Monday, April 13, 2015

Nasehat Ulama dan Riwayat Hidupku



Nasehat Ulama Tentang Ilmu
1.      ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam kitab Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15 mengatakan: “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” Dan mu’adz bin jabal juga mengatakan dibuku dan halaman yang sama yaitu: “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”
2.      Malik bin Marwan kepada anak-anaknya seraya berkata: “Wahai anak-anakku, pelajarilah ilmu, seandainya kalian menjadi orang-orang kaya, maka ilmu itu akan menjadi penyempurna bagi kalian, dan jika kalian menjadi orang-orang miskin, maka ilmu itu harta bagi kalian.” (Jami' bayaanil 'ilmi wa fadhlihi 1/242)
3.      Pepatah Arab yang dikatakan oleh Hafidz Ibrahim yang artinya: Ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkannya # Maka kamu menyiapkan generasi berkarakter baik # Ibu sangat mulia bagaikan gurunya para guru # Pengaruhnya menembus segala penjuru.”
4.      Berkata Aun bin Imarah: “Aku pernah mendengar Hisyam Ad-Dustuwa’i berkata: Demi Allah aku tidak mampu mengatakan bahwa aku pergi menuntut ilmu tentang hadis seharipun dengan niat mencari wajah Allah.” Az-Zahabi berkata mengomentari perkataan Ad-Dustuwa’i: “Demi Allah, aku pun tidak juga pernah berani mengatakan demikian, sesungguhnya para salaf menimba ilmu benar-benar untuk Allah maka mereka menjadi mulia, mereka menjadi para ulama panutan, sebagian dari mereka awalnya menimba ilmu bukan untuk Allah, setelah mereka mendapatkannya, ilmu meluruskan niat mereka di tengah jalan.”
Berkata Mujahid dan yang lainnya: “Kami menuntut ilmu ini awalnya tidak memiliki niat yang besar, kemudian belakangan Allah berikan kami niat (yang benar).” Sebagian lainnya berkata: “Awalnya kami menimba ilmu bukan karena Allah, namun ilmu enggan dituntut kecuali hanya untuk karena Allah.” Ini adalah hal yang baik tentunya, yang membuat mereka kelak menyebarkannya dengan niat yang baik pula.” (Rihlatul Ulama Fi Thalabil Ilmi, hal. 52, karangan Abu Anas Majid, dan Hilyatul Auliya’ 9/119, karangan Abu Nu’im)
5.      Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Belajarlah kalian, dan apabila kalian sudah berilmu maka amalkanlah.” (Iqtidhaul ‘Ilmi wal ‘Amal hal. 54, karangan Al-Khatib Al-Baghdady)
6.      Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata: “Barang siapa mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan membukakan ilmu pengetahuan apa yang dia belum ketahui.” (Hilyatul auliya’ 6/ 136, karangan Abu nu’im)
7.      Malik bin Dinar rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang yang berilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya, akan hilang pengajarannya dari hati seperti hilangnya tetesan hujan dari batu besar.” (Hilyatul Auliya’ 6/288, karangan Abu Nu’im)
8.      Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Kumail: “Hai Kumail, ilmu lebih utama daripada harta karena ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah Hakim, sedangkan harta adalah yang dihakimi. Harta menjadi berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan dibelanjakan (diajarkan kepada orang lain). (Ihya ‘Ulumuddin, bab tentang keutamaan ilmu, mengajar dan belajar).
9.      Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Kebutuhan manusia kepada ilmu agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, adalah lebih dari pada kebutuhan mereka kepada makan dan minum ketika hidup di dunia, karena kebutuhan seorang manusia kepada makan dan minum pada tiap-tiap hari hanya sekali atau dua kali saja, sedangkan kebutuhannya kepada ilmu agama adalah di setiap detik nafasnya.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 14, no. 42)
10.  sebagian ulama salaf mengatakan: “Sebaik-baiknya anugerah adalah akal, dan seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 13 no. 37, Tazkiratus Sami’ Wal Mutakallim, hal. 25)
11.  Ibnu Al-A’rabi berkata: “Seseorang tidak dikatakan rabbani (orang yang taat kepada Allah) sehingga dia berilmu, dengan ilmunya itu ia ajarkan kepada orang lain dan dia pun mengamalkan dari ilmu yang dia ketahui.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 30)
12.  Hasan Bashry radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya ulama tidak ada maka manusia itu bagaikan binatang.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 12, no. 33)
Riwayat Penulis
Namaku Abdus Samad bin Umar Yasin, anak pertama dari pasangan Umar Yasin dan Sapiah.
Lahir pada tanggal 22 oktober 1988, di kampung Nagara, kabupaten Hulu Sungai Selatan, Banjar masin, Kal-sel.
Riwayat belajarku dari TK, MIN, Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah, Pondok Pesantren Modern Ibnu Mas’ud, Pondok Pesantren Modern Darus Salam Gontor dan sekarang masih menjadi mahasiswa Universitas Al-Azhar, cairo. Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir, Tingkat Tiga/Semester 5&6.
Sekarang tinggal di Madinatul Bu’uts Al-Islamiyah, Kairo.
Visi hidup       : Memberikan sinar cahaya untuk kedua orang tua dan orang lain
Misi hidup       : Sukses dan mulia dunia akhirat
Hobi                : Lari pagi, fitness dan renang
Cita-cita          : Mendapatkan ridha Allah
Facebook         : Abdus shamad ((عبد الصمد
Email               : banjary629@gmail.com
Hp                   : +201112059010

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar