Bagian 3: Dunia Baru
Keadaan dan suasana yang kini Umam jalani
sangatlah berbeda dengan sebelum-sebelumnya, jalan yang ditempuh sekarang tidak
semudah yang telah terlewati, tempat yang dia singgahi sekarang tak seramai
yang dulu, dan semua itulah yang dirasa, karena dia masih santri baru.
Baru merasakan hidup tanpa orang
tua, tanpa saudara, tanpa keluarga dan yang lainnya, semuanya terasa asing
baginya. Hidup dalam kerumunan banyak manusia, tapi baginya hanyalah hiasan
indah dalam menghibur hidupnya. Kini dia harus belajar hidup mandiri, cuci baju
dan piring sendiri, serta semua kebutuhannya sehari-hari harus dia lakukan
sendiri.
Awal atau hari pertamanya menjalani
aktivitas di Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah tersebut, dia merasa hidup
sendiri walaupun terdapat banyak orang. Baik itu santri baru ataupun kakak kelas,
dan satu jam baginya bagaikan seminggu, satu bulan bagaikan satu tahun.
Semenjak kepergian Ayahnya, Umam hanya bisa menangis dan menangis. Di dalam
hatinya menjerit, “Ya Allah, kenapa Ayah dan Ibuku tega meninggalkan aku di
Pondok ini? Aku nggak kuat, aku nggak betah, aku ingin pulang.”
Bahkan malam pertamanya di Pondok
pun sangatlah pahit baginya, karena di mana setiap santri baru sudah bisa
menikmati empuknya kasur untuk tidur dan lemari untuk menaruh pakaian. Sedangkan
Umam hanya bisa melihat kenikmatan mereka, karena dia belum mempunyai apa-apa
kecuali barang pakaian yang dia bawa dari rumah. Pada hari itu, dia terlambat
datang ke kamar karena dia menangis dalam gelapnya malam, dia hanya bisa
mencurahkan isi hatinya dengan tetesan air mata yang ditemani bulan dan
bintang, disebabkan ia malu menangis di kamar yang dilihat oleh banyak orang.
Setiba di kamar, teman-temannya sudah tidur pulas di atas kasur masing-masing
yang empuk dan baru. Sedangkan Umam sendiri yang belum punya kasur, terpaksa
tidur beralaskan kardus dan bantalnya adalah tas yang berisi pakaian.
Tidur Umam tidak senyaman
teman-temannya yang lain, ia terhampar di atas susunan kertas berwarna abu-abu
tersebut. Sehingga dipertengahan tidur pun ia terbangun, karena diganggu oleh
makhluk mungil yaitu semut merah. Gigitan semut merah di tangan, kaki dan
lehernya merusak mulusnya kulit yang tuhan anugerahkan. Umam kesakitan dan
gatal-gatal karena gigitan semut sehingga kesedihan dan kepahitannya dalam
sendiri bertambah. Dia memutuskan untuk bangun dari tidurnya, di mana kebanyakan
orang terlelap dalam tidur.
Umam langsung berwudhu dan menuju ke
mesjid, sesampai di mesjid dia shalat tahiyatul masjid dan shalat tahajjud
serta berdo’a mengadu kepada sang maha kuasa akan kesedihan yang melanda kepada
dirinya.
“Ya Allah, kuatkanlah hambamu untuk
tinggal di Pondok Pesantren ini, sabarkanlah hamba dalam menjalani semua ini
dan tabahkanlah hati hamba. Aamiinn.”
Tidak lupa juga, dia mendo’akan
orang tuanya yaitu dengan do’a yang sering didengar oleh semua kalangan umat Islam.
“Allahumma igfirli wa liwalidayya warhamhuma
kama rabbayani shagira.” Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan
dosa-dosa kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka
menyayangiku di masa kecilku.” Aamiin…
Hari pertama dan kedua dilewatinya
dengan rasa sedih dan pahit, tapi dia tetap sabar dan tabah dalam menghadapi
semua itu. Hingga ada sebuah kejadian yang seakan-akan malaikat diutus oleh
Allah untuk membantunya. Ketika Umam mau melaksanakan shalat ashar, di saat dia
pergi ke mesjid dengan muka lesu, murung dan terlihat sedih yang akhirnya
dihampiri oleh kakak kelasnya. Beliau sudah duduk di kelas enam, namanya Andi.
Beliau bertanya kepada Umam, “kamu kenapa mam, kok mukanya murung dan lesu
gitu?”
“Aku nggak betah dan nggak kuat
tinggal di Pondok, aku ingin kumpul sama orang tua kak.” Jawab Umam yang menangis
tanpa suara sambil meneteskan air matanya.
“Yah, cemen banget kamu Mam, katanya
bermental juara, harus kuat dan semangat dong. Ya sudah gini aja, coba kamu
jalani dulu di sini selama seminggu, kalau nggak betah coba jalani sebulan dan
kalau nggak kuat sebulan coba jalani dua atau tiga bulan dan seterusnya deh.”
“Lha, kok gitu sih kak! Saya kan
nggak betah, masa harus mencoba tinggal di sini lagi?” Tanyanya kebingungan.
“Iyaaa Mam, jalani aja dulu apa kata
saya. Okey bro?” kata kak Andi sambil tersenyum. Kemudian Umam bertanya lagi
kepada kak Andi tadi, “kak Andi dulu awal masuk Pondok gimana rasanya?” Dan dia
pun menjawab: “rasanya kurang lebih sama yang kamu rasakan sekarang Mam, dan
nasehatku yang tadi kuberikan kepadamu juga sama dari nasehat kakak kelasku
yang beliau berikan kepadaku. Kita hidup itu bagaikan pepatah yang terpampang
di depan Asrama itu” beliau menunjuk ke asrama yang bertuliskan ‘patah tumbuh
hilang berganti, sebelum patah sudah tumbuh dan sebelum hilang sudah berganti’.”
“Owh gitu!” jawab Umam,
Dan akhirnya Umam minta tolong sama
beliau untuk membantu pengurusan biar dia dapat kasur dan lemari seperti santri
baru yang lainnya.
“Kak saya belum punya kasur dan
lemari, apa bisa antum bantuin saya untuk menanyakannya ke kantor administrasi?”
“Oke, besok nanti saya tanyakan ke
sana, kalau sekarang sudah tutup.” Jawab kakak kelas tersebut.
Malam yang kedua sama dialaminya dengan
malam yang pertama, tidurnya tidak nyenyak karena gigitan semut merah yang
menghantuinya dan dipertengahan malam pun dia juga terbangun. Seperti biasanya,
Umam langsung berwudhu dan pergi ke mesjid untuk shalat tahajjud dan berdo’a, dengan
do’a yang sama agar dia kuat untuk menjalani hidup di Pondok tanpa orang tua.
Jam 10 pagi, hari yang ketiga Umam
tinggal di Pondok. Kakak kelas yang namanya Andi tadi datang dan mengajaknya
untuk mengurus administrasi masalah kasur dan lemari. Mereka langsung pergi dan
menuju Kantor Adminstrasi, kak Andi tadi bertanya kepada Ustadz Yusuf di bagian
administrasi dengan berbahasa arab, karena di sana diwajibkan berbicara bahasa
arab dan inggris, kecuali anak baru yang hanya diharuskan berbahasa Indonesia
dan tidak boleh berbahasa daerah.
“Assalamu’alaikum ya Ustadz,”
“Wa’alaikumusssalam.”
“Ana aasif yaa Ustadz, lau samahtum
‘indi sual ‘an akhi Rijalul Umam, ‘ala annahu lam yastahiqqu al-firasy wa lal
khizanah, famaa as-sabab? Wa syukran. (Assalamu’alaikum Ustadz, mohon maaf,
kalau boleh saya ingin bertanya tentang saudara Rijalul Umam, karena dia belum
mempunyai kasur dan lemari, apa penyebabnya? Terima kasih.” Ucap kak Andi tadi.
“Intadzhir muddah daqiqah ya akhi,
uriidu at taftisy wa at tahqiq bimaa hashaala Umam (Tunggu sebentar! Saya
mengecek dulu tentang penyebabnya).” Kata Ustadz Yusuf.
Dan sekitar 10 menit kemudian,
Ustadz Yusuf menghampiri mereka berdua dan berkata:
“maaf nak Rijalul Umam, Ayah kamu
kemaren tidak membelikan kamu kasur dan lemari, dan kata Ayah kamu, nanti Ayah
atau Paman kamu ke sini membawakan kasur dan bantal untuk kamu. Sedangkan lemari
saya kurang tau, tapi kamu bisa mencari ke kakak kelas kamu yang mau pulang dan
beli aja dengan mereka.”
Setelah mendapat penjelasan dari
Ustadz Yusuf tadi, Umam bergumam dalam hatinya, “Tega banget orang tuaku
meninggalkanku di Pondok dengan keadaan begini, apa mereka sudah tidak sayang
lagi sama aku?”
Tiba-tiba kak Andi tadi memanggil
Umam dan menanyakan kepadanya tentang Uang yang dimiliki oleh Umam, “Kamu punya
uang berapa Mam?”
“Aku punya uang 30 ribu kak, karena
Cuma ini yang dikasih oleh Ayah.” Ucap Umam.
“Wah, semoga aja ada kakak kelas
yang jual lemari seharga 30 ribu atau kurang yaa, karena biasanya orang jual
lemari bekas tu harganya minimal 50 ribu rupiah.” kata kak Andi.
Umam menjawab sambil tersenyum “Aamiin,
semoga aja ada.”
Dalam hati Umam mengadu, “Ya Allah
kuatkan dan tabahkanlah hamba dalam menjalani ini semua.”
Mereka mulai mencari lemari kepada
kakak-kakak kelas yang mau pulang. Setelah bertanya sana sini, akhirnya mereka
dapat harga lemari yang paling murah seharga 40 ribu rupiah. Karena Umam hanya
mempunyai uang 30 ribu rupiah, mukanya pun terlihat sedih, seakan-akan ujian
terus bergilir menghadapinya. Tapi ternyata, dibalik kesulitan terdapat
kemudahan bagi orang-orang yang bersabar. Kak Andi pun mengasih uang ke Umam 10
ribu untuk beli lemari tadi. “Ini, ambil buat kamu beli lemari, saya Cuma bisa
bantu kamu segini ya Mam.” Kan Andi mengeluarkan uang 10 ribu rupiah dan
memberikannya kepada Umam.
“Alhamdulillah, terima kasih ka, semoga
Allah membalas kebaikan ka Andi dengan berlipat ganda.” kata Umam sangat
bahagia.
“Aamiin, terima kasih juga atas
do’anya ya Mam dan semoga kamu bisa betah di sini.” jawab ka Andi.
“Aaamiinn.”
Alhamdulillah, akhirnya lemari sudah
dibeli oleh Umam dengan menghabiskan uang jajannya untuk sebulan. Baginya, masalah
bisa jajan atau nggak itu tidak penting, yang penting ia bisa makan normal 3
kali sehari. Dan Alhamdulillah lagi di Pondok makan sudah ada yang masakin,
santri cukup ngambil jatah makan dan cuci piring sendiri.
Hari ketiga sepulangnya dari sekolah
menuju kamar, Umam dipanggil pengurus bagian tamu yaitu kakak kelas dari kelas
lima.
“Umam, Paman kamu datang dan
menunggu kamu di ruangan tamu, cepat temui beliau yaa?” kata pengurus tadi.
“Iya ka, saya segera ke sana.”
