Monday, April 13, 2015

Nelayan Cilik



Bagian 1: Nelayan Cilik
Perlu diketahui dan diingat, dia adalah seorang nelayan, seorang santri, seorang pedagang dan juga seorang Ustadz yang berasal dari Kalimantan. Dia mulai menduduki dan menekuni profesi sebagai nelayan itu sejak duduk di kelas 2 SD. Profesi ini adalah caranya untuk membantu keluarganya, yaitu menemani Ayahnya mencari ikan. Ya, namanya juga nelayan kerjaan tiap hari adalah menaiki perahu sambil mencari ikan, baik itu dengan memakai jala ataupun dengan alat yang lainnya. Tapi jangan sekali-kali remehkan dia, walaupun sekecil itu dia juga sudah pandai berenang dan mencari ikan, inilah kelebihan anak kalimantan. Kebanyakan anak Kalimantan itu pandai berenang, pintar mencari ikan dan ahli dalam bertani.  
Waktu mencari ikan sering dia lakukan sesudah shalat shubuh, karena di saat itulah air sedang kemarau dan baginya rezeki sedang pasang alias banjir. Setiap hari sesudah shalat shubuh Ibunya selalu menyiapkan perahu, ember, jala untuk mencari ikan beserta nasi sama lauknya buat sang nelayan tadi dan Ayahnya untuk sarapan. Kebiasaan yang indah itu dilewati bersama Ayah dan Ibunya menjadi kenangan sampai sekarang. Yang demikian menjadi kebiasaan bagi Umam dan Ayahnya sarapan di atas perahu kecil.
Walaupun pekerjaan setiap harinya adalah mencari ikan, dia tetap menjaga kewajibannya kepada Allah sebagai seorang hamba dengan menjaga shalat dan tetap juga belajar, karena baginya berusaha adalah cara untuk mendapatkan rezeki, beribadah untuk mendapatkan ridha ilahi dan belajar untuk memperoleh masa depan yang indah.
Dengan keluarga kehidupan menjadi terasa berwarna, dengan usaha semua masalah menjadi mudah dan dengan ilmu semua yang ada di sekeliling bisa dihadapi dengan baik dan jalan kehidupan pun terarah dengan mudah.  
Walau bagaimanapun kita sebagai hamba Allah harus taat kepadaNya, bagaimana bisa mendapatkan rezeki, kalau kita tidak taat padaNya? Bagaimana bisa memperoleh masa depan yang cerah, kalau maha pemberi murka kepada kita? Dan bagaimana kita mendapatkan ridhaNya sedangkan kita tidak taat kepadaNya?
Maka Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Awal cerita, pada suatu hari tepatnya di waktu sore sesudah shalat ashar, Umam bersama teman-temannya mencari ikan di sungai yang kecil dengan menggunakan jala, setelah dilemparkan jalanya untuk menangkap ikan, dan didiamkan di dalam air sekitar lima menit, yang tali jalanya diikat di perahu dan dia pun terjun ke sungai kecil yang ke dalaman airnya setinggi pinggangnya. Umam mulai menangkap ikan pakai tangannya yang mungil dan mulus tanpa memakai alat, dan dimasukkan tangan mungilnya kelubang tanah yang terdapat di dalam sungai kecil tersebut. Yang istilah menangkap ikan pakai tangan ini dalam bahasa banjarnya MANGGALAU. Entah dari kapan istilah kata GALAU dalam bahasa Indonesia ini muncul, yang kuketahui bahwa menggalau dalam bahasa banjar sudah ada semenjakku sekolah SD, dan kata galau dalam bahasa Indonesia itu muncul sejak aku kuliah. Nggak usah diperdebat, ini hanya sekilas pengetahuan liarku saja.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Umam harus memasukkan tangannya ke lubang tanah di dalam sungai? Karena biasanya ikan gabus atau belut itu bersembunyi dilubang-lubang tanah tersebut. Kenapa harus pakai tangan? Karena jala tidak bisa masuk lubang. Hehe…
Setelah beberapa lubang yang dia masuki dengan jari-jarinya yang lincah itu, akhirnya dia pun menyentuh dan bisa mengira bahwa ada ikan gabus atau belut di dalamnya. Mimik mukanya pun berubah seketika, detak jantungnya bergetar kencang, mungkin peristiwa ini sama rasanya seperti orang yang dilantik atau diangkat jabatan dalam perusahaan memakai nama Ahmad…? Yang setelahnya masih ada tanda Tanya namun orang tersebut sudah kegeeran (gede rasa). Umam masukkan tangannya lebih dalam lagi ke lubang tersebut, sambil memberitahu kepada teman-temannya dengan muka yang cerah dan semangat bahwa dia dapat ikan gabus, padahal belum diketahui kepastiannya.
Setelah dia tangkap dan diangkat dari dalam lubang tanah sungai ke atas untuk diperlihatkan ke teman-temannya sambil berkata: “Alhamdulillah, aku dapat ikan gabus.”
Tapi ada keanehan dari mimik muka teman-temannya, yang seharusnya senang dan bergembira malah menjadi heboh ketakutan, Umam pun kebingungan dengan melihat muka-muka temannya yang panik ketakutan. Akhirnya, teman-temannya yang berlarian alias kabur darinya sambil teriak “ularrrr…” rasa senang, ragu, bimbang yang bercampur aduk pun langsung mengganggunya. ketika melihat kegenggaman tangannya, ternyata di dalam genggamannya itu adalah ular.
Umam sebenarnya tidak menyadari bahwa ditangannya itu ular, karena dia tidak melihat ketangannya akan tetapi pandangannya hanya tertuju keteman-temannya dengan tersenyum. Umam pun juga panik ketakutan, sedangkan teman-temannya yang menyuruhnya untuk melemparkan ular tersebut ke pinggir sungai atau ke tanah biar ular tersebut tidak ada lagi di dalam sungai. Namun karena dia dalam keadaan gugup, panik dan takut terhadap ular tersebut, bukannya dilempar jauh, tapi dia jatuhkan ular tersebut ke sungai tepat berada di depannya sendiri dan dia juga langsung naik perahu yang akhirnya teman-temannya pun pada naik perahu semua karena takut dengan ular.
Setelah satu jam lamanya mereka mencari ikan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan membawa ikan dari hasil pencarian mereka sore itu. Ikan yang diperoleh oleh Umam dia kasihkan ke Ibunya untuk dibersihkan dan sebagiannya dijual. Umam langsung mandi dan bersiap-siap untuk shalat Maghrib berjama’ah yang dilanjutkan membaca Al-Qur’an di rumah bersama Ayah dan Ibunya.
Sudah menjadi rutinitas kehidupannya, bahwa setiap hari sesudah Maghrib sampai Isya dia diwajibkan oleh orang tuanya untuk mengaji/membaca Al-Qur’an, minimal membaca Surat Yasin, Al-Waqi’ah dan Al-Mulk.
Sebagaimana kebiasaannya di setiap pulang dari mencari ikan di pagi hari, dia langsung mandi dan langsung pergi ke sekolah dengan buku-buku serta alat belajar yang telah dia siapkan dan uang jajan yang diberikan oleh Ibunya. Akan tetapi uang yang seharusnya untuk jajan biasanya dia tabung, karena dia sudah sarapan dan masih kenyang serta kuat untuk belajar.
Pada suatu hari, yang seringnya jam istirahat Umam gunakan untuk belajar atau bermain di dalam kelas, dia keluar ruangan dan jalan-jalan di sekitar sekolah. Seketika Umam berhenti melihat orang yang sedang berjualan es dan banyak dari teman-temannya ramai membeli es tersebut. Tapi sungguh kasihan Umam hanya bisa memandang dan menikmatinya tanpa menyentuh apalagi mencicipi es tersebut. Pada waktu itu juga, Ibunya sedang berjalan melewati tempat sekolahnya dan melihat Umam sedang memandang pedagang yang sedang berjualan es tersebut. Diperkirakan sang Ibu melihat Umam bagaikan pohon kering berdiri tegak lurus, mengharap hujan jatuh dari langit untuk menghilangkan beban panasnya matahari. Ibunya menghampiri Umam dan dia pun terkejut karena sang Ibu ada di sampingnya; Ibunya pun memegang bahu sang anak. “Kenapa kamu nak, mau beli es?” Tanya Ibu Umam.
“Enggak Ma,”
Uang jajan yang Mama kasih ke kamu mana? Kalau kamu mau beli es, ya belilah.”
“Uangnya sudah aku tabung Ma”, jawabnya dengan tersenyum.
Sang Ibu yang melihat buah hatinya hanya bisa menikmati es dengan pandangan bukan dari lidah dan bisa meneguknya, tanpa sadarkan diri sang Ibu meneteskan air mata dan langsung membelikan es tersebut. Sang anak pun berterima kasih kepada Ibunya. “Terima kasih Ma, maafkan Umam Ma, uang yang Mama kasih buat jajan malah Umam tabung, karena Umam masih kenyang.” sambil dia peluk Ibunya yang tersayang.
“Nggak papa nak, semoga kamu kelak menjadi orang yang selalu dibahagiakan oleh Allah,”
“Aamiin.”
Selain berprofesi sebagi nelayan, dia juga terkadang menjadi pedangang, kalau hasil dari mencari ikan banyak, maka ikan-ikan tersebut sebagian untuk dimakan dan sisanya untuk dijual. Uangnya pun ditabung oleh Umam untuk hari raya agar bisa beli baju baru atau terkadang dia kasihkan ke orang tuanya untuk menutupi segala kekurangan yang dibutuhkan dalam keluarganya.
Umam juga pernah berusaha ternak bebek, pernah beternak ayam, dan juga pernah bertani. Sebenarnya semua itu bukan pernah lagi sih, tapi memang sudah menjadi pekerjaan tiap harinya. Yaa tergantung musim.
Kalau musim bertani, dia bantu Ayahnya bertani, baik itu berupa memotong rumput, menyiram tanaman, dan pekerjaan lainnya yang harus dilakukan oleh seorang petani. Mungkin ada yang bertanya, kenapa sang penulis harus menyebut namanya nelayan cilik? Karena masa kecilnya lebih sering mencari ikan dari pada bertani atau berdagang.
Keahlian Umam dalam mencari ikan tidak hanya pakai jala atau alat pancing ikan (Joran/Gandar), dia juga pintar memakai sumpit atau tombak untuk mencari ikan. Keahlian Umam dalam menombak ikan diajarkan oleh Ayahnya dan sumpit autodidak (belajar sendiri). Ayahnya lah yang selalu mengajak untuk mencari ikan dan bertani, Umam menemani Ayahnya karena beliau sudah tua dan wujud bakti ketaatannya sebagai anak dari anak tertua. Umam mempunyai dua adik, yaitu Budi berumur enam tahun dan Shasa empat tahun.
Memang, masa kecilnya tak seperti khalayak anak kecil yang lainnya yang bisa bermain bersama teman-temannya, akan tetapi dia tetap bersyukur dan bahagia atas segala yang Allah berikan kepadanya. Hidup yang pas-pasan tidak membuat keluarganya kufur atau menyerah apalagi pasrah, malah membuat mereka mahir dalam segala hal kehidupan yang fana dan penuh sandiwara ini. Malah sebaliknya, mereka rajin dalam beribadah dan berdo’a, pintar dalam menggunakan waktu dan ahli dalam menghemat keuangan agar bisa menikmati hidup seperti orang lain. Hidup tak semudah seperti membalikkan tangan kawan, tapi hidup butuh proses, perlu perjuangan, perlu usaha dan do’a. Seseorang tidak ada harganya kecuali diiringi dengan usaha dan dunia tidak akan memberi penghargaan bagi orang yang bermalas-malasan.
Sesuatu terasa nikmat karena telah merasakan lelah.
 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar