Nasehat
Ulama Tentang Ilmu
1.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dalam kitab Al Amru
bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15 mengatakan: “Barangsiapa yang
beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada
mendatangkan kebaikan.” Dan mu’adz
bin jabal juga
mengatakan dibuku dan halaman yang sama yaitu: “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang
setelah adanya ilmu.”
2.
Malik bin Marwan kepada anak-anaknya seraya berkata: “Wahai anak-anakku, pelajarilah ilmu, seandainya
kalian menjadi orang-orang kaya, maka ilmu itu akan menjadi penyempurna bagi
kalian, dan jika kalian menjadi orang-orang miskin, maka ilmu itu harta bagi
kalian.” (Jami' bayaanil 'ilmi wa fadhlihi 1/242)
3.
Pepatah
Arab yang dikatakan oleh Hafidz Ibrahim yang artinya: “Ibu adalah madrasah jika kamu menyiapkannya # Maka kamu menyiapkan generasi berkarakter baik # Ibu
sangat mulia bagaikan gurunya para guru # Pengaruhnya menembus segala penjuru.”
4.
Berkata
Aun bin Imarah: “Aku pernah mendengar Hisyam Ad-Dustuwa’i berkata: Demi
Allah aku tidak mampu mengatakan bahwa aku pergi menuntut ilmu tentang hadis
seharipun dengan niat mencari wajah Allah.” Az-Zahabi berkata mengomentari
perkataan Ad-Dustuwa’i: “Demi Allah, aku pun tidak juga pernah berani
mengatakan demikian, sesungguhnya para salaf menimba ilmu benar-benar untuk
Allah maka mereka menjadi mulia, mereka menjadi para ulama panutan, sebagian
dari mereka awalnya menimba ilmu bukan untuk Allah, setelah mereka
mendapatkannya, ilmu meluruskan niat mereka di tengah jalan.”
Berkata Mujahid
dan yang lainnya: “Kami menuntut ilmu ini awalnya tidak memiliki niat
yang besar, kemudian belakangan Allah berikan kami niat (yang benar).” Sebagian
lainnya berkata: “Awalnya kami menimba ilmu bukan karena Allah, namun ilmu
enggan dituntut kecuali hanya untuk karena Allah.” Ini adalah hal yang baik
tentunya, yang membuat mereka kelak menyebarkannya dengan niat yang baik pula.”
(Rihlatul Ulama Fi Thalabil Ilmi, hal. 52, karangan Abu Anas Majid, dan
Hilyatul Auliya’ 9/119, karangan Abu Nu’im)
5.
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Belajarlah kalian, dan apabila kalian sudah berilmu maka amalkanlah.” (Iqtidhaul ‘Ilmi wal ‘Amal hal. 54,
karangan Al-Khatib Al-Baghdady)
6.
Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata: “Barang siapa mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan
membukakan ilmu pengetahuan apa yang dia belum ketahui.” (Hilyatul auliya’ 6/ 136, karangan Abu nu’im)
7.
Malik
bin Dinar rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang yang berilmu apabila
tidak mengamalkan ilmunya, akan hilang pengajarannya dari hati seperti
hilangnya tetesan hujan dari batu besar.” (Hilyatul Auliya’ 6/288, karangan
Abu Nu’im)
8.
Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Kumail: “Hai Kumail, ilmu
lebih utama daripada harta karena ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga
harta. Ilmu adalah Hakim, sedangkan harta adalah yang dihakimi. Harta menjadi
berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan
dibelanjakan (diajarkan kepada orang lain). (Ihya ‘Ulumuddin, bab tentang
keutamaan ilmu, mengajar dan belajar).
9.
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Kebutuhan
manusia kepada ilmu agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, adalah
lebih dari pada kebutuhan mereka kepada makan dan minum ketika hidup di dunia,
karena kebutuhan seorang manusia kepada makan dan minum pada tiap-tiap hari
hanya sekali atau dua kali saja, sedangkan kebutuhannya kepada ilmu agama
adalah di setiap detik nafasnya.” (Al-mulim
Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 14, no. 42)
10.
sebagian ulama salaf
mengatakan: “Sebaik-baiknya anugerah adalah akal, dan seburuk-buruknya
musibah adalah kebodohan.” (Al-mulim
Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 13 no. 37, Tazkiratus Sami’
Wal Mutakallim, hal. 25)
11.
Ibnu
Al-A’rabi berkata: “Seseorang tidak dikatakan rabbani (orang yang taat kepada Allah) sehingga
dia berilmu, dengan ilmunya itu ia ajarkan kepada orang lain dan dia pun
mengamalkan dari ilmu yang dia ketahui.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah
Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 30)
12.
Hasan Bashry radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya
ulama tidak ada maka manusia itu bagaikan binatang.” (Al-mulim Fil Aqwal Al-Musyawwaqah Li Thalibil ‘Ilmi, hal. 12, no.
33)
Riwayat Penulis
Namaku Abdus Samad bin Umar Yasin,
anak pertama dari pasangan Umar Yasin dan Sapiah.
Lahir pada tanggal 22 oktober 1988,
di kampung Nagara, kabupaten Hulu Sungai Selatan, Banjar masin, Kal-sel.
Riwayat belajarku dari TK, MIN, Pondok
Pesantren Modern Darul Hijrah, Pondok Pesantren Modern Ibnu Mas’ud, Pondok Pesantren
Modern Darus Salam Gontor dan sekarang masih menjadi mahasiswa Universitas Al-Azhar,
cairo. Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir, Tingkat Tiga/Semester 5&6.
Sekarang tinggal di Madinatul Bu’uts
Al-Islamiyah, Kairo.
Visi hidup : Memberikan sinar cahaya untuk kedua orang tua dan orang lain
Misi hidup : Sukses dan mulia dunia akhirat
Hobi :
Lari pagi, fitness dan renang
Cita-cita : Mendapatkan ridha Allah
Facebook : Abdus shamad ((عبد الصمد
Email : banjary629@gmail.com
Hp : +201112059010
No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah membaca blog saya,silahkan tinggal komentar