.
 “Iya.”                     
“kamu mau jadi Ustadz yang seperti Ustadz lainnya, pintar ceramah, disayang orang dan dihormati masyarakat?” ditanya lagi oleh Ibunya Umam.
 “Iya.”
“Makanya kamu harus mondok.” Ucap Ayah dan Ibunya serentak.
“Kata orang di Pondok itu makannya ikan asin mulu, atau sambel sama kerupuk. Terus juga disiplinnya ketat, kalau melanggar disiplin ada hukumannya terkadang dibotak, disuruh lari keliling lapangan, disuruh ngehafalin ini dan itulah, dan juga aku nggak bisa kumpul sama Ayah, Ibu, adik-adik dan keluarga yang lainnya, kan aku jadi sedih Ma, Yah.” Keluh kesah yang diutarakan oleh Umam kepada kedua Orang Tuanya.
Ibunya pun menyemengati seraya bilang kepadanya: “anakku sayang, kamu kalau berbuat salah pasti dapat hukuman, kalau orang nggak tau tapi Allah maha tau dan azabNya sangatlah pedih. Kamu menjadi nelayan dan pintar berenang itu cuma sedikit lho yang bisa, dan orang-orang pasti iri sama kamu. Ingat seorang nelayan yang handal sudah terbiasa berhadapan dengan gelombang yang besar. Nah, sekarang kamu mau jadi orang yang biasa-biasa saja, atau mau jadi orang yang luar biasa? Pintar dalam mencari rezeki, pintar dalam ilmu keagamaan, pintar dalam bergaul, dan pintar dalam segala hal yang lainnya.”
Wew, perkataan sang Ibu membakar semangat anaknya yang lagi bimbang, Umam pun langsung bertekad dan siap untuk masuk Pondok Pesantren. Umam mempunyai keinginan menjadi orang baik, ingin mengabdi kepada masyarakat, ingin berguna bagi nusa dan bangsa, dan tentunya dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Namun, selalu ada saja kerikil kehidupan yang mengganggu keyakinan dan membuatnya gelisah. Melihat keadaan finansial keluarga yang kurang memungkinkan, Umam pun bertanya kepada Ayah dan Ibunya, “Ayah dan Mama ada uang buat daftarin aku masuk Pondok nggak? Kan aku dengar masuk Pondok itu mahal, belum lagi harga buku dan kitab-kitabnya yang harus dibeli.”
“Tenang saja kamu nak, jangan pikirkan itu, itu tugas Ayah untuk nafkahin kamu lahir batin, kamu persiapkan dirimu saja untuk masuk Pondok. Lagian di Pondok itu cuma daftarnya saja yang terhitung mahal. Padahal kalau dihitung-hitung biaya di Pondok itu sangat lebih murah dari pada biaya teman-teman kamu yang sekolah di luar Pondok.” Jawab sang Ayah untuk menentramkan hati Umam.
“Kok bisa gitu yah?” Tanya Umam dengan nada bingung,
“Karena kalau di luar itu mereka butuh biaya transportasi, butuh uang jajan yang lumayan banyak dari pada kamu karena mereka capek di perjalanan. Belum lagi kalau ada yang pacaran, banyak menghabiskan uang tuh. Sedangkan kamu, paling biaya makan sebulan sama gajih guru yang relatif murah, karena keikhlasan mereka yang sangat tulus. Para santri dijaga dalam 24 jam baik dalam keadaan sadar/bangun ataupun tidur. Mana ada guru yang siap seperti itu nak, hanya sedikit dan yang pasti kamu dapat banyak ilmu agama serta tidak berpacaran.” Jawab Ayahnya Umam.
Tiba-tiba Umam berkata kepada Ayahnya sambil menyerahkan uang dari hasil tabungannya. “Ayah, ini ada tabunganku hasil dari cari ikan yang kemaren-kemaren, ambil ya yah, buat biaya pembayaranku nanti untuk daftar masuk Pondok Pesantren.”
Ayahnya pun mengambil duit tabungan tersebut dan hanya bisa memberikan senyuman kepada anaknya, karena hanya senyumanlah yang bisa Ayahnya berikan kepada Umam dan memang Ayahnya belum ada uang buat biaya sekolahnya, bahkan sebagian pembayaran terpaksa berhutang, karena duit tabungannya tidak mencukupi.
“Semoga urusan kita selalu dimudahkan oleh Allah ya nak dan selalu didekatkan dengan rezeki yang halal, maafkan Ayah yang kurang pandai membahagiakanmu nak.” Sang Ayah memberikan senyuman kepada Umam sambil meneteskan air matanya.
“Aamiinn. Nggak Ayah, saya sudah sangat bersyukur mempunyai Ayah, Ayah selalu berusaha menafkahi kami tanpa menyerah, tanpa mengenal lelah, selalu semangat dan istiqomah.” Jawab Umam sambil memeluk Ayahnya.
Tiga hari sebelum penutupan pendaftaran untuk masuk Pondok Pesantren, Umam, Ayahnya dan adiknya Budi berencana untuk berangkat ke Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah. Pondok tersebut adalah salah satu dari antara Pondok Alumni Gontor. Sedangkan Ibunya dan adiknya yang  paling kecil yaitu Shasa tidak bisa ikut karena Ibunya Umam lagi sakit demam. Sebelum keberangkatan Umam menuju Pondok Pesantren, dia pergi ke pasar untuk membelikan obat Ibunya. Setelah obat Ibunya terbeli, ketika perjalanannya pulang ke rumah, Umam yang menaiki sepeda diganggu oleh anak jalanan sehingga dia terjatuh dari sepeda dan kemudian anak jalanan tadi pun kabur.
Ketika Umam sampai di rumah, dia mendapati Ayahnya sedang terdampar di atas kursi dengan muka lesu. “Ayah kenapa?” Tanya Umam, “Tadi ada orang datang yang menagih uang bulanan listrik, terpaksa ayah memakai uang biaya pendaftaran kamu untuk membayarnya.” Ucap Ayahnya yang sedang bersedih.
Dengan kejadian yang dialami oleh dirinya dan keluarganya, terbenak dalam pikiran Umam bahwa ‘Untuk menjadi seorang muslim itu harus kuat, kuat dalam keilmuannya, kuat dalam hartanya, dan kuat dalam fisik ataupun mental yang dengan demikian dia bisa membantu keluarganya, menolong orang lain atau dirinya sendiri’. Benar sabda Rasulullah yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah.” (Hadits Riwayat Muslim)
Umam dan Ayahnya pun kebingungan untuk biaya pendaftaran Umam masuk Pondok Pesantren. Ingat rizki Allah terkadang datang secara tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka. Sebelum keberangkatan Umam dan dalam kebingungannya akan masalah biaya, datanglah Bapak Kepala Sekolahnya (SD) ke rumah Umam.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk Pak.” Jawab Umam dan Ayahnya bersamaan, Ayahnya umam pun langsung menyuruh masuk dan duduk, kemudian menyuruh Umam membuatkan teh untuk Bapak Sekolahnya.
“Pak, kapan nak Umam berangkat ke Pondok?” Tanya Bapak Kepala Sekolah.
“Nih sebentar lagi kami mau berangkat.” Jawab Ayahnya Umam.
“Alhamdulillah, kebetulan dan masih sempat. Ini saya mau ngasih Umam uang ala kadarnya untuk biayanya mondok di Pesantren.” Ucap Bapak Kepala Sekolah sambil mengasihkan amplop tebal yang berisikan uang.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Pak dan atas nama Umam kami terima.” Ucap ayahnya, Umam pun juga ikut berterima kasih, “Terima kasih Pak, sudah membantu Umam.”
“Iya, sama-sama Umam, terima kasih juga mau menerima pemberian Bapak. Saya mau pamit dulu, mau ngajar.”
Setelah amplop tersebut dibuka oleh Umam dan ayahnya, ternyata berisikan uang sebanyak lima juta rupiah.
“Alhamdulillah, Allah maha penolong bagi hamba-hambanya yang berjalan dalam kebaikan. Umam, iniliah bukti Allah dalam mempermudah kamu menuntut ilmu” ucap Ayahnya Umam.
Sebelum berangkat dan menginjakkan kakinya, sang Ibu memberikan nasehat kepada Umam, “Nak, bersungguh-sungguhlah kamu dalam belajar dan jangan patah semangat. Kamulah yang akan menjadi panutan bagi adik-adikmu kelak.” Yang kemudian disusul oleh pamannya Rudi dengan berpesan, “Ingat nasehat Ibumu dan tunggu kedatangan Paman di pondok.”
“Iya, saya akan rajin dalam belajar Ma, dan akan saya tunggu kedatangan Paman ke Pondok.” Jawab Umam.
Umam, Ayahnya dan adik Budi pun berangkat serta bersalaman kepada Ibunya, Paman Rudi dan adiknya Shasa. Mereka berangkat menaiki mobil angkutan yang kurang lebih memakan waktu empat jam dalam perjalan dari rumah ke Pondok. Alhamdulillah, si sopir mengetahui tempat Pondok yang mau mereka tuju, tapi sungguh sayang, mobil angkutan yang mereka tumpangi tidak bisa mengantarkan mereka sampai Pondok. Mobil tersebut berhenti di tengah jalan. Pak sopir hanya menunjukkan arah jalan yang harus mereka tuju, karena jalan yang akan mereka tempuh memang tidak bisa dilewati pakai mobil, tapi hanya bisa dilewati oleh sepeda motor. Akhirnya, mereka pun memanggil ojek untuk mengantarkan ke Pondok.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menaiki sepeda motor, ternyata keberadaan Pondok tersebut jauh di dalam hutan. Jalannya sempit, sepi, seram dan banyak anjing hutan lagi. Sampai-sampai di tengah perjalanan Umam beserta Ayah dan adiknya Budi yang sedang menaiki sepeda motor harus berhenti, karena ada seekor babi hutan sedang berlari menyeberangi jalan yang mereka lewati.
“Awas, ada sapi di depan!” teriak Umam menyuruh sopir untuk menghentikan sepeda motor yang mereka tumpangi.
“Itu bukan sapi Umam, tapi babi hutan.” Si sopir nyelak Umam.
“Apa! Babi segitu gede banget.”
“Iya Umam, salah satu ciri babi itu kalau berlari kencang dan lurus. Makanya kalau kamu dikejar babi, kamu harus membelokkan arah, jangan lari lurus dan kalau lurus kamu pasti kalah” Ucap Ayah Umam.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka memasuki hutan yang kurang lebih satu jam lamanya. Tidak ada bangunan rumah yang ada hanyalah pohon rindang untuk dipandang. Keadaan yang sepi membuatnya merasa sendiri, seakan-akan sudah tau bagaimana rasanya berpisah dari keluarga, sehingga niat dan semangatnya masuk Pondok pun berkurang drastis.
Setelah perjalan yang lumayan panjang, tibalah mereka di depan Pondok yang keadaaanya masih lumayan sepi, disebabkan para santrinya masih berlibur dan yang ada hanya para Asatidz, kakak senior dari kelas enam dan sebagian santri lain yang memilih untuk berlibur di Pondok.
Para kelas enam tidak dibolehkan untuk berlibur karena mempunyai tugas untuk menerima dan mendampingi santri-santri baru.
Melihat keadaan yang sepi, santri-santri baru yang masih lugu karena berpisah dari orang tua dan sebagian di antaranya ada yang menangis, seketika itu pula perasaan dan pikiran Umam kacau.
“Ayah, aku nggak jadi mondok, aku nggak mau pisah sama Ayah, Mama dan adik-adikku, pokoknya aku mau pulang dan sekolah di kampung halaman saja, biar bisa pulang tiap hari dan aku juga bisa kerja dan membantu Ayah.”
Sang Ayah yang seakan-akan tidak kuat untuk melepas dan meninggalkan buah hatinya di Pondok, apalagi setelah mendengar permintaan sang anak tadi. Si Budi hanya diam dan mukanya kelihatan sedih. Tapi demi kebaikan dan masa depan Umam, Ayahnya berusaha dengan bermacam alasan untuk merayu anaknya, agar dia mau tinggal  dan belajar di Pondok Pesantren yang terdapat di tengah-tengah hutan rimba, sepi, tenang, damai dan sejuk itu.
“Umam, kamu harus perbaiki niatmu, tujuan kamu ke sini untuk belajar dan mondok, bukan untuk jalan-jalan melihat keadaan Pondok. Lagian kita sudah pergi jauh meninggalkan rumah, masa kamu ingin berhenti di tengah jalan?” nasehat Ayahnya.
Umam terpaksa menerima permintaan Ayahnya, karena takut Ayah dan Ibunya kecewa kepadanya yang sudah mencarikan uang serta mengantarnya ke Pondok.
Mulailah mereka mengurus pendaftaran masuk Pondok setelah satu jam berkeliling melihat keadaan Pondok. Satu demi satu syarat pendaftaran masuk Pondok telah diselesaikan oleh sang Ayah, baik itu masalah administrasi yang mencakup uang makan dan jaminan kesehatan selama satu tahun, baju seragam, dan buku untuk belajar.
Setelah selesai dari mengurus pendaftaran sang Ayah dan adiknya Umam pun beranjak pamit. Seketika itu Umam langsung memegang tangan Ayahnya seraya menahan dan ingin menunda kepulangan Ayahnya ke rumah, agar setidaknya bisa menemaninya untuk satu hari saja.
“Kenapa nak? Ayah harus pulang.”
“Aku mau Ayah temani aku di Pondok satu hari aja.”
“Nak, Mamamu lagi sakit nak, dan hanya ada adik Shasa yang menemani Mamamu di rumah. Adik kamu Shasa juga masih kecil dan tidak bisa apa-apa, nanti siapa yang menemani dan merawat Mamamu di rumah selain Ayah? Lagian adik kamu Budi besok juga harus memulai sekolahnya di SD, Kamu sayang kan sama adik-adik dan Mamamu?”
“Iya, dan aku juga sayang sama Ayah.” jawabnya tersedu-sedu sambil meneteskan air mata, karena hanya dalam hitungan detik dia akan berpisah dengan Ayahnya untuk sementara dia mondokdi Pesantren.
Ayahnya langsung memanggil ojek untuk mengantarkan beliau keluar dari hutan yang di dalamnya terdapat kumpulan para santri penuntut ilmu agama tersebut. Umam hanya bisa melambaikan tangannya sebagai pengantar kepulangan sang Ayah ke rumah. Begitu juga sebaliknya, Ayah dan adiknya Budi juga melambaikan tangan mereka dengan senyuman yang di dalamnya terdapat kesedihan tanpa air mata, atas pelepasan anaknya yang paling tua untuk tinggal di Pondok Pesantren.
Di dalam moment tersebut, kuteringat sebagian lirik lagu stinky yang berjudul “mungkinkah” yang isinya begini:
“Lambaian tanganmu… iringi langkahku…. terbesit Tanya di hatiku…
Akankah dirimu….kan tetap milikku… saat kembali di pelukanku…
Begitu beratnya…kau lepas diriku…sebut namaku jika kau rindukan aku…
Aku akan datang….mungkinkah...Kita kan slalu bersama terbentang jarak antara kita…
Biarkan…kupeluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku…”
Dan siapa sangka, ternyata sang Ayah pun juga menangis setelah mereka (Ayah dan adiknya) hilang dan lenyap dari pandangan mata, bahkan di perjalan naik mobil angkutan sampai rumah yang kurang lebih empat jam lamanya dalam perjalanan sang Ayah selalu meneteskan air mata, tanpa memperhatikan bahwa di sekelilingnya banyak orang dalam mobil angkutan tersebut yang beliau naiki. Adiknya Budi bertanya kepada Ayahnya:
“Ayah kenapa menangis?”
 “Nggak papa nak, Ayah Cuma sayang sama kakakmu, kamu, adikmu Shasa dan Mamamu. Kita berdo’a yaaa, untuk kesuksesan kakakmu Umam di Pondok.” Jawab Ayahnya.
Kabar tersebut, bahwa Ayahnya menangis selama perjalanan karena meninggalkannya, itu juga baru diketahui oleh Umam dari Ibunya setelah setahun lamanya dia di Pondok, yaitu semasa pulang di masa liburan.
“Ayahmu datang sampai rumah mata beliau merah, setelah kutanya ternyata Ayahmu tidak kuat meninggalkanmu di Pondok nak. Ayahmu Cuma bisa menahannya dengan tangisan dan do’a untuk kesuksesanmu di Pondok.” Ucap Ibunya Umam.
Memang lagi dulu Umam terpaksa masuk Pondok disebabkan takut kena marah dari Ayah dan Ibunya, takut membuat mereka kecewa. Kalau mereka marah, Umam sangat takut kepada tuhan yang maha kuasa itu (Allah) murka terhadapnya, karena sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra’: 23)
Dan setelah dijalani selama beberapa hari, Umam berusaha untuk ikhlas, mencoba mengerti maksud dan tujuan orang tuanya untuk memasukkannya ke Pondok, karena dia yakin tidak ada orang tua yang mau meninggalkan anaknya begitu saja tanpa alasan dan tujuan. Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari mereka, menginginkan anaknya shaleh dan shalehah yang bisa merawat mereka dengan baik, bisa mendo’akan mereka di saat tiada. Sesungguhnya bahwa di setiap do’a anak yang shaleh dan shalehah pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
Jika meninggal anak cucu Adam, maka terputus amalnya kecuala tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (Hadist Riwayat Muslim)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar