Bagian 2: Kelulusan SD
Hari demi hari telah Umam lewati
layaknya orang dewasa, yaitu dengan mencari ikan, bertani dan berdagang. Tidak terasa
dia pun sudah duduk di kelas enam SD. Pada suatu hari, sekolahnya diundang mengikuti
acara perkemahan sekabupaten yang pesertanya terdiri dari siswa yang minimalnya
kelas enam SD, SMP, dan maksimalnya SMA atau yang setara dengan sekolah-sekolah
tersebut.
Dan siapa sangka Umam seorang
nelayan bisa menjadi utusan untuk mengikuti lomba hafalan Juz ‘Amma. Mungkin
para pembaca bingung, dari mana dia bisa membaca Al-Qur’an? Di sinilah bukti
orang tua yang penuh kasih kepada anaknya, tidak hanya membiarkan anaknya
begitu saja, mereka juga memperhatikan masa depan anaknya bahkan untuk akhirat
kelak. Umam belajar membaca Al-Qur’an dari Ayah dan Ibunya. Kedua orang tuanya
sangat sayang kepada anak-anaknya dan memperhatikan pendidikan anak-anak mereka.
Umam bertanya pada dirinya sendiri,
atas dasar apa sang guru memilihnya? Alasan apa sehingga dia yang harus menjadi
perwakilan dari sekolahnya? Atau apa penyebab dia menjadi peserta lomba
menghafal Juz ‘Amma?
Ternyata gurunya tiba-tiba
memberikan jawab sebelum Umam bertanya ke beliau tentang pertanyaannya dalam
hati tadi. Wali kelasnya mengatakan kepada Umam bahwa bacaan Umam lumayan fasih
dari temen-temen cowok yang lain dan hafalannya juga lumayan bagus, maka dari
itulah dia terpilih untuk menjadi utusan dari sekolahnya.
“Umam, saya memilihmu dari kalangan
pria untuk mengikuti lomba hafalan Juz ‘Amma yang tentunya sebagai perwakilan
dari sekolah kita, karena bacaanmu fasih dan hafalanmu juga lebih bagus dari
teman-temanmu cowok yang lain. Sedangkan dari wanitanya kami pilih Azkia, dia
juga sama sepertimu, bacaan dan hafalannya juga bagus. Semoga kalian berdua
bisa membawa nama baik sekolah kita” ucap Bapak Kepala Sekolah.
“Aamiin, saya akan berusaha semampu
saya Pak untuk memberikan yang terbaik kepada sekolah ini.” Jawab umam penuh
keyakinan.
Hari perlombaan pun telah tiba, dan dia
juga sudah dipapar oleh kedua orang tuanya, baik dalam kefasihan dalam membaca Al-Qur’an
ataupun dari segi hafalan Juz ‘Amma. Tentu, yang demikian tidak mengganggu aktivitasnya
sebagai pelajar dan nelayan.
Sebelum naik panggung perlombaan dia
juga dicoba bacaan Al-Qur’annya, dilatih dan disimak oleh guru dan wali
kelasnya sendiri. Namun, meski dilatih dan dipapar selama seminggu oleh orang
tua, rasa gugup juga masih ada, semakin lama menunggu semakin bergetar detak
jantungnya, tapi keberanian untuk maju juga membara.
Dengan membaca bismillah dia mulai
menaiki panggung dan rasa gugup pun mulai hilang, sehingga ketika membaca dan
menghafal hati terasa tenang dan nyaman. Dia nikmati dan dia hayati bacaan Al-Qur’annya,
dia jawab semua pertanyaan yang keluar dari mulut para penguji, yang
Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa hari berkemah, hari
penutupan perkemahan pun tiba, acara tersebut diisi dengan upacara Api Unggun
dan pengumuman hasil perlombaan selama perkemahan.
Walhamdulillah, siapa sangka dia
seorang nelayan bisa memenangkan lomba tersebut dengan juara satu dari kalangan
putra, dan temannya yang utusan dari wanita yaitu Azkia menduduki juara tiga
dari kalangan putri. Mereka dipanggil maju ke atas panggung untuk mengambil hadiah,
piagam penghargaan, Piala dan yang lainnya sebagai hadiah atas kesuksesan mereka.
Teman-teman pun turut bahagia atas kemenangan mereka dalam mengikuti lomba
tersebut. Setelah selesai acara, Piala dan Sertifikat yang mereka dapat diminta
oleh bapak kepala sekolah sebagai bukti bahwa sekolah kami memenangkan
perlombaan dan tentunya akan menjadi sebuah kenangan untuk diingat, bahwa dia
dan temannya Azkia memenangkan lomba tersebut.
“Nak Umam dan Azkia, Piala dan
Sertifikat yang kalian dapat kita jadikan inventaris sekolah yaa?”
“Owh iya ini Pak.” Umam dan Azkia
menyerakan Piagan dan Sertifikatnya.
Sebulan kemudian tidak terasa sudah mulai
memasuki ujian akhir tahun, Umam menghadapi ujiannya dengan gigih dan semangat.
Sambil mencari ikan, terkadang dia duduk santai membaca buku di atas perahu
kecilnya.
Setelah melewati ujian tersebut dia
diminta lagi oleh wali kelas, untuk menjadi utusan dari siswa akhir dalam
menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai Salam Perpisahan. Yang isinya tertulis
begini:
“Teman-teman dan adik-adik kelasku
seperjuangan, di setiap pagi hingga siang hari kita belajar dan bermain bersama
telah terlewati. Para guru-guru yang telah mendidik kami dengan ikhlas tanpa
mengenal lelah. Terima kasih, telah mengajarkan kami huruf demi huruf mengubahnya
menjadi kata yang indah. Mengajarkan kami Matematika sehingga pandai dalam berhitung, Olah Raga
untuk kesehatan kami. Mendidik kami sehingga kami bisa berakhlak karimah, bisa
membedakan mana yang hak dan mana yang batil, serta didikan dan ajaran yang
lainnya. Wahai para guru-guru kami, kami sebagai kelas akhir memohon maaf atas
segala kenakalan dan kekurangan kami dalam belajar, membuat emosi kalian labil,
namun kalian hadapi kami dengan penuh kesabaran dan tabah.
Dan untuk adik-adik kelas kami,
contohlah kami dalam segi kebaikan serta abaikan dan lupakanlah dari perbuatan
yang jelek atau tidak layak untuk dicontoh. Yang terakhir, hanya permohonan
do’alah kepada guru-guru, adik-adik kelas, dan seluruh para hadirin untuk kami
dalam menempuh perjalan ke depan yang penuh liku dan jurang, do’akanlah untuk
kesuksesan kami, dan insya Allah kami tidak akan lupa untuk mendo’akan
guru-guru kami yang tegas dan penuh wibawa, adik-adik kelas seperjuangan, para
hadirin dan seluruh ummat muslim semuanya. Do’a kalian menyertai kami.”
|
Kalau tidak ingin merasakan pahitnya perpisahan, maka
hindarilah pertemuan.
|
Banyak di antara teman-temannya yang
ingin melanjutkan ke sekolah umum negri, baik itu MTS ataupun SMP, dan dia pun
juga berniat sama untuk melanjutkan ke SMP atau MTS, namun keadaan berkata
lain, kedua orang tuanya menginginkan dia untuk mondok di Pesantren Darul
Hijrah.
Awalnya Umam tidak terima dan tidak
mau masuk Pondok. Akan tetapi Ayah dan Ibunya selalu merayu dan membujuknya
untuk masuk Pondok Pesantren.
“Nak, kamu mau jadi orang yang
pintar agama nggak?” Tanya Ayah umam.
“Iya.”
“kamu mau jadi Ustadz yang seperti Ustadz
lainnya, pintar ceramah, disayang orang dan dihormati masyarakat?” ditanya lagi
oleh Ibunya Umam.
“Iya.”
“Makanya kamu harus mondok.” Ucap
Ayah dan Ibunya serentak.
“Kata orang di Pondok itu makannya
ikan asin mulu, atau sambel sama kerupuk. Terus juga disiplinnya ketat, kalau
melanggar disiplin ada hukumannya terkadang dibotak, disuruh lari keliling
lapangan, disuruh ngehafalin ini dan itulah, dan juga aku nggak bisa kumpul
sama Ayah, Ibu, adik-adik dan keluarga yang lainnya, kan aku jadi sedih Ma,
Yah.” Keluh kesah yang diutarakan oleh Umam kepada kedua Orang Tuanya.