Umam pun langsung berlari mendatangi
Paman Rudi. Umam langsung bersalaman mencium tangan Pamannya sembari memeluk
beliau dan berkata dengan iringan tangisan tersedu-sedu, “Paman, aku kangen
sama Ayah dan Mama, aku kangen adik Budi dan Shasa, aku kangen keluarga.”
“Sabar Mam, kamu kan harus belajar
dan tinggal di Pondok. Jadi santri tidak boleh cengeng yaa, masa cowok nggak berani mondok sih, nggak
gentle banget.” Kata Paman Rudi sambil mengelus rambut Umam.
“Ini Mamamu nitip kasur sama bantal
buat kamu tidur dan uang jajan 30 ribu. Owh iya kamu beberapa hari sebelumnya
tidur pakai apa Mam?” ucap Paman Rudi sambil mengasihkan kasur,
“Kok beberapa hari sih Man (Paman),
sudah sebulan lebih saya di sini, selama ini saya tidur beralaskan kardus dan
sering digigit semut merah di malam hari. Ini tangan dan kaki saya
merah-merah.” Keluh Umam.
Mendengar jawaban Umam dan membayangkan
Umam yang tidur selama ini di atas kardus, mata sang Paman langsung memerah dan
hampir meneteskan air mata. Pamannya berkata, “Kamu ke Pondok tanggal berapa
dan hari apa?”
“Tanggal 12 hari jum’at,” jawab Umam.
“Nah, sekarang hari apa dan tanggal
berapa?” Tanya Pamannya lagi,
“Hari senin tanggal 15,”
“Jadi, kamu di Pondok ini sampai
sekarang berapa hari?” Tanya Pamannya, dan Umam pun menjawab sambil tersenyum “Ternyata
baru 3 hari ya saya mondoknya? Tapi kok terasa sudah lama banget nih di Pondok.”
“Maklum sajalah Mam, kamu ini baru
pertama kali di Pondok dan pertama kali juga kamu berpisah dengan keluarga.
Insya Allah tidak akan terasa sampai kamu liburan dan pulang nanti, yang
penting kamu taati disiplin Pondok dan ikuti semua kurikulumnya.” kata Pamannya
tadi.
“Ayuk, temani Paman keliling Pondok.”
Ajak Pamannya Umam.
Tidak beberapa lama Umam dan Paman rudi
mengelilingi Pondok, sampailah mereka di irigasi. Paman Rudi pun takjub akan
kebersihan irigasi yang dimiliki oleh Pondok pesantren Darul Hijrah tersebut,
ditambah lagi melihat para santri yang asik mandi berenang, Paman Rudi langsung
meminta Umam untuk menemani beliau mandi di irigasi tersebut. “Bersih banget
nih irigasi! Umam, Ayo kita berenang?” ajak Paman Rudi.
Setelah seperempat jam lamanya
mereka berenang, selesailah mereka mengelilingi Pondok tersebut. Pamannya pun berangkat
pamit untuk pulang. Umam hanya bisa mengantarkan beliau ketempat parkiran ojek
dan melepaskan kepergian beliau dengan lambaian dan muka yang sedih karena Pamannya
pulang.
Waktu demi waktu dan beberapa hari
pun berlalu, tibalah hari kamis dambaan para santri yang berjiwa patriot, yaitu
PRAMUKA sebagai latihan mingguan di Pondok dan dilanjutkan malamnya dengan
latihan berpidato kesukaan bagi orang yang cita-citanya untuk menjadi da’i. Di
Pondok Darul Hijrah ada bermacam-macam latihan mental yang dijadikan sebagai
kurikulum, di antaranya latihan pramuka dan pidato.
Di dalam pramuka banyak pendidikan
yang didapat, baik secara fisik juga mental, karena di pramuka kita dilatih sebagai
pemimpin, menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, rasa penuh kasih sayang sesama
manusia, patuh terhadap syariat agama, berdisiplin dan suka bermusyawarah dalam
menyelesaikan segala masalah, suka menolong orang lain, suci dalam pikiran dan
perbuatan serta banyak lagi yang lainnya.
Begitu juga dalam latihan berpidato,
santri-santri yang mengikutinya akan mendapatkan ilmu agama yang baru. Terbiasa
berbicara di depan orang banyak atau audience sehingga kalau pulang di masa liburan,
santri-santri sudah siap untuk diminta ceramah atau mengisi sebuah kajian dan
kegiatan majlis ilmu yang lainnya, karena di Pondok sudah mendapat bekal yang
cukup untuk terjun dalam masyarakat dengan sesuai norma-norma yang terdapat di
dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)
Selain latihan pramuka dan berpidato
yang membuat Umam bahagia adalah renang, tiap pagi dan sore di Pondok dia
selalu renang, karena di Pondok ada irigasi dan airnya juga bersih. Renang
adalah salah satu hobinya dan renang adalah cara mandinya tiap hari di Pondok.
Irigasi ini mempunyai kesan dan cerita
tersendiri, banyak teman-teman Umam yang mempunyai kenangan dengan irigasi
apalagi bagi santri baru. Sungguh tidak semua santri baru yang terbiasa bangun
dari tidurnya sebelum shalat subuh, jadi di Pondok lah mereka mendapatkan
paksaan untuk bangun sebelum shalat shubuh. Di Pondoklah mereka akan mendapat
pendidikan agar terbiasa bangun sebelum shalat shubuh. Awalnya terpaksa karena takut
dihukum kalau tidak mau bangun, tapi lama-lama akan menjadi terbiasa untuk
bangun cepat sebelum shalat subuh. Di sanalah bagi santri baru yang belum
terbiasa bangun cepat mengalami hal-hal yang lucu, mereka dibangunkan oleh
kakak kelas untuk berwudhu dan bersiap langsung pergi ke mesjid.
Paling aneh lagi, walaupun sudah
bangun dan berjalan menuju ke irigasi untuk berwudhu, ada sebagian dari mereka
yang masih bisa saja menggunakan waktu dalam kesempitan untuk tidur, yaitu
dengan tidur berjalan. Yaaa, saya ulangi lagi tidur sambil berjalan.
Kenapa ada santri baru yang bisa
tidur sambil berjalan? Karena kemungkinan besar jatah tidur bagi mereka masih
kurang, dan yang lebih mendukung lagi jalanan dari Asrama ke irigasi tersebut
kurang terang alias remang-remang.
Di Pondok Darul Hijrah, ada teman Umam
yang bernama Fahri, dia terkenal suka tidur dan bahkan di kelas setelah pelajaran
berlangsung pun dia sempat tidur atau setelah Ustadz yang menjelaskan pelajaran
dia sering langsung tidur. Kebiasaan suka tidur di kelas ini kemungkinan salah
satu penyebabnya adalah sering makan dan mempunyai kelebihan berat badan yang
lebih alias gemuk. Ya, manusia memang mempunyai kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Tapi, bukan berarti kelebihan Fahri hanya di berat badan saja.
Fahri ini sangat jenius dan dermawan.
Hingga suatu hari sebelum shalat
subuh, seperti biasanya kakak kelas yang menjadi pengurus di Asrama mereka
membangunkan dan menyuruh mereka untuk berwudhu. Fahri menggunakan waktunya
berjalan dari Asrama ke irigasi sambil tidur dan di situlah terdapat kejadian lucu.
Fahri dalam tidurnya sambil berjalan, dia tidak menyadari tidurnya sudah
melewati perbatasan tanah yang setelahnya adalah air irigasi. Wal hasil dia
kecebur di irigasi yang membuatnya dia tidak mengantuk lagi bahkan segar bugar.
Alhamdulillah, dia selamat karena dia bisa berenang walaupun dalam keadaan
kaget, bahkan dengan badannya yang besar dan menyeburkan dirinya dalam keadaan
tidak sadar. Kejadian seperti ini sudah tidak asing lagi bagi santri lama,
karena sebagian dari mereka sebelumnya sudah pernah mengalaminya. Irigasi
inilah yang mempunyai kenangan indah dan lucu untuk diingat bagi
santri-santrinya walaupun sudah menjadi alumni.
Fahri teman Umam ini memang suka
tidur, akan tetapi dalam masalah pelajaran dia cepat sekali menguasai segala
pelajaran yang telah diajarkan oleh Ustadz. Dalam kejeniusannya ini, Fahri juga
suka mengadakan belajar kelompok, bahkan menyediakan cemilan untuk mereka yang
ikut belajar kelompok dengannya. Banyak dari teman-teman yang kurang paham
pelajaran atau memang ketinggalan pelajaran disebabkan piket penjaga rayon
bertanya kepada Fahri, dia pun menjelaskannya dengan detil dan jelas. Fahri ini
dijadikan Guru Kedua oleh Umam dan teman-temannya setelah Ustadz mereka.
Di Pondok Pesantren sangat banyak
disiplin, bahkan hampir setiap hari kakak kelas atau Ustadz memberikan beberapa
tambahan disiplin baru sebagai perbaikan untuk para santri. Saking banyaknya
disiplin si Umam pun tidak mengetahui jumlah disiplin yang telah disampaikan,
baik secara dalam bentuk tulisan ataupun lisan. Ada disiplin yang berkenaan
dengan bahasa, disiplin keamanan, disiplin dalam beribadah dan yang lainnya.
Tindakan Umam terhadap disiplin yang banyak tersebut adalah mengerjakan segala
sesuatu yang baik dan meninggalkan segala yang buruk serta mengamalkan semua
yang telah diajarkan oleh guru atau kakak kelas, karena menurutnya semua
disiplin yang telah disampaikan oleh kakak kelas atau Ustadz adalah untuk
kebaikan mereka semua.
Perintah dan larangan timbul atau
baru disampaikan karena santri-santrinya melakukan sesuatu yang kurang pantas, dengan
demikian menyebabkan mudharat/bahaya bagi dirinya sendiri atau orang lain.
Salah satu disiplin larangan contohnya adalah: ‘dilarang untuk memakai sandal
orang lain tanpa izin walaupun sandal tersebut akan dikembalikan’ ini juga
dinamakan menggosob atau dalam bahasa arabnya ‘ghasbun’, yang bisa berakibat
fatal bagi pemiliknya atau yang mengambilnya. Dan di antara contoh disiplin
dalam bentuk perintah adalah memakai kosakata bahasa arab/inggris yang telah
diberikan oleh kakak kelas atau Ustadz dalam percakapan sehari-hari agar mereka
bisa dan cepat menguasai bahasa Inggris dan Arab.
Dalam disiplin bahasa ini, ada lagi
kejadian lucu bagi santri baru. Ada teman Umam yang bernama Imam. Imam ini bisa
dikatakan sangat anti dengan bahasa Inggris, dan juga tidak suka untuk
mempelajarinya.
Pada suatu hari Umam dan Imam
menjemur pakaiannya yang sudah mereka cuci di belakang Asrama. Terdetiklah di
benak Umam untuk menanyakan kepada Imam tentang penyebab ketidaksukaan Imam
dalam belajar bahasa Inggris.
“Imam, kamu kenapa nggak suka dengan
bahasa Inggris?”
“Bahasa Inggris itu bahasa munafik.”
“Lha, kok bisa begitu?” tanya Umam penasaran.
“Ya iyalah, contohnya saja cankir.
Dalam bahasa Inggris cangkir itu apa?” Imam sambil mengambil cangkir yang ada
di sampingnya.
“Cup (yang diucapkan Umam dengan
Kap).”
“Tuh kan! Apa saya bilang, sudah
jelas hurufnya terdiri dari C, U, P. seharusnya dibaca Cup bukan Kap,
benar-benar munafik kan?”
“Hahaha…” Umam hanya bisa tertawa.
Ketika sedang asik-asiknya dalam
percakapan antara Umam dan Imam, lewatlah seorang kakak pengurus di antara mereka.
“Remember, you should use a vocabulary that has been delivered? (Ingat, kalian
harus memakai kosakata yang sudah disampaikan?)” Imam yang sedang menjemur
pakaiannya dan serius-seriusnya mengomentari pertanyaan Umam tadi, dia kaget
dan langsung menjawab kakak pengurus tadi dengan berbahasa Inggris, “Yes sir,
we will… (Oke kak, kami akan…)” tiba-tiba pakaian Imam terjatuh karena dia
salah dalam meletakkan untuk menjamur pakaiannya dan tidak melihat ke tali
untuk menjemur, Imam hanya fokus menghadap kakak pengurus yang sedang lewat
tadi.
“Tuh kan, gara-gara ngomong pake
bahasa munafik, jatuh pakaian saya.” Ucap Imam yang sedang kesal karena
pakaiannya jatuh.
“Hahaha, itu bukan karena bahasa
yang kamu pake Imam, tapi karena kamu yang nggak melihat ke tali jemuran. Jadi kamu
salah taruh deh.”
Imam pun hanya bisa membalas dengan
senyuman.
Dunia baru Umam yaitu Pondok
pesatren yang dia tinggali sekarang ini, banyak memberikan kenangan, pendidikan
dan pengetahuan yang belum pasti didapat di rumah atau di kampung halaman. Di
mana di antara santri saling mengasihi, saling tolong menolong dalam kebaikan
dan saling menasehati kalau terdapat kesalahan. Hingga pada suatu hari di saat
makan malam yang mana para santri pergi ke dapur untuk makan dan sebelumnya
harus mengikuti antri untuk mengambil jatah makan, Umam berkata kepada ka Andi
yang berada dibarisan belakangnya, “Pondok ini bagaikan penjara ya akh (sapaan
untuk kakak kelas di Pondok), penjara suci.” kata Umam sambil tersenyum,
“Yaaa kurang lebih begitulah, tapi
dari sinilah kita dididik untuk bersabar, diuji kebersamaan dan ketaatan kita
terhadap disiplin. Tidak membedakan derajat antara yang lebih tua dan yang
lebih muda, yang lebih lama di Pondok atau yang baru di Pondok. Tanpa disadari
kita bisa merasakan bagaimana usaha pengamen untuk mendapatkan uang sambil
bernyanyi, seperti teman kamu itu yang antri untuk mendapatkan jatah makan
dengan memutarkan piringnya.” kata kakak kelasnya Umam tadi sambil tersenyum
melihat teman Umam yang memutar piring dipenantiannya untuk mendapatkan jatah
makan, dan Umam pun juga ikut tersenyum.
Tidak beberapa lama kemudian, teman
yang memutarkan piringnya tadi untuk mendapatkan jatah makan, piringnya terjatuh
dan pecah karena piring tersebut terbuat dari kaca, akhirnya dia ikut makan
sama temannya yang berada di depan dalam barisannya. Setelah kejadian itu,
sekitar jam setengah 10 malam, para pengurus dapur dari kakak kelas memberikan
pengumuman ke rayon-rayon atau asrama yang ditinggali oleh santri-santri dengan
memberikan disiplin agar tidak ada lagi santri yang bermain-main dengan piring,
khususnya memutarkan piring. Dan diwajibkan kepada semua santri untuk memakai
piring plastik yang kuat atau sejenisnya agar piring tersebut tidak mudah pecah
dan membahayakan orang lain.
|
Kebenaran tanpa aturan bisa dikalahkan oleh kejahatan yang
telah diatur.
|
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar