Monday, April 13, 2015

Dunia Baru



Bagian 3: Dunia Baru
Keadaan dan suasana yang kini Umam jalani sangatlah berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jalan yang ditempuh sekarang tidak semudah yang telah terlewati, tempat yang dia singgahi sekarang tak seramai yang dulu, dan semua itulah yang dirasa, karena dia masih santri baru.
Baru merasakan hidup tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa keluarga dan yang lainnya, semuanya terasa asing baginya. Hidup dalam kerumunan banyak manusia, tapi baginya hanyalah hiasan indah dalam menghibur hidupnya. Kini dia harus belajar hidup mandiri, cuci baju dan piring sendiri, serta semua kebutuhannya sehari-hari harus dia lakukan sendiri.
Awal atau hari pertamanya menjalani aktivitas di Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah tersebut, dia merasa hidup sendiri walaupun terdapat banyak orang. Baik itu santri baru ataupun kakak kelas, dan satu jam baginya bagaikan seminggu, satu bulan bagaikan satu tahun. Semenjak kepergian Ayahnya, Umam hanya bisa menangis dan menangis. Di dalam hatinya menjerit, “Ya Allah, kenapa Ayah dan Ibuku tega meninggalkan aku di Pondok ini? Aku nggak kuat, aku nggak betah, aku ingin pulang.”
Bahkan malam pertamanya di Pondok pun sangatlah pahit baginya, karena di mana setiap santri baru sudah bisa menikmati empuknya kasur untuk tidur dan lemari untuk menaruh pakaian. Sedangkan Umam hanya bisa melihat kenikmatan mereka, karena dia belum mempunyai apa-apa kecuali barang pakaian yang dia bawa dari rumah. Pada hari itu, dia terlambat datang ke kamar karena dia menangis dalam gelapnya malam, dia hanya bisa mencurahkan isi hatinya dengan tetesan air mata yang ditemani bulan dan bintang, disebabkan ia malu menangis di kamar yang dilihat oleh banyak orang. Setiba di kamar, teman-temannya sudah tidur pulas di atas kasur masing-masing yang empuk dan baru. Sedangkan Umam sendiri yang belum punya kasur, terpaksa tidur beralaskan kardus dan bantalnya adalah tas yang berisi pakaian.
Tidur Umam tidak senyaman teman-temannya yang lain, ia terhampar di atas susunan kertas berwarna abu-abu tersebut. Sehingga dipertengahan tidur pun ia terbangun, karena diganggu oleh makhluk mungil yaitu semut merah. Gigitan semut merah di tangan, kaki dan lehernya merusak mulusnya kulit yang tuhan anugerahkan. Umam kesakitan dan gatal-gatal karena gigitan semut sehingga kesedihan dan kepahitannya dalam sendiri bertambah. Dia memutuskan untuk bangun dari tidurnya, di mana kebanyakan orang terlelap dalam tidur.
Umam langsung berwudhu dan menuju ke mesjid, sesampai di mesjid dia shalat tahiyatul masjid dan shalat tahajjud serta berdo’a mengadu kepada sang maha kuasa akan kesedihan yang melanda kepada dirinya.
“Ya Allah, kuatkanlah hambamu untuk tinggal di Pondok Pesantren ini, sabarkanlah hamba dalam menjalani semua ini dan tabahkanlah hati hamba. Aamiinn.”
Tidak lupa juga, dia mendo’akan orang tuanya yaitu dengan do’a yang sering didengar oleh semua kalangan umat Islam.
“Allahumma igfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shagira.” Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di masa kecilku.” Aamiin…
Hari pertama dan kedua dilewatinya dengan rasa sedih dan pahit, tapi dia tetap sabar dan tabah dalam menghadapi semua itu. Hingga ada sebuah kejadian yang seakan-akan malaikat diutus oleh Allah untuk membantunya. Ketika Umam mau melaksanakan shalat ashar, di saat dia pergi ke mesjid dengan muka lesu, murung dan terlihat sedih yang akhirnya dihampiri oleh kakak kelasnya. Beliau sudah duduk di kelas enam, namanya Andi. Beliau bertanya kepada Umam, “kamu kenapa mam, kok mukanya murung dan lesu gitu?”
“Aku nggak betah dan nggak kuat tinggal di Pondok, aku ingin kumpul sama orang tua kak.” Jawab Umam yang menangis tanpa suara sambil meneteskan air matanya.
“Yah, cemen banget kamu Mam, katanya bermental juara, harus kuat dan semangat dong. Ya sudah gini aja, coba kamu jalani dulu di sini selama seminggu, kalau nggak betah coba jalani sebulan dan kalau nggak kuat sebulan coba jalani dua atau tiga bulan dan seterusnya deh.”
“Lha, kok gitu sih kak! Saya kan nggak betah, masa harus mencoba tinggal di sini lagi?” Tanyanya kebingungan.
“Iyaaa Mam, jalani aja dulu apa kata saya. Okey bro?” kata kak Andi sambil tersenyum. Kemudian Umam bertanya lagi kepada kak Andi tadi, “kak Andi dulu awal masuk Pondok gimana rasanya?” Dan dia pun menjawab: “rasanya kurang lebih sama yang kamu rasakan sekarang Mam, dan nasehatku yang tadi kuberikan kepadamu juga sama dari nasehat kakak kelasku yang beliau berikan kepadaku. Kita hidup itu bagaikan pepatah yang terpampang di depan Asrama itu” beliau menunjuk ke asrama yang bertuliskan ‘patah tumbuh hilang berganti, sebelum patah sudah tumbuh dan sebelum hilang sudah berganti’.”
“Owh gitu!” jawab Umam,
Dan akhirnya Umam minta tolong sama beliau untuk membantu pengurusan biar dia dapat kasur dan lemari seperti santri baru yang lainnya.
“Kak saya belum punya kasur dan lemari, apa bisa antum bantuin saya untuk menanyakannya ke kantor administrasi?”
“Oke, besok nanti saya tanyakan ke sana, kalau sekarang sudah tutup.” Jawab kakak kelas tersebut.
Malam yang kedua sama dialaminya dengan malam yang pertama, tidurnya tidak nyenyak karena gigitan semut merah yang menghantuinya dan dipertengahan malam pun dia juga terbangun. Seperti biasanya, Umam langsung berwudhu dan pergi ke mesjid untuk shalat tahajjud dan berdo’a, dengan do’a yang sama agar dia kuat untuk menjalani hidup di Pondok tanpa orang tua.
Jam 10 pagi, hari yang ketiga Umam tinggal di Pondok. Kakak kelas yang namanya Andi tadi datang dan mengajaknya untuk mengurus administrasi masalah kasur dan lemari. Mereka langsung pergi dan menuju Kantor Adminstrasi, kak Andi tadi bertanya kepada Ustadz Yusuf di bagian administrasi dengan berbahasa arab, karena di sana diwajibkan berbicara bahasa arab dan inggris, kecuali anak baru yang hanya diharuskan berbahasa Indonesia dan tidak boleh berbahasa daerah.
“Assalamu’alaikum ya Ustadz,”
“Wa’alaikumusssalam.”
“Ana aasif yaa Ustadz, lau samahtum ‘indi sual ‘an akhi Rijalul Umam, ‘ala annahu lam yastahiqqu al-firasy wa lal khizanah, famaa as-sabab? Wa syukran. (Assalamu’alaikum Ustadz, mohon maaf, kalau boleh saya ingin bertanya tentang saudara Rijalul Umam, karena dia belum mempunyai kasur dan lemari, apa penyebabnya? Terima kasih.” Ucap kak Andi tadi.
“Intadzhir muddah daqiqah ya akhi, uriidu at taftisy wa at tahqiq bimaa hashaala Umam (Tunggu sebentar! Saya mengecek dulu tentang penyebabnya).” Kata Ustadz Yusuf.
Dan sekitar 10 menit kemudian, Ustadz Yusuf menghampiri mereka berdua dan berkata:
“maaf nak Rijalul Umam, Ayah kamu kemaren tidak membelikan kamu kasur dan lemari, dan kata Ayah kamu, nanti Ayah atau Paman kamu ke sini membawakan kasur dan bantal untuk kamu. Sedangkan lemari saya kurang tau, tapi kamu bisa mencari ke kakak kelas kamu yang mau pulang dan beli aja dengan mereka.”
Setelah mendapat penjelasan dari Ustadz Yusuf tadi, Umam bergumam dalam hatinya, “Tega banget orang tuaku meninggalkanku di Pondok dengan keadaan begini, apa mereka sudah tidak sayang lagi sama aku?”
Tiba-tiba kak Andi tadi memanggil Umam dan menanyakan kepadanya tentang Uang yang dimiliki oleh Umam, “Kamu punya uang berapa Mam?”
“Aku punya uang 30 ribu kak, karena Cuma ini yang dikasih oleh Ayah.” Ucap Umam.
“Wah, semoga aja ada kakak kelas yang jual lemari seharga 30 ribu atau kurang yaa, karena biasanya orang jual lemari bekas tu harganya minimal 50 ribu rupiah.” kata kak Andi.
Umam menjawab sambil tersenyum “Aamiin, semoga aja ada.”
Dalam hati Umam mengadu, “Ya Allah kuatkan dan tabahkanlah hamba dalam menjalani ini semua.”
Mereka mulai mencari lemari kepada kakak-kakak kelas yang mau pulang. Setelah bertanya sana sini, akhirnya mereka dapat harga lemari yang paling murah seharga 40 ribu rupiah. Karena Umam hanya mempunyai uang 30 ribu rupiah, mukanya pun terlihat sedih, seakan-akan ujian terus bergilir menghadapinya. Tapi ternyata, dibalik kesulitan terdapat kemudahan bagi orang-orang yang bersabar. Kak Andi pun mengasih uang ke Umam 10 ribu untuk beli lemari tadi. “Ini, ambil buat kamu beli lemari, saya Cuma bisa bantu kamu segini ya Mam.” Kan Andi mengeluarkan uang 10 ribu rupiah dan memberikannya kepada Umam.
“Alhamdulillah, terima kasih ka, semoga Allah membalas kebaikan ka Andi dengan berlipat ganda.” kata Umam sangat bahagia.
“Aamiin, terima kasih juga atas do’anya ya Mam dan semoga kamu bisa betah di sini.” jawab ka Andi.
“Aaamiinn.”                       
Alhamdulillah, akhirnya lemari sudah dibeli oleh Umam dengan menghabiskan uang jajannya untuk sebulan. Baginya, masalah bisa jajan atau nggak itu tidak penting, yang penting ia bisa makan normal 3 kali sehari. Dan Alhamdulillah lagi di Pondok makan sudah ada yang masakin, santri cukup ngambil jatah makan dan cuci piring sendiri.
Hari ketiga sepulangnya dari sekolah menuju kamar, Umam dipanggil pengurus bagian tamu yaitu kakak kelas dari kelas lima.
“Umam, Paman kamu datang dan menunggu kamu di ruangan tamu, cepat temui beliau yaa?” kata pengurus tadi.
“Iya ka, saya segera ke sana.”
Umam pun langsung berlari mendatangi Paman Rudi. Umam langsung bersalaman mencium tangan Pamannya sembari memeluk beliau dan berkata dengan iringan tangisan tersedu-sedu, “Paman, aku kangen sama Ayah dan Mama, aku kangen adik Budi dan Shasa, aku kangen keluarga.”
“Sabar Mam, kamu kan harus belajar dan tinggal di Pondok. Jadi santri tidak boleh cengeng  yaa, masa cowok nggak berani mondok sih, nggak gentle banget.” Kata Paman Rudi sambil mengelus rambut Umam.
“Ini Mamamu nitip kasur sama bantal buat kamu tidur dan uang jajan 30 ribu. Owh iya kamu beberapa hari sebelumnya tidur pakai apa Mam?” ucap Paman Rudi sambil mengasihkan kasur,
“Kok beberapa hari sih Man (Paman), sudah sebulan lebih saya di sini, selama ini saya tidur beralaskan kardus dan sering digigit semut merah di malam hari. Ini tangan dan kaki saya merah-merah.” Keluh Umam.
Mendengar jawaban Umam dan membayangkan Umam yang tidur selama ini di atas kardus, mata sang Paman langsung memerah dan hampir meneteskan air mata. Pamannya berkata, “Kamu ke Pondok tanggal berapa dan hari apa?”
“Tanggal 12 hari jum’at,” jawab Umam.
“Nah, sekarang hari apa dan tanggal berapa?” Tanya Pamannya lagi,
“Hari senin tanggal 15,”
“Jadi, kamu di Pondok ini sampai sekarang berapa hari?” Tanya Pamannya, dan Umam pun menjawab sambil tersenyum “Ternyata baru 3 hari ya saya mondoknya? Tapi kok terasa sudah lama banget nih di Pondok.”
“Maklum sajalah Mam, kamu ini baru pertama kali di Pondok dan pertama kali juga kamu berpisah dengan keluarga. Insya Allah tidak akan terasa sampai kamu liburan dan pulang nanti, yang penting kamu taati disiplin Pondok dan ikuti semua kurikulumnya.” kata Pamannya tadi.