Ibunya pun menyemengati seraya bilang
kepadanya: “anakku sayang, kamu kalau berbuat salah pasti dapat hukuman, kalau
orang nggak tau tapi Allah maha tau dan azabNya sangatlah pedih. Kamu menjadi nelayan
dan pintar berenang itu cuma sedikit lho yang bisa, dan orang-orang pasti iri
sama kamu. Ingat seorang nelayan yang handal sudah terbiasa berhadapan dengan
gelombang yang besar. Nah, sekarang kamu mau jadi orang yang biasa-biasa saja,
atau mau jadi orang yang luar biasa? Pintar dalam mencari rezeki, pintar dalam
ilmu keagamaan, pintar dalam bergaul, dan pintar dalam segala hal yang lainnya.”
Wew, perkataan sang Ibu membakar
semangat anaknya yang lagi bimbang, Umam pun langsung bertekad dan siap untuk
masuk Pondok Pesantren. Umam mempunyai keinginan menjadi orang baik, ingin
mengabdi kepada masyarakat, ingin berguna bagi nusa dan bangsa, dan tentunya
dia ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Namun, selalu ada saja kerikil kehidupan
yang mengganggu keyakinan dan membuatnya gelisah. Melihat keadaan finansial
keluarga yang kurang memungkinkan, Umam pun bertanya kepada Ayah dan Ibunya, “Ayah
dan Mama ada uang buat daftarin aku masuk Pondok nggak? Kan aku dengar masuk Pondok
itu mahal, belum lagi harga buku dan kitab-kitabnya yang harus dibeli.”
“Tenang saja kamu nak, jangan
pikirkan itu, itu tugas Ayah untuk nafkahin kamu lahir batin, kamu persiapkan
dirimu saja untuk masuk Pondok. Lagian di Pondok itu cuma daftarnya saja yang terhitung
mahal. Padahal kalau dihitung-hitung biaya di Pondok itu sangat lebih murah
dari pada biaya teman-teman kamu yang sekolah di luar Pondok.” Jawab sang Ayah
untuk menentramkan hati Umam.
“Kok bisa gitu yah?” Tanya Umam
dengan nada bingung,
“Karena kalau di luar itu mereka
butuh biaya transportasi, butuh uang jajan yang lumayan banyak dari pada kamu
karena mereka capek di perjalanan. Belum lagi kalau ada yang pacaran, banyak
menghabiskan uang tuh. Sedangkan kamu, paling biaya makan sebulan sama gajih
guru yang relatif murah, karena keikhlasan mereka yang sangat tulus. Para
santri dijaga dalam 24 jam baik dalam keadaan sadar/bangun ataupun tidur. Mana
ada guru yang siap seperti itu nak, hanya sedikit dan yang pasti kamu dapat
banyak ilmu agama serta tidak berpacaran.” Jawab Ayahnya Umam.
Tiba-tiba Umam berkata kepada Ayahnya
sambil menyerahkan uang dari hasil tabungannya. “Ayah, ini ada tabunganku hasil
dari cari ikan yang kemaren-kemaren, ambil ya yah, buat biaya pembayaranku
nanti untuk daftar masuk Pondok Pesantren.”
Ayahnya pun mengambil duit tabungan
tersebut dan hanya bisa memberikan senyuman kepada anaknya, karena hanya
senyumanlah yang bisa Ayahnya berikan kepada Umam dan memang Ayahnya belum ada
uang buat biaya sekolahnya, bahkan sebagian pembayaran terpaksa berhutang,
karena duit tabungannya tidak mencukupi.
“Semoga urusan kita selalu
dimudahkan oleh Allah ya nak dan selalu didekatkan dengan rezeki yang halal,
maafkan Ayah yang kurang pandai membahagiakanmu nak.” Sang Ayah memberikan
senyuman kepada Umam sambil meneteskan air matanya.
“Aamiinn. Nggak Ayah, saya sudah
sangat bersyukur mempunyai Ayah, Ayah selalu berusaha menafkahi kami tanpa
menyerah, tanpa mengenal lelah, selalu semangat dan istiqomah.” Jawab Umam
sambil memeluk Ayahnya.
Tiga hari sebelum penutupan
pendaftaran untuk masuk Pondok Pesantren, Umam, Ayahnya dan adiknya Budi berencana
untuk berangkat ke Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah. Pondok tersebut adalah
salah satu dari antara Pondok Alumni Gontor. Sedangkan Ibunya dan adiknya
yang paling kecil yaitu Shasa tidak bisa
ikut karena Ibunya Umam lagi sakit demam. Sebelum keberangkatan Umam menuju
Pondok Pesantren, dia pergi ke pasar untuk membelikan obat Ibunya. Setelah obat
Ibunya terbeli, ketika perjalanannya pulang ke rumah, Umam yang menaiki sepeda
diganggu oleh anak jalanan sehingga dia terjatuh dari sepeda dan kemudian anak
jalanan tadi pun kabur.
Ketika Umam sampai di rumah, dia
mendapati Ayahnya sedang terdampar di atas kursi dengan muka lesu. “Ayah
kenapa?” Tanya Umam, “Tadi ada orang datang yang menagih uang bulanan listrik,
terpaksa ayah memakai uang biaya pendaftaran kamu untuk membayarnya.” Ucap
Ayahnya yang sedang bersedih.
Dengan kejadian yang dialami oleh dirinya
dan keluarganya, terbenak dalam pikiran Umam bahwa ‘Untuk menjadi seorang
muslim itu harus kuat, kuat dalam keilmuannya, kuat dalam hartanya, dan kuat
dalam fisik ataupun mental yang dengan demikian dia bisa membantu keluarganya,
menolong orang lain atau dirinya sendiri’. Benar sabda Rasulullah yang artinya:
“Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah.” (Hadits
Riwayat Muslim)
Umam dan Ayahnya pun kebingungan
untuk biaya pendaftaran Umam masuk Pondok Pesantren. Ingat rizki Allah
terkadang datang secara tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka. Sebelum
keberangkatan Umam dan dalam kebingungannya akan masalah biaya, datanglah Bapak
Kepala Sekolahnya (SD) ke rumah Umam.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk Pak.”
Jawab Umam dan Ayahnya bersamaan, Ayahnya umam pun langsung menyuruh masuk dan duduk,
kemudian menyuruh Umam membuatkan teh untuk Bapak Sekolahnya.
“Pak, kapan nak Umam berangkat ke
Pondok?” Tanya Bapak Kepala Sekolah.
“Nih sebentar lagi kami mau
berangkat.” Jawab Ayahnya Umam.
“Alhamdulillah, kebetulan dan masih
sempat. Ini saya mau ngasih Umam uang ala kadarnya untuk biayanya mondok di
Pesantren.” Ucap Bapak Kepala Sekolah sambil mengasihkan amplop tebal yang
berisikan uang.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Pak
dan atas nama Umam kami terima.” Ucap ayahnya, Umam pun juga ikut berterima
kasih, “Terima kasih Pak, sudah membantu Umam.”
“Iya, sama-sama Umam, terima kasih
juga mau menerima pemberian Bapak. Saya mau pamit dulu, mau ngajar.”
Setelah amplop tersebut dibuka oleh
Umam dan ayahnya, ternyata berisikan uang sebanyak lima juta rupiah.
“Alhamdulillah, Allah maha penolong
bagi hamba-hambanya yang berjalan dalam kebaikan. Umam, iniliah bukti Allah
dalam mempermudah kamu menuntut ilmu” ucap Ayahnya Umam.
Sebelum berangkat dan menginjakkan
kakinya, sang Ibu memberikan nasehat kepada Umam, “Nak, bersungguh-sungguhlah
kamu dalam belajar dan jangan patah semangat. Kamulah yang akan menjadi panutan
bagi adik-adikmu kelak.” Yang kemudian disusul oleh pamannya Rudi dengan
berpesan, “Ingat nasehat Ibumu dan tunggu kedatangan Paman di pondok.”
“Iya, saya akan rajin dalam belajar
Ma, dan akan saya tunggu kedatangan Paman ke Pondok.” Jawab Umam.
Umam, Ayahnya dan adik Budi pun
berangkat serta bersalaman kepada Ibunya, Paman Rudi dan adiknya Shasa. Mereka berangkat
menaiki mobil angkutan yang kurang lebih memakan waktu empat jam dalam perjalan
dari rumah ke Pondok. Alhamdulillah, si sopir mengetahui tempat Pondok yang mau
mereka tuju, tapi sungguh sayang, mobil angkutan yang mereka tumpangi tidak
bisa mengantarkan mereka sampai Pondok. Mobil tersebut berhenti di tengah jalan.
Pak sopir hanya menunjukkan arah jalan yang harus mereka tuju, karena jalan
yang akan mereka tempuh memang tidak bisa dilewati pakai mobil, tapi hanya bisa
dilewati oleh sepeda motor. Akhirnya, mereka pun memanggil ojek untuk
mengantarkan ke Pondok.
Setelah kurang lebih satu jam
perjalanan menaiki sepeda motor, ternyata keberadaan Pondok tersebut jauh di
dalam hutan. Jalannya sempit, sepi, seram dan banyak anjing hutan lagi. Sampai-sampai
di tengah perjalanan Umam beserta Ayah dan adiknya Budi yang sedang menaiki
sepeda motor harus berhenti, karena ada seekor babi hutan sedang berlari
menyeberangi jalan yang mereka lewati.
“Awas, ada sapi di depan!” teriak
Umam menyuruh sopir untuk menghentikan sepeda motor yang mereka tumpangi.
“Itu bukan sapi Umam, tapi babi
hutan.” Si sopir nyelak Umam.
“Apa! Babi segitu gede banget.”
“Iya Umam, salah satu ciri babi itu
kalau berlari kencang dan lurus. Makanya kalau kamu dikejar babi, kamu harus
membelokkan arah, jangan lari lurus dan kalau lurus kamu pasti kalah” Ucap Ayah
Umam.
Mereka pun melanjutkan perjalanan
mereka memasuki hutan yang kurang lebih satu jam lamanya. Tidak ada bangunan
rumah yang ada hanyalah pohon rindang untuk dipandang. Keadaan yang sepi membuatnya
merasa sendiri, seakan-akan sudah tau bagaimana rasanya berpisah dari keluarga,
sehingga niat dan semangatnya masuk Pondok pun berkurang drastis.
Setelah perjalan yang lumayan
panjang, tibalah mereka di depan Pondok yang keadaaanya masih lumayan sepi, disebabkan
para santrinya masih berlibur dan yang ada hanya para Asatidz, kakak senior
dari kelas enam dan sebagian santri lain yang memilih untuk berlibur di Pondok.
Para kelas enam tidak dibolehkan
untuk berlibur karena mempunyai tugas untuk menerima dan mendampingi
santri-santri baru.
Melihat keadaan yang sepi,
santri-santri baru yang masih lugu karena berpisah dari orang tua dan sebagian di
antaranya ada yang menangis, seketika itu pula perasaan dan pikiran Umam kacau.
“Ayah, aku nggak jadi mondok, aku
nggak mau pisah sama Ayah, Mama dan adik-adikku, pokoknya aku mau pulang dan
sekolah di kampung halaman saja, biar bisa pulang tiap hari dan aku juga bisa
kerja dan membantu Ayah.”
Sang Ayah yang seakan-akan tidak
kuat untuk melepas dan meninggalkan buah hatinya di Pondok, apalagi setelah
mendengar permintaan sang anak tadi. Si Budi hanya diam dan mukanya kelihatan
sedih. Tapi demi kebaikan dan masa depan Umam, Ayahnya berusaha dengan bermacam
alasan untuk merayu anaknya, agar dia mau tinggal dan belajar di Pondok Pesantren yang terdapat
di tengah-tengah hutan rimba, sepi, tenang, damai dan sejuk itu.
“Umam, kamu harus perbaiki niatmu,
tujuan kamu ke sini untuk belajar dan mondok, bukan untuk jalan-jalan melihat
keadaan Pondok. Lagian kita sudah pergi jauh meninggalkan rumah, masa kamu
ingin berhenti di tengah jalan?” nasehat Ayahnya.
Umam terpaksa menerima permintaan Ayahnya,
karena takut Ayah dan Ibunya kecewa kepadanya yang sudah mencarikan uang serta
mengantarnya ke Pondok.
Mulailah mereka mengurus pendaftaran
masuk Pondok setelah satu jam berkeliling melihat keadaan Pondok. Satu demi
satu syarat pendaftaran masuk Pondok telah diselesaikan oleh sang Ayah, baik
itu masalah administrasi yang mencakup uang makan dan jaminan kesehatan selama
satu tahun, baju seragam, dan buku untuk belajar.
Setelah selesai dari mengurus
pendaftaran sang Ayah dan adiknya Umam pun beranjak pamit. Seketika itu Umam
langsung memegang tangan Ayahnya seraya menahan dan ingin menunda kepulangan Ayahnya
ke rumah, agar setidaknya bisa menemaninya untuk satu hari saja.
“Kenapa nak? Ayah harus pulang.”
“Aku mau Ayah temani aku di Pondok
satu hari aja.”
“Nak, Mamamu lagi sakit nak, dan
hanya ada adik Shasa yang menemani Mamamu di rumah. Adik kamu Shasa juga masih
kecil dan tidak bisa apa-apa, nanti siapa yang menemani dan merawat Mamamu di
rumah selain Ayah? Lagian adik kamu Budi besok juga harus memulai sekolahnya di
SD, Kamu sayang kan sama adik-adik dan Mamamu?”
“Iya, dan aku juga sayang sama Ayah.”
jawabnya tersedu-sedu sambil meneteskan air mata, karena hanya dalam hitungan
detik dia akan berpisah dengan Ayahnya untuk sementara dia mondokdi Pesantren.
Ayahnya langsung memanggil ojek
untuk mengantarkan beliau keluar dari hutan yang di dalamnya terdapat kumpulan
para santri penuntut ilmu agama tersebut. Umam hanya bisa melambaikan tangannya
sebagai pengantar kepulangan sang Ayah ke rumah. Begitu juga sebaliknya, Ayah dan
adiknya Budi juga melambaikan tangan mereka dengan senyuman yang di dalamnya terdapat
kesedihan tanpa air mata, atas pelepasan anaknya yang paling tua untuk tinggal di
Pondok Pesantren.
Di dalam moment tersebut, kuteringat
sebagian lirik lagu stinky yang berjudul “mungkinkah” yang isinya begini:
“Lambaian tanganmu… iringi langkahku….
terbesit Tanya di hatiku…
Akankah dirimu….kan tetap milikku…
saat kembali di pelukanku…
Begitu beratnya…kau lepas
diriku…sebut namaku jika kau rindukan aku…
Aku akan datang….mungkinkah...Kita
kan slalu bersama terbentang jarak antara kita…
Biarkan…kupeluk erat bayangmu tuk
melepaskan semua kerinduanku…”
Dan siapa sangka, ternyata sang Ayah
pun juga menangis setelah mereka (Ayah dan adiknya) hilang dan lenyap dari
pandangan mata, bahkan di perjalan naik mobil angkutan sampai rumah yang kurang
lebih empat jam lamanya dalam perjalanan sang Ayah selalu meneteskan air mata,
tanpa memperhatikan bahwa di sekelilingnya banyak orang dalam mobil angkutan
tersebut yang beliau naiki. Adiknya Budi bertanya kepada Ayahnya:
“Ayah kenapa menangis?”
“Nggak papa nak, Ayah Cuma sayang sama
kakakmu, kamu, adikmu Shasa dan Mamamu. Kita berdo’a yaaa, untuk kesuksesan
kakakmu Umam di Pondok.” Jawab Ayahnya.
Kabar tersebut, bahwa Ayahnya
menangis selama perjalanan karena meninggalkannya, itu juga baru diketahui oleh
Umam dari Ibunya setelah setahun lamanya dia di Pondok, yaitu semasa pulang di
masa liburan.
“Ayahmu datang sampai rumah mata
beliau merah, setelah kutanya ternyata Ayahmu tidak kuat meninggalkanmu di
Pondok nak. Ayahmu Cuma bisa menahannya dengan tangisan dan do’a untuk
kesuksesanmu di Pondok.” Ucap Ibunya Umam.
Memang lagi dulu Umam terpaksa masuk
Pondok disebabkan takut kena marah dari Ayah dan Ibunya, takut membuat mereka
kecewa. Kalau mereka marah, Umam sangat takut kepada tuhan yang maha kuasa itu
(Allah) murka terhadapnya, karena sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang
artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia.” (Al-Isra’: 23)
Dan setelah dijalani selama beberapa
hari, Umam berusaha untuk ikhlas, mencoba mengerti maksud dan tujuan orang tuanya
untuk memasukkannya ke Pondok, karena dia yakin tidak ada orang tua yang mau
meninggalkan anaknya begitu saja tanpa alasan dan tujuan. Setiap orang tua
selalu menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari mereka, menginginkan
anaknya shaleh dan shalehah yang bisa merawat mereka dengan baik, bisa mendo’akan
mereka di saat tiada. Sesungguhnya bahwa di setiap do’a anak yang shaleh dan
shalehah pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Jika meninggal anak cucu Adam, maka terputus amalnya
kecuala tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh
yang mendoakan kedua orang tuanya.” (Hadist Riwayat Muslim)
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar