Bagian 1: Nelayan Cilik
Perlu diketahui dan diingat, dia
adalah seorang nelayan, seorang santri, seorang pedagang dan juga seorang Ustadz
yang berasal dari Kalimantan. Dia mulai menduduki dan menekuni profesi sebagai
nelayan itu sejak duduk di kelas 2 SD. Profesi ini adalah caranya untuk
membantu keluarganya, yaitu menemani Ayahnya mencari ikan. Ya, namanya juga
nelayan kerjaan tiap hari adalah menaiki perahu sambil mencari ikan, baik itu
dengan memakai jala ataupun dengan alat yang lainnya. Tapi jangan sekali-kali
remehkan dia, walaupun sekecil itu dia juga sudah pandai berenang dan mencari
ikan, inilah kelebihan anak kalimantan. Kebanyakan anak Kalimantan itu pandai
berenang, pintar mencari ikan dan ahli dalam bertani.
Waktu mencari ikan sering dia lakukan
sesudah shalat shubuh, karena di saat itulah air sedang kemarau dan baginya
rezeki sedang pasang alias banjir. Setiap hari sesudah shalat shubuh Ibunya
selalu menyiapkan perahu, ember, jala untuk mencari ikan beserta nasi sama
lauknya buat sang nelayan tadi dan Ayahnya untuk sarapan. Kebiasaan yang indah
itu dilewati bersama Ayah dan Ibunya menjadi kenangan sampai sekarang. Yang
demikian menjadi kebiasaan bagi Umam dan Ayahnya sarapan di atas perahu kecil.
Walaupun pekerjaan setiap harinya
adalah mencari ikan, dia tetap menjaga kewajibannya kepada Allah sebagai
seorang hamba dengan menjaga shalat dan tetap juga belajar, karena baginya
berusaha adalah cara untuk mendapatkan rezeki, beribadah untuk mendapatkan
ridha ilahi dan belajar untuk memperoleh masa depan yang indah.
Dengan keluarga kehidupan menjadi
terasa berwarna, dengan usaha semua masalah menjadi mudah dan dengan ilmu semua
yang ada di sekeliling bisa dihadapi dengan baik dan jalan kehidupan pun
terarah dengan mudah.
Walau bagaimanapun kita sebagai
hamba Allah harus taat kepadaNya, bagaimana bisa mendapatkan rezeki, kalau kita
tidak taat padaNya? Bagaimana bisa memperoleh masa depan yang cerah, kalau maha
pemberi murka kepada kita? Dan bagaimana kita mendapatkan ridhaNya sedangkan
kita tidak taat kepadaNya?
Maka Allah subhanahu wa ta’ala juga
berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Awal cerita, pada suatu hari
tepatnya di waktu sore sesudah shalat ashar, Umam bersama teman-temannya
mencari ikan di sungai yang kecil dengan menggunakan jala, setelah dilemparkan
jalanya untuk menangkap ikan, dan didiamkan di dalam air sekitar lima menit, yang
tali jalanya diikat di perahu dan dia pun terjun ke sungai kecil yang ke dalaman
airnya setinggi pinggangnya. Umam mulai menangkap ikan pakai tangannya yang
mungil dan mulus tanpa memakai alat, dan dimasukkan tangan mungilnya kelubang
tanah yang terdapat di dalam sungai kecil tersebut. Yang istilah menangkap ikan
pakai tangan ini dalam bahasa banjarnya MANGGALAU. Entah dari kapan istilah
kata GALAU dalam bahasa Indonesia ini muncul, yang kuketahui bahwa menggalau
dalam bahasa banjar sudah ada semenjakku sekolah SD, dan kata galau dalam
bahasa Indonesia itu muncul sejak aku kuliah. Nggak usah diperdebat, ini hanya
sekilas pengetahuan liarku saja.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa
Umam harus memasukkan tangannya ke lubang tanah di dalam sungai? Karena
biasanya ikan gabus atau belut itu bersembunyi dilubang-lubang tanah tersebut.
Kenapa harus pakai tangan? Karena jala tidak bisa masuk lubang. Hehe…
Setelah beberapa lubang yang dia masuki
dengan jari-jarinya yang lincah itu, akhirnya dia pun menyentuh dan bisa
mengira bahwa ada ikan gabus atau belut di dalamnya. Mimik mukanya pun berubah
seketika, detak jantungnya bergetar kencang, mungkin peristiwa ini sama rasanya
seperti orang yang dilantik atau diangkat jabatan dalam perusahaan memakai nama
Ahmad…? Yang setelahnya masih ada tanda Tanya namun orang tersebut sudah
kegeeran (gede rasa). Umam masukkan tangannya lebih dalam lagi ke lubang
tersebut, sambil memberitahu kepada teman-temannya dengan muka yang cerah dan
semangat bahwa dia dapat ikan gabus, padahal belum diketahui kepastiannya.
Setelah dia tangkap dan diangkat
dari dalam lubang tanah sungai ke atas untuk diperlihatkan ke teman-temannya
sambil berkata: “Alhamdulillah, aku dapat ikan gabus.”
Tapi ada keanehan dari mimik muka teman-temannya,
yang seharusnya senang dan bergembira malah menjadi heboh ketakutan, Umam pun
kebingungan dengan melihat muka-muka temannya yang panik ketakutan. Akhirnya,
teman-temannya yang berlarian alias kabur darinya sambil teriak “ularrrr…” rasa
senang, ragu, bimbang yang bercampur aduk pun langsung mengganggunya. ketika
melihat kegenggaman tangannya, ternyata di dalam genggamannya itu adalah ular.
Umam sebenarnya tidak menyadari
bahwa ditangannya itu ular, karena dia tidak melihat ketangannya akan tetapi
pandangannya hanya tertuju keteman-temannya dengan tersenyum. Umam pun juga panik
ketakutan, sedangkan teman-temannya yang menyuruhnya untuk melemparkan ular
tersebut ke pinggir sungai atau ke tanah biar ular tersebut tidak ada lagi di
dalam sungai. Namun karena dia dalam keadaan gugup, panik dan takut terhadap
ular tersebut, bukannya dilempar jauh, tapi dia jatuhkan ular tersebut ke
sungai tepat berada di depannya sendiri dan dia juga langsung naik perahu yang
akhirnya teman-temannya pun pada naik perahu semua karena takut dengan ular.
Setelah satu jam lamanya mereka
mencari ikan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan membawa ikan dari
hasil pencarian mereka sore itu. Ikan yang diperoleh oleh Umam dia kasihkan ke Ibunya
untuk dibersihkan dan sebagiannya dijual. Umam langsung mandi dan bersiap-siap
untuk shalat Maghrib berjama’ah yang dilanjutkan membaca Al-Qur’an di rumah
bersama Ayah dan Ibunya.
Sudah menjadi rutinitas
kehidupannya, bahwa setiap hari sesudah Maghrib sampai Isya dia diwajibkan oleh
orang tuanya untuk mengaji/membaca Al-Qur’an, minimal membaca Surat Yasin, Al-Waqi’ah
dan Al-Mulk.
Sebagaimana kebiasaannya di setiap pulang
dari mencari ikan di pagi hari, dia langsung mandi dan langsung pergi ke sekolah
dengan buku-buku serta alat belajar yang telah dia siapkan dan uang jajan yang diberikan
oleh Ibunya. Akan tetapi uang yang seharusnya untuk jajan biasanya dia tabung,
karena dia sudah sarapan dan masih kenyang serta kuat untuk belajar.
Pada suatu hari, yang seringnya jam
istirahat Umam gunakan untuk belajar atau bermain di dalam kelas, dia keluar
ruangan dan jalan-jalan di sekitar sekolah. Seketika Umam berhenti melihat
orang yang sedang berjualan es dan banyak dari teman-temannya ramai membeli es
tersebut. Tapi sungguh kasihan Umam hanya bisa memandang dan menikmatinya tanpa
menyentuh apalagi mencicipi es tersebut. Pada waktu itu juga, Ibunya sedang berjalan
melewati tempat sekolahnya dan melihat Umam sedang memandang pedagang yang
sedang berjualan es tersebut. Diperkirakan sang Ibu melihat Umam bagaikan pohon
kering berdiri tegak lurus, mengharap hujan jatuh dari langit untuk
menghilangkan beban panasnya matahari. Ibunya menghampiri Umam dan dia pun
terkejut karena sang Ibu ada di sampingnya; Ibunya pun memegang bahu sang anak.
“Kenapa kamu nak, mau beli es?” Tanya Ibu Umam.
“Enggak Ma,”
Uang jajan yang Mama kasih ke kamu mana?
Kalau kamu mau beli es, ya belilah.”
“Uangnya sudah aku tabung Ma”,
jawabnya dengan tersenyum.
Sang Ibu yang melihat buah hatinya
hanya bisa menikmati es dengan pandangan bukan dari lidah dan bisa meneguknya,
tanpa sadarkan diri sang Ibu meneteskan air mata dan langsung membelikan es
tersebut. Sang anak pun berterima kasih kepada Ibunya. “Terima kasih Ma, maafkan
Umam Ma, uang yang Mama kasih buat jajan malah Umam tabung, karena Umam masih
kenyang.” sambil dia peluk Ibunya yang tersayang.
“Nggak papa nak, semoga kamu kelak
menjadi orang yang selalu dibahagiakan oleh Allah,”
“Aamiin.”
Selain berprofesi sebagi nelayan, dia
juga terkadang menjadi pedangang, kalau hasil dari mencari ikan banyak, maka ikan-ikan
tersebut sebagian untuk dimakan dan sisanya untuk dijual. Uangnya pun ditabung
oleh Umam untuk hari raya agar bisa beli baju baru atau terkadang dia kasihkan
ke orang tuanya untuk menutupi segala kekurangan yang dibutuhkan dalam
keluarganya.
Umam juga pernah berusaha ternak
bebek, pernah beternak ayam, dan juga pernah bertani. Sebenarnya semua itu
bukan pernah lagi sih, tapi memang sudah menjadi pekerjaan tiap harinya. Yaa
tergantung musim.
Kalau musim bertani, dia bantu Ayahnya
bertani, baik itu berupa memotong rumput, menyiram tanaman, dan pekerjaan
lainnya yang harus dilakukan oleh seorang petani. Mungkin ada yang bertanya,
kenapa sang penulis harus menyebut namanya nelayan cilik? Karena masa kecilnya
lebih sering mencari ikan dari pada bertani atau berdagang.
Keahlian Umam dalam mencari ikan
tidak hanya pakai jala atau alat pancing ikan (Joran/Gandar), dia juga pintar
memakai sumpit atau tombak untuk mencari ikan. Keahlian Umam dalam menombak
ikan diajarkan oleh Ayahnya dan sumpit autodidak (belajar sendiri). Ayahnya lah
yang selalu mengajak untuk mencari ikan dan bertani, Umam menemani Ayahnya
karena beliau sudah tua dan wujud bakti ketaatannya sebagai anak dari anak
tertua. Umam mempunyai dua adik, yaitu Budi berumur enam tahun dan Shasa empat
tahun.
Memang, masa kecilnya tak seperti
khalayak anak kecil yang lainnya yang bisa bermain bersama teman-temannya, akan
tetapi dia tetap bersyukur dan bahagia atas segala yang Allah berikan kepadanya.
Hidup yang pas-pasan tidak membuat keluarganya kufur atau menyerah apalagi
pasrah, malah membuat mereka mahir dalam segala hal kehidupan yang fana dan
penuh sandiwara ini. Malah sebaliknya, mereka rajin dalam beribadah dan
berdo’a, pintar dalam menggunakan waktu dan ahli dalam menghemat keuangan agar
bisa menikmati hidup seperti orang lain. Hidup tak semudah seperti membalikkan
tangan kawan, tapi hidup butuh proses, perlu perjuangan, perlu usaha dan do’a. Seseorang
tidak ada harganya kecuali diiringi dengan usaha dan dunia tidak akan memberi
penghargaan bagi orang yang bermalas-malasan.
|
Sesuatu terasa nikmat karena telah merasakan lelah.
|
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar