Monday, April 13, 2015

Masa Pengabdian



Bagian 11: Masa Pengabdian
Empat tahun menjadi santri telah Umam jalani bersama teman-temannya di Pesantren Gontor dengan segala dinamika kehidupan. Berjuang bersama, belajar bersama, makan bersama, tidur bersama, mandi bersama, dihukum bersama dan antri pun bersama. Kini, semuanya telah menjadi kenangan indah yang hanya tampak dalam pikiran mereka semua.
Mereka yang telah diyatakan lulus dari Pondok Modern Gontor, disebarkan keseluruh penjuru Indonesia untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah mereka dapat di Gontor. Tentunya, sebagai wujud pengabdian mereka kepada Allah ta’ala, terhadap ilmu, kepada Pondok Gontor dan masyarakat.
Dan tempat Umam mengabdi adalah di Pondok Modern Gontor Dua, tempat penampungan calon santri Gontor untuk belajar demi mempersiapkan diri agar bisa lulus di ujian masuk Gontor nantinya.
Aktivitas Umam setiap harinya di Gontor Dua adalah mengajar atau jadi Ustadz ketika di kelas, menemani dan menjaga santri di asrama, menjual makanan ketika di dalam koperasi pelajar, membersihkan lingkungan Pondok, ngecor kalau ada pembangunan tempat untuk Pondok dan yang lainnya apa yang dibutuhkan oleh santri, wali santri dan tentunya Pondok Pesantren Gontor.
Banyak kejadian lucu dan aneh yang pernah dia alami semenjak menjadi Ustadz di Gontor Dua, dan banyak pula yang mengambil hikmah dari semua kejadian itu, tentunya hikmah itu semua adalah untuknya dalam pengabdian dan lainnya bagi yang mengetahui.
Pada suatu hari Pondok Gontor dua diguyur hujan. Sedangkan sampah dari daun-daunan, dan ada juga plastik sisa makanan banyak bertebaran di mana-mana. Yang demikian disebabkan pada saat itu banyak calon santri yang baru masuk mendaftarkan diri di Gontor dua, dan banyak di antara mereka yang datang sekeluarga.
Selaku Ustadz Umam dan empat teman lainnya tidak tega menyuruh calon santri menemani mereka untuk keliling Pondok, membersihkan sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana, dan Umam beserta yang lainnya juga khawatir kalau santri-santrinya sakit yang mengakibatkan mereka tidak bisa mengikuti aktivitas belajar mengajar.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau kita saja yang keliling membersihkannya?” Usul Umam kepada empat teman yang juga sedang kebingungan di depan kamar memikirkan cara untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.
“Apa?”
Jawab salah satu di antara mereka yang bertanya balik, yang ternyata suara Umam tidak terdengar jelas karena dikalahkan oleh suara hujan.
“Sekarang hujan, tapi sampah banyak tuh bertebaran di mana-mana. Menyuruh santri tidak mungkin, bagaimana kalau kita saja yang keliling membersihkannya?”
“Cerdas sekali Ustadz kita yang satu ini!” jawab teman Umam yang satunya lagi dengan senyum candanya.
“Shah maa taquulu anta yaa akhi Umam (Benar yang kamu katakan saudaraku Umam).” Ucap yang lainnya lagi.
“Top, kita kan Ustadz dan kita mengabdi di sini, sudah sewajarnya kita yang berkorban untuk santri-santri kita.” Ucap teman Umam yang lain.
Tanpa pikir panjang Umam pun langsung pergi mengambil gerobak dan mengajak empat Ustadz temannya tadi, “Let’s go!”
Santri yang di Gontor dua memang berstatus calon santri Gontor, tapi tetap mempunyai kedudukan sebagai santri, karena mereka mondok dan belajar di sana.
Umam dan teman-temannya pun mulai mengelilingi Pondok dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu asrama ke asrama berikutnya. Di saat mereka keliling pondok yang ditemani oleh guyuran hujan, sapaan dari santri-santri pun banyak menghujani mereka sama seperti hujan yang telah membasahi sekujur tubuh mereka.
Setelah lama mengelilingi Pondok, tibalah mereka di depan warung koperasi belajar. Tempat di mana para wali santri membelikan kebutuhan anak-anaknya dan juga tempat jajan bagi santri sendiri. Ketika Umam dan teman-temannya sedang asik membersihkan area koperasi tersebut, tiba-tiba terdengar oleh Umam bahwa ada suara yang memangil-manggilnya dengan panggilan ‘Mas’.
“Mas, mas, tolong ke sini sebentar!” salah seorang wali santri memanggilnya dan dia pun langsung menghampirinya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu pak?” ucap Umam dengan baik dan sopan.
“Tolong bersihkan sampah-sampah ini ya! Saya, istri dan anak saya mau duduk di sini.” Ucap seorang bapak-bapak kepada Umam.
“Owh, siap pak.”
Umam pun langsung membersihkan lantai tersebut, yang kebetulan hanya beberapa bungkus plastik sehingga dia cepat membersihkanya.
“Terima kasih ya mas, btw kamu digaji oleh Pondok berapa sih?”
Inilah sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Umam, dan kemungkinan memakan hati, karena statusnya adalah mengabdi untuk Pondok, yang berarti apa yang dia lakukan itu hanya semata-mata untuk Pondok. Ikhlas tanpa mengharapkan balasan apalagi gaji.
Umam pun bingung mau menjawab apa, dan ketika dia melihat ke teman-temannya. Ternyata mereka pada tersenyum menahan ketawa mereka, dan ketika melihat santri-santri di sekitarnya yang sedang makan dari hasil jajanannya pun terdiam dan tunduk, karena mereka sudah tau Umam adalah seorang Ustadz dan mereka pun segan untuk ikut campur dalam pekerjaannya. Sebagai rasa hormat seorang santri, dan membantu Ustadznya tanpa ikut campur urusan Ustadz, mereka langsung membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar mereka.
Dengan perilaku teman-temannya, begitu juga santrinya, Umam mendapatkan ilham untuk menjawab pertanyaan bapak tadi dengan senyuman seraya berucap, “Saya dan kawan-kawan semuanya ikhlas melakukan pekerjaan ini pak, tanpa mengharapkan imbalan.”
“Wahh, padahal Mas dan kawan-kawan mas itu rajin lho, sampai hujan-hujanan membersihkan sampah di sekeliling Pondok. Susah mencari orang-orang pekerja seperti mas-mas ini.” Ucap bapak tadi.
“Ah, bapak bisa aja.” Jawab Umam tersenyum sambil mengambil sampah-sampah plastik yang ada di sekitar bapak tadi.
“Serius saya mas, emang mas-mas nggak digaji oleh Pondok? Hanya dengan keikhlasan dari mas-mas saja nih!” Tanya ulang bapak tadi dengan penuh penasaran.
“Kurang lebih begitulah pak.” Jawab mereka berbarengan.
“Subhanallah, mantap!” ucap bapak sambil mengasihkan tanda jempol ke mereka tadi.
Setelah tempat di sekitar itu bersih, Umam dan empat Ustadz temannya tadi langsung berpamitan kepada bapak yang mengajak mereka ngobrol, “Maaf pak, kami permisi dulu, mau melanjutkan keliling Pondok untuk bersih-bersih.”
“Owh iya, silahkan, silahkan. Good job!”
Ucap bapak tadi sambil memakan roti la-tansa dan minumannya pun juga bermerek la-tansa yang keduanya adalah kepunyaan Pondok Pesantren Gontor.
Ketika itu, Umam tidak sengaja mendengar ucapan seorang Ibu, yaitu istri bapak tadi kepada anak beliau yang sama-sama sedang memakan roti la-tansa dengan minuman la-tansa juga. Ucapannya begini:
“Enak banget nih rotinya ya nak! Adonan susu dan telornya pas.”
“Iya bu, air putihnya juga nih, rasanya seperti air dari mata air.” Jawab anaknya.
Pada hari itu juga di lain waktu, Umam bertemu lagi sama bapak tadi beserta keluarganya yang tepatnya waktu jam makan malam. Ketika itu, Umam sedang menjaga warung makan (kantin) yang dimiliki oleh Gontor. Bapak tadi beserta keluarganya maemasuki kantin yang sedang Umam jaga. Di saat Bapak tadi melihat Umam yang sedang menjaga kantin, beliau kaget seraya berkata kepada Umam, “Wahh, Mas ini ternyata punya warung makan juga yaa?”
“Hmmm, bukan Pak, kantin ini punya Pondok, tapi saya yang mengelolanya.”
“Owh begitu! Tanpa digaji lagi?” Tanya bapak tadi penasaran.
“Yaa, kurang lebih begitulah Pak.” Jawab Umam dengan tenang.
“Masya Allah, semoga Allah memberikan pahala yang berlipat ganda kepada kamu yaa mas!”
“Aamiin…”
“Owh iya, kita belum kenalan, nama Mas siapa ya? Nama saya Bapak Yudi Ardani,” bapak tadi bertanya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Nama saya Rijalul Umam, Pak.”
“Owh, Mas Rijalul Umam yaa, oke dah. Saya sama keluarga saya mau milih-milih makanan dulu.”
Kebetulan kantin yang sedang Umam jaga adalah prasmanan, jadi para pembeli pun bebas untuk memilih dan mengambil menu yang sudah disediakan oleh Pondok.
“Ya, silahkan pak!”
Besok paginya, bapak tadi sedang santai sambil meminum teh bersama keluarganya di warung minuman yang sudah disediakan oleh Pondok Gontor. sedangkan Umam sedang membersihkan rumput halaman di sekitar warung tersebut. Ketika bapak tadi melihatnya sedang membersihkan rumput, tepatnya dengan menggunakan mesin rumput. Beliau langsung menghampirinya dan berkata, “Rajin sekali Mas Umam ini, memang lelaki multifungsi. Saya jadi penasaran nih dengan Mas Umam ini. Seakan-akan bekerja tiada henti, tanpa mengenal lelah dan selalu semangat.”
“Hehe, biasa saja Pak, ini sudah menjadi tugas saya.”
“Mas, ini saya ada sedikit uang lebih dari saya, mohon diterima yaa! Sekedar buat beli rokok gitu.” Ucap Bapak tadi sambil mengasih uang kepada Umam.
“Aduh, terima kasih banyak pak, saya ini ikhlas dan sayam juga tidak merokok.” Ucap Umam menolak pemberian bapak tadi dengan halus.
Akan tetapi bapak tadi malah memaksanya untuk menerima dan berkata, “Apa Mas Umam ini menolak rezeki dari Allah yang sudah ditentukan melewati saya?”
Umam pun bingung menjawabnya dan akhirnya dia menerima pemberian bapak tadi dan berkata, “Terima kasih banyak ya Pak.”
“Terima kasih juga Mas Umam mau menerima pemberian dari saya.”
Kemudian Umam kembali bekerja, dan bapak tadi juga balik ke keluarganya yang sedang minum teh hangat di warung.
Umam selesai membersihkan halaman tadi sekitar jam setengah tujuh pagi dan kemudian dia langsung mandi, sarapan serta bersiap-siap untuk mengajar. Nah, di saat dia sedang mengajar pelajaran Al-Qur’an, bapak tadi datang dan mengetuk pintu kelasnya. Bapak tadi pun kaget dan merasa bersalah ketika melihat Umam yang sedang mengajar dan berpakaian rapi menggunakan jas serta dasi. Umam langsung menghampiri beliau dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Jadi, Mas Umam,,, eh Ustadz Umam ini adalah seorang Ustadz?”
“Yaa begitulah Pak, saya dulunya santri Gontor juga dan sudah selesai yang kemudian saya disuruh mengabdi untuk mengajar dan mengamalkan ilmu-ilmu saya di sini.”
“Jadi, teman-teman Ustadz yang kemaren, yang membersihkan sampah kehujanan itu semua adalah Ustadz?” Tanya bapak dengan bermuka bingung dan merasa bersalah.
“Iya Pak, semua yang kerja di Pondok Gontor adalah santri dan ustadz, termasuk yang jaga warung dan yang bersih-bersih di sekitar Pondok.”
Ketika mendengar penjelasan Umam tadi, tiba-tiba bapak tadi langsung menarik tangan Umam untuk bersalaman serta mau mencium tangannya, akan tetapi Umam singkirkan tangannya.
“Saya minta maaf Ustadz atas kalakuan saya yang kurang sopan kepada Ustadz!”
“Nggak apa-apa Pak, saya juga minta maaf karena saya tidak langsung jujur kepada Bapak kalau saya dan teman-teman yang kerja di sini semuanya adalah seorang Ustadz.”
“Saya kira seorang Ustadz itu Cuma ada di kelas dan tempat-tempat pengajian saja.” Ucap seorang Bapak.
“Kami di sini dididik oleh Gontor untuk menjadi guru bukan sekedar guru di kelas saja Pak, tapi juga guru dalam bergaul, guru dalam bekerja, guru dalam berorganisasi, dan tentunya kami juga harus ikut terjun dalam segala hal kegiatan-kegiatannya. Seorang guru harus lebih awal memberikan contoh kepada murid-muridnya, bukan hanya sekedar nasehat belaka. Menasehati memang lebih mudah dibanding pelaksanaan dan pengamalannya. Bukan begitu Pak?”
“Iya, benar sekali Ustadz. Sekarang ini banyak sekali tong kosong nyaring bunyinya. Hehe…” gurau Bapak tadi dan Umam pun hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
 Umam langsung bertanya balik ke bapak tadi untuk mempersingkat waktunya, karena dia sedang mengajar.
“Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Begini, saya mau mengantarkan anak saya masuk kelas, yang tempatnya di kelas Ustadz ini. Karena hari ini dia awal masuk kelasnya, jadi dia malu untuk pergi ke kelas sendirian Ustadz.”
“Owh, baik, biar saya yang bawa dia ke kelas saya Pak.”
Umam pun langsung membawa anak tadi ke kelasnya, dan acara belajar mengajar pun berlanjut seperti biasanya.
Di waktu yang lain, tanpa disengaja Umam berbagi ilmu kepada seorang tamu. Inilah ilmu, ilmu tidak saja untuk seorang santri, tapi ilmu untuk semua orang. Ketika itu Umam sedang mengeliling kamar calon santri untuk menyuruh mereka pergi ke masjid, tiba-tiba ada seorang Ibu menghampirinya. Kebetulan anak beliau adalah anggota asrama yang sedang dikelilingi oleh Umam, sedangkan anaknya sendiri sudah pergi ke mesjid.
“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Sapa seorang Ibu.
“Wa’alaikumusssalam.”
“Boleh saya menanyakan sesuatu?” Tanya seorang Ibu,
“Insya Allah boleh dan saya jawab sebisa saya ya bu!” ucap Umam.
“Begini nak Ustadz, anak saya sudah mondok di sini sekitar satu bulan dan sekarang dia sudah pergi ke masjid, dan ini pertama kali saya menengoknya. Kali ini, banyak sekali perubahan yang saya dapat dari anak saya. Saya bingung dan heran, kok bisa anak saya bisa berubah 180 derajat dalam jangka waktu sependek ini?” Ucap Ibu tadi penasaran.
“Berubah gimana maksudnya bu?” Umam bertanya balik dengan muka penasaran.
“Dulu anak saya itu nakal sekali Ustadz! Sekarang baru saya datang ke Pondok, dia sambut kedatangan saya dengan mencium tangan saya, barang-barang yang saya bawa pun dia angkat semua, sampai-sampai saya nggak dapat bagian ngangkat barang. Terus tiap kali berangkat dan pulang dari kelas sebelum ke asramanya, dia mendatangi saya dan cium tangan saya. Ketika mau pergi ke mesjid juga cium tangan saya, begitu juga ketika balik dari mesjid. Dulu, saya suruh cuci piring aja ngomelnya panjang banget. Sekarang, nyuci baju sendiri, pakaiannya pun terlihat rapi dan bersih. Dulu, kalau mau makan dan lauknya nggak enak, dia nggak mau makan. Sekarang, kalau makan lauknya tahu tempe aja lahap banget, bahkan nasi, kerupuk sama sambel aja dia habisin tuh makanannya. Sebenarnya apa sih rahasia ustadz-ustadz di sini mendidik santri-santrinya sehingga bisa merubah mereka menjadi anak yang baik?” Tanya seorang Ibu penuh penasaran.
Dan Umam pun bingung menjawabnya sehingga dia memulai jawabannya dengan sedikit gurauan.
“Makanya Bu, kalau mau cari menantu pilih aja anak Gontor. Ilmu dijamin, agamanya pun juga insya Allah baik dan tidak ketinggalan penting adalah masalah makan, dikasih makan pake nasi, kerupuk sama sambel, jadi. Langsung diterima, nggak pake ngomel dan otomatis hemat biaya. Hehe…” jawab Umam sambil tersenyum.
“Wah, pintar juga Nak Ustadz ini mempromosikan diri, hehe… Jadi bagaimana ini jawaban pertanyaan saya tadi Ustadz?” ucap Ibu tadi sambil tersenyum.
“Begini ya bu, sebenarnya Ibu dan keluarga Ibu juga ikut andil dalam mendidik anak Ibu. Ibu memasukkan anak Ibu ke Gontor itu adalah sebuah usaha, uang yang Ibu kasih ke anak Ibu adalah wujud perhatian dan kasih sayang dari orang tua ke anaknya. Belum lagi do’a yang Ibu panjatkan untuk anak Ibu, wahhh sangat mujarrab banget tuh!” jawab Umam.
“Kalau sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Gontor sendiri gimana Ustadz?” Ibu tadi bertanya lagi,
“Begini Bu, Gontor mempunyai tujuan membentuk santri-santrinya agar menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berakhlaq mulia. Sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Surat An-Nahl ayat 125, untuk mengajarkan dan mengajak ummat ke jalan Allah. Yaitu dengan hikmah (segala yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist), dan nasehat atau pelajaran yang baik serta membantah atau melarang dengan cara yang baik pula. Sehingga dengan demikian, bagi yang tidak bisa menerima pendidikan di Gontor atau apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasululullah maka tersingkirlah ia.”
“Jadi, Al-Qur’an juga mengajarkan kita dalam mendidik dan mengajar ya Ustadz?”
“Al-Qur’an telah mengajarkan kita dalam segala hal kehidupan di dunia dan akhirat Bu. Al-Qur’an dan As-Sunnah lah yang menjadi rujukan untuk perjalan hidup ummat Muslim.”
“Terus bagaimana dengan ijma’ dan qiyas yang dilakukan oleh para ulama, Ustadz? Waduh maaf pertanyaan saya jadi ke mana-mana nih.” Tanya Ibu lagi.
“Nggak apa-apa Bu, ilmu kan untuk diamalkan, selama saya bisa jawab saya akan jawab. Hehe… Ijma’ dan qiyas juga bahan rujukan untuk kehidupan ummat muslim yang hidup setelah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk kita. Ijma dan qiyas pun tidak boleh keluar dari Al-Qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan ketika di masa Rasulullah hidup, apabila ada sebuah kesepakan antar ulama (orang yang berilmu) dari sahabat dalam syariat dan Rasulullah menyetujuinya, itu sudah termasuk hadist taqririyah (sepakat/disetujui oleh Rasulullah). Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, merekalah tempat kita bertanya, apabila terdapat sesuatu yang belum kita pahami dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Jelas Umam.
“Alhamdulillah! Saya juga bisa dapat ilmu dari nak Ustadz, terima kasih ya Ustadz.”
“Sama-sama Bu, terima kasih juga telah mau mendengarkan ucapan saya.”
“Permisi Nak Ustadz, saya mau menunggu anak saya dulu.”
“Silahkan!”
Ibu tadi pun pergi menunggu kepulangan anaknya dari masjid. Sedangkan Umam langsung pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat ashar berjama’ah.
Hari berikutnya, Umam mendapatkan kesempatan untuk bernostalgia, mengenang masa kecilnya. Ketika Umam selesai mengajar dan keluar dari kelas sesudah mengajar, dia melihat ada beberapa Ustadz yang jadwalnya kosong dalam mengajar pada hari itu sedang membersihkan kolam ikan. Setelah airnya dikuras setengah kolam, mereka kebingungan untuk memindahkan ikan-ikan tersebut ke kolam yang di sebelahnya, karena tidak ada yang bisa memakai jala. Bapak pengasuh Pondok Gontor Dua yang sedang mengontrol keadaan Pondok berkata, “Lha, bagaimana kalian bisa mindahin ikan-ikan sebanyak ini! Sudah kolamnya luas lagi. Ada jala tapi nggak ada yang bisa memakainya.”
Ketika itu Umam mendengar ucapan bapak pengasuh tadi dari depan kelas, dia pun langsung menghampiri beliau dan bertanya, “Ada masalah Ustadz?”
“Ya, ada. Ini ustadz-ustadz nggak bisa menangkap ikan pakai jala. Sedangkan ikannya banyak dan kolamnya kotor banget tuh.”
“Wah! Ini hobi saya mencari ikan pakai jala Ustadz, biar saya yang memakainya.” Ucap Umam kegirangan, karena sudah 7 tahun lebih dia sudah tidak memakai jala.
“Tapi kamu hari ini kan ngajar?” ucap Bapak Pengasuh.
“Tadi sudah jadwal ngajar terakhir untuk hari ini Ustadz. Tiga menit saya ke sini lagi untuk bantu-bantu Ustadz yang lain. Saya mohon izin untuk ikut mereka dan pamit mau ganti baju dulu?”
“Ya, silahkan. Saya tunggu kamu di sini.” Ucap beliau.
Umam pun langsung bersegera lari untuk mengganti pakaian ngajarnya dengan pakaian kerja. Setiba di depan kolam, dia langsung mengambil jala dan melemparkannya ke kolam sehingga jala tersebut melebar bulat, membentuk huruf O. ketika itu, yang melihat dia melempar jala tersebut terkagum-kagum sampai ada salah satu teman ngabdinya berkata, “Umam, ente ini Ustadz apa nelayan sih?”
“Hehe, saya ini nelayan tapi Ustadz bro!” jawab Umam sambil tertawa.
Bapak pengasuh yang sedang berada di sana juga mengatakan kepada teman-teman Umam yang sedang ikut kerja, “Umam itu seorang nelayan yang menjadi Ustadz, makanya belajar sama dia.” Ucap beliau dengan tersenyum.
Seketika itu juga, para ustadz bergantian untuk belajar memakai jala kepada Umam. Memang, seorang Ustadz tidak harus untuk menjadi Nelayan. Tapi tidak ada dalil tentang larangan untuk menjadi nelayan. Sesungguhnya di setiap jerih payah seseorang ada berkahnya.

Hari Duka



Bagian 10: Hari Duka
Tiga tahun lebih sudah dijalani oleh Umam di Pesantren Gontor dengan manis dan pahitnya sudah dia rasakan. Sekarang dia sudah duduk di kelas enam KMI. Dia bisa cepat naik ke kelas enam di Gontor karena mengikuti kelas intensif. Sehingga lebih cepat dari kelas biasa yang seharusnya enam tahun bisa dijadikan empat tahun.
Ada beberapa ketentuan syarat untuk mengikuti kelas intensif, di antaranya sudah menyelesaikan pendidikan di sekolah tingkat SMP atau yang lainnya dan pastinya harus lulus dalam mengikuti ujian masuk kelas intensif.
Satu bulan sebelum mengikuti ujian akhir semester di kelas enam KMI, Umam terkena penyakit gejala tipes. Awal kronologinya begini, Di pagi hari dia tidak mempunyai nafsu makan, badannya pun mulai meriang dan sering muntah-muntah di depan kamar mandi sehingga membuat badannya pun menjadi lemah, lesu, dan mukanya menjadi pucat. Teman akrabnya yang bernama Ardi langsung menghampirinya dan mengusapkan tangannya ke bahu Umam yang kemudian diurutnya.
“Yaa akhi Umam, hal anta maridh? Istarih fil gurfah, saufa aakhuzu laka ar-ruzza litanawulil ifthar (wahai saudaraku Umam, apakah kamu sakit? Istirahatlah di kamar, nanti saya ambilkan nasi buat kamu sarapan)” ucap Ardi kepada Umam.
“Na’am, kuntu maridh, wa syukran ‘ala musaa’adatik, a’takid ashabani az-zukkaam. Ardi, lau samah mumkin tusaa’iduni syai’an ba’dah (Iya, saya sakit terima kasih atas bantuannya, mungkin saya terkena penyakit demam. boleh saya minta bantuan yang lain)?”
“Maadza yumkinuni an usaa’idak (Apa yang bisa saya bantu)?”
“Uthlub li at-tashrih fi maktab KMI, wa a’takid innani maa kuntu qodiran ‘aladz dzihab ila hunak (Tolong mintakan tashrih[1]  ke kantor KMI, kayaknya saya tidak mampu untuk jalan ke sana!”
“Na’am saufa athlubu laka at tashrih, fal an istarih fil gurfah (Iya, nanti saya mintakan tashrih untuk kamu dan sekarang kamu istirahat saja di kamar).”
Umam pun berisitarahat di kamar, sedangkan temannya Ardi pergi ke dapur mengambilkan nasi untuk sarapannya. Sekitar 15 menit si Ardi pun datang dengan segelas air hangat dan sepiring nasi yang pada hari itu lauknya adalah tempe dan sambal ikan teri, salah satu menu kesukaan Umam di Pondok.
“Yaa Umam, kul wasy rab was tarih, fallahu yasyfiika (Wahai Umam, makan, minum dan istirahatlah, semoga Allah menyembuhkanmu)!” perintah Ardi kepada Umam untuk makan.
Akan tetapi sangat disayangkan, walaupun menu makanannya adalah yang dia sukai, dalam sakitnya pada saat Umam menyuap nasi dia merasa perutnya tidak bisa menerima kehadiran nasi tersebut dan merasa mual, dan dia pun bersegera pergi ke kamar mandi. Pas di depan kamar mandi dia sudah tidak bisa menahan lagi untuk muntah dan dia pun memuntahkan yang ada di perutnya tepat di depan kamar mandi. Pada waktu itu juga, Ardi keluar dari kamar mandi dan melihatnya sedang duduk pucat di depan kamar mandi.
“Maadza hashala laka yaa Umam? Araa wajhaka yabduu syaahiban, ta’ala nazhab ilal mustasyfa (ada apa denganmu Umam? saya lihat mukamu kelihatan pucat, mari kita pergi ke rumah sakit).” Tanya Ardi terlihat panik ketika melihatnya.
Umam dan Ardi pun langsung pergi ke rumah sakit yang sudah disediakan oleh Pondok Gontor untuk santri-santrinya dan masyarakat di sekitarnya. Rumah sakit tersebut dinamakan BKSM (Balai Kesehatan Santri/Masyarakat). Umam dan Ardi menuju BKSM dengan menggunakan becak yang juga sudah dipasilitasi oleh Pondok Modern Gontor. Setibanya di sana dia langsung dimasukkan di sebuah ruangan untuk diperiksa oleh dokter. Dan setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa dia terkena sakit gejala tipes dan harus diinpus.
“Kamu sakit gejala tipes dan kamu harus diinpus, mau kan saya inpus?” kata dokter kepada Umam.
“Iya, nggak apa-apa dok.” Jawab Umam yang sudah lemah tak berdaya itu.
Setelah jarum ditusukkan di tangan kirinya untuk diinpus, dia langsung berusaha untuk tidur akan tetapi tidak bisa. Akhirnya dia gunakan waktu istirahatnya untuk berdzikir, karena dia merasa seakan-akan ajalnya sudah dekat. Sambil berdzikir dia menangis karena belum bisa untuk minta maaf kepada orang tuanya, guru-gurunya dan yang lainnya. Umam takut meninggalkan dunia ini dengan dosa, takut menjadi beban bagi orang yang ditinggalkannya, akan tetapi ternyata itu hanya sebuah rasa takutnya saja.
Sejak diinpus pun dia hanya bisa melaksanakan shalat lima waktu dengan posisi berbaring. Sungguh Allah sangat sayang kepada hambanya, ketika seorang hamba yang sakit diberi kemudahan untuk beribadah kepadanya. Bukan kemudahan dalam beribadah saja bukti kasih sayang Allah kepada hambanya, bahkan ketika waktu Umam sakit banyak teman-temannya yang berdatangan menengoknya sambil membawa makanan dan buah-buahan. Di antaranya adalah teman-teman yang satu daerah sama dia. Mereka menghiburnya dengan memakai Bahasa Banjar, karena dia adalah orang banjar yang terletak di kalimantan selatan. Padahal kalau di rumah sendiri, Umam sering berbicara bersama keluarganya Mamakai bahasa Indonesia, karena Ayah dan Ibunya berasal dari Jawa dan tidak lancar berbahasa Banjar, akan tetapi keluarganya bisa untuk memahaminya.
“Assalamu’alaikum ya Umam,” ada tiga teman Umam yang datang satu daerah sama dia.
“Wa’alaikumusssalam.” Jawab Umam dengan lemah dan lesu.
“Kayapa habar wayahini (Gimana kondisinya sekarang)? Waras kah sudah ikam (kamu sudah sembuh)?” Tanya di antara mereka kepada Umam.
“Alhamdulillah, kaya ngini pang dah nah, tanganku masih batali (beginilah, tanganku masing ada talinya).” Jawabnya sambil melihat ke tangannya yang sedang diinpus.
“Mudah-mudahan Allah capat manyigar akan ikam lah kawan, nyaman kita kawa bagayaan pulang (Mudah-mudah Allah cepat menyembuhkanmu kawan, biar kita bisa canda lagi). Hehe…” ucap teman Umam yang satunya lagi dengan tersenyum.
“He eh, nyaman amun ikam sigar kita kawa bukah baisukan pulang mangulilingi Pondok (Iya, kalau kamu sembuh kita kan enak bisa lari pagi lagi mengelilingi Pondok).” Ucap teman yang lain menghiburnya.
“Aamiin, do’akan lah buhannya (Aamiinn, mohon do’anya yaa kawan)!” jawab Umam.
“Allah yasyfika (semoga Allah menyembuhkanmu).” Ucap tiga temannya tadi berbarengan.
“Mam, buhan kami bulikan dahulu nah handak ka masjid sambahyang maghrib lawan malam ngini kaina kita kalas anam dikarantina (Mam, kami balik dulu mau ke mesjid shalat maghrib dan ntar malam kita kelas enam akan dikarantina).” Ucap temannya berpamitan.
“Makasih banyak nah gasan samuanya (Terima kasih banyak yaa untuk semuanya).” Ucap Umam kepada mereka.
“Your welcome Mam, wassalamu’alaikum.” Ucap salah seorang dari temannya, kemudian di jawab oleh Umam, “Wa’alaikumusssalam”.
Tiba-tiba Umam terdiam sendiri dan dihantui oleh kesedihan karena tidak bisa mengikuti belajar bersama kawan-kawannya dan tentunya dia sudah ketinggalan pelajaran. Bahkan ikut karantina untuk persiapan ujian akhir semester di kelas enam pun akan terlambat. Bagaimana dia tidak tidak bersedih, banyak waktu yang tertinggal olehnya untuk belajar, sedangkan materi pelajaran yang akan diujikan sangatlah banyak, yaitu dari kelas satu sampai kelas enam. Salah satu tujuan diadakannya karantina agar para santri kelas enam bisa focus kepada materi yang akan diujikan nantinya. Karantina itu dilaksanakan selama satu bulan sebelum ujian dan ketika ujian berlanjut yang lamanya sekitar dua bulan lebih. Umam hanya bisa berdzikir dan terus berdo’a untuk kesembuhan dan kemudahannya dalam memahami dan menghafal pelajaran.
Di hari ketiga dia tinggal di rumah sakit, ketika dokter mau memeriksa keadaannya, dia bertanya kepada dokter, “Dok, kapan saya bisa keluar dari rumah sakit? Saya mau ikut belajar bersama teman-teman nih.”
“Insya Allah dalam tiga atau empat hari ini kamu bisa keluar.”
“Alhamdulillah, terima kasih dok.”
“Sama-sama.”
Pada hari itu juga di saat dia terpapar di atas ranjang dalam keadaan sakit, tiba-tiba dia merindukan keluarganya yang di kampung halaman. Walaupun teman-temannya silih berganti menjengoknya untuk menghibur, pelayanan yang maksimal dari pihak rumah sakit, namun yang demikian, malah membuatnya bertambah rindu akan keluarga. Hingga di malam hari sesudah shalat isya, dia tertidur pulas dan bermimpi bahwa dia sedang ada di rumah bersama keluarganya tercinta. Di dalam mimpinya, Ayahnya Umam mengajak keluarganya untuk berkumpul dan beliau berkata kepada Umam, “Nak, mulai sekarang kamu dan adikmu Budi saja yaa untuk mencari ikan, Ayah sudah tidak kuat lagi dan mau beristirahat. Jangan lupa! Jaga baik-baik Ibu dan adik-adikmu.”
“Iya yah (Ayah), Ayah beristirahat saja.” Ucap Umam.
“Iya, sebentar lagi Ayah mau istirahat. Ingat! Jaga Ibu dan adikmu Budi dan Shasa.” Perintah seorang Ayah kepada umam yang sambil berjalan menuju pintu.
“saya akan menjaga Ibu dan adik-adik sebagaimana agama Islam menjaga kita semua Yah. Tapi Ayah mau ke mana?”
Ayahnya Umam hanya menjawabnya dengan senyuman yang membuat Umam dan keluarganya penasaran dan was-was. Umam pun bertanya lagi kepada Ayahnya, “Ayah mau ke mana? Ayah, Ayah,…” tiba-tiba dia terbangun oleh ketukan pintu dari seseorang. 
Ternyata di kampung halamannya memang ada kejadian pilu, yang membuat kesedihan Umam bertambah. Yaitu sang Ayah tercinta terpaksa meninggalkan keluarganya tanpa kehadiran Umam.
Tepat di pagi hari Jum’at sang Ayah yang sudah mandi dan memakai wangi-wangian siap untuk pergi ke mesjid. Ibunya Umam pun bertanya, “Tumben pagi-pagi sudah mau pergi ke masjid, sekarang kan masih jam sembilan?”
“Hmmm, emang nggak boleh?” Tanya Ayahnya Umam sambil tersenyum kepada istrinya tercinta. “saya hari ini mau I’tikaf lama sekalian untuk mendo’akan keluarga kita, khususnya Umam yang sedang belajar jauh di seberang sana.”
Setiba Ayahnya Umam di masjid, beliau langsung membersihkan ruangan masjid berserta halaman sekitarnya. Merapikan rak-rak Al-Qur’an yang kemudian duduk berdzikir di samping pintu. Beliau sengaja duduk di samping pintu untuk menyambut kedatangan para jama’ah serta menyalami mereka. Di saat bersalaman dengan para jama’ah, dengan kerendahan hati beliau memohon maaf kepada yang disalaminya. ‘Mohon maaf lahir batin ya?’ inilah yang selalu diucapkan oleh sang Ayah.
Ketika waktu adzan tiba, beliau pun langsung berdiri untuk mengumandangkan azan, kemudian mendengarkan khutbah serta shalat jum’at.
Di saat raka’at kedua, tiba-tiba Ayahnya Umam meriang,  kepala terasa pusing, dan kakinya mulai terasa dingin. Innalillah, Ayahnya Umam meninggal dunia di saat sujud terakhirnya, di mana tempat tertinggi seorang hamba di sisi tuhannya. Hari jum’at, hari rayanya umat muslim, beliau yang menghembuskan nafas terakhirnya. Subhanallah, sungguh indah caranya sang maha pencipta menjemput hambanya yang shaleh.
Di kala kejadian itu sangat membingungkan para jama’ah jum’at yang ada di mesjid sana. Karena Ayahnya Umam tidak bangun-bangun ketika sujud terakhir. Ada di antara jama’ah yang mengira beliau ketiduran, sehingga si Budi adeknya Umam mencoba untuk membangunkannya.
“Ayah, bangun! Ayuk kita pulang ke rumah?”
Beberapa kali dipanggil, akan tapi tidak ada respon dari Ayahnya tadi.
Setelah dicek dan dipegang urat nadinya, para jama’ah kaget dan mulai mengetahui bahwa beliau meninggal dunia di saat sujud terakhirnya. Si Budi pun langsung menangis dan memeluk Ayahnya. Para jama’ah jum’at pun sepakat, untuk tidak ada yang pulang ke rumah mereka, akan tetapi langsung membawa jenazah Ayahnya Umam ke rumah beliau.
Padahal di hari itu, sang Ibu (Ibunya Umam) sudah menyiapkan minuman dan makanan untuk kepulangan sang suami. Ketika jama’ah yang berbondong-bondong menuju rumah Umam, yang dikawal oleh Budi. Budi kemudian mengetuk pintu rumahnya dan mengucapkan salam sambil tersedu-sedu karena menangis.
Sang Ibu pun langsung memeluk Budi dan bertanya, “Kamu kenapa menangis nak, Ayah mana?”
Budi tak bisa berucap apa-apa, hanya menunjuk kepada jama’ah yang membawa Ayahnya yang tertutup oleh surban putih.
“Ayah kamu kenapa nak? Silahkan langsung bawa masuk ke dalam!” sang Ibu bertanya panik dan bingung.
Salah satu jama’ah pun memberitahu akan kepergian sang suami tercinta. Mendengar demikian, Ibunya pun langsung menangis dan memeluk Ayahnya Umam yang sudah ada di sisi tuhannya. Tanpa dirasa oleh sang Ibu tadi, dalam tangisan dan dalam memeluk sang suami, beliau (Ibunya Umam) kemudian pingsan. Yang demikian membuat Shasa dan Budi tambah menangis lagi.
Setelah lima belas menit sang Ibu pingsan, beliau pun sadar karena mendengar tangisan dan merasakan pelukan dari anak-anaknya, Budi dan Shasa. Dengan melihat kondisi mayat Ayahnya Umam, di antara jama’ah pun ada yang memberanikan untuk bertanya, “Bagaiamana kelanjutannya Bu, apa langsung kita mandikan, dishalatkan dan dikuburkan, atau menunggu kedatangan Umam?”
“Iya, langsung saja dimandikan. Nanti saya saja yang akan memberitahu Umam, saya takut mengganggu konsentrasinya dalam belajar.”
Sang Ibu tidak mengetahui kalau Umam sedang sakit dan tangannya sedang bertusukkan jarum inpus.
Ternyata Umam tidak hanya harus mengalami sakit yang berujung dengan harus diinpus, akan tetapi dia juga harus berpisah untuk selamanya dengan orang yang sangat dia cintai, yaitu Ayahnya sendiri.
Kembali dengan kondisi Umam yang dalam tidurnya terbangun karena mendegar ketukan pintu dan salam dari wali kelasnya. Beliau datang dengan membawakan bungkusan plastik, berisikan bakso bhayangkara, salah satu bakso favorit Umam dan santri Gontor yang lain.
Tok tok tok… “Assalamu’alaikum yaa Umam.” Ucap seorang Ustadz, yaitu wali kelas Umam sendiri yang sambil membuka pintu kamarnya Umam.
“Wa’alaikumusssalam yaa Ustadz.”
“Umam, bagaimana kabarmu sekarang? Ini saya bawakan bakso bhayangkara.”
“Alhamdulillah, sudah mulai membaik ust, insya Allah dalam tiga atau empat hari lagi saya sudah boleh keluar dari sini ust.” Ucap Umam sambil membuka bungkusan yang dibawakan Ustadznya dan kemudian mengucapkan terima kasih kepada Ustadznya, “Waahh, Alhamdulillah terima kasih banyak nih atas baksonya ust.” Ucapnya dengan senyum bahagia dan dalam hatinya berkata: ‘Baik banget wali kelasku ini sudah nengokin, bawain bakso lagi, jadi terharu’.
“Iya, sama-sama dan semoga kamu cepat sembuh yaa.”
“Aamiin.”
Setelah itu wali kelasnya terdiam dan terlihat bingung seakan-akan ada sesuatu yang harus disampaikan dan berat untuk dilaksanakan. Umam pun menjadi curiga dan bertanya-tanya dalam hatinya yang akhirnya dia beranikan diri untuk bertanya kepada beliau, “Ustadz.”
Umam memanggil Ustadznya berkali-kali namun tak ada respon dari beliau yang seperti sedang memikirkan sesuatu masalah besar. Dan dipanggilnya lagi dengan lebih keras, “Ustadzzz…”
Kemudian beliau sadar bahwasanya Umam sedang memanggil Ustadznya.
“Iya, ada apa Umam?” jawab beliau terlihat kaget dan gugup.
“Aduh, maaf Ustadz! Saya buat antum (kamu) kaget.”
“Ahh, nggak apa-apa. Begini Umam, habis shalat isya tadi saya mendapatkan telpon dari keluarga kamu.”
“Owh ya! Terus apa kata keluarga saya Ustadz dan bagaimana kabar keluarga saya Ustadz? Sudah hampir sebulan saya nggak nelpon keluarga. Saya kangen banget nih sama keluarga saya, sampai kebawa mimpi. Hehe…”
“Ada kabar duka dari keluargamu Umam, Ayah kamu sudah meninggal dunia siang tadi, sesudah shalat jum’at.” Ucap seorang Ustadz dengan muka sedih.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Jawab Umam yang awalnya terlihat gembira berubah menjadi sedih seketika.
Kemudian dia terdiam lama diiringi dengan tetesan air mata. Dia menangis dan terus menangis sehingga air mata yang jernih membasahi mukanya yang sudah pucat. Umam pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mempunyai uang yang cukup, kecuali do’a yang tulus terus dia panjatkan untuk Ayahnya tersayang. Kemudian wali kelasnya tadi mengusapkan tangannya ke bahu Umam dan berkata, “Yang sabar ya Umam, teruslah berdo’a untuk Ayahmu. Semoga dosa-dosa beliau diampuni dan amal ibadahnya diterima disisi Allah.”
“Aamiin Ya rabbal ‘aalamin.”
“Ingat hadist Rasulullah yang artinya: Jika meninggal anak cucu Adam, maka terputus amalnya kecuala tiga perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)
“Insya Allah Ustadz, akan selalu saya masih ingat.”
“Bagus, orang tua mempunyai harapan kepada anak-anaknya agar bisa menjadi tongkatnya di masa tua, amalan-amalan yang telah diajarkan oleh mereka kepada anak-anaknya, dan do’a untuk mereka dari anak-anaknya yang shaleh/shalehah.” Nasehat Ustadz kepada Umam.
“Iya Ustadz, terima kasih telah menasehati saya dan memberikan semangat lagi kepada saya. Saya akan sabar dan tabah dalam menerima segala kehendak Allah yang maha kuasa.”
“Ustadz, boleh saya pinjam Hp? Sekarang wartel kayaknya sudah tutup.” Ucap Umam.
“Pinjam Hp saya untuk apa?” Tanya Ustadz.
“Saya mau nelpon Ibu dan menanyakan kabar Ibu dan adik-adik saya. Saya kangen banget nih sama Ibu saya Ustadz.”
“Iya, ini silahkan telpon Ibu kamu!” jawab Ustadz sambil menyodorkan Hpnya.
Ia pun langsung menelpon Ibunya, “Assalamu’alaikum Mama, gimana kabar Mama dan adik-adik? Ini saya Umam.”
“Wa’alaikumusssalam, Umam…” jawab sang Ibu, suaranya terdengar seperti orang yang sedang menangis dan kaget ketika Umam menelpon beliau.
“Alhamdulillah, Mama dan adik-adikmu sehat. Kamu bagaimana kabarnya?” Tanya balik Ibunya Umam.
“Alhamdulillah saya baik-baik saja Ma.”
Terpaksa Umam berbohong, karena dia tidak mau menambahkan kesedihan Ibu dan keluarga yang lainnya dengan rasa sakit yang dideritanya, yaitu gejala tipes dan sedang diinpus. Sang Ustadz pun hanya bisa diam dan bersedih ketika melihat keadaan yang dialami oleh keluarga Umam sekarang.
“Tapi kok suara kamu terdengar lemes seperti orang sakit nak!” Tanya Ibunya lagi.
“Ini saya habis nangis dengar Ayah sudah meninggal Ma,” jawabnya sambil menangis dan Ibunya pun juga ikut menangis.
“Do’akan saja untuk Ayahmu nak, semoga Allah memberikan rahmatnya kepada Ayahmu sehingga menjadi ahli surgaNya. Aamiin.”
“Aamiin…iya Ma, saya terus mendo’akan Ayah, Mama dan adik-adik serta yang lainnya.”
“Ma, Apa lebih baik saya pulang ke rumah dan berhenti saja sekolahnya? Biar saya yang cari nafkah untuk keluarga.” Tanya Umam.
Ketika mendengar pertanyaan Umam tadi, Ustadz yang sedang duduk di depannya tiba-tiba kaget mendengar ucapannya.
“Jangan! Kamu tidak usah pulang apalagi berhenti sekolah. Kamu harus selesai sekolah di Gontor dan menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Kamu harus menjadi anak kebanggan bagi kami, Ayah dan Mamamu. Serta menjadi contoh untuk adik-adikmu, Budi dan Shasa. Insya Allah Mama masih bisa membiayai kamu dan adik-adikmu, lagian sekarang Mama sudah mengajar di SD tempat sekolahmu yang dulu.” Jawab Ibunya Umam dengan tegas.
“Iyaa, tapi saya…”
Sang Ibu langsung memotong perkataan anaknya dan berkata, “Nggak ada tapi-tapian! Kamu harus bisa membahagiakan Ayah dan Mamamu, menjadi contoh yang baik untuk adik-adikmu.”
“Baik Ma, do’akan saya semoga bisa menjadi kebanggan Ayah dan Mama serta menjadi contoh yang baik bagi adik Budi dan Shasa.” Ucap Umam.
“Mama dan adik-adikmu insya allah akan terus mendo’akanmu nak.”
“Sudah dulu ya Ma, ini hp Ustadz, takut habis pulsa beliau. Wasssalamu’alaikum warahmatullah wa barakaatuh.”
“Wa’alaikumusssalam.” Jawab Ibunya.
Setelah Umam selesai menelpon Ibunya, Ustadz yang sedang menengoknya tadi langsung bertanya dan memberikan nasehat kepada Umam, “Kenapa kamu ingin berhenti sekolah? Sebenarnya, dengan berhentinya kamu dari sekolah, bukan berarti kamu menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah. Jangan sekali-kali menyelesaikan masalah dengan masalah yang lain. Sudahlah, hadapi semuanya dengan sabar dan tabah, serta terus berbuatlah yang terbaik untuk masa depanmu, sesungguhnya Allah ingin menjadikan kamu untuk menjadi lebih baik.”
“Iya Ustadz, tapi saya hidup di keluarga yang pas-pasan dan mungkin bisa dibilang kekurangan. Ibu saya sekarang mengajar di SD menjadi guru hunoris, saya serta dua adik saya semuanya sekolah, dan semuanya perlu biaya.”
Ucap Umam dengan suara yang lesu dan sedih. Ustadznya pun setelah mendengar keluhan Umam tadi terdiam dan ikut bersedih. Setelah beberapa detik kemudian, sang Ustadz berucap, “Banyak jalan menuju surga!”
“Maksudnya apa Ustadz?” Umam bertanya.
“Allah ta’ala telah berfirman: ‘laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha’ artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah ayat: 286)”
“Terus bagaimana Ustadz dengan saya ini?” Tanya Umam.
“Nanti saya akan membicarakan masalah ekonomi kamu ke Bapak Kiyai, dan mengusulkan agar kamu bisa mendapatkan bantuan dari Pondok. Tunggu saja besok malam kedatangan saya dengan kabar gembira, insya Allah.” Jawab sang Ustadz dengan penuh optimis untuk menghibur Umam.
“Terima kasih Ustadz atas bantuannya.” Si Umam menghampiri tangan Ustadz dan menciumnya.
“Sudaahh, kamu santai saja. Ini sudah menjadi tugas saya selaku wali kelasmu. Tugas kamu hanya belajar dengan semangat, jangan mengecewakan orang lain yang telah berbuat baik kepadamu, apalagi yang telah memberikan harapan untukmu. Insya allah dalam setengah tahun ke depan kamu akan menjadi Ustadz dan mengabdi untuk Pondok Gontor ini.”
“Iya Ustadz, Aamiinn…Terima kasih banyak Ustadz untuk semuanya.” Jawab Umam sambil tersenyum bahagia.
“Ustadz, boleh saya minta bantuan untuk memanggil teman saya Ardi?” pinta Umam.
“Untuk apa?”
“Saya mau minta teman-teman dari kelas lima dan enam untuk shalat ghaib buat Ayah saya dan insya allah saya sanggup untuk menjadi imamnya.”
Sang Ustadz mendegar jawaban Umam tadi, mata beliau langsung memerah dan mengatakan serta mengusap bahu Umam, “Setelah ini Ustadz langsung memanggil temanmu Ardi dan menyuruhnya datang ke sini sebelum shalat shubuh, kamu tenang saja di sini ya!”
“Terima kasih Ustadz.”
“Sama-sama.”
Sebelum shalat Shubuh wali kelas Umam dan Ardi sudah datang menjemputnya dengan menggunakan motor. Ketika itu pula dia baru selesai mengerjakan shalat tahajjud.
Dari BKSM menuju mesjid mereka bertiga menggunakan motor, sang Ustadz yang bawa motor dan Ardi duduk paling belakang sambil mengangkat kantong plastik infus.
Ketika mereka tiba di mesjid, adzan pun dikumandangkan. Umam langsung maju ke bagian pojok bagian depan. Kebetulan dia masih dalam keadaan suci/tidak batal dari wudhunya ketika shalat tahajjud tadi, sehingga tidak perlu lagi untukwudhu.
Umam mengikuti shalat berjama’ah di bagian depan paling pojok sebelah kanan karena kantong plastik infusnya harus digantung, dan Ardi juga ikut shalat berjama’ah tepat di sampingnya Umam. Pada waktu itu juga, imamnya adalah Ustadz wali kelasnya yang membawa Umam ke mesjid.
Sesudah shalat shubuh berjama’ah, Umam langsung maju ke depan yang ditemani Ardi membawakan kantong infusnya dan meminta izin kepada Ustadz selaku imam shalat untuk berbicara di hadapan teman-temannya. Sang Ustadz pun mempersilahkannya untuk bicara. Seketika itu juga, teman-teman kelas enam dan kelas lima terdiam dan bingung melihat keadaan Umam yang sedang diinfus.
Umam memulainya dengan salam yang tanpa terasa di pertengahan pembicaraanya, dia telah meneteskan air mata.
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, teman-temanku kelas enam seperjuangan dan adik-adikku kelas lima yang kusayangi. ‘Kullu nafsin dzaaiqatul maut’ yang artinya: ‘setiap yang bernyawa pasti akan mati’. Manusia hidup di dunia hanyalah sementara, yang artinya kita semua akan mati bertemu menghadap ilahi. Hari kemaren, tepat sesudah shalat jum’at Ayahku yang kusayangi telah meninggalkan dunia menghadap Allah ta’ala. Hari kemaren juga beliau telah dimandikan, dishalatkan serta dikuburkan sesudah shalat ashar. Oleh karena itu, saya Rijalul Umam selaku anak Ayah saya, meminta dengan keikhlasan antum semua untuk melaksanakan shalat ghaib yang insya Allah akan diimami oleh saya sendiri. Serta tidak lupa pula, saya meminta kesudian antum semua untuk mendo’akan Ayah saya. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk beliau dan kita semua. Aamiinn… Wassalamu’alaikum… shallu shalaatal ghaaib (laksanakanlah shalat ghaib).”
Dan sesudah mereka melaksanakan shalat ghaib dan do’a bersama untuk Ayah Umam tercinta, Umam mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya semua dengan ucapan:
“Asykurukum jami’an wa jazakumullah ahsanal jaza’ (Saya ucapkan terima kasih untuk kalian semua dan semoga Allah memberikan balasan dengan sebaik-baiknya balasan).”
Para teman-temannya juga tidak hanya diam, mereka memberikan semangat kepada Umam, menyuruhnya untuk bersabar dan tabah atas segala cobaan yang dihadapi oleh Umam.
Subhanallah, di balik setiap masalah tentu ada cara untuk menyelesaikannya. Umam yang sedang diuji oleh Allah diberikan jalan kemudahan untuknya dan keluarganya dengan kabar gembira dari seorang Ustadz yang penuh tanggung jawab. Sang Ustadz datang menghampiri Umam untuk memberitahukan bahwa dia akan mendapatkan bantuan beasiswa dari Pondok Modern Gontor.
“Alhamdulillah ya Umam, kamu telah dinyatakan untuk mendapatkan bantuan beasiswa dari Pondok.”
Umam pun sangat senang dan bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh Pondok untuknya. Dia langsung meminjam Hp Ustadznya untuk memberikan kabar melalui sms kepada Ibunya. Agar Ibunya tidak perlu lagi mengirim uang untuk biaya kebutuhan Umam di Pondok, karena dia sudah mendapatkan bantuan dari Pondok, yaitu dengan gratisnya biaya uang makan dan administrasi. Sedangkan buku pelajarannya sudah lengkap yang tersisa baginya hanyalah mengharap kesembuhan dengan segera dan terus semangat belajar.
“Alhamdulillah, Ustadz boleh saya pinjam hp Ustadz buat sms Ibu untuk memberitahukan kabar baik ini?”
“Silahkan!”
Inilah Pondok Pesantren, Pondok tidak hanya memberikan naungan kepada santri, tapi Pondok juga memberikan kebutuhan untuk santri-santrinya, baik itu secara jasmani ataupun rohani. Pondok Pesantren tidak seperti Hotel yang dibayar kemudian ditinggalkan pergi begitu saja, akan tetapi Pondok memberikan naungan kepada penghuninya (Santri dan Ustadz). Begitu juga sebaliknya, santri dan ustadznya harus menjaga akan kesejahteraan dan kedamaian Pondok.


[1] keterangan izin tidak masuk kelas