“Ayuk, temani Paman keliling Pondok.” Ajak Pamannya Umam.
Tidak beberapa lama Umam dan Paman rudi mengelilingi Pondok, sampailah mereka di irigasi. Paman Rudi pun takjub akan kebersihan irigasi yang dimiliki oleh Pondok pesantren Darul Hijrah tersebut, ditambah lagi melihat para santri yang asik mandi berenang, Paman Rudi langsung meminta Umam untuk menemani beliau mandi di irigasi tersebut. “Bersih banget nih irigasi! Umam, Ayo kita berenang?” ajak Paman Rudi.
Setelah seperempat jam lamanya mereka berenang, selesailah mereka mengelilingi Pondok tersebut. Pamannya pun berangkat pamit untuk pulang. Umam hanya bisa mengantarkan beliau ketempat parkiran ojek dan melepaskan kepergian beliau dengan lambaian dan muka yang sedih karena Pamannya pulang.
Waktu demi waktu dan beberapa hari pun berlalu, tibalah hari kamis dambaan para santri yang berjiwa patriot, yaitu PRAMUKA sebagai latihan mingguan di Pondok dan dilanjutkan malamnya dengan latihan berpidato kesukaan bagi orang yang cita-citanya untuk menjadi da’i. Di Pondok Darul Hijrah ada bermacam-macam latihan mental yang dijadikan sebagai kurikulum, di antaranya latihan pramuka dan pidato.
Di dalam pramuka banyak pendidikan yang didapat, baik secara fisik juga mental, karena di pramuka kita dilatih sebagai pemimpin, menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, rasa penuh kasih sayang sesama manusia, patuh terhadap syariat agama, berdisiplin dan suka bermusyawarah dalam menyelesaikan segala masalah, suka menolong orang lain, suci dalam pikiran dan perbuatan serta banyak lagi yang lainnya.
Begitu juga dalam latihan berpidato, santri-santri yang mengikutinya akan mendapatkan ilmu agama yang baru. Terbiasa berbicara di depan orang banyak atau audience sehingga kalau pulang di masa liburan, santri-santri sudah siap untuk diminta ceramah atau mengisi sebuah kajian dan kegiatan majlis ilmu yang lainnya, karena di Pondok sudah mendapat bekal yang cukup untuk terjun dalam masyarakat dengan sesuai norma-norma yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)
Selain latihan pramuka dan berpidato yang membuat Umam bahagia adalah renang, tiap pagi dan sore di Pondok dia selalu renang, karena di Pondok ada irigasi dan airnya juga bersih. Renang adalah salah satu hobinya dan renang adalah cara mandinya tiap hari di Pondok.
Irigasi ini mempunyai kesan dan cerita tersendiri, banyak teman-teman Umam yang mempunyai kenangan dengan irigasi apalagi bagi santri baru. Sungguh tidak semua santri baru yang terbiasa bangun dari tidurnya sebelum shalat subuh, jadi di Pondok lah mereka mendapatkan paksaan untuk bangun sebelum shalat shubuh. Di Pondoklah mereka akan mendapat pendidikan agar terbiasa bangun sebelum shalat shubuh. Awalnya terpaksa karena takut dihukum kalau tidak mau bangun, tapi lama-lama akan menjadi terbiasa untuk bangun cepat sebelum shalat subuh. Di sanalah bagi santri baru yang belum terbiasa bangun cepat mengalami hal-hal yang lucu, mereka dibangunkan oleh kakak kelas untuk berwudhu dan bersiap langsung pergi ke mesjid.
Paling aneh lagi, walaupun sudah bangun dan berjalan menuju ke irigasi untuk berwudhu, ada sebagian dari mereka yang masih bisa saja menggunakan waktu dalam kesempitan untuk tidur, yaitu dengan tidur berjalan. Yaaa, saya ulangi lagi tidur sambil berjalan.
Kenapa ada santri baru yang bisa tidur sambil berjalan? Karena kemungkinan besar jatah tidur bagi mereka masih kurang, dan yang lebih mendukung lagi jalanan dari Asrama ke irigasi tersebut kurang terang alias remang-remang.
Di Pondok Darul Hijrah, ada teman Umam yang bernama Fahri, dia terkenal suka tidur dan bahkan di kelas setelah pelajaran berlangsung pun dia sempat tidur atau setelah Ustadz yang menjelaskan pelajaran dia sering langsung tidur. Kebiasaan suka tidur di kelas ini kemungkinan salah satu penyebabnya adalah sering makan dan mempunyai kelebihan berat badan yang lebih alias gemuk. Ya, manusia memang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi, bukan berarti kelebihan Fahri hanya di berat badan saja. Fahri ini sangat jenius dan dermawan.
Hingga suatu hari sebelum shalat subuh, seperti biasanya kakak kelas yang menjadi pengurus di Asrama mereka membangunkan dan menyuruh mereka untuk berwudhu. Fahri menggunakan waktunya berjalan dari Asrama ke irigasi sambil tidur dan di situlah terdapat kejadian lucu. Fahri dalam tidurnya sambil berjalan, dia tidak menyadari tidurnya sudah melewati perbatasan tanah yang setelahnya adalah air irigasi. Wal hasil dia kecebur di irigasi yang membuatnya dia tidak mengantuk lagi bahkan segar bugar. Alhamdulillah, dia selamat karena dia bisa berenang walaupun dalam keadaan kaget, bahkan dengan badannya yang besar dan menyeburkan dirinya dalam keadaan tidak sadar. Kejadian seperti ini sudah tidak asing lagi bagi santri lama, karena sebagian dari mereka sebelumnya sudah pernah mengalaminya. Irigasi inilah yang mempunyai kenangan indah dan lucu untuk diingat bagi santri-santrinya walaupun sudah menjadi alumni.
Fahri teman Umam ini memang suka tidur, akan tetapi dalam masalah pelajaran dia cepat sekali menguasai segala pelajaran yang telah diajarkan oleh Ustadz. Dalam kejeniusannya ini, Fahri juga suka mengadakan belajar kelompok, bahkan menyediakan cemilan untuk mereka yang ikut belajar kelompok dengannya. Banyak dari teman-teman yang kurang paham pelajaran atau memang ketinggalan pelajaran disebabkan piket penjaga rayon bertanya kepada Fahri, dia pun menjelaskannya dengan detil dan jelas. Fahri ini dijadikan Guru Kedua oleh Umam dan teman-temannya setelah Ustadz mereka.
Di Pondok Pesantren sangat banyak disiplin, bahkan hampir setiap hari kakak kelas atau Ustadz memberikan beberapa tambahan disiplin baru sebagai perbaikan untuk para santri. Saking banyaknya disiplin si Umam pun tidak mengetahui jumlah disiplin yang telah disampaikan, baik secara dalam bentuk tulisan ataupun lisan. Ada disiplin yang berkenaan dengan bahasa, disiplin keamanan, disiplin dalam beribadah dan yang lainnya. Tindakan Umam terhadap disiplin yang banyak tersebut adalah mengerjakan segala sesuatu yang baik dan meninggalkan segala yang buruk serta mengamalkan semua yang telah diajarkan oleh guru atau kakak kelas, karena menurutnya semua disiplin yang telah disampaikan oleh kakak kelas atau Ustadz adalah untuk kebaikan mereka semua.
Perintah dan larangan timbul atau baru disampaikan karena santri-santrinya melakukan sesuatu yang kurang pantas, dengan demikian menyebabkan mudharat/bahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain. Salah satu disiplin larangan contohnya adalah: ‘dilarang untuk memakai sandal orang lain tanpa izin walaupun sandal tersebut akan dikembalikan’ ini juga dinamakan menggosob atau dalam bahasa arabnya ‘ghasbun’, yang bisa berakibat fatal bagi pemiliknya atau yang mengambilnya. Dan di antara contoh disiplin dalam bentuk perintah adalah memakai kosakata bahasa arab/inggris yang telah diberikan oleh kakak kelas atau Ustadz dalam percakapan sehari-hari agar mereka bisa dan cepat menguasai bahasa Inggris dan Arab.
Dalam disiplin bahasa ini, ada lagi kejadian lucu bagi santri baru. Ada teman Umam yang bernama Imam. Imam ini bisa dikatakan sangat anti dengan bahasa Inggris, dan juga tidak suka untuk mempelajarinya.
Pada suatu hari Umam dan Imam menjemur pakaiannya yang sudah mereka cuci di belakang Asrama. Terdetiklah di benak Umam untuk menanyakan kepada Imam tentang penyebab ketidaksukaan Imam dalam belajar bahasa Inggris.
“Imam, kamu kenapa nggak suka dengan bahasa Inggris?”
“Bahasa Inggris itu bahasa munafik.”
 “Lha, kok bisa begitu?” tanya Umam penasaran.
“Ya iyalah, contohnya saja cankir. Dalam bahasa Inggris cangkir itu apa?” Imam sambil mengambil cangkir yang ada di sampingnya.
“Cup (yang diucapkan Umam dengan Kap).”
“Tuh kan! Apa saya bilang, sudah jelas hurufnya terdiri dari C, U, P. seharusnya dibaca Cup bukan Kap, benar-benar munafik kan?”
“Hahaha…” Umam hanya bisa tertawa.
Ketika sedang asik-asiknya dalam percakapan antara Umam dan Imam, lewatlah seorang kakak pengurus di antara mereka. “Remember, you should use a vocabulary that has been delivered? (Ingat, kalian harus memakai kosakata yang sudah disampaikan?)” Imam yang sedang menjemur pakaiannya dan serius-seriusnya mengomentari pertanyaan Umam tadi, dia kaget dan langsung menjawab kakak pengurus tadi dengan berbahasa Inggris, “Yes sir, we will… (Oke kak, kami akan…)” tiba-tiba pakaian Imam terjatuh karena dia salah dalam meletakkan untuk menjamur pakaiannya dan tidak melihat ke tali untuk menjemur, Imam hanya fokus menghadap kakak pengurus yang sedang lewat tadi.
“Tuh kan, gara-gara ngomong pake bahasa munafik, jatuh pakaian saya.” Ucap Imam yang sedang kesal karena pakaiannya jatuh.
“Hahaha, itu bukan karena bahasa yang kamu pake Imam, tapi karena kamu yang nggak melihat ke tali jemuran. Jadi kamu salah taruh deh.”
Imam pun hanya bisa membalas dengan senyuman. 
Dunia baru Umam yaitu Pondok pesatren yang dia tinggali sekarang ini, banyak memberikan kenangan, pendidikan dan pengetahuan yang belum pasti didapat di rumah atau di kampung halaman. Di mana di antara santri saling mengasihi, saling tolong menolong dalam kebaikan dan saling menasehati kalau terdapat kesalahan. Hingga pada suatu hari di saat makan malam yang mana para santri pergi ke dapur untuk makan dan sebelumnya harus mengikuti antri untuk mengambil jatah makan, Umam berkata kepada ka Andi yang berada dibarisan belakangnya, “Pondok ini bagaikan penjara ya akh (sapaan untuk kakak kelas di Pondok), penjara suci.” kata Umam sambil tersenyum,
“Yaaa kurang lebih begitulah, tapi dari sinilah kita dididik untuk bersabar, diuji kebersamaan dan ketaatan kita terhadap disiplin. Tidak membedakan derajat antara yang lebih tua dan yang lebih muda, yang lebih lama di Pondok atau yang baru di Pondok. Tanpa disadari kita bisa merasakan bagaimana usaha pengamen untuk mendapatkan uang sambil bernyanyi, seperti teman kamu itu yang antri untuk mendapatkan jatah makan dengan memutarkan piringnya.” kata kakak kelasnya Umam tadi sambil tersenyum melihat teman Umam yang memutar piring dipenantiannya untuk mendapatkan jatah makan, dan Umam pun juga ikut tersenyum.
Tidak beberapa lama kemudian, teman yang memutarkan piringnya tadi untuk mendapatkan jatah makan, piringnya terjatuh dan pecah karena piring tersebut terbuat dari kaca, akhirnya dia ikut makan sama temannya yang berada di depan dalam barisannya. Setelah kejadian itu, sekitar jam setengah 10 malam, para pengurus dapur dari kakak kelas memberikan pengumuman ke rayon-rayon atau asrama yang ditinggali oleh santri-santri dengan memberikan disiplin agar tidak ada lagi santri yang bermain-main dengan piring, khususnya memutarkan piring. Dan diwajibkan kepada semua santri untuk memakai piring plastik yang kuat atau sejenisnya agar piring tersebut tidak mudah pecah dan membahayakan orang lain.
Kebenaran tanpa aturan bisa dikalahkan oleh kejahatan yang telah diatur.
Dengan kejadian tersebut, mereka sebagai santri bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua itu, para Asatidz dan pengurus dari kakak kelas memberikan disiplin bukan untuk memberatkan para santri atau membuat mereka tidak betah tinggal di Pondok, akan tetapi disiplin-disiplin yang telah disampaikan adalah untuk kemaslahatan bersama dan tanda kasih sayang serta wujud perhatian dari seorang guru terhadap santri atau dari seorang kakak terhadap adiknya.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